Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Suara deru mesin mobil yang familiar terdengar berhenti tepat di halaman rumah. Jantung Arunika mencelos. Ia tahu persis siapa pemilik mobil itu. Tidak lama kemudian, sosok jangkung Abimana muncul di ambang pintu, bermaksud menjemput ibunya.
Namun, langkah Abimana seketika terhenti.
Di tengah ruangan, di bawah pendar lampu gantung yang kuning keemasan, berdiri Arunika. Gadis itu tampak sangat berbeda dengan gaun pengantin putih yang membalut tubuhnya. Tanpa kacamata yang biasanya bertengger di hidungnya—karena baru saja dilepas oleh ibunya untuk dipoles sedikit riasan—wajah Arunika terlihat begitu murni dan anggun.
Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Tatapan dingin Abimana melunak. Matanya tak berkedip menatap Arunika, menelusuri detail gaun dan rona merah di pipi mahasiswinya yang muncul karena malu. Ada kekaguman yang sempat melintas di netra gelap pria itu.
Namun, hanya sekejap.
Dengan cepat, Abimana berdeham dan mengalihkan pandangannya. Ia segera mengenakan kembali topeng datarnya yang kaku, seolah-olah apa yang baru saja ia lihat hanyalah pemandangan yang tidak berarti sama sekali.
"Ma sudah selesai?" tanya Abimana dingin. Suaranya kembali berat dan berjarak, tanpa sedikit pun memuji penampilan calon istrinya.
Arunika yang sempat menangkap tatapan tak biasa itu, kini kembali merasa dijatuhkan dari tempat yang tinggi. Rasa percaya dirinya yang baru saja tumbuh sedikit, runtuh seketika melihat betapa cepatnya Abimana membuang muka.
"Sudah, Abi. Lihatlah, calon istrimu cantik sekali, bukan?" sahut Liana dengan nada menggoda.
Abimana melirik Arunika sekilas, sangat cepat, seolah takut matanya akan tertahan di sana terlalu lama. "Gaunnya bagus. Mama sudah ditunggu Papa di rumah, ayo pulang." ucapnya tanpa emosi, lalu ia berbalik begitu saja menuju mobil tanpa menunggu jawaban.
Arunika berdiri mematung. Pujian "gaunnya bagus" terasa seperti ejekan di telinganya. Bukan gaunnya yang seharusnya ia komentari, tapi orang yang memakainya. Sekali lagi, Abimana berhasil mengingatkan Arunika bahwa di matanya, gadis itu hanyalah bagian dari dekorasi pernikahan yang tidak penting.
"Cih! Dasar kutub! Awas saja kalau nanti kamu sudah jatuh cinta padaku." batin Arunika sembari menatap kepergian mobil Abimana dari balik jendela.
Rasa sakit yang tadi menghimpit, kini perlahan berubah menjadi bara api yang membakar semangatnya. Arunika menarik napas dalam-dalam, menatap bayangan dirinya di cermin dengan tatapan yang jauh lebih tajam. Jika mundur dari perjodohan ini adalah hal yang mustahil, maka ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi pecundang di rumahnya sendiri nanti.
"Kalau Bapak ingin kita menjadi orang asing, maka saya akan pastikan Bapak tersiksa karena status itu." bisiknya pada bayangannya sendiri.
Arunika kini bertekad. Jika Abimana ingin bermain dingin, maka ia akan menjadi matahari yang perlahan-lahan mencairkan keangkuhan pria itu. Ia tidak akan membiarkan Claudia—atau siapa pun wanita dari masa lalu Abimana—menang begitu saja.
Langkah pertamanya bukan lagi melarikan diri, melainkan masuk ke dalam hidup Abimana dan membuat pria itu bertekuk lutut pada pesona yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik kacamata besarnya. Ia akan membuktikan bahwa mahasiswi "biasa" yang diremehkan Abimana ini adalah satu-satunya wanita yang pantas menyandang nama Permana di belakang namanya.
"Mari kita lihat, Pak Abimana... siapa yang akan menyerah lebih dulu." gumamnya dengan senyum tipis yang penuh arti.
Keesokan harinya, kampus seolah menjadi panggung sandiwara yang panas. Abimana, entah sengaja atau tidak, terlihat berjalan di selasar gedung utama bersama Claudia. Mereka tampak begitu dekat, bahkan Claudia tidak segan-segan menggandeng lengan dosen muda itu di depan umum. Bisik-bisik mahasiswa mulai terdengar, namun Abimana tetap dengan wajah datarnya, seolah tidak peduli pada pandangan orang lain.
Namun, perhatian semua orang—termasuk Abimana—seketika teralihkan saat seorang gadis melangkah masuk ke area lobi.
Arunika datang dengan penampilan yang membuat siapa pun pangling. Tidak ada lagi kacamata besar yang menutupi separuh wajahnya; kini ia mengenakan lensa kontak yang menonjolkan mata indahnya yang jernih. Rambutnya yang biasa dikuncir kuda kini terurai rapi, membingkai wajahnya yang dipoles riasan tipis namun sangat segar.
Ia tidak lagi menunduk. Arunika berjalan dengan punggung tegak dan kepala terangkat.
Saat mereka berpapasan di lorong yang ramai, Abimana mendadak menghentikan langkahnya. Matanya terpaku pada sosok mahasiswinya yang kini terlihat begitu bersinar. Ada kilat keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan di balik tatapan dinginnya.
Arunika menyadari itu. Saat jarak mereka hanya tinggal satu meter, ia tidak mengalihkan pandang. Sebaliknya, ia menatap lurus ke netra Abimana, lalu memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat sopan namun penuh tantangan.
"Selamat pagi, Pak Abimana." ucap Arunika dengan suara yang tenang dan merdu. Ia bahkan sempat melirik Claudia sekilas dengan tatapan elegan, seolah keberadaan wanita itu tidak lebih dari sekadar angin lalu baginya.
Tanpa menunggu jawaban, Arunika melangkah pergi melewati mereka begitu saja. Meninggalkan aroma parfum bunga yang lembut dan Abimana yang masih terpaku, menatap punggung gadis itu dengan pikiran yang mulai terganggu.
Arunika terus melangkah tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Ia bisa merasakan tatapan banyak pasang mata yang masih tertuju padanya, termasuk tatapan tajam yang ia yakini milik Abimana.
Rasakan! Abimana, kita lihat siapa dulu yang akan menyerah, gumam Arunika dalam hati, nyaris seperti sebuah janji pada dirinya sendiri.
Ia menarik napas panjang, menghirup udara kampus yang terasa lebih segar hari ini. Aku memilih semua ini agar aku tahu langkah apa yang harus kuambil setelahnya. Aku tidak ingin menikah hanya untuk hidup menderita di bawah penjara sebuah perjodohan.
Bagi Arunika, perubahan penampilan ini hanyalah awal. Jika pernikahan ini adalah sebuah medan perang yang dipaksakan, maka ia akan memastikan dirinya memiliki persenjataan yang lengkap. Ia tidak akan membiarkan Abimana memperlakukannya sebagai pajangan di rumah atau bayangan di kampus. Ia akan membuat pria itu sadar bahwa mengabaikan Arunika adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Sambil berjalan menuju perpustakaan, ia mengeluarkan ponselnya. Ia melihat pantulan wajahnya di layar yang gelap. Tak ada lagi Arunika yang bisa diintimidasi hanya dengan tatapan dingin.
"Jika kamu ingin menjadikanku orang asing, maka bersiaplah menjadi asing yang paling menderita karena tidak bisa menyentuhku." bisiknya pelan, lalu memasukkan ponsel ke tas dengan gerakan mantap.
Bisik-bisik mahasiswa kini mulai terdengar di setiap sudut koridor. Mereka yang biasanya melewati Arunika tanpa menoleh, kini terang-terangan memandangi gadis itu dengan tatapan tak percaya. Gadis yang biasanya tampil sangat sederhana, tersembunyi di balik kacamata tebal dan pakaian longgar yang cenderung kusam, kini menunjukkan jati diri yang sebenarnya.
"Itu benar-benar Arunika kelas Akuntansi?" bisik seorang mahasiswa di dekat mading.
"Gila, cantik banget! Selama ini dia sembunyi di mana?" sahut yang lain tanpa melepaskan pandangan dari sosok Arunika yang berjalan tenang.
Arunika mendengar itu semua. Namun, alih-alih merasa risih, ia justru merasa kekuatannya kembali terkumpul. Setiap pujian dan tatapan kagum dari orang lain adalah tamparan bagi keangkuhan Abimana yang menganggapnya tidak ada.
Di sisi lain, Abimana yang masih berdiri tak jauh dari sana, merasakan telinganya panas. Ia bisa mendengar dengan jelas bagaimana para mahasiswa memuja calon istrinya. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya—sesuatu yang mirip dengan ego yang terusik.
Claudia, yang menyadari perhatian Abimana teralihkan sepenuhnya, mempererat genggamannya di lengan pria itu. "Abi? Kamu dengar aku tidak? Siapa mahasiswi itu? Kenapa semua orang memperhatikannya?" tanya Claudia dengan nada suara yang mulai meninggi karena cemburu.
Abimana tidak langsung menjawab. Ia mengeraskan rahangnya, menatap punggung Arunika yang kian menjauh dan menghilang di balik pintu perpustakaan.
"Hanya mahasiswi biasa." jawab Abimana singkat, namun suaranya terdengar tidak seyakin biasanya. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa mulai detik ini, Arunika bukan lagi sekadar mahasiswi "biasa" yang bisa ia abaikan begitu saja.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪