Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 Cinta di Sepertiga Malam
Perlahan, Rina mengangkat tangannya yang lemah dan mengusap pipi Azkar dengan ujung jarinya. Sentuhan itu sangat lembut, seolah ia sedang menyentuh sesuatu yang paling berharga di dunia.
Gangguan Kecil
Namun, momen haru itu terinterupsi oleh rasa tidak nyaman di perut bawahnya. Rina menggigit bibirnya, ia merasa sangat ingin ke kamar mandi.
"Mas... Mas Azkar..." bisik Rina parau, mencoba membangunkan suaminya.
Azkar yang memang tidurnya sangat tidak nyenyak karena terus waspada, langsung tersentak bangun. Matanya yang merah karena kantuk langsung terbuka lebar.
"Rina? Kenapa, Sayang? Ada yang sakit? Dada kamu sesak lagi?" tanya Azkar bertubi-tubi dengan nada panik, tangannya langsung meraba kening Rina.
Rina menggeleng pelan, wajahnya sedikit memerah karena malu. "Enggak Mas... Rina... Rina mau pipis."
Azkar tertegun sejenak, lalu ia mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Ia tersenyum, sebuah senyum tulus yang baru kali ini Rina lihat begitu dekat.
"Alhamdulillah... Mas kaget, Mas kira kamu kenapa-kenapa."
Azkar segera berdiri, meski kakinya sedikit kesemutan. "Bisa bangun? Atau mau Mas bantu pakai pispot di sini saja?"
Rina langsung menggeleng cepat, "Enggak mau! Mau ke kamar mandi aja, Mas."
____________________________________________________
Momen ini menjadi interaksi manis pertama mereka tanpa ada amarah.
____________________________________________________
Rina menggeleng cepat dengan wajah merona. "Enggak mau pispot, Mas! Malu... Mau ke kamar mandi aja," pintanya lirih.
Gus Azkar melihat kaki Rina yang masih gemetar dan tubuhnya yang sangat lemah. Tanpa banyak bicara, ia menyibakkan selimut yang menutupi kaki Rina.
"Mas... Mas mau ngapain?" Rina tersentak kecil saat melihat Azkar mulai merunduk ke arahnya.
"Kaki kamu masih lemas, Sayang. Jangan dipaksa jalan, nanti jatuh," jawab Azkar dengan suara rendah yang menenangkan.
Gendongan di Sepertiga Malam
Dengan gerakan yang sangat lembut namun cekatan, Gus Azkar menyusupkan satu lengannya di bawah leher Rina dan lengan lainnya di bawah lipatan lutut istrinya. Dalam satu gerakan mantap, ia mengangkat tubuh Rina yang terasa begitu ringan—jauh lebih ringan dari yang ia ingat, sebuah tanda betapa banyak berat badan Rina turun selama masa depresi ini.
Hup!
Rina secara refleks mengalungkan kedua tangannya ke leher Azkar agar tidak terjatuh. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Rina bisa merasakan hembusan napas Azkar di keningnya, dan aroma parfum suaminya yang bercampur dengan wangi sabun bayi—mungkin Azkar sempat membasuh wajahnya tadi.
Rina menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya, menyembunyikan pipinya yang terasa panas. Di sana, ia bisa mendengar detak jantung Azkar yang berdegup kencang, sama kencangnya dengan jantungnya sendiri.
"Pegangan yang erat, Mas nggak akan biarkan kamu jatuh lagi," bisik Azkar sambil berjalan perlahan menuju kamar mandi di dalam ruang ICU tersebut, memastikan selang infus Rina tidak tertarik.
Langkah kaki Azkar terasa begitu kokoh dan melindungi. Di dalam gendongan itu, Rina merasa dunia yang tadinya begitu menakutkan dan ingin ia tinggalkan, tiba-tiba terasa jauh lebih aman.
Kehangatan tubuh Azkar seolah menyalurkan energi kehidupan baru ke dalam raganya yang sempat layu.
Sesampainya di depan pintu kamar mandi, Azkar tidak langsung menurunkannya. Ia menatap mata Rina dalam-dalam di bawah cahaya lampu remang-remang.
"Terima kasih sudah memilih bangun, Rin. Mas janji, gendongan ini akan selalu ada setiap kali kamu merasa tidak sanggup melangkah," ucap Azkar tulus sebelum perlahan menurunkan kaki Rina ke lantai dengan sangat hati-hati.
Rina hanya bisa mengangguk kecil dengan kepala tertunduk, tak berani menatap mata suaminya yang begitu penuh dengan cinta dan penyesalan.
____________________________________________________Suasana romantis ini mulai mencairkan es di hati Rina.
____________________________________________________
Gus Azkar menurunkan Rina ke ranjang dengan sangat hati-hati, memastikan bantal di belakang punggung istrinya sudah nyaman. Suasana sepertiga malam itu memang sangat sunyi, hanya ada suara dengung halus dari pendingin ruangan dan detak mesin monitor yang monoton.