NovelToon NovelToon
DI BALIK SOROT LAMPU

DI BALIK SOROT LAMPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Model / Karir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.

Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TITIK BALIK

Elvario masih terduduk di kursi lipat itu ketika Adrina kembali. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan revisi cepat rundown yang baru saja ia susun. Matanya fokus, langkahnya mantap. Lima menit belum sepenuhnya habis, namun suasana di backstage sudah jauh lebih kondusif. Kru bergerak tanpa suara bising, seolah semua orang telah bersepakat secara diam-diam untuk menjaga ruang hening yang langka ini.

Adrina berhenti di depan Elvario. Ia tidak mendesak, tidak pula meminta keputusan yang berat.

"Mas," ucapnya pelan, "aku sudah menggeser segmen berikut sepuluh menit ke depan. Host sudah setuju, produser juga tidak keberatan. Bagian lighting sudah aman. Kita bisa lanjut perlahan."

Elvario membuka mata. Ia menatap Adrina sejenak, mencoba mencerna ketenangan yang dibawa gadis itu, lalu mengangguk. "Oke."

Hanya satu kata. Tidak ada tambahan keluhan, tidak ada nada tinggi yang menusuk telinga.

Rizal mengembuskan napas panjang yang sejak pagi seolah tertahan di kerongkongannya. Ia menepuk bahu Elvario pelan, sebuah gestur persahabatan yang tulus. "Gue di sini, El."

Elvario mengangguk lagi. "Gue tahu."

Adrina melirik jam tangannya dengan teliti. "Mas, dua menit lagi kita mulai, ya."

Elvario bangkit berdiri. Gerakannya tidak terburu-buru, namun terlihat jauh lebih stabil. Ia merapikan jaketnya sendiri—sesuatu yang biasanya ia biarkan dilakukan oleh orang wardrobe sambil mengomel. Ketika seorang kru mendekat hendak membantu merapikan kerahnya, Elvario menggeleng halus.

"Gue bisa sendiri," ucapnya tenang.

Kru itu tertegun, lalu mundur dengan wajah penuh keheranan. Sesuatu sedang berubah.

Saat Elvario melangkah kembali ke panggung, suasana studio terasa berbeda. Bukan hanya pada dirinya, tapi juga pada orang-orang di sekelilingnya. Segalanya berjalan dalam tempo yang baru: lebih pelan, lebih sadar.

Adrina berdiri di pinggir set, tablet di tangan, matanya mengikuti setiap pergerakan Elvario. Ia tidak lagi sekadar mencatat kesalahan teknis; ia mengamati ritme napas Elvario, jeda bicaranya, hingga arah pandangannya. Ketika Elvario tampak mulai kehilangan fokus pada satu pertanyaan host, Adrina memberikan isyarat kecil yang tajam pada floor director. Segmen dipersingkat secara halus. Tidak ada yang protes.

Wawancara berakhir dengan mulus. Begitu lampu dipadamkan dan tepuk tangan kecil terdengar, Elvario menoleh—mencari seseorang. Dan seperti sebelumnya, matanya menemukan Adrina lebih dulu sebelum siapa pun. Ia mengangguk ke arah gadis itu. Sekali. Sebuah anggukan yang jujur.

Di backstage, Rizal mendekati Adrina. Nada suaranya diturunkan, seolah sedang berbagi rahasia besar. "Lo sadar nggak," katanya, "hari ini itu... sejarah."

Adrina tersenyum kecil, namun senyum itu memudar dengan cepat. "Perjalanan masih panjang, Bang."

Rizal tertawa pendek. "Iya. Tapi ini pertama kalinya dia minta istirahat tanpa harus membakar satu studio."

Adrina menatap ke arah Elvario yang sedang meneguk air sambil berbicara singkat dengan produser. "Kadang orang tidak marah karena sombong, Bang," katanya lirih. "Tapi karena mereka tidak pernah diberi pilihan untuk menjadi lelah."

Rizal terdiam. Kalimat itu menghantam telak di dadanya.

Tak lama kemudian, Elvario menghampiri mereka. Keringat masih terlihat di pelipisnya, tapi raut wajahnya tampak jauh lebih ringan. "Besok jadwal gue bagaimana?" tanyanya pada Rizal—namun ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Adrina. "Maksud gue... bagaimana menurut lo?"

Rizal berkedip tak percaya, lalu tertawa kecil penuh arti. Ia mundur setengah langkah, memberikan panggung pada Adrina. "Silakan, Asisten."

Adrina terkejut sepersekian detik, namun ia segera menata diri dengan profesional. "Besok jam sepuluh aman, Mas. Tapi kalau bisa, kita jangan lewat tengah malam hari ini. Badan Mas butuh tidur yang berkualitas."

Elvario mengernyit samar. "Biasanya gue dipaksa untuk terus lanjut sampai subuh."

"Sekarang tidak," jawab Adrina tenang. "Kalau Mas tumbang, semua jadwal justru akan berantakan total."

Adrina sempat mengira Elvario akan menyindirnya atau menantang logika itu. Namun, Elvario hanya mengangguk pelan. "Iya," katanya pendek. "Masuk akal."

Rizal menatap mereka bergantian, nyaris ingin tertawa karena melihat pemandangan ajaib ini.

Malam kian larut saat studio kembali riuh oleh kru yang membereskan peralatan. Elvario bersiap untuk pulang. Di pintu keluar, ia mendadak berhenti dan menoleh ke arah Adrina yang tengah membereskan tablet dan catatan-catatannya.

"Adrina," panggilnya.

Gadis itu mendongak. "Iya, Mas?"

Elvario ragu sejenak—sebuah keraguan yang sangat jarang terlihat dari sosoknya yang biasanya otoriter. "Lo... capek?"

Adrina tersenyum. Sebuah senyuman jujur yang meluluhkan ketegangan sisa syuting. "Capek. Tapi masih sanggup."

Elvario mengangguk. "Kalau suatu hari lo merasa nggak sanggup... bilang ke gue."

Adrina terdiam. Matanya melembut menatap pria di depannya. "Mas juga."

Untuk beberapa detik, dunia di sekitar Elvario terasa sangat sunyi. Namun, itu bukan sunyi yang menekan, melainkan sunyi yang memberinya ruang untuk bernapas. Ia mengangguk sekali lagi, lalu melangkah pergi menuju mobil.

Rizal menghampiri Adrina setelah Elvario menjauh. "Gue nggak tahu lo datang dari mana," katanya lirih, "tapi gue mohon... jangan cepat-cepat pergi."

Adrina menatap lantai, lalu menghela napas kecil yang sarat akan pikiran. "Aku juga nggak tahu aku bisa sampai sejauh mana, Bang."

Lampu studio satu per satu mulai dimatikan. Namun di antara kelelahan, tumpukan jadwal, dan tekanan yang tak pernah berhenti, sesuatu mulai bertunas—pelan, rapuh, namun nyata. Untuk pertama kalinya, Elvario Mahendra tidak lagi berjalan sendirian di bawah bayang-bayang ketenarannya sendiri.

Mobil melaju pelan meninggalkan area studio yang masih menyisakan sisa-sisa kesibukan kru. Jalanan Jakarta malam itu terasa lebih lengang dari biasanya, membiarkan lampu-lampu kota berpendar di kaca jendela seperti lukisan abstrak yang terus berganti.

Elvario duduk di kursi belakang, menyandarkan kepalanya ke jok kulit yang dingin. Matanya terpejam setengah, mencoba mengusir sisa penat yang masih bergelayut. Rizal fokus menyetir, sementara Adrina duduk di sampingnya. Tas kecil masih setia di pangkuan Adrina, namun bahunya mulai terasa berat setelah hari yang penuh drama.

“Malam ini kita kelar lebih cepat,” ucap Rizal memecah keheningan, suaranya terdengar lega. “Jarang-jarang rekor syuting bisa seefisien tadi.”

Elvario hanya mengangguk tanpa membuka mata. “Hm.”

1
Selfi Polin
mampir thor, awal yg bagus😍
Joice Sandri
bagus...tertata dg baik kisah n bhsnya
Ros Ani
mampir ah siapa tau suka dg karyamu thor
Dinna Wullan: terimakasih ka saran sarannya
total 1 replies
Tismar Khadijah
bahasanya hmm👍
Tismar Khadijah
lanjuut💪
Tismar Khadijah
baguus
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya ka
total 1 replies
Mar lina
aku mampir, thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!