Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Jaring Benar yang Semakin Rapi
Hujan yang mulai turun di kota Bandung pada pagi itu memberikan kesegaran yang tidak terduga, namun tidak mampu menghilangkan rasa tegas yang kini menguasai setiap langkah Rania. Setelah menyusun semua bukti yang telah dikumpulkan selama beberapa hari terakhir, ia merasa bahwa masih ada celah kecil yang bisa digunakan oleh Arga dan Maya untuk menyangkal segala perbuatannya. Ia membutuhkan bukti tambahan yang lebih kuat—bukti yang tidak hanya menunjukkan perselingkuhan fisik, tapi juga rencana yang telah mereka susun untuk mengambil alih harta dan bisnisnya.
Rania datang ke kantor perusahaan miliknya lebih awal dari biasanya. Ia langsung menuju ruang server yang terletak di lantai bawah tanah, tempat semua data perusahaan disimpan dengan aman. Dengan menggunakan kata sandi pribadinya yang tidak diketahui oleh siapapun termasuk Arga, ia membuka sistem pencatatan keuangan perusahaan yang telah berjalan selama lima tahun terakhir.
“Aku harus menemukan bukti bahwa mereka telah merencanakan ini jauh sebelum aku menyadari pengkhianatannya,” gumam Rania sambil menatap layar komputer yang penuh dengan angka dan data. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, mencari pola-pola yang mencurigakan dalam transaksi perusahaan.
Setelah beberapa jam mencatat dan membandingkan data, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut. Sejak satu tahun yang lalu, ada beberapa transaksi kecil yang dialirkan dari rekening perusahaan ke rekening yang tidak dikenal. Jumlahnya tidak terlalu besar sehingga tidak mencolok, namun jika dijumlahkan selama satu tahun, totalnya mencapai lebih dari dua ratus juta rupiah. Ia menelusuri nomor rekening tersebut dan menemukan bahwa rekening itu terdaftar atas nama seorang pria bernama Joko Susanto—seseorang yang tidak dikenal olehnya dan tidak pernah bekerja di perusahaan.
Dengan hati-hati, Rania mencari informasi tentang pria tersebut. Melalui beberapa sumber yang ia hubungi secara diam-diam, ia menemukan bahwa Joko Susanto adalah kakak kandung Maya yang bekerja sebagai pengacara muda di sebuah kantor kecil di pinggiran kota. Ia juga menemukan bahwa beberapa bulan yang lalu, Joko telah mendirikan perusahaan baru yang bergerak di bidang yang sama dengan perusahaan Rania—perdagangan bahan makanan olahan.
“Jadi mereka tidak hanya berselingkuh, tapi juga merencanakan untuk meretas bisnis ku,” bisik Rania dengan suara yang penuh dengan kemarahan yang terkendali. Ia segera mengambil tangkapan layar semua transaksi tersebut dan menyimpannya dalam folder bukti yang telah ia siapkan.
Selanjutnya, Rania mengunjungi kantor notaris yang pernah menangani pembelian tanah dan pendirian perusahaan miliknya. Dengan menunjukkan surat kuasa yang sah dan identitasnya, ia meminta untuk melihat kembali dokumen-dokumen penting yang terkait dengan aset-asetnya.
“Maafkan saya, Bu Rania,” ucap Notaris Hasan dengan suara yang penuh dengan rasa prihatin setelah melihat dokumen-dokumen tersebut. “Beberapa bulan yang lalu, Bapak Arga datang ke sini dengan surat kuasa yang katanya telah Anda berikan. Ia meminta untuk membuat perubahan pada beberapa dokumen kepemilikan tanah dan saham perusahaan.”
Rania merasa darahnya mendidih mendengarnya. “Surat kuasa? Saya tidak pernah memberikan surat kuasa apapun kepada Arga untuk melakukan hal seperti itu.”
Notaris Hasan mengangguk perlahan. “Saya juga merasa ada yang tidak beres saat itu, Bu Rania. Surat kuasa tersebut tampak tidak sesuai dengan format yang biasanya kita gunakan, dan tanda tangan Anda juga terlihat berbeda. Saya telah menolak untuk melakukan perubahan tersebut dan menyarankan Bapak Arga untuk datang bersama Anda. Namun setelah itu, saya tidak pernah melihatnya kembali.”
Ia kemudian memberikan salinan dokumen surat kuasa palsu tersebut kepada Rania. “Saya menyimpan salinannya karena merasa ada yang tidak benar. Mungkin ini bisa membantu Anda dalam proses hukum nantinya, Bu Rania.”
Rania menerima dokumen tersebut dengan tangan yang gemetar. Lihatannya sangat jelas—surat kuasa tersebut dibuat dengan sangat sembrono, dengan tanda tangan yang jelas merupakan hasil tiruan. Ini adalah bukti yang sangat berharga bahwa Arga tidak hanya berselingkuh dengannya, tapi juga telah merencanakan untuk mengambil alih aset-asetnya dengan cara yang ilegal.
Setelah keluar dari kantor notaris, Rania mengunjungi rumah sakit tempat Maya pernah berobat beberapa waktu lalu. Dengan bantuan seorang teman yang bekerja sebagai administrasi di rumah sakit tersebut, ia berhasil mendapatkan catatan medis Maya yang menunjukkan bahwa beberapa bulan yang lalu, Maya telah melakukan perawatan khusus yang biasanya diberikan kepada wanita yang sedang mengalami masalah kehamilan.
“Apakah Anda tahu berapa lama yang lalu itu terjadi, Bu?” tanya Rania pada teman tersebut.
“Kurang lebih tiga bulan yang lalu, Bu,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Dan berdasarkan catatan medisnya, ia juga telah melakukan prosedur untuk mengakhiri kehamilan tersebut.”
Rania merasa dada sedikit terasa sesak mendengarnya. Meskipun ia telah siap dengan berbagai kemungkinan, namun mengetahui bahwa Arga dan Maya pernah memiliki hubungan yang lebih dalam hingga menyebabkan kehamilan membuatnya merasa sakit hati. Namun ia tetap kuat dan meminta salinan catatan medis tersebut untuk ditambahkan ke dalam kumpulan bukti yang telah ia miliki.
“Saya tahu ini sangat sulit bagi Anda, Bu Rania,” ucap teman tersebut dengan rasa simpati yang mendalam. “Tetapi saya pikir Anda berhak mengetahui kebenaran.”
Rania mengangguk dengan senyum yang lembut. “Terima kasih banyak atas bantuan Anda. Ini berarti banyak bagi saya.”
Pada sore harinya, Rania mendatangi rumah kontrakan yang selama ini disewa Maya. Dengan bantuan seorang petugas keamanan yang pernah bekerja untuk keluarga Rania, ia berhasil bertemu dengan pemilik rumah tersebut.
“Bu Maya menyewa rumah ini sekitar enam bulan yang lalu, Bu,” ucap pemilik rumah tersebut dengan suara yang ramah. “Ia membayar sewa dengan sangat baik dan selalu tepat waktu. Namun ada satu hal yang membuat saya merasa aneh—selalu ada seorang pria yang datang mengunjunginya setiap malam dan pergi pada pagi hari. Saya tidak tahu nama pria itu, tapi dia sering datang dengan mobil yang sama dengan mobil Anda, Bu.”
Ia kemudian menunjukkan foto Arga yang diberikan oleh Rania. “Ya, ini dia, Bu. Ini adalah pria yang selalu datang mengunjungi Bu Maya.”
Rania mengambil catatan dengan cermat dan meminta surat sewa rumah tersebut beserta bukti pembayaran sewa dari Maya. Pemilik rumah tersebut dengan senang hati memberikannya, karena ia juga merasa bahwa Maya telah melakukan hal yang tidak benar dengan menyewa rumah untuk bertemu dengan pria yang sudah menikah.
“Saya tidak menyukai orang yang melakukan hal seperti itu, Bu,” ucapnya dengan suara yang tegas. “Jika Anda membutuhkan kesaksian saya di pengadilan nanti, saya akan dengan senang hati membantu Anda.”
Saat malam mulai tiba, Rania kembali ke rumahnya dengan tas yang penuh dengan bukti-bukti baru yang telah ia kumpulkan. Ia langsung masuk ke ruang kerja pribadinya dan mulai menyusun semua bukti tersebut dengan rapi. Setiap dokumen, setiap foto, setiap rekaman semuanya disusun dengan jelas dan diberi label yang tepat.
Ia membuat daftar lengkap semua bukti yang telah ia kumpulkan:
1. Riwayat percakapan pesan antara Arga dan Maya yang menunjukkan hubungan asmara dan rencana untuk mengambil alih harta Rania.
2. Bukti transfer uang dari rekening perusahaan dan rekening bersama ke rekening Maya dan keluarganya.
3. Foto-foto dan unggahan media sosial yang menunjukkan bahwa Arga dan Maya sering melakukan perjalanan bersama dan menghabiskan waktu bersama.
4. Rekaman CCTV dari rumah makan yang menunjukkan hubungan fisik antara Arga dan Maya.
5. Kesaksian dari karyawan rumah makan, pelayan, dan koki yang telah menyaksikan hubungan antara Arga dan Maya.
6. Bukti surat kuasa palsu yang dibuat oleh Arga untuk mencoba mengambil alih aset Rania.
7. Catatan medis Maya yang menunjukkan bahwa ia pernah mengalami kehamilan dan mengakhirinya.
8. Bukti sewa rumah kontrakan yang disewa Maya dan kesaksian pemilik rumah tentang kedatangan Arga setiap malam.
9. Bukti transaksi ke rekening kakak kandung Maya yang menunjukkan bahwa mereka telah merencanakan untuk mendirikan perusahaan pesaing.
Setelah semua bukti tersusun dengan rapi, Rania mengambil map cokelat tebal yang telah ia siapkan sebelumnya dan memasukkan semua dokumen tersebut ke dalamnya. Ia menutup map tersebut dengan hati-hati dan melihatnya dengan pandangan yang penuh dengan tekad.
“Semua ini adalah bukti bahwa kamu telah melakukan kesalahan yang sangat besar, Arga,” gumam Rania dengan suara yang tenang namun penuh dengan kekuatan. “Dan kamu akan harus membayar untuk semua itu.”
Ia kemudian mengambil telepon dan menghubungi Pak Haryanto untuk memberitahukan bahwa ia telah mengumpulkan semua bukti yang dibutuhkan. “Semua sudah siap, Pak,” ucapnya dengan suara yang jelas dan mantap. “Kita bisa mengajukan gugatan perceraian kapan saja.”
Pak Haryanto terdengar lega mendengarnya. “Baiklah, Bu Rania. Saya akan segera menyusun surat gugatan dan mengajukannya ke pengadilan sesegera mungkin. Dengan bukti-bukti yang Anda kumpulkan, saya yakin bahwa Anda akan mendapatkan hak yang layak dan keadilan akan ditegakkan.”
Setelah mengakhiri panggilan, Rania berdiri dan menuju ke jendela rumahnya. Ia melihat ke arah langit malam yang penuh dengan bintang-bintang, merasakan udara dingin Bandung yang menyegarkan wajahnya. Meskipun hati masih merasa sakit dan terluka karena khianatan yang telah dialaminya, namun ia merasa lega karena akhirnya semua kebenaran telah terungkap dan ia memiliki kekuatan untuk menghadapi masa depan yang akan datang.
Ia berpikir tentang perusahaan yang telah dirintisnya dengan susah payah, tentang rumah makan yang akan ia bangun kembali menjadi lebih baik, dan tentang kehidupan baru yang akan ia jalani tanpa adanya Arga di dalamnya. Ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah dan mungkin akan ada banyak tantangan yang harus dihadapi, namun dengan bukti yang telah ia kumpulkan dan dukungan dari teman-teman serta keluarga yang dicintainya, ia merasa siap untuk menghadapi semua itu.
Rania mengambil gelas air putih dan menyentuhnya pada bibirnya yang kering. Ia melihat ke arah meja kerja yang penuh dengan bukti-bukti yang telah ia kumpulkan, kemudian menatap cermin yang terletak di sudut ruangan. Wajahnya tampak lelah namun penuh dengan kekuatan yang baru. Matanya yang dulu penuh dengan rasa sakit kini terbakar dengan nyala keadilan yang tidak akan padam.
“Ini hanya awal dari perjuanganku,” bisiknya pada bayangannya sendiri. “Aku tidak akan pernah lagi membiarkan orang lain merusak apa yang telah kubangun dengan susah payah. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa berdiri sendiri dan membangun kehidupan yang lebih baik tanpa kamu, Arga.”
Di luar, hujan mulai turun lagi dengan derasnya, membungkus kota Bandung dalam selimut keheningan dan kesegaran. Dan di dalam rumah itu, Rania tahu bahwa dia telah siap untuk menghadapi semua yang akan datang. Ia telah mengumpulkan semua bukti yang dibutuhkan, dan kini saatnya bagi kebenaran untuk bersinar dan bagi keadilan untuk ditegakkan.