siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.
Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3Kode di Balik Jahitan dan Teror Ninja Ojol
Malam harinya, di depan Apartemen Puri Kencana, garis polisi terpasang di salah satu truk milik Don Toro. Polisi mengangkut semua barang bukti. Bella mendapatkan kembali status kehormatannya (meski belum kembali jadi polisi), Siska mendapatkan kembali serbet lavendernya, dan Maya... Maya akhirnya bisa memeluk kembali daster macan pink kesayangannya.
"Baunya bawang banget, May," kata Siska sambil menutup hidung saat Maya menciumi dasternya.
"Nggak apa-apa, Sis. Yang penting dia pulang dengan selamat," ujar Maya bahagia.
Namun, saat mereka bertiga duduk di lobby sambil menikmati kopi, Bella melihat sebuah pesan masuk di ponsel salah satu anak buah Don Toro yang ia sita sebagai barang bukti sementara.
Pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal: "Don Toro gagal. Aktifkan rencana B. Ambil kembali 'kunci' yang ada di daster macan itu sebelum para wanita itu menemukannya."
Bella tertegun. Ia menatap daster macan yang sedang dipeluk Maya. "May... jangan pakai daster itu dulu."
"Kenapa, Bel? Mau pinjam?"
"Bukan," Bella mengambil daster itu dan meraba bagian kerahnya. Ada sesuatu yang keras terjahit di dalamnya. Sesuatu yang lebih kecil dari narkoba, tapi jauh lebih berbahaya.
"Sepertinya," Bella menatap kedua temannya dengan serius, "penyelundupan sabu ini cuma pengalih perhatian. Ada sesuatu di daster ini yang diinginkan oleh orang yang jauh lebih besar dari Don Toro."
Siska menghela napas panjang. "Yah... baru mau tidur nyenyak. Jadi, babak selanjutnya dimulai?"
Bella mengangguk. "Siapkan sutilmu, Sis. May, beli semprotan merica yang lebih banyak. Kita baru saja mengusik sarang lebah yang sebenarnya."
Malam di Apartemen Puri Kencana yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan, berubah menjadi sesi bedah tekstil yang mencekam. Di bawah lampu meja unit 303 yang berpendar redup, daster macan pink milik Maya terbentang seperti pasien di atas meja operasi.
Bella, dengan pinset di tangan kanan dan pisau lipat di tangan kiri, bekerja dengan presisi seorang dokter bedah saraf. Siska mengawasi dengan sutil yang siap sedia di pundak berjaga-jaga jika ada kecoa atau pembunuh bayaran yang melompat dari balik jendela. Sementara itu, Maya hanya bisa meratapi dasternya yang mulai "dirobek" perlahan.
"Pelan-pelan, Bel... itu sutra kualitas ekspor, harganya bisa buat makan seminggu," rintih Maya.
"Diem, May. Kalau tebakan gue bener, harga daster ini jauh lebih mahal dari seluruh isi apartemen lo," sahut Bella tanpa menoleh.
Sret... sret...
Ujung pisau Bella menyayat lapisan jahitan ganda di bagian kerah yang terasa kaku. Setelah beberapa tarikan benang, sebuah benda kecil berwarna hitam metalik jatuh ke atas meja kayu. Bentuknya tipis, tidak lebih besar dari kuku jempol, dengan deretan pin emas kecil di salah satu sisinya.
"MicroSD?" Siska mengerutkan kening. "Don Toro naruh koleksi film atau apa di sini?"
"Bukan sembarang MicroSD," Bella mengangkat benda itu ke arah cahaya. "Ini kartu memori militer dengan enkripsi tingkat tinggi. Gue pernah lihat yang kayak begini waktu masih bertugas di Satuan Cyber.
Biasanya isinya adalah data transaksi, daftar aset, atau... kode akses."
"Kode akses apa?" tanya Maya polos. "Kode promo belanja online?"
Bella menggeleng. "Lebih buruk. Kode akses brankas digital bank pusat atau mungkin data intelijen negara. Ingat pesan singkat di HP anak buah Don Toro tadi? Mereka menyebut daster ini sebagai 'kunci'. Don Toro mungkin hanya kurir bodoh yang nggak tahu apa yang dia pegang, atau dia cuma tempat penitipan yang paling nggak dicurigai."
Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel Bella berdering. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk lagi. Hanya berisi satu baris koordinat GPS dan sebuah gambar: Foto mereka bertiga saat sedang makan bakso di depan apartemen tadi sore.
"Kita diawasi," bisik Bella. Wajahnya seketika pucat. "Mereka tahu kita yang megang kartunya."
Belum sempat mereka bereaksi, lampu apartemen mendadak mati total.
Cklek.
Kegelapan pekat menyelimuti ruangan. Suara dengung AC berhenti, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
"Bella... aku takut gelap," cicit Maya sambil meraba-raba mencari pegangan.
"Jangan bergerak," perintah Bella. Ia meraih kacamata night vision (yang sebenarnya adalah kacamata renang yang ia cat hitam agar terlihat keren, tapi ia punya senter infra merah kecil yang dipasang di sampingnya).
Sret... sret...
Suara gesekan kain terdengar dari balkon. Seseorang sedang memanjat.
"Siska, posisi!" perintah Bella.
Siska tidak butuh perintah dua kali. Di dalam kegelapan, insting kokinya bekerja lewat indra pendengaran dan penciuman. Ia mencium bau keringat pria dan aroma minyak mesin. Ia mengayunkan sutil besinya secara horizontal ke arah jendela yang terbuka.
TANG!
"Aduuuh!" sebuah teriakan tertahan terdengar. Seorang pria berpakaian serba hitam, lengkap dengan helm ojek online yang kacanya digelapkan, terjatuh dari ambang jendela ke lantai dalam.
"Ninja Ojol?" Maya berteriak kaget sambil menyalakan senter ponselnya.
Ternyata tidak hanya satu. Dua pria lain menyusul masuk lewat jendela, sementara pintu depan mulai digedor dengan paksa. Situasi berubah menjadi tawuran dalam ruang tamu seluas 4x4 meter.
"Maya, masuk ke kolong meja! Siska, jaga belakang gue!" teriak Bella.
Bella menerjang ninja ojol pertama dengan teknik kuncian leher. Namun, pria itu licin. Ia melakukan gerakan breakdance untuk melepaskan diri dan mencoba menendang wajah Bella. Bella menangkis dengan tangan kosong, lalu membalas dengan pukulan telak ke ulu hati.
Siska di sisi lain sedang berduel dengan ninja kedua. Pria itu membawa pisau lipat, tapi Siska membawa sutil yang sudah diolesi sisa minyak cabai dari dapur. Setiap kali sutil itu mengenai kulit lawan, efek panasnya mulai bekerja.
"Sini lo! Mau tahu rasanya jadi tumis kangkung?!" seru Siska. Ia memukul pergelangan tangan si ninja hingga pisaunya terlepas, lalu mengakhiri dengan hantaman "Sutil Maut" tepat di bagian selangkangan lawan.
Si ninja tumbang sambil memegangi aset berharganya, wajahnya membiru.
Sementara itu, Maya yang berada di bawah meja melihat ninja ketiga sedang mengincar kartu memori di atas meja. Maya tahu ia tidak bisa bela diri, tapi ia punya sesuatu yang lebih mematikan di dalam tasnya Hairspray ekstra kuat dan korek api gas.
"Jangan sentuh kartu temanku!" Maya merangkak keluar, menyalakan korek api, dan menyemprotkan hairspray ke arah api tersebut.
WUUUUSSSHH!
Semburan api kecil namun mengejutkan membuat ninja ketiga mundur dengan rambut yang sedikit gosong.
"Woy! Gila ini cewek!"
"Ayo, semprot lagi!" tantang Maya, yang kini merasa seperti karakter di film Mad Max.
Pintu depan akhirnya jebol. Lima orang lagi masuk. Bella menyadari mereka kalah jumlah. "Kita nggak bisa bertahan di sini! Lewat jalur evakuasi darurat, sekarang!"
Mereka berlari menuju pintu belakang yang terhubung ke tangga darurat. Maya menyambar daster macan pink dan kartu memorinya, Siska membawa tas berisi "amunisi" dapur, dan Bella memimpin jalan dengan tangan kosong yang siap menghantam siapa saja.
Mereka menuruni tangga dengan kecepatan penuh. "Ke parkiran bawah tanah! Gue punya kunci motor lama di sana!" teriak Bella.
Di parkiran, sebuah motor matic merah jambu milik Maya dan sebuah motor bebek tua milik Siska terparkir rapi.
"Naik ke motor gue satu-satu! Kita nggak punya waktu!" perintah Bella. Ia menyambar motor sport tua milik mantan suaminya yang masih ia simpan (dan belum dikembalikan karena masalah pembagian harta gono-gini).
"Tapi Bel, helmku mana?!" tanya Maya panik.
"Pakai panci ini!" Siska melemparkan panci aluminium dari tasnya ke kepala Maya.
"Cepat naik!"
Ketiga janda itu melesat keluar dari basement Apartemen Puri Kencana tepat saat mobil-mobil hitam milik pengejar mereka masuk ke area parkir. Terjadilah aksi kejar-kejaran di jalanan Jakarta yang mulai sepi.
Setelah berhasil mengecoh para pengejar lewat gang-gang sempit yang hanya diketahui oleh kurir paket, mereka berhenti di sebuah warung Indomie 24 jam di pinggiran kota untuk mengatur napas.
"Gila... jantungku hampir copot," keluh Maya sambil melepas panci dari kepalanya. "Kita beneran jadi buronan?"
"Bukan buronan polisi, tapi buronan organisasi yang lebih ngeri," kata Bella sambil memeriksa kartu memori itu lagi. "Kartu ini harus kita buka. Tapi kalau kita pakai laptop kita, mereka bisa melacak lokasi kita lewat IP address."
Siska menyesap teh tawar hangatnya. "Aku punya kenalan. Namanya Bambang Hacker. Dulu dia langganan kateringku. Dia jago soal beginian, tapi dia agak... unik."
"Unik gimana?" tanya Bella.
"Dia tinggal di warnet bawah tanah dan cuma mau bicara kalau dibawain rendang jengkol buatannya aku," jawab Siska lempeng.
Bella mengangguk. "Oke, besok pagi kita cari Bambang Hacker. Tapi malam ini, kita nggak bisa pulang ke apartemen. Mereka pasti sudah nunggu di sana."
"Jadi kita tidur di mana?" tanya Maya lemas.
"Hotel?"
"Nggak punya duit, May. Rekening kita semua mungkin sudah dipantau," Bella melihat ke arah sebuah penginapan kelas melati di seberang jalan. "Kita bakal nginep di sana. Pakai nama samaran."
"Aku mau pakai nama 'Mawar'," kata Maya semangat.
"Gue 'Melati'," timpal Siska.
Bella menghela napas. "Gue 'Kaktus'. Karena gue bakal nusuk siapa pun yang berani ganggu tidur gue malam ini."
Pagi harinya, mereka bertemu dengan Bambang Hacker di sebuah ruko terbengkalai. Bambang, pria kurus dengan kacamata setebal pantat botol, langsung rakus melahap rendang jengkol bawaan Siska.
"Ini... slurp... data gila, Mbak," ujar Bambang sambil mengetik dengan kecepatan cahaya. "Ini bukan data bank. Ini adalah daftar nama pejabat yang menerima suap dari sindikat penyelundupan barang mewah internasional."
"Ada nama Don Toro di sana?" tanya Bella.
"Don Toro cuma pion kecil di halaman terakhir," Bambang menunjuk layar. "Lihat nama paling atas. Jenderal Baskoro."
Bella terperanjat. "Baskoro? Dia kan calon kuat Menteri Pertahanan?!"
"Dan tebak siapa yang jadi donatur utamanya?" Bambang menekan tombol enter. Muncul foto seorang wanita cantik, elegan, namun berwajah dingin.
"Bu Fatma?!" seru Maya dan Siska serempak.
"Bukan Bu Fatma," koreksi Bambang. "Ini kembarannya, Fiona. Dia ratu mafia yang sebenarnya. Bu Fatma cuma kedok untuk mencuci uang hasil penyelundupan lewat bisnis katering."
Siska mendadak merasa mual. "Jadi selama ini aku bersaing bisnis dengan ratu mafia?"
"Dan daster macan Maya," lanjut Bambang, "ternyata adalah tempat persembunyian data ini karena Fiona tahu Don Toro adalah tempat yang paling tidak mungkin diperiksa oleh intelijen negara. Tapi dia tidak menyangka daster itu bakal dimaling anak buah suaminya sendiri karena salah paham."
Bella mengepalkan tangan. "Sekarang semuanya masuk akal. Kita bukan lagi cuma nyari jemuran. Kita megang bukti yang bisa meruntuhkan konspirasi negara."
Tiba-tiba, suara helikopter terdengar di atas ruko.
"Mereka di sini!" teriak Bambang. "Cepat lari lewat jalur tikus! Saya bakal hapus jejak kalian di sini!"
Bella, Siska, dan Maya kembali berlari. Kali ini mereka tahu taruhannya bukan lagi sekadar harga diri janda, tapi keselamatan negara (dan tentu saja, daster macan pink itu).
"Bel!" teriak Maya di tengah lari. "Kalau kita selamat, aku mau minta daster baru!"
"Iya, May! Nanti gue beliin satu pabrik kalau kita berhasil nangkep Fiona!" balas Bella.
"Sama sutil titanium buat aku!" tambah Siska.
Ketiga janda muda itu melompat ke atas motor, siap menghadapi babak selanjutnya Menembus pesta perayaan Jenderal Baskoro untuk mengungkap kebenaran di depan publik.
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣