NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Meditasi di Ambang Kematian

Kegelapan di dalam gua itu tidaklah sunyi. Bagi Jiangzhu, kegelapan itu berbisik. Suara tetesan air yang jatuh dari stalaktit terdengar seperti dentum lonceng kematian di telinganya. Bau tanah basah, lumut kuno, dan aroma apek dari kerangka manusia di hadapannya memenuhi indra penciumannya yang kini menjadi sepuluh kali lebih tajam.

Jiangzhu duduk bersila, mengikuti posisi kerangka di depannya. Gulungan sutra "Seni Trinitas Tak Terbatas" terbuka di atas pangkuannya, bersinar dengan cahaya keemasan yang redup, seolah-olah benda itu memiliki detak jantungnya sendiri.

"Pemurnian Sumsum... langkah pertama untuk menjadi wadah bagi Tiga Dunia," gumam Jiangzhu. Suaranya bergema di dinding gua yang sempit.

Ia mulai memejamkan mata. Sesuai instruksi dalam gulungan, ia harus melakukan hal yang paling gila bagi seorang kultivator: ia harus menghancurkan sisa-sisa meridian manusianya yang rusak untuk membiarkan energi Trinitas membangun kembali fondasi tubuhnya.

"Jika aku gagal, aku tidak akan hanya menjadi cacat. Aku akan meledak menjadi debu," batinnya. Namun, bayangan wajah menghina Xiao Feng dan tatapan ketakutan Liling terlintas di benaknya. Rasa sakit di hatinya jauh lebih besar daripada rasa takut akan kematian.

"Mulai!"

Jiangzhu menarik napas dalam-dalam, lalu secara paksa membalikkan aliran Qi di dalam tubuhnya.

KRAKK!

Bunyi itu tidak datang dari luar, melainkan dari dalam tubuhnya. Tulang rusuknya terasa seperti dipukul oleh palu godam raksasa. Jiangzhu mengerang hebat, tubuhnya melengkung ke depan. Keringat dingin bercampur darah mulai merembes dari pori-porinya.

Ini adalah proses "Penghancuran dan Pembentukan Kembali".

Di dalam dunianya yang gelap, Jiangzhu melihat tiga aliran energi raksasa. Aliran pertama berwarna putih bersih Energi Langit, yang kedua berwarna hitam pekat dengan aura kehancuran Energi Iblis, dan yang ketiga berwarna merah darah yang hangat Energi Manusia. Ketiganya saling bertarung, mencoba mendominasi satu sama lain di dalam ruang Dantian-nya yang rapuh.

"Jangan bertarung... menyatulah!" Jiangzhu berteriak dalam pikirannya.

Ia menggunakan tekadnya sebagai jembatan. Ia membayangkan dirinya bukan sebagai pemilik kekuatan itu, melainkan sebagai penengah. Perlahan, energi merah manusia—yang merupakan esensi paling lemah namun paling fleksibel—mulai membungkus energi hitam dan putih. Seperti seorang ibu yang menenangkan dua anak yang bertikai, esensi manusia Jiangzhu mulai meredam gejolak tersebut.

Jam demi jam berlalu. Tubuh Jiangzhu kini terbungkus oleh lapisan kotoran hitam yang berbau busuk—kotoran dan racun yang selama belasan tahun mengendap di tulangnya. Inilah proses pembersihan bakat yang akan mengubah "Nadi Lumpuh" menjadi "Nadi Surgawi".

Tiba-tiba, sebuah suara tawa kecil terdengar dari sudut gua yang paling gelap.

"Menarik... sangat menarik. Sudah empat ribu tahun sejak aku melihat seseorang cukup bodoh untuk mencoba teknik Bunuh Diri ini."

Mata Jiangzhu tersentak terbuka. Di hadapannya, kabut hitam mulai berkumpul di atas kerangka tua itu. Kabut itu perlahan membentuk sosok seorang pria tua bertubuh kecil dengan jenggot putih panjang yang menjuntai hingga ke tanah, namun matanya bersinar dengan warna ungu yang jahat.

"Siapa kau?" Jiangzhu mencoba bicara, namun tenggorokannya terasa seperti terbakar.

"Aku? Aku hanyalah sisa-sisa jiwa yang tertinggal di gulungan itu. Kau bisa memanggilku Penatua Mo," sosok itu melayang mendekat, mengendus udara di sekitar Jiangzhu. "Baumu... kau memiliki darah Raja Iblis, tapi detak jantungmu milik Dewi Langit. Benar-benar sebuah 'Dosa Besar' yang berjalan."

Jiangzhu waspada. Meski sosok ini hanya sebuah proyeksi jiwa, tekanan yang dipancarkannya membuat bulu kuduk Jiangzhu berdiri. "Apa maumu? Apakah kau juga ingin membunuhku?"

Penatua Mo tertawa terbahak-bahak hingga gua itu bergetar. "Membunuhmu? Tidak, Cah Bagus. Aku sudah bosan melihat kegelapan di sini sendirian. Aku ingin melihatmu mengacaukan dunia yang munafik itu. Tapi dengan caramu berlatih tadi? Kau akan mati sebelum matahari terbit."

Penatua Mo menjentikkan jarinya. Sebuah cahaya ungu masuk ke dahi Jiangzhu.

"Teknikmu salah. Kau mencoba menyeimbangkan mereka dengan paksaan. Kau harus menggunakan 'Kekosongan'. Jangan jadikan dirimu penengah, jadilah lubang hitam yang menelan mereka semua tanpa sisa!"

Jiangzhu terpaku. Kata-kata itu seperti petir yang menyambar kesadarannya. Selama ini, ia takut pada kekuatan gelap di dalam dirinya. Ia mencoba menahannya. Namun Penatua Mo benar—kekuatan ini tidak bisa dijinakkan, ia harus dikuasai sepenuhnya.

"Terima kasih... Guru," ucap Jiangzhu dengan tulus.

"Jangan panggil aku Guru dulu! Aku belum memutuskan untuk mengajarimu. Sekarang, selesaikan pembersihan sumsummu. Ada tamu tidak diundang yang mendekati gua ini."

Jiangzhu menajamkan pendengarannya. Di luar hujan badai, ia mendengar suara langkah kaki yang berat dan geraman rendah. Itu bukan manusia. Itu adalah Serigala Api Ekor Tiga, binatang buas tingkat Bumi yang biasanya mendominasi hutan ini. Tampaknya, aroma darah dari proses pembersihan tubuh Jiangzhu telah memancing predator tersebut.

"Selesaikan dalam sepuluh napas, atau kau akan menjadi santapan anjing itu," ujar Penatua Mo sambil menghilang kembali ke dalam gulungan.

Jiangzhu mengertakkan gigi. Ia memejamkan mata kembali, tapi kali ini ia tidak lagi menahan energinya. Ia membuka seluruh pori-porinya dan membiarkan energi Trinitas meledak ke seluruh nadinya.

BUM!

Gelombang energi transparan meledak dari tubuh Jiangzhu, menghancurkan batu-batu di sekitarnya. Kulitnya yang pecah-pecah kini bersinar dengan kilau porselen. Ia berdiri, merasakan kekuatan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Setiap serat ototnya kini mengandung daya ledak yang luar biasa.

Di mulut gua, sepasang mata merah menyala menatapnya. Serigala raksasa dengan bulu yang diselimuti api biru masuk, taringnya meneteskan air liur yang membakar lantai gua.

Jiangzhu tidak takut. Ia justru merasakan dorongan untuk bertarung yang membara. Ia mengepalkan tangan kanannya, di mana energi hitam mulai berkumpul membentuk cakar bayangan yang mengerikan.

"Kau datang di saat yang tepat," bisik Jiangzhu dengan nada dingin. "Aku butuh sasaran untuk menguji tulang baruku."

Serigala itu melompat dengan kecepatan kilat, api birunya memenuhi ruangan. Namun, Jiangzhu bergerak lebih cepat. Ia menghilang dari tempatnya berdiri, meninggalkan bayangan kabur, dan muncul tepat di bawah leher serigala tersebut.

"Satu pukulan... Penghancur Bintang!"

Bau hangus bulu binatang dan anyir darah segar mendadak memenuhi ruang gua yang sempit itu, mencekik paru-paru Jiangzhu yang baru saja pulih. Serigala Api Ekor Tiga itu tidak sekadar menggeram; suaranya adalah getaran frekuensi rendah yang membuat nyali manusia biasa menciut hingga ke titik nadir. Air liur binatang itu jatuh ke lantai gua, menimbulkan suara mendesis saat menyentuh genangan air payau, menciptakan lubang-lubang kecil yang berasap.

Jiangzhu merasakan jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut, melainkan karena sensasi aneh yang menuntut untuk dilepaskan. Di dalam nadinya, energi hitam yang tadi disebut Penatua Mo sebagai "Esensi Iblis" mulai memberontak. Rasanya seperti ada ribuan semut api yang berbaris di bawah kulitnya, menuntut darah sebagai bayaran atas kekuatan yang mereka berikan.

"Tenanglah..." gumam Jiangzhu pada dirinya sendiri. Suaranya pecah, terdengar asing bahkan di telinganya sendiri.

Si serigala menyerang. Gerakannya bukan sekadar lompatan, melainkan ledakan api biru yang membutakan. Jiangzhu bisa merasakan panas yang menyengat, membakar ujung rambutnya yang acak-acakan. Namun, di matanya yang kini terpapar visi tiga dunia, gerakan cepat itu tampak seperti adegan dalam air—lambat dan penuh celah.

Ia tidak menghindar ke samping. Dengan sisa kewarasan manusianya, Jiangzhu justru merendahkan tubuh, membiarkan punggungnya hampir menyentuh tanah yang dingin dan kotor. Saat perut serigala yang tanpa perlindungan itu melayang tepat di atas wajahnya, Jiangzhu melepaskan tinjunya.

Tidak ada cahaya yang menyilaukan. Hanya ada suara ‘prak’ yang tumpul—suara daging yang koyak dan tulang yang remuk di bawah tekanan energi yang tidak murni.

Jiangzhu terlempar ke sudut gua akibat momentum tersebut, tubuhnya menghantam dinding batu dengan keras hingga ia terbatuk darah. Namun, serigala itu lebih buruk. Binatang itu menghantam langit-langit gua sebelum jatuh berdebam seperti karung goni berisi batu.

Ia melihat tangannya sendiri. Buku-buku jarinya hancur, memperlihatkan tulang yang putih. Tapi, dalam hitungan detik, kabut hitam merayap di luka itu, menarik daging kembali bersatu dengan cara yang mengerikan untuk disaksikan.

"Jadi ini... harga yang harus kubayar?" bisik Jiangzhu, menatap bangkai binatang di depannya dengan tatapan kosong. "Menjadi monster untuk membunuh monster?"

Penatua Mo kembali muncul, sosoknya yang transparan tampak berkilat senang. "Hanya itu? Baru satu ekor anjing kecil dan kau sudah mulai berfilosofi? Cepat ambil inti energinya sebelum baunya memancing sesuatu yang lebih besar dari lubang ini!"

Jiangzhu bangkit perlahan, kakinya masih agak goyah. Ia melangkah mendekati bangkai serigala, merogoh ke dalam dadanya yang masih hangat dengan tangan kosong. Tangannya terasa panas, tapi hatinya perlahan mulai membeku. Di Benua Longyuan, kebaikan adalah barang mewah yang tidak bisa ia beli. Mulai saat ini, ia hanya akan membayar dunia dengan satu mata uang: kekuatan.

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!