NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Hati

Lampu-lampu estetik berwarna kekuningan menyala terang di salah satu kafe yang paling digandrungi anak muda kota itu. Musik indie mengalun pelan, bersaing dengan riuh rendah obrolan pengunjung yang hampir memenuhi setiap sudut meja. Di bagian belakang, Shasha baru saja sampai dan segera masuk ke ruang ganti karyawan yang sempit namun rapi.

Ia dengan cekatan mengenakan seragam pekerja kafe, berupa kemeja hitam dengan celemek berwarna cokelat gelap yang melingkar di pinggangnya.

“Hari yang sangat melelahkan,” keluh Gita, teman sesama pekerja kafe yang sedang bersiap untuk pulang. Wajahnya tampak kusut setelah shift pagi yang panjang.

Shasha menoleh sambil merapikan kerah seragamnya di depan cermin kecil. Ia tersenyum tipis, berusaha mengusir rasa kantuk yang mulai menyerang setelah seharian berkuliah.

“Syukurlah kalau ramai. Semoga nanti kita dapat bonus karena target penjualan tercapai.”

“Huh... berharap bonus pada bos kita itu adalah hal yang mustahil. Dia sangat pelit,” jawab Gita sambil melepas seragamnya dengan gerakan kasar, “Jika saja aku menemukan pekerjaan lain dengan gaji lebih layak, aku pasti sudah lama pergi dari kafe ini.”

“Semoga kau segera menemukannya,” sahut Shasha tulus.

Gita menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Shasha dengan dahi berkerut, “Kenapa kau selalu terlihat santai, Sha? Apa karena ini hanya pekerjaan paruh waktu bagimu?”

Shasha mengangguk pelan sembari menguncir rambut hitamnya menjadi ekor kuda agar lebih rapi saat melayani pelanggan, “Bagiku, ini pekerjaan untuk penghasilan tambahan agar bisa bertahan hidup. Fokus utamaku tetap kuliah. Setelah lulus nanti, aku akan mencari pekerjaan tetap di perusahaan besar.”

Gita tersenyum haru mendengar jawaban itu. Semenjak mengenal kehidupan Shasha yang yatim piatu dan berjuang sendirian di kota tanpa dukungan keluarga, ia selalu merasa iba sekaligus kagum pada ketangguhan gadis itu.

“Kau hebat, Shasha. Dengan kegigihanmu, aku yakin kau pasti akan sukses di masa depan,” ucap Gita tulus.

“Semoga saja,” jawab Shasha diakhiri dengan kekehan ringan. Ia menepuk bahu Gita pelan sebelum melangkah keluar menuju area pelayanan, “Baiklah, aku mulai bekerja dulu. Hati-hati di jalan, Git!”

“Ok! Semangat, Shasha!”

Shasha melangkah keluar dari ruang ganti dengan senyum profesional yang sudah terpasang di wajahnya. Ia pun segera bergabung dengan Tomi di balik area barista yang dipenuhi antrian pelanggan.

Shasha bertugas untuk menerima pelanggan, mencatat pesanan, memproses pembayaran, dan memanggil pelanggan saat pesanan mereka siap. Sementara Tomi bertugas untuk menyiapkan berbagai minuman di belakang mesin kopi. Melalui jendela kaca besar di samping mereka, suasana luar jalanan yang mulai gelap masih terlihat jelas, memberikan latar belakang yang hidup di tengah kesibukan kafe.

“Kau sudah datang, Sha,” ucap Tomi saat sedang menunggu pelanggan memproses pembayaran di depan mesin kasir.

Shasha mengangguk ramah sembari mengambil posisinya di depan layar monitor pemesanan, “Biar aku saja yang menangani kasir. Kau fokus siapkan pesanan saja agar antrean tidak semakin panjang.”

“Tentu,” jawab Tomi dengan lega, lalu melipir ke bagian lain untuk meracik pesanan berikutnya.

Suasana kafe semakin malam terasa semakin hidup. Shasha bergerak dengan efisien, menyapa setiap pelanggan dengan senyum ramah meskipun rasa lelah dari aktivitas kuliah tadi pagi masih terasa di kakinya.

......................

Suasana di salah satu bar mewah terasa begitu hangat dan hidup, sangat kontras dengan dinginnya udara malam di luar sana. Musik romantis mengalun indah, mengisi setiap celah ruangan yang didominasi cahaya temaram dari lampu gantung. Aroma alkohol mahal dan parfum kelas atas bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang intim untuk sebuah acara reuni tahunan sekolah menengah atas.

Ketua kelas mereka memang tidak pernah absen mengagendakan acara ini. Di bawah naungan lampu-lampu kecil yang berpendar keemasan, mereka semua berbaur, tertawa, dan saling mendetingkan gelas berisi minuman beralkohol ringan sebagai simbol persaudaraan yang tidak lekang oleh waktu.

“Hei, Bima! Kenapa kau selalu datang sendirian?” tanya salah satu temannya sambil menyenggol bahu Bima dengan akrab.

Bima tersenyum tipis, sebuah ekspresi tenang yang menjadi ciri khasnya. Ia meletakkan gelasnya di atas meja, “Lalu aku harus membawa siapa?”

“Tentu saja kekasihmu!” sahut teman lainnya yang disambut tawa oleh yang lain.

Bima mendesah panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada sofa beludru yang empuk. Ia tampak sangat santai di bawah keremangan cahaya bar.

“Oh, lihatlah kau! Kau sudah memilih target pada satu wanita, kan? Terlihat jelas dari binar di wajahmu itu,” goda temannya lagi.

Bima hanya menggeleng pelan sambil mengulum senyum simpul, “Memang sudah ada.”

Jawaban itu seketika membuat teman-temannya histeris. Si kutu buku Bima, yang dulunya hanya tahu tentang rumus dan buku pelajaran, akhirnya keluar dari zona nyaman.

“Siapa dia?” tanya mereka serempak dengan nada penasaran.

“Tentu saja aku,” ucap sebuah suara feminin yang tiba-tiba muncul.

Lana datang dengan penampilan yang mencolok. Ia langsung mengusir teman Bima yang duduk di samping pria itu tanpa permisi. Dengan gerakan percaya diri, ia duduk merapat ke sisi Bima, menatap pria itu dengan pandangan sensual. Sementara itu, wajah Bima seketika berubah masam dan dingin.

“Wooooo!” Sorakan di meja itu semakin riuh.

“Apa itu benar, Bima? Wow, akhirnya kau takluk juga pada si cantik Lana!”

“Ti—“

“Ssstttt.” Lana menempelkan telunjuknya di bibir Bima, menahan pria itu agar tidak melanjutkan bantahannya.

“Jangan membuatku malu di depan mereka,” bisik Lana sepelan mungkin, tepat di telinga Bima.

Bima menyentak tangan Lana dengan kasar agar wanita itu menyingkir.

“Kau kasar sekali pada kekasihmu,” celetuk temannya sambil terkekeh, menganggap itu hanya bumbu dalam hubungan mereka. Bima hanya berdecak kesal dan memalingkan wajah ke arah lain.

Drrt... drrt...

Lana merogoh tas mungilnya. Nama sang nenek terpampang di layar ponsel. Dengan helaan napas terganggu, ia bangkit dan menjauh dari area ramai menuju sudut yang lebih sepi di dekat balkon bar.

“Kenapa, Nek?”

“Nenek kesepian, Lana,” suara Belinda terdengar lemah di seberang sana.

“Ck, aku sedang reuni dengan teman-temanku, Nek!”

Belinda membuang napas kasar, “Meskipun mempunyai dua cucu, ternyata sama saja. Satunya sibuk dengan teman-temannya, satunya lagi jarang pulang.”

“Nek, sudah ya. Teman-temanku menungguku.”

“Ya, bersenang-sena—“

Belum tuntas Belinda menyelesaikan kalimatnya, Lana sudah mematikan panggilan itu secara sepihak. Ia merasa neneknya benar-benar tidak tahu waktu. Di saat ia sedang berusaha keras mengejar Bima, neneknya malah mengganggu. Lana mengeluarkan lipstik dan kaca kecil dari tasnya, memoles kembali bibirnya agar tampak lebih merona sebelum kembali ke meja.

Namun, langkah Lana terhenti tepat di balik pilar besar setelah mendengar percakapan di depan sana.

“Oh, jadi Lana bukan kekasihmu?” tanya salah satu teman Bima.

“Tentu saja tidak,” jawab Bima dengan nada tegas yang belum pernah Lana dengar sebelumnya, “Aku tidak pernah menyukai wanita yang hanya tahu kekuasaan dan kemewahan seperti dia. Aku lebih menyukai wanita yang sederhana dan lembut.”

“Lalu siapa yang kau sukai?”

Bima tersenyum tulus, membayangkan sosok wanita yang memenuhi pikirannya, “Dia sahabat kuliahku. Kami dekat sejak awal semester. Wajahnya sangat lugu saat pertama kali kami bertemu, tapi itulah daya tariknya. Dan sekarang, aku sudah yakin untuk menyatakan perasaanku padanya dalam waktu dekat.”

Suara sorakan histeris kembali meledak di meja itu. Sementara di balik pilar, Lana mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Amarah yang membara mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tidak terima. Tanpa Bima menyebutkan nama sekalipun, Lana sudah tahu siapa yang dimaksud.

“Shasha. Wanita kampungan itu,” desis Lana dengan mata berkilat marah.

Tanpa niat untuk kembali ke meja atau berpamitan, Lana berbalik dan melangkah keluar dari bar dengan langkah yang menghentak penuh amarah.

“Lana lama sekali?” tanya seorang teman di samping Bima.

“Mungkin dia dipanggil pulang oleh neneknya,” jawab yang lain acuh tak acuh.

Sedangkan Bima memilih untuk tidak peduli. Baginya, kehadiran atau kepergian Lana bukan lagi urusannya. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada satu nama yaitu Shasha.

......................

Shasha membuka pintu kosannya setelah ia pulang dari tempatnya bekerja. Kamar itu memiliki desain minimalis yang hangat dan rapi. Tangannya meraba dinding, mencari saklar untuk menyalakan lampu yang segera menerangi seisi ruangan. Ia melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumahan empuk tepat di depan pintu masuk.

Langkah kakinya yang lelah membawanya masuk lebih dalam. Ia meletakkan kantong berisi makanan di atas meja dapur kecil yang menyatu dengan area cuci, lalu melemparkan tasnya ke atas kasur lantai. Dan tanpa menunggu lama, ia juga ikut menghempaskan tubuhnya ke samping tas yang sudah tergeletak di sana.

“Sangat melelahkan,” gumamnya pelan sambil merasakan punggungnya yang pegal akibat berdiri berjam-jam di kafe.

Ia menatap langit-langit kamar yang sunyi. Di ruangan yang didominasi warna putih itu, dunia terasa berhenti sejenak. Shasha menoleh ke arah nakas kayu kecil di samping kasurnya. Di bawah pendar lampu meja yang temaram, sebuah figura berisi foto masa kecilnya bersama kedua orang tuanya terpampang jelas. Hatinya diliputi kerinduan. Jika saja mereka masih hidup, mungkin ia tidak akan merasa sesunyi ini di tengah riuhnya kota.

Drrt... drrt...

Getaran ponsel dari dalam tas mengejutkannya. Shasha bangkit dengan malas, merogoh tasnya untuk mengambil benda itu. Dahinya mengerut dalam kala melihat deretan nomor asing di layar. Ia membiarkannya saja, khawatir jika itu adalah modus penipuan.

Panggilan itu berhenti, dan Shasha mendesah lega. Namun, belum sempat ia meletakkan ponselnya kembali, sebuah pesan masuk membuat jantungnya berdegup kencang karena emosi.

‘Angkat panggilanku gadis tidak tahu diri! Aku bibimu!’

Shasha meremas ponselnya kuat-kuat. Bibinya? Wanita yang tidak pernah memedulikannya selama ia hidup di kota, tiba-tiba menghubunginya seperti teror. Belum sempat ia berpikir, ponselnya kembali berdering. Dengan tangan sedikit gemetar, ia akhirnya mengangkatnya.

“Halo.”

“Shasha! Ini bibi!” suara melengking di seberang sana langsung memenuhi telinga Shasha.

“Aku tahu.”

“Kirimkan uang padaku sekarang!”

Shasha membeku. Ia mencoba mencerna permintaan tidak masuk akal yang baru saja ia dengar.

“Apa Bibi?!” Shasha menaikkan nada bicaranya, rasa lelahnya berubah menjadi kemarahan.

“Kubilang kirimkan uang! Pamanmu kalah judi dan sekarang kami semua diancam! Kami butuh uang cepat!”

“Itu bukan urusanku. Toh, aku juga tidak memiliki uang sebanyak itu.”

“Apa kau bilang? Bukan urusanmu? Hei, apa kau sudah lupa siapa yang memberimu makan setelah orang tuamu tiada? Kau harus membalas budi pada kami!” teriak bibinya tanpa malu.

“Aku tidak merasa harus membalas budi pada Bibi!” sahut Shasha, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, “Uang untuk memberiku makan saat itu semuanya berasal dari warisan Ayah. Bahkan bukan hanya aku yang makan dari uang itu, tapi seluruh keluargamu juga!”

“Beraninya kau membentakku gadis sialan!”

“Sudahlah. Jangan menghubungiku lagi!”

Shasha mematikan panggilan itu secara sepihak dan segera memblokir nomornya. Napasnya naik turun menahan emosi yang meluap. Ia melemparkan ponselnya asal ke atas kasur. Kesunyian kamar yang tadinya menenangkan kini berubah menjadi mencekam. Rasa sesak di dadanya tidak lagi tertahan, hingga akhirnya berubah menjadi isakan pilu.

“Hiks... hiks...”

Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, isakannya terdengar semakin keras di ruangan yang sepi itu. Kenapa ia harus memiliki keluarga yang hanya menganggapnya sebagai mesin uang? Apa benar-benar tidak ada kebahagiaan yang tersisa untuknya di masa depan?

1
kalea rizuky
kacian bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!