Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Umi Sarah tertawa terpingkal-pingkal sampai matanya berair. "Aduh, Nduk Nayla... kamu ini jujur sekali. Memang ya, kalau Mas Hilman sudah ketemu jodohnya, kaku-kakunya langsung hilang berganti jadi semangat 45."
Sarah yang masih berusaha mengatur napas setelah tersedak, hanya bisa menggelengkan kepala. Ia meletakkan gelas airnya dan menatap kakak iparnya dengan tatapan kagum sekaligus geli. "Mbak Nayla ini berani sekali ya, Umi. Mas Hilman yang biasanya ditakuti santri karena galak, di depan Mbak Nayla malah nggak berkutik."
Suasana sarapan pun berlanjut dengan penuh tawa, meski Nayla sesekali meringis saat harus membetulkan posisi duduknya. Namun, di tengah kehangatan itu, tiba-tiba seorang santri putra berlari tergesa-gesa menuju teras rumah dan mengetuk pintu dengan keras.
"Assalamu'alaikum! Gus! Gus Hilman!" teriak santri itu dari luar.
Hilman langsung berdiri, wajahnya kembali serius dan berwibawa. "Wa'alaikumussalam. Ada apa, Kang?"
"Itu Gus... di depan gerbang pesantren ada mobil putih plat B mogok. Orangnya marah-marah sama santri yang mau bantu dorong. Katanya dia mau cari perempuan namanya Nayla. Orangnya agak bau alkohol, Gus, kayaknya orang kota yang tersesat," lapor santri itu dengan napas tersengal.
Mendengar nama "Nayla" dan "bau alkohol", sendok di tangan Nayla langsung jatuh berdenting ke atas piring. Wajahnya yang tadi ceria seketika pucat pasi. Ia menatap Hilman dengan ketakutan.
"Mas... itu pasti Rian. Dia beneran datang ke sini," bisik Nayla gemetar.
Umi Sarah dan Sarah langsung saling pandang dengan cemas. Abah Kiai yang baru saja keluar dari kamar setelah mendengar keributan itu, mengusap jenggotnya dan menatap Hilman. "Hilman, selesaikan dengan cara yang baik. Jangan terpancing emosi, tapi jangan biarkan pesantren kita dinodai."
Hilman mengangguk takzim pada Abah. Ia kemudian berbalik menatap Nayla, lalu mengusap kepalanya lembut. "Kamu tetap di sini bersama Umi dan Sarah. Jangan keluar rumah. Mas yang akan temui dia."
"Tapi Mas... dia itu nekat," cegah Nayla sambil memegang erat ujung baju koko Hilman.
Hilman tersenyum tenang, namun sorot matanya menunjukkan ketegasan seorang suami yang siap melindungi harga dirinya. "Dia memang punya nekat, tapi Mas punya hak sah atas kamu. Di sini rumah Mas, Nay. Tidak ada yang boleh menyakitimu."
Hilman melepaskan genggaman tangan Nayla dengan perlahan namun pasti. Ia merapikan sorbannya yang tersampir di bahu, lalu melangkah keluar dengan raut wajah yang dingin dan penuh wibawa. Langkah kakinya yang tenang namun tegas terdengar berirama di selasar rumah kayu itu.
Nayla tidak bisa tenang. Meski rasa perih di tubuhnya masih terasa, ia memaksakan diri untuk berdiri. Dengan bantuan Sarah yang memegangi lengannya, Nayla tertatih menuju jendela depan.
"Mbak, kata Mas Hilman jangan keluar," bisik Sarah cemas.
"Hanya lihat dari sini, Dek," jawab Nayla lirih. Jantungnya berdegup kencang saat melihat di gerbang pesantren, seorang pria dengan kemeja kusut dan rambut berantakan sedang berteriak-teriak. Itu memang Rian.
Di gerbang pesantren, Rian tampak limbung, tangannya memegang botol air mineral yang aromanya sangat menyengat. Beberapa santri berdiri menjaga jarak, mencoba bersabar menghadapi makian pria kota itu.
"Mana Nayla?! Gue tahu dia di sini! Jangan sembunyiin dia di tempat kumuh kayak gini!" teriak Rian kasar.
Langkah Hilman terhenti tepat tiga meter di depan Rian. Kehadiran Hilman seketika membuat suasana menjadi hening. Aura kepemimpinan sang Gus terpancar kuat, kontras dengan kondisi Rian yang berantakan.
"Saya suaminya. Ada perlu apa Anda mencari istri saya di jam sepagi ini, dan dalam keadaan tidak sopan?" tanya Hilman dengan suara rendah namun menggelegar.
Rian tertawa meremehkan, matanya yang merah menatap Hilman dari ujung kaki ke ujung kepala. "Suami? Hah! Nayla itu cewek kota, dia nggak level sama tukang sarung kayak lo! Pasti dia dipaksa kan? Nay! Keluar lo! Ikut gue balik ke Jakarta!"
Rian mencoba merangsek maju dan hendak mendorong dada Hilman. Namun, dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Hilman menangkap pergelangan tangan Rian. Genggaman tangan Hilman begitu kuat hingga Rian meringis kesakitan.
"Jaga lisan dan tangan Anda," desis Hilman tepat di depan wajah Rian. "Nayla adalah kehormatan saya. Anda datang ke tempat suci ini dengan bau khamr dan niat buruk. Jika Anda tidak pergi sekarang, saya tidak akan ragu menyerahkan Anda ke pihak berwajib atas gangguan ketertiban dan perbuatan tidak menyenangkan."
"Lo berani sama gue?!" Rian mencoba mengayunkan tinjunya dengan sisa tenaga.
Nayla yang melihat itu dari balik jendela spontan berteriak, "Mas Hilman, awas!"
Namun, tanpa perlu dibantu, Hilman hanya sedikit memiringkan kepalanya. Pukulan Rian yang meleset membuat pria mabuk itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di tanah yang masih becek sisa hujan semalam.
Hilman tidak membalas dengan pukulan. Ia justru berdiri tegap di atas Rian yang merangkak di lumpur. "Tolong, Kang Santri, bantu bapak ini ke mobilnya. Kalau mesinnya mogok, dorong sampai keluar area pesantren. Berikan dia air putih supaya sadar."
Hilman kemudian berbalik badan, mengabaikan teriakan frustasi Rian yang memanggil nama Nayla. Saat Hilman menatap ke arah jendela rumah, matanya bertemu dengan mata Nayla yang berkaca-kaca.