Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana licik Sarah
Maira sudah berganti pakaian. Dress selutut berwarna burgundy membalut tubuhnya dengan pas, menampilkan kesan seksi namun tetap elegan. Potongannya sederhana, tapi cukup untuk membuat siapa pun menoleh. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, jatuh lembut di bahu. Riasan di wajahnya dibuat sedikit lebih menonjol dari biasanya, menegaskan garis mata dan bibirnya, membuat kecantikannya terlihat semakin sempurna.
Di depan klub, Sarah sudah menunggunya. Jari-jarinya sibuk menari di layar ponsel, terus mengirim pesan pada orang yang akan menggunakan jasa Maira malam ini. Wajahnya tampak puas, seolah semua sudah berjalan sesuai rencana.
"Wah, sempurna. Kamu benar-benar anak mama," puji Sarah sambil menatap Maira dari ujung kepala sampai kaki.
Maira hanya membalas dengan senyum tipis yang terasa dipaksakan.
"Ayo kita berangkat sekarang. Pak Vincent sudah menunggu kamu," lanjut Sarah sambil menarik tangan Maira menuju taksi yang sudah terparkir di pinggir jalan.
Langkah Maira tertahan. Tangannya menegang di genggaman sang mama.
"Ma, mama sudah jelaskan sama dia kan, bagaimana syarat yang selalu aku berikan untuk semua pelanggan?" tanya Maira dengan nada ragu.
Sarah berhenti sejenak, lalu menoleh sambil tersenyum meyakinkan.
"Kamu tenang saja. Mama sudah jelaskan semuanya. Dia malah setuju dengan syarat aneh kamu itu," ucapnya lembut, berusaha membuat Maira percaya.
Namun kegelisahan itu tetap bersarang di dada Maira.
**
Taksi berhenti di depan sebuah hotel mewah. Lampu-lampu gedung itu tampak terang, tapi justru membuat perasaan Maira semakin tidak nyaman. Sarah turun lebih dulu, disusul Maira yang melangkah dengan hati berat. Mereka berjalan memasuki hotel dan langsung menuju lift.
Entah mengapa, sejak kaki Maira menginjak lantai lobby, dadanya terasa sesak. Ada firasat buruk yang sulit ia jelaskan. Perasaannya benar-benar tidak tenang malam ini.
Tanpa mereka sadari, Hazel berada di lobby hotel itu. Hotel tersebut juga merupakan salah satu aset miliknya. Matanya tak sengaja menangkap sosok Maira yang berjalan bersama Sarah. Langkahnya sempat terhenti. Ia ingin menghampiri, ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Namun teringat ucapan Maira semalam, Hazel akhirnya mengurungkan niatnya. Ia hanya berdiri diam, menatap punggung Maira yang menghilang menuju lift.
Sarah dan Maira kini berdiri di depan sebuah kamar hotel. Nomor kamar itu tertera jelas di pintu. Sarah memencet bel, dan tak lama kemudian pintu pun terbuka.
Seorang pria berbadan tegap, berusia sekitar empat puluh tahunan, berdiri di ambang pintu. Senyum puas langsung terbit di wajahnya saat melihat Sarah dan Maira.
"Sarah," sapanya dengan nada senang.
"Pak Vincent," balas Sarah, tak kalah sumringah.
"Ini Maira," lanjut Sarah sambil sedikit mendorong putrinya ke depan.
Tatapan Pak Vincent langsung tertuju pada Maira, menelusuri penampilannya tanpa sungkan.
"Ternyata benar kabar yang aku dengar. Seorang Maira memang mempesona. Kecantikannya bisa membuat pria mana pun mabuk kepayang," pujinya sambil tersenyum lebar.
Bagi Maira, senyum itu terasa menjijikkan. Ia menahan diri agar ekspresinya tidak berubah.
"Sarah, aku akan transfer semua pembayarannya sekarang," ujar Pak Vincent santai sambil memencet sesuatu di ponselnya.
Tak lama kemudian, bunyi notifikasi terdengar dari ponsel Sarah. Matanya langsung berbinar saat melihat angka yang tertera di layar. Senyum lebarnya tak bisa disembunyikan.
"Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak Vincent. Maira saya serahkan ke Anda," ucap Sarah sambil melangkah mundur.
Refleks, Maira meraih tangan ibunya. Genggamannya erat, tatapannya penuh permohonan, seolah meminta semua ini dihentikan.
"Kamu tenang saja. Pak Vincent orang baik. Kamu tahu kan, dia membayar lebih dari yang dijanjikan semalam," bisik Sarah sambil melepaskan tangan Maira.
"Ayo, buruan masuk. Jangan buat Pak Vincent menunggu," lanjutnya sambil mendorong tubuh Maira hingga berdiri sangat dekat dengan pria itu.
Pak Vincent tersenyum puas, lalu menarik lengan Maira masuk ke dalam kamar hotel. Pintu pun tertutup perlahan di belakang mereka.
Sementara itu, jantung Maira berdegup kencang. Perasaan tidak tenang itu semakin kuat. Dalam hatinya, ia yakin, sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya malam ini.
**
"Maira, kamu ternyata cantik sekali," bisik Pak Vincent tepat di telinga Maira.
Napas pria itu terasa panas di kulitnya, membuat Maira bergidik tak nyaman.
"Aku tak menyangka ibu kamu bisa meyakinkan kamu untuk datang ke sini. Padahal aku sudah bilang, aku tak ingin seperti para pria lainnya saat menikmati tubuh kamu. Aku menginginkan lebih. Aku ingin keseluruhan diri kamu menjadi milik aku malam ini."
"Apa?" Mata Maira membulat. Tubuhnya menegang.
"Apa maksud Anda?"
Ia menelan ludah, berusaha tetap tenang.
"Bukankah Anda tahu syarat saya? Saya akan memuaskan pelanggan, tapi tidak dengan satu hal itu," ucapnya tegas meski suaranya bergetar.
Pak Vincent justru tertawa puas. Tawanya terdengar rendah dan membuat bulu kuduk Maira meremang. Ia merasa rencana licik itu berjalan mulus seperti yang ia inginkan.
"Jadi mama kamu tidak bilang apa-apa?" tanya pria itu santai.
Maira menggeleng pelan, dadanya terasa semakin sesak.
"Sarah sudah tahu semuanya. Makanya aku bayar lebih," ucap Pak Vincent terkekeh.
Wajah Maira memucat.
"Kalau begitu, saya tidak akan melayani Anda malam ini."
Ia langsung berbalik, melangkah cepat ke arah pintu dan hendak membukanya. Namun saat gagang pintu ditarik, pintu itu tak bergerak. Terkunci.
Tawa Pak Vincent terdengar di belakangnya. Tawa yang terdengar menyeramkan.
Langkah kaki pria itu semakin mendekat. Maira yang terpojok di depan pintu mulai panik. Jantungnya berdegup kencang.
"Anda jangan macam-macam sama saya," ancam Maira dengan suara bergetar.
"Aku tidak akan macam-macam, kok, cantik," jawab Pak Vincent tersenyum puas.
Tangannya menyentuh rambut Maira, membelainya perlahan. Tatapan matanya penuh nafsu. Ia mendekat, menghirup aroma tubuh Maira tanpa rasa bersalah.
Refleks, Maira mendorong tubuh pria itu menjauh.
"Kamu nakal, ya? Tapi aku suka," ucap Pak Vincent sambil tertawa.
Dalam sekejap, ia menarik tubuh Maira dan mendorongnya ke atas ranjang. Tangannya mulai bertindak kasar. Maira meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri. Dalam kepanikan, ia menggigit bahu Pak Vincent hingga pria itu tersentak dan kehilangan fokus.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Maira. Ia mendorong tubuhnya sendiri hingga bisa berdiri.
"Dasar wanita jalang!" umpat Pak Vincent dengan mata menyala marah.
"Jangan sok suci kamu!"
Plakkk!
Tamparan keras mendarat di pipi Maira. Kepalanya terhempas ke samping. Rasa perih langsung menjalar, meninggalkan jejak panas di kulitnya. Maira meringis, air mata menggenang di matanya.
Belum sempat ia menenangkan diri, Pak Vincent kembali menyerang. Tangannya mencekik leher Maira dengan kuat. Napas Maira tersengal, dadanya terasa sesak. Pandangannya mulai berkunang.
Dalam kondisi terdesak, Maira berusaha berpikir. Matanya menangkap sesuatu di saku celana Pak Vincent. Kunci kamar.
Ia mengalihkan pandangan dan melihat sebuah vas bunga kaca di atas meja samping. Dengan sisa tenaga, meski cekikan itu belum terlepas, Maira meraih vas tersebut.
Saat berhasil menggenggamnya, Maira mengayunkan vas itu sekuat tenaga ke bagian belakang kepala Pak Vincent.
Praaak!
Vas bunga pecah. Darah langsung mengalir dari kepala pria itu. Pak Vincent terhuyung dan melepas cekikikan nya di leher Maira.
"Perempuan jalang! Kau berani sama aku!" hardiknya dengan sorot mata penuh amarah.
Tak menunggu lama, Maira menendang selangkangan Pak Vincent sekuat tenaga. Pria itu langsung meringkuk kesakitan dan jatuh ke lantai.
Dengan keberanian yang tersisa, Maira merogoh saku celana Pak Vincent dan mengambil kunci kamar. Tangannya gemetar, tapi ia berhasil membuka pintu.
Saat pintu terbuka, Pak Vincent sudah bangkit dan menarik tubuh Maira dari belakang. Maira menjerit, lalu kembali menendang kaki pria itu hingga cengkeramannya terlepas.
Maira langsung berlari keluar kamar. Penampilannya sudah acak-acakan. Rambutnya kusut, napasnya tersengal. Ia berlari tanpa arah sambil berteriak meminta tolong.
Di belakangnya, Pak Vincent masih mengejar.
Dari kejauhan, Maira melihat beberapa orang berjalan di lorong. Harapan kecil muncul di hatinya. Ia mengerahkan sisa tenaga untuk berlari ke arah mereka.
"Tolong saya," lirih Maira terengah-engah. Tubuhnya gemetar, tenaganya benar-benar habis.
"Kamu kenapa, Maira?"
Suara itu terdengar familiar.
Pandangan Maira terangkat. Sosok di hadapannya adalah Hazel.
"Pria itu..." Maira tak sanggup melanjutkan. Pandangannya mengabur, dan tubuhnya ambruk.
Untungnya, Hazel dengan sigap menangkap tubuh Maira sebelum benar-benar jatuh ke lantai.