Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Bertemu Lagi
Bastian tengah berpikir, bagaimana caranya menciptakan pertemuan dengan Keisya tanpa menimbulkan kecurigaan?
Menggunakan cara sebelumnya, sepertinya tidak mungkin. Yang ada wanita itu akan risih padanya. Sedangkan dia ingin membangun citra baik di matanya.
Mengunjungi rumah Gunawan?
Ide itu tidak terlalu buruk jika saja pria itu selalu ada di rumah. Tapi jika tidak? Dia tidak memiliki alasan untuk bisa memasuki rumah itu.
"Permisi Pak Bastian" suara yang berasal dari ambang pintu yang entah sejak kapan sudah terbuka, membuat lamunannya buyar.
Bastian menautkan alisnya. Ekspresinya tampak tidak senang. "Kamu tidak tahu cara mengetuk pintu?"
Wanita itu menunduk, "Maaf Pak, sebelumnya saya sudah mengetuk, tapi tidak ada jawaban"
"Lancang"
Bastian, si pria matang dengan tingkat emosinya yang di atas rata-rata. Apapun kondisinya, sekalipun kesalahan ada padanya, dia akan marah jika dia tidak menyukainya dan menurutnya salah.
Seperti sekarang.
Dia yang terlalu asik melamun, sampai suara ketukan pintu luput dari perhatiannya, tapi tetap menyalahkan sekretarisnya karena masuk tanpa izin darinya.
"Maaf Pak, saya salah"
"Sudahlah. Ada apa?"
"Boleh saya masuk Pak?"
Bastian hampir mengeluarkan tanduk dari atas kepalanya.
Jane, wanita berusia 31 tahun itu menelan ludahnya. Sepertinya pertanyaannya barusan justru semakin membuat Bosnya ini terpancing amarah. Jadi, tanpa menunggu respon ketus yang sudah pasti akan di lontarkan Bastian, ia pun segera masuk dan mengatakan tujuannya.
"Guru wali kelas putra bapak barusan menghubungi saya. Katanya bapak diminta datang ke sekolah hari ini juga"
Semakin badmood lah Bastian dibuatnya..
Entah apa lagi yang dilakukan David, sampai mengharuskannya mendatangi sekolah, untuk yang kesekian kalinya.
\=\=\=\=\=
Keisya lagi-lagi harus pasrah saat dirinya terseret oleh tarikan orang lain.
Jika hari itu oleh teman Papa-nya, kali ini adalah ulah temannya.
Sisi tiba-tiba saja mendatanginya, dan langsung memaksanya untuk ikut entah kemana.
"Setidaknya kasih tau lah kita mau kemana. Ga enak banget jadi orang yang ga tau apa-apa" Keisya menyindir. "Atau jangan-jangan lo mau jual gue?"
Sisi berdecak sambil mengatur nafasnya. "Nanti gue ceritain. Gila, sesak nafas gue"
Mereka berjalan menuju luar kampus. Disana rupanya sudah ada taksi online yang sudah menunggu mereka. Sisi sudah memesannya sejak awal.
Beberapa menit setelah memasuki mobil, akhirnya Sisi berbicara.
"Sepupu gue berantem di sekolah. Gue diminta Om sama Tante buat datang gantiin mereka"
"Roni? Berantem gimana?" Keisya pernah bertemu dengan pemuda tersebut saat dia mengunjungi rumah temannya. Kebetulan rumah mereka saling bersisian, jadi akan tahu saat ada orang lain datang ke rumah masing-masing.
Dan tentang orangtua Roni, Keisya tahu jika mereka sedang berada di luar kota. Jadi ia tidak bertanya lagi tentang hal itu.
"Gue juga belum tahu. Cuma disuruh cepetan datang aja"
"Terus urusannya sama gue apa?"
Sisi mendelik, "Ga setia kawan lo"
Keisya tertawa kecil.
Sisi pun menambahkan, "Buat nemenin gue lah, bantu ngomong atau apaan gitu. Ini kali pertama gue ngurusin beginian"
Tanggapan Keisya hanya bergumam sambil menganggukkan kepalanya. Tidak ada perbincangan apapun lagi setelahnya sampai akhirnya mereka sampai ditujuan.
Mereka mendekati pos satpam, lalu mengatakan tujuan kedatangannya. Tidak menunggu lama, mereka pun di persilahkan masuk setelah menunjukan jalan menuju ruang guru.
Sisi dan Keisya sampai di ruang guru dan langsung duduk di antara Roni dan satu anak lainnya yang diperkirakan adalah murid yang bertengkar dengan Roni.
Kedua remaja itu tampak tertunduk, tidak ada satu kata pun yang mereka ucapkan. Keisya samar samar melihat wajah keduanya yang tampak lebam di beberapa titik.
Sepertinya permasalahan ini cukup serius.
"Maaf, kalau boleh tahu, apa yang terjadi?" tanya Sisi.
Wanita berhijab di depan mereka berdua sempat melirik kedua muridnya, sebelum menjawab "Roni dan David terlibat pertengkaran. Untuk penyebabnya sendiri mereka belum ada yang berbicara"
Mereka berdua berkelahi di area toilet. Tempat yang tidak terjangkau oleh kamera CCTV. Dan juga tidak ada saksi mata yang bisa pihak sekolah tanyai.
Sisi dan Keisya ikut menoleh pada dua remaja tersebut.
"Kita masih menunggu orangtua David. Kalau kamu ada yang mau dibicarakan, silahkan" kalimat itu ditujukan pada Sisi, yang sebelumnya mengaku kerabat anak didiknya.
"Baik bu"
Tidak hanya Sisi, Kesya pun ikut beranjak. Dia duduk di kursi kosong yang tidak jauh dari posisi remaja bernama David. Sedangkan Sisi dan Roni terlihat sedang berbicara pelan, sambil Sisi yang sibuk dengan ponselnya.
Sepertinya sedang berkomunikasi dengan orangtua Roni.
Lalu Keisya, yang bingung harus melakukan apa, tanpa sadar melirik remaja disampingnya. Dia kembali salah fokus pada lebam di wajahnya. Lalu pandangannya turun pada kedua tangannya yang saling bertaut. Dilihatnya lebih jelas, ternyata terdapat luka juga disana.
Keisya mengeluarkan plester dari dalam tasnya, sedikit menggeser duduknya lalu mengulurkan benda tersebut.
"Buat kamu"
David cukup terkejut. Dia tidak tahu ada orang lain yang duduk disana. Sejak awal dia sedang harap harap cemas menantikan kedatangan Ayahnya. Sampai semua orang ia abaikan, bahkan gurunya sekalipun.
David mengangkat kepalanya, bertemu tatap dengan wanita muda berparas cantik. Lalu pandangannya kembali turun pada uluran tangan yang masih bertahan itu. seolah sedang menunggu respon darinya.
"Tangan kamu luka" ucap Keisya lagi.
David masih tidak merespon. Lebih tepatnya bingung harus menjawab apa.
Keisya sedikit heran atas keterdiaman David. Lalu ia berinisiatif menyimpan plester tersebut di atas tangannya, alih-alih menyimpannya kembali ke dalam tas miliknya.
"Jangan lupa dipakai." Kalimat itu menjadi penutup atas keinisiatifannya yang cukup berani. Meskipun harus berujung diabaikan.
Salahnya sendiri, kenapa juga dia harus melakukan hal itu.
"Terimakasih"
Keisya yang baru berniat bergeser dibuat kaget oleh suara David.
"Apa?" Keisya bukan tidak mendengar, dia hanya sedang memastikan.
David tertawa kecil. Ekspresi wanita di depannya sangat lucu.
"Bisa minta pasangin?" David mengangkat plester tersebut.
Tidak, dia bukan sedang modus. Itu karena dia benar-benar tidak bisa memasangkannya sendiri. Lukanya ada ditangan kanannya. Menggunakan tangan kiri, sangat sulit baginya.
Keisya berkedip pelan, masih terkejut dengan yang terjadi. Namun itu tidak lama, dia langsung bergerak mengikuti permintaan David.
"Sudah" ujarnya ceria. "Tapi nanti sampai rumah tetap harus diobatin lagi, biar ga infeksi"
David memandangi benda bermotif bunga yang melekat sempurna pada kulit tangannya. Dia mengangguk, "Terimakasih" ucapnya sekali lagi.
Keisya mengibas pelan tangannya, "Bukan apa-apa. Cuma plester juga"
Tidak, ini bukan sekedar plester bagi David. Ini lebih dari itu.
Suara pintu yang terbuka membuat semua orang yang ada disana memalingkan wajahnya. Begitupun dengan Keisya.
Matanya membulat perlahan, sampai benar-benar terbuka lebar. Dia terkejut.
Bagaimana tidak, jika pria yang baru saja membuka pintu adalah teman Papa-nya?
'Om Bastian?' dia membatin.
Untuk apa dia datang kesini?
Apa mungkin, untuk David?
Keisya menoleh pada remaja tersebut, yang kini sudah kembali menundukkan kepalanya, seolah takut atas kehadiran Bastian.