Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan yang Tidak Diizinkan
Yanto selalu merasa ada yang keliru dengan jawaban yang datang terlalu cepat.
Ia duduk di pinggir pantai Bali, bukan di area wisata, melainkan di bagian yang jarang diposting orang. Pasirnya lebih kasar, ombaknya tidak ramah, dan anginnya membawa bau asin yang menusuk. Ia suka tempat seperti ini karena tidak mencoba menyenangkan siapa pun.
Rambutnya yang bergelombang dibiarkan terikat asal. Hoodie hijau kebesarannya melindungi tubuh dari angin sore. Di sampingnya, botol teh tawar hampir kosong. Ia tidak menyentuh bir hari itu. Kepalanya terlalu penuh.
Di tangannya, ponsel menyala. Percakapan terakhir dengan Wawan masih terbuka.
“Kalau hati gelisah, itu tanda hati masih hidup.”
Yanto membaca ulang kalimatnya sendiri, bukan dengan bangga, melainkan dengan kelelahan. Ia tidak pernah bermaksud menjadi penentu arah. Ia hanya tidak tahan pada ketenangan palsu.
Di kejauhan, suara wisatawan samar terdengar. Tawa, teriakan kecil, suara kamera. Yanto menoleh sekilas, lalu kembali memandang laut. Ia sudah lama merasa terpisah dari keramaian itu. Bukan karena ia lebih tahu, tapi karena ia tidak bisa lagi berpura-pura ikut senang.
Ia membuka grup Random. Pesan-pesan beberapa hari terakhir membentuk pola yang terlalu jelas untuk diabaikan. Wawan menunda tanda tangan. Kusuma menyimpang dari rute. Wijaya dipindahkan dengan bahasa halus. Ari mulai ditarik ke ruang publik. Doli mencatat dengan jarak yang makin tipis.
Yanto menghembuskan napas panjang.
“Lucu,” gumamnya. “Semua disuruh tenang, padahal lantainya lagi geser.”
Ia bangkit, berjalan menyusuri pantai, kaki telanjang menjejak pasir yang dingin. Setiap langkah terasa seperti menegaskan keberadaannya sendiri. Tubuhnya ada di sini. Pikirannya tidak sepenuhnya.
Sebagai pemandu wisata, Yanto terbiasa menjelaskan. Ia tahu cara membuat cerita terdengar masuk akal. Ia tahu bagaimana mengemas sejarah, budaya, dan mitos agar bisa dicerna tanpa membuat orang tidak nyaman. Dan justru itu yang membuatnya muak pada satu hal, terlalu banyak hal penting dijelaskan dengan cara yang membuat orang berhenti bertanya.
Sore itu, ia teringat satu percakapan dengan seorang turis beberapa hari lalu. Tentang ritual, tentang kepercayaan lokal, tentang kenapa orang masih melakukan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan logika modern.
“Because it makes sense to us,” jawab Yanto waktu itu.
Kini ia bertanya pada dirinya sendiri, sense versi siapa yang sedang dipaksakan pada dunia sekarang.
Ia duduk lagi, mengeluarkan rokok, menyalakannya, lalu membiarkan asap bercampur angin. Di kepalanya, potongan-potongan percakapan lama berputar. Perdebatan tentang agama di bangku kuliah. Tatapan tidak nyaman ketika ia mempertanyakan ayat, tafsir, atau otoritas. Ia tidak pernah merasa dirinya paling benar. Ia hanya tidak tahan pada larangan bertanya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari seseorang di luar grup Random. Rekan kerja. Singkat.
“Hati-hati ngomong, To. Sekarang orang sensitif.”
Yanto tersenyum miring. Kalimat itu semakin sering ia dengar. Sensitif, pikirnya, sering kali hanya berarti tidak ingin diganggu keyakinannya.
Ia membalas singkat.
“Yang sensitif perasaannya, atau kepentingannya?”
Tidak ada balasan.
Menjelang maghrib, Yanto menerima telepon dari atasannya. Nada bicaranya ramah, bahkan bersahabat. Mereka membicarakan rute tur baru, penyesuaian narasi, dan satu permintaan kecil yang disampaikan seolah-olah remeh.
“Nanti kalau jelasin sejarahnya, jangan masuk ke bagian yang bisa bikin tamu bingung, ya,” kata atasannya. “Fokus ke yang aman-aman aja.”
Aman.
Kata itu kembali muncul, lagi dan lagi, dari tempat yang berbeda.
“Aman yang mana?” tanya Yanto, nadanya dijaga.
“Yang sudah disepakati,” jawab atasannya cepat. “Biar nggak ada komplain.”
Telepon berakhir dengan tawa ringan.
Yanto menatap ponselnya lama. Ia tahu betul maksudnya. Yang diminta bukan kebenaran, tapi kenyamanan kolektif. Dan kenyamanan itu dibayar dengan penghapusan pertanyaan.
Malam turun. Pantai mulai sepi. Yanto berjalan kembali ke motornya, menyalakan mesin, lalu duduk tanpa langsung pergi. Ia membuka grup Random, mengetik sesuatu, lalu berhenti. Menghapus. Mengetik ulang dengan lebih pelan.
Yanto:
Gue ngerasa pertanyaan sekarang mulai dianggap gangguan.
Bukan karena salah,
tapi karena bikin orang nggak nyaman.
Ia mengirim pesan itu, lalu memasukkan ponsel ke saku jaket.
Motor melaju menyusuri jalan pesisir. Lampu-lampu kecil berderet. Bali malam itu tampak indah seperti biasa. Tapi di kepala Yanto, keindahan itu terasa seperti tirai tipis yang menutup sesuatu yang lebih dalam.
Ia tahu, cepat atau lambat, pertanyaannya akan memaksanya memilih. Bukan antara benar dan salah, tapi antara menjadi fungsional atau tetap gelisah.
Dan Yanto selalu tahu, ia tidak pernah cocok dengan ketenangan yang menuntutnya berhenti bertanya.
Keesokan harinya, Yanto memulai tur lebih pagi dari biasanya.
Langit Bali masih pucat. Udara dingin menempel di kulit. Ia berdiri di depan sekelompok kecil wisatawan, menyusun kata-kata pembuka dengan nada yang sudah ia hafal. Senyum profesional terpasang. Bahunya rileks. Tidak ada yang tampak berbeda.
Ia memulai dengan cerita aman. Tentang sejarah singkat. Tentang budaya yang dipadatkan agar mudah dicerna. Tentang ritual yang dijelaskan sebagai atraksi, bukan keyakinan hidup. Para tamu mengangguk. Beberapa mengambil foto. Semua berjalan sesuai rencana.
Di tengah penjelasan, seorang turis mengangkat tangan.
“Kenapa masyarakat di sini masih mempertahankan tradisi itu, padahal sekarang semuanya sudah modern?”
Pertanyaan itu sederhana. Yanto pernah menjawabnya berkali-kali. Biasanya, ia akan memberikan jawaban singkat yang menenangkan. Tradisi sebagai identitas. Budaya sebagai warisan. Jawaban yang tidak membuka ruang lanjutan.
Hari itu, ia berhenti sejenak.
“Karena tidak semua hal perlu dibuktikan untuk dirawat,” jawabnya akhirnya. “Sebagian hal dijaga supaya manusia tidak sepenuhnya diatur oleh fungsi.”
Beberapa orang tersenyum. Beberapa tampak bingung. Tidak ada yang protes.
Atasannya berdiri tidak jauh dari situ. Yanto menangkap sorot matanya. Tidak tajam. Tidak juga ramah. Hanya mencatat.
Tur berlanjut. Di titik berikutnya, Yanto kembali memilih kata dengan lebih jujur dari biasanya. Ia tidak mengarang. Ia hanya berhenti menyederhanakan.
Setelah tur selesai, atasannya mendekat.
“Penjelasanmu tadi menarik,” katanya. Nada suaranya ringan. “Tapi ingat ya, kita di sini bukan untuk bikin orang berpikir terlalu jauh.”
Yanto tersenyum tipis. “Bukannya orang datang ke sini memang karena ingin tahu?”
Atasannya tertawa kecil. “Tahu, iya. Tapi jangan bikin mereka pulang dengan pertanyaan.”
Kalimat itu diucapkan santai. Tapi Yanto merasakannya seperti garis yang ditarik di lantai.
Siang hari, mereka duduk bersama beberapa pemandu lain. Obrolan mengalir. Tentang rute. Tentang komplain kecil. Tentang standar baru yang akan diterapkan demi kenyamanan tamu.
“Kita diminta ikut narasi yang sama,” kata salah satu rekan. “Biar seragam.”
“Seragam itu aman,” sahut yang lain.
Yanto mendengarkan tanpa menyela. Ia memperhatikan bagaimana kata aman kembali muncul. Seolah menjadi mantra yang menutup semua percakapan.
Ia akhirnya bicara. “Kalau semua seragam, apa gunanya pemandu?”
Suasana hening sesaat. Lalu tawa kecil terdengar.
“Yanto ini,” kata seseorang sambil tersenyum. “Kebanyakan mikir.”
Atasannya menoleh ke arahnya. “Kita kerja di sini untuk melayani, bukan untuk menguji keyakinan orang.”
Yanto mengangguk. “Saya paham.”
Ia memang paham. Dan justru karena itu, dadanya terasa sempit.
Sore hari, ia dipanggil secara terpisah. Ruangan kecil. Pendingin udara dingin. Pintu tertutup.
“Atasan kami mengapresiasi dedikasimu,” kata atasannya, membuka pembicaraan. “Tapi ada beberapa catatan.”
Yanto duduk tenang. Tangannya terlipat. Ia tidak defensif.
“Kamu sering memberi penjelasan di luar panduan,” lanjutnya. “Tidak salah. Tapi bisa menimbulkan interpretasi yang tidak kita inginkan.”
“Interpretasi apa?” tanya Yanto.
“Macam-macam,” jawab atasannya. “Kebingungan. Diskusi yang tidak perlu. Ketidaknyamanan.”
Yanto mengangguk pelan. “Kalau orang tidak nyaman karena berpikir, itu salah siapa?”
Atasannya terdiam sejenak. “Yanto, kita bukan lembaga pendidikan. Kita bagian dari industri.”
Kalimat itu tidak keras. Tapi cukup untuk menjelaskan segalanya.
“Aku cuma ingin jelas,” lanjut atasannya. “Kamu mau tetap di sini atau tidak.”
Tidak ada ancaman eksplisit. Tidak ada ultimatum tertulis. Tapi Yanto tahu, pertanyaan itu bukan formalitas.
Ia menarik napas. “Saya mau tetap bekerja. Tapi saya tidak bisa berhenti bertanya.”
Atasannya tersenyum tipis. “Bertanya boleh. Tapi simpan di tempat yang tepat.”
Yanto mengangguk. Ia berdiri. Percakapan selesai.
Di luar ruangan, suara laut terdengar jauh. Bali tetap indah. Tetap ramah. Tetap menjual ketenangan. Yanto berjalan menuju motornya dengan langkah stabil.
Ponselnya bergetar. Grup Random.
Wawan:
To,
hari ini gue nunda tanda tangan.
Deg-degan, tapi rasanya perlu.
Yanto membaca pesan itu sambil tersenyum kecil.
Ia membalas singkat.
Yanto:
Pertanyaan jarang bikin hidup nyaman.
Tapi sering bikin hidup jujur.
Ia menyimpan ponsel, mengenakan helm, dan menyalakan motor. Jalanan sore padat. Lampu kendaraan berderet. Tidak ada yang tahu apa yang baru saja ia pertaruhkan.
Yanto menyadari satu hal dengan kejernihan yang dingin.
Ia belum melawan apa pun.
Ia hanya berhenti menyesuaikan diri sepenuhnya.
Dan di dunia yang menuntut ketenangan seragam, itu sudah cukup untuk membuat seseorang dianggap masalah.