Di usia empat puluh, Antonella pikir hidupnya sudah selesai dikhianati—sampai ia memergoki suaminya sendiri bersama sang sekretaris. Perceraian mengubahnya: dari istri yang patah hati menjadi wanita baru yang tajam, berani, dan tak takut pada siapa pun.
Termasuk pada Don Enrico Costello—mafioso paling ditakuti di seluruh Italia.
Ketika utang judi sang mantan suami membuat putri semata wayangnya terancam, Antonella melakukan hal yang tak pernah berani dilakukan siapa pun: ia menatap langsung mata sang Don dan menawarkan dirinya sebagai gantinya. Seorang guru berusia empat puluh tahun, di tengah dunia penuh darah, senjata, dan kuasa.
Enrico terbiasa ditakuti. Ia tak pernah mencintai, tak pernah tertawa, tak pernah mengizinkan seorang wanita pun terlalu dekat. Tapi wanita satu ini menolak gemetar di hadapannya—malah membuatnya ingin membunuh sekaligus tertawa di saat yang sama. Dan untuk pertama kalinya, es di hati sang Don mulai retak.
Di antara dua bocah lelaki yang haus kasih sayang, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan gairah yang membakar setiap malam, Antonella menemukan bahwa "dibawa oleh seorang mafioso" mungkin justru awal dari hidup yang selalu ia impikan—dan pertaruhan paling berbahaya yang pernah ia ambil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlaucia Campos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antonella
Antonella
Antonella kira-kira seperti aktris di foto ini.
Sudah enam bulan sejak aku berpisah dari Fillipo, dan masih sakit rasanya melihatnya bersama Luna. Dulu aku terlalu mencintainya.
Katanya, seorang pria akan menunjukkan tanda-tanda kalau minatnya sudah habis. Padaku itu tak terjadi—atau mungkin aku yang tak menyadarinya. Ia tetap bersikap seperti biasa. Sebenarnya, kurasa aku tak pernah benar-benar mengenal Fillipo.
Fiorella sempat dua bulan tak mau bicara dengan ayahnya, tapi sekarang hubungan mereka sudah membaik lagi. Ia masih belum bisa menerima hubungan ayahnya dengan Luna, tapi memaksa diri untuk beberapa kali menemuinya.
Kupikir aku akan mati saat itu. Aku tahu takkan sanggup menanggungnya sendirian, jadi aku mencari pertolongan. Tuhan, saudariku, dan terapi. Ya, sampai hari ini aku masih rutin ke psikolog—walau kurasa aku membuatnya nyaris ikut gila. Aku memang selalu ceroboh, bahkan konyol. Hanya saja, dalam bulan-bulan ini aku kehilangan sedikit keceriaan yang dulu selalu kumiliki.
Yang paling menyakitkan adalah melihatnya memberikan pada perempuan itu segala yang bertahun-tahun kuperjuangkan bersamanya. Aku di sini, berjuang seperti biasa demi segalanya, sementara dia memetik apa yang dulu milikku. Kebanyakan rekan kerjaku terus-menerus menjelek-jelekkan Fillipo dan Luna di depanku, tapi di belakang mereka bilang ini semua salahku—akulah yang terlalu sering meninggalkannya sendirian. Dasar munafik!
Yang benar-benar membuatku kembali hidup—selain putriku—adalah seorang pembicara di sebuah kursus pengembangan diri yang kuikuti. Itu keputusan terbaik yang pernah kuambil.
Di kursus itu aku mendengar banyak kebenaran. Bahwa terus menangis, memerankan korban, dan mengeluh tak akan mengubah apa pun. Bahwa tak ada yang sungguh peduli apakah kau akan membaik atau tidak, apakah kau akan hidup atau mati; bahwa satu-satunya orang yang bisa mengubah keadaan adalah diri kita sendiri.
Maka aku paham aku harus memilih: terus menangis, meratap, mendengarkan omong kosong, dan merasa jadi korban kehidupan—atau memulai lagi, menjadi Antonella yang baru, versi baru dari diriku. Syukurlah aku selalu bisa berubah kapan pun kurasa perlu. Jadi, sejak tiga bulan lalu, aku adalah wanita baru yang jauh lebih bahagia! Meski aku masih dalam masa pemulihan...
Fillipo sesekali meneleponku, tapi tiga bulan lalu kublokir dia—dari ponselku dan dari hidupku! Aku tak butuh apa pun darinya. Seperti kubilang, sejak hari kami berpisah, bagiku dia sudah mati. Bahkan aku menyebutnya persis seperti itu: si Mati. Ibu Luna sempat meneleponku dan membuat drama besar-besaran—kusuruh dia enyah ke neraka!
Aku masih terus mengajar. Dan Fiorella diterima di jurusan jurnalisme. Ya! Gadis kecilku akan kuliah jurnalisme! Aku bahagia sekali, aku begitu menyayanginya. Hari ini aku akan keluar bersamanya dan teman-temannya yang juga akan kuliah jurnalisme. Untuk merayakannya, mereka ingin makan pizza. Meski sebenarnya aku sedang malas, tetap kudatangi—mustahil menolak, mereka pantas mendapatkannya.
Aku juga mengajak saudariku, satu-satunya orang yang menolongku dan masih menolongku sampai hari ini. Dia sahabat terbaikku; beberapa kali aku keluar rumah pun selalu bersamanya dan iparku. Dia sudah menikah, dan iparku pria yang baik hati. Aku menyayangi mereka. Orang tuaku sudah tua dan tinggal di Cremona, dekat sanak saudara. Mereka sempat datang menjengukku saat tahu apa yang terjadi, tapi sejujurnya mereka tak terlalu peduli.
Di restoran.
"Bu, sudah lihat berita soal kematian mafioso itu?" tanya Fiorella.
"Sudah."
"Tante lihat bagaimana kondisi jasadnya waktu ditemukan?" tanya Giordana, sahabat karib Fiorella.
"Tidak ada fotonya. Tante cuma baca katanya begini-begitu waktu mereka menemukannya."
"Kami lihat fotonya," sahut Elma, teman Fiorella yang lain.
"Kok bisa?"
Mereka tertawa melihat kagetku.
"Bu, kami mau jadi jurnalis. Hal-hal begitu selalu bocor," kata Fiorella.
"Mau lihat?" tawar Giordana.
"Jangan! Ibu bisa mual," cegah Fiorella.
"Biar kulihat. Ibu mau lihat."
"Bu, sebaiknya jangan."
"Ayo cepat, Gi, sini ponselnya, yang ada fotonya."
"Baik, ini, lihat."
Kulihat satu per satu. "Ibu mual."
"Kan sudah kubilang! Sekarang wajah Ibu pucat. Tarik napas, Bu, minum air."
Aku mengatur napas. "Ya ampun, ngeri sekali! Coba lihat sekali lagi."
"Jangan!" seru mereka berbarengan. "Tadi Tante hampir pingsan!"
"Tapi harus diakui, dia cakep banget," kata Elma, "walaupun umurnya sudah pantas jadi ayahku."
"Siapa?"
"Don Enrico. Mafioso paling ditakuti di Italia," jawab Giordana.
"Dia kejam sekali!" timpal Fiorella. "Ya, dia memang tampan, tapi jahatnya bukan main. Katanya dialah pelakunya."
"Katanya semua orang takut sekali padanya," tambah Elma. "Jarang sekali dia turun tangan langsung. Dia Don mafia—atau seperti kata orang, Don Cosa Nostra—dan siapa pun yang menghalangi jalannya, mati."
Saat itu Avelina, saudariku, tiba.
"Hai, sayang-sayangku semua. Hai, Bella." Avelina memang biasa memanggilku Bella.
"Hai, Lina."
"Hai, Tante Lina," sapa gadis-gadis itu.
"Kalian sedang membicarakan si terkenal Enrico Costello, ya?" tebak Lina.
"Iya."
"Anak-anak tadi menunjukkanku beberapa foto. Ayo, lanjutkan ceritamu," kataku.
"Iya, dia memang kejam sekali. Eh, biar kuceritakan sesuatu pada kalian." Lina menyeringai. "Waktu remaja, Antonella ini bermimpi diculik oleh seorang mafioso."
Gadis-gadis itu tertawa.
"Bu," Fiorella ikut tertawa, "aku tahu Ibu memang agak sinting, tapi serius yang itu?"
"Bukan begitu ceritanya. Dulu Ibu banyak baca novel romansa, dan di sana para mafioso selalu memberi segala yang bisa dibeli uang—baju, sepatu, perhiasan—dan waktu itu Ibu tergila-gila pada hal-hal seperti itu. Jadi setiap membaca bagian mereka menyuruh si tokoh wanita berbelanja baju di mal, Ibu membayangkan betapa borosnya Ibu kalau itu terjadi. Belum lagi wibawa yang didapat sebagai istri seorang mafioso—bayangkan wajah teman-teman palsu Ibu dulu, pasti mati kutu karena iri. Tapi itu waktu Ibu masih sekitar tujuh belas, delapan belas tahun."
"Benar," sahut Lina. "Antonella dari dulu memang suka bergaya dan menghabiskan seluruh uangnya untuk baju dan sepatu."
"Betul. Tapi lalu Ibu menikah dan mulai membantu ayahmu, dan jadilah begini..."
"Aku tahu dia bajingan pada Ibu," kata Fiorella, "tapi bagaimanapun dia ayahku. Bisakah kita ganti topik?"
"Memang sebaiknya kita ganti topik."
Gadis-gadis itu pun mulai mengobrol sendiri.
Lina berbisik, hanya untukku, "Tapi kalau aku sih, sungguh, mau banget jadi gundik Don Enrico. Ah, mau sekali!"
Aku tertawa. "Dasar konyol."
"Ya ampun, mafioso itu cakep banget! Dan tubuhnya... aduh, bikin ngiler. Siapa sih yang tak mau 'disiksa' di ranjangnya?"
Aku tertawa lagi.
Lina membuka beberapa foto di internet. "Lihat ini, lalu bilang padaku kalau ini tidak bikin hilang akal."
Aku memandangi foto-foto itu. "Wah! Cakep juga betulan. Dan tahu tidak, boleh juga menghabiskan setengah jam—atau sedikit lebih lama—dengannya."
"Setengah jam?" Lina terkekeh. "Bisa-bisa mati bahagia di pelukan pria seperti itu."
"Kalau mati sih kurasa tidak. Tapi kalau main-main sebentar, boleh lah."
"Pasti seru. Ngomong-ngomong," lanjut Lina, "kurasa kau harus memberi Dario satu kesempatan."
"Tidak."
"Coba kencan dengannya. Dia pria baik. Seorang dokter, sudah bercerai, anak-anaknya pun sudah dewasa."
"Tidak. Aku belum berminat."
"Ayolah, Fillipo di sana bersenang-senang dengan pelacur itu, sementara kau sendirian."
"Sungguh, aku baik-baik saja. Aku tak mau bersama seseorang cuma karena kesepian atau semacamnya. Bulan-bulan ini justru menunjukkan bahwa aku bisa bahagia sendirian. Dan kalaupun suatu saat muncul pria yang benar-benar menambah warna dalam hidupku—dan aku bukan bicara soal uang—mungkin aku bisa jatuh cinta lagi. Tapi sekarang masih terlalu sakit. Aku belum siap untuk itu."
"Ya sudah. Kau tahu aku bicara begitu karena mengkhawatirkanmu. Kalau bisa, sudah kutinju Fillipo dan Luna itu."
"Si Mati itu? Lupakan saja."
Fiorella mulai mengobrol lagi dengan teman-temannya, dan topik itu pun berakhir di situ.