Dena Nidia Sharman (20 tahun) seorang wanita yang memiliki sifat dingin tak banyak bicara, merupakan si sulung dari kembar bersaudara memiliki kembaran yang berjarak 2 menit darinya bernama Daniel Nandra Sharman. Ia begitu membenci ayahnya karena ayahnya telah berselingkuh dengan seorang disaat ibunya masih hidup dulu.
Kebencian Dena pada Marco ayahnya semakin menjadi saja tak kala Marco memiliki sebuah ide gila untuk menjodohkannya dengan anak rekan bisnis sang ayah karena alasan agar perusahaan keluarga mereka semakin jaya serta agar menguasai perekonomian di Negara tersebut. Bisa dikatakan Dena dijual oleh ayahnya sendiri demi mendapatkan apa yang ia mau.
Bisakah Dena menerima perjodohan gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ansifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 20
"Dena, Dena sayang. Ini mama nak, kamu sedang mandi ya" ucap Sisil sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Didalam kamar mandi, Dena sedang menangis dibawah guyuran shower, membayangkan apa yang akan terjadi padanya tadi. Untung belum sempat Dirga menyentuhnya, ada seorang yang mengetuk pintu menyelamatkan dirinya dari hal yang menjijikkan.
Tentu saja menjijikan, itu bukan hal yang ia inginkan meskipun Dirga adalah suaminya dan ia berhak atas itu. Tapi, mereka menikah bukan atas dasar cinta dan dia juga tidak mencintai Dirga saat ini. Jadi, ia tidak akan menyerahkan mahkotanya untuk pria seperti Dirga, ia akan menyerahkannya untuk pria yang ia cintai kelak.
Entah bagaimanapun caranya, ia harus terbebas dari pernikahan ini sekarang. Andai saja dulu saat ia menikah dia tidak memikirkan ancaman Papanya dia tidak akan mau menikah dengan pria seperti Dirga.
"Den, Dena..Kamu dengar mama nak" lagi panggilan Sisil mengalihkan pikiran Dena.
"Iya ma kenapa,?" ucapnya mencoba menahan tangis dirinya saat ini.
"Itu di luar ada Daniel, dia ingin bertemu kamu" ucap Sisil.
"Daniel ma?Iya ma, iya suruh tunggu sebentar"
Dena sangat senang mendengar kembarannya itu datang, setelah tadi ia tidak sempat bertemu dengan adiknya itu akhirnya ia datang sekarang. Itu bisa mengurangi kesedihannya sekarang.
"Baiklah, kalau begitu mama keluar dulu ya, mama suruh dia tunggu kamu" Sisil lalu segera pergi dari kamar hendak turun kebawa menemui Daniel lagi untuk memberitahukan bahwa kakak pria itu sedang mandi.
………………
Dena berlari-lari terburu-buru menahan rasa sakit di kakinya menuruni tangga dia tidak sabar ingin bertemu dengan Daniel sudah beberapa hari ia tidak bertegur sapa dengan adiknya itu semenjak dia bertengkar di kamarnya waktu itu.
"Daniel," Panggil Dena antusias saat melihat Daniel yang sedang duduk di sofa ruang tamu keluarga Suherman.
Daniel yang tadi sedang berbicara dengan Sisil di situ langsung melihat kearah kakaknya yang berjalan sedikit terpincang-pincang.
Benar ia menyadari itu, cara berjalan kakaknya saat ini tidak normal seperti biasa membuat dirinya langsung berdiri mendekat ke sang kakak yang langsung memeluknya sangat erat. Ia sendiri juga merasa heran tidak biasanya juga Dena memeluknya se erat ini seakan menjadikannya tempat bersandar.
Daniel melepaskan pelukan Dena memegang, bahu kakaknya, memperhatikan kaki Dena.
"Ada apa kakimu?" tanya Daniel, lalu menatap mata kakaknya.
Dena yang tadinya merasa senang sekali sekarang langsung diam, apa yang harus ia jawab sekarang.
"Aku, Aku hampir terserempet mobil" jujur Dena langsung memperhatikan wajah Daniel melihat adiknya itu yang tampak cemas.
"Kok bisa, bagaimana bisa?" Daniel tampak terkejut mendengar perkataan Dena barusan.
"Bisa namanya juga kecelakaan" jawab Dena tidak mau mengatakan sebenarnya. Kalau dia mengatakan itu terjadi saat ia mencari Daniel di makam Mama mereka maka pasti Daniel akan merasa bersalah. Dia tidak mau adiknya merasakan rasa bersalah itu.
"Ayo duduk saja" ajak Daniel sambil menuntun Dena berjalan ke sofa.
"Kalau begitu mama mau ke kamar dulu ya?" ucap Sisil.
"Iya ma," jawab Dena.
Sisil langsung berdiri beranjak pergi meninggalkan kakak adik itu yang akan mengobrol bersama.
Daniel yang tadinya berdiri kini duduk di samping kakaknya. Melihat kakaknya yang sudah beberapa hari tidak ia temui.
"Bagaimana kabarmu?Kamu baik-baik saja kan?" ucapnya melihat Dena yang langsung berekspresi datar.
"A..aku, aku baik-baik saja" bohongnya pada Daniel tidak mungkin ia mengatakan jika Dirga jahat padanya. Maka Daniel pasti tidak akan tinggal diam.
"Kamu bohong, kamu tidak baik-baik saja buktinya ini, kakimu kenapa kamu ceroboh sekali sih kak. Untung kamu tidak apa-apa, bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana denganku"
"Sudah lah Daniel buktinya aku sekarang tidak apa-apa. Kamu tenanglah,"
"Kenapa kamu beberapa hari ini tidak mau bertemu denganku, dan kenapa kamu saat pernikahanku tidak datang?" ucap Dena membahas waktu dia menikah kemarin dimana Daniel yang tidak kelihatan batang hidungnya.
"Maaf," lirih Daniel ia mengaku salah soal itu, dia terlalu kecewa serta marah dengan kakaknya yang menurutnya begitu bodoh mau menerima permintaan Papa mereka untuk menikah.
"Tidak, apa-apa" Dena memegang wajah adiknya yang menunduk merasa bersalah karena telah mendiami dirinya beberapa hari ini.
"Kak,..Ak..aku boleh ijin keluar dari rumah Papa" ucap Daniel hati-hati melihat kakaknya yang sekarang seolah menuntut penjelasan.
"Kenapa?kenapa kamu ingin keluar dari rumah Papa?"
"Aku tidak mau tinggal satu rumah dengannya, untuk apalagi aku tinggal di rumah itu. Kamu sudah tidak tinggal di sana" Daniel merasa berat sebenarnya untuk mengatakan itu tetapi bagaimana lagi.
"Kalau kamu pergi dari sana kamu akan tinggal dimana?" Dena merasa sedih melihat Daniel sekarang. Pasti dia merasa kesepian sekarang semenjak dirinya menikah.
"Aku, aku akan tinggal di rumah kita dulu, di rumah kenangan kita dengan mama"
Dena diam mendengar perkataan adiknya itu, bagaimana dia bilang jika rumah itu surat-suratnya ada di Papanya dan ia taku jika Daniel tinggal di rumah itu Papanya tidak mengijinkannya dan malah menjual rumah kenangan mereka.
"Bagaimana kalau, Papa tidak mengijinkan mu tinggal di sana? "
"Aku tidak perduli dengan pendapat Papa, aku tidak mau tinggal di rumahnya"
"Daniel saran ku sih, mending kamu tinggal di rumah Papa dan bekerja di perusahaan Papa itu hak kita dan itu juga salah satu warisan kita. Karena mama memberikan sahamnya pada kita"
Daniel tampak kaget, mendengar itu jujur ia tidak tahu kalau Mamanya memiliki saham di perusahaan Papa mereka.
"Apa kamu bilang tadi?Berarti mama punya saham di perusahaan Papa dan sahamnya di berikan ke kita?" ucapnya tak percaya.
Dena mengangguk pelan, menandakan iya.
"Bagaimana kamu tahu kalau mama punya saham?"Daniel masih tak percaya dengan apa yang saudara kembarnya katakan mana bisa yang katanya Mamanya dulu ibu rumah tangga memiliki saham perusahaan.
"Om Marcel kakak dari mama yang memberitahuku, belum lama ini saat aku menikah" jelas Dena. Benar saat dia menikah kakak Mamanya yang tinggal di luar negeri memberitahu dirinya soal itu.
"Kuliahmu juga hampir selesaikan, aku sarankan padamu untuk bekerja saja di perusahaan Papa. Itu hak mu Daniel, bukan Hak wanita ular itu..Apalagi hak anaknya, itu hak kita anak sah Papa dan Mama"
Saat mereka berdua tengah mengobrol Dirga tiba-tiba saja muncul menatap kedua orang kakak adik itu. Dia yang baru saja berganti pakaian setelah berenang tanpa ada angin tanpa ada hujan ikut bergabung duduk disitu.
"Hai adik ipar, apa yang membawamu kemari?" tanya Dirga datar pada Daniel.
"Tentu saja bertemu kakakku, kenapa?ada masalah" sahut Daniel yang merasa perkataan Dirga tadi tidak begitu bersahabat.
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja apa yang kau bicarakan pada istriku. Sampai lama begini, mengganggu dirinya yang akan melayaniku" Dirga tersenyum sinis di depan Daniel.
Dan kata-kata Dirga itu tidak enak sekali di dengar di telinga Daniel, membuat Daniel menatap tajam kakak iparnya. Dena tahu itu pasti Daniel sekarang tersulut emosi akibat perkataan Dirga.
"Kalau tidak ada lagi, bisa kah kau pulang. Aku sedang membutuhkan istriku saat ini" usir Dirga secara halus.
Daniel langsung berdiri dari duduknya, mendekat kearah Dirga. Dirga juga langsung berdiri menatap Daniel menantang.
"Tidak perlu kau usir, aku juga akan pulang sebelum itu, aku akan memberikanmu pelajaran.."
Daniel hendak melayangkan pukulan ke wajah Dirga tetapi lengannya terlebih dahulu ditahan oleh Dena.
"Daniel, sudahlah..Kau pulang saja sekarang, besok kita ketemu lagi tapi jangan di rumah ini. Di rumah ini ada pengacau" sindir Dena sambil menatap Dirga tajam.
"Aku akan pulang, dari rumahmu ini. Pesanku padamu, baik-baiklah pada kakakku. Jika tidak aku akan menghancurkan dirimu sehancur-hancurnya. Mengerti" ucap Daniel penuh penekanan dan ancaman di setiap katanya.
"Aku tidak takut," ucap Dirga santai menganggap remeh ancaman Daniel barusan.
Daniel langsung pergi begitu saja dari rumah Dirga, meninggalkan Dirga dan Dena berdua di situ. Dena melihat kepergian adiknya merasa sedih, ia belum puas mengobrol dengannya tapi Dirga telah mengacaukan semuanya.
"Kenapa kau sedih?butuh sandaran?" sinis pria itu melihat Dena yang hanya menatapnya datar.
Dena menatap dingin Dirga, lalu ia memutuskan untuk pergi saja dari hadapan pria itu. Namun sebuah cekalan kuat terpaksa harus menghentikan langkahnya.
"Kau bakal menderita di rumah ini, kau bakal merasa sendirian dan tak ada sandaran. Salahmu sendiri menerima pernikahan ini" kata-kata penuh kalimat mematikan keluar dari mulu Dirga dibarengi senyuman licik yang menghiasi wajah tampan itu.
"Lepaskan,.." Dena menghentakkan tangannya menepis kuat tangan Dirga.
"Aku tidak takut, dan aku tidak perduli" ucap Dena dingin sangat dingin sekali seakan tidak takut dengan ancaman Dirga.
"Kalau begitu nantikan saja, apa penderitaan selanjutnya yang akan kau rasakan di rumah ini" ucap Dirga meremehkan lalu pergi meninggalkan Dena yang berdiri terpaku di tempatnya.
°°°
T.B.C
mau mengikuti kemauan
mati ajah sklian