Saling selingkuh, mewarnai kehidupan rumahtangga Dave, dan Alana.
Hingga keduanya menyadari adanya cinta pada diri masing-masing, disaat rumahtangga yang mereka jalani, berada diujung tanduk. Dan cinta itu semakin kuat, dengan kehadiran sikembar Louis, dan Louisa.
Ikuti kisah cinta Alana, dan Dave yang merupakan saudara tiri.
IG. Popy_yanni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memandikan.
Seketika Alana terdiam, dan tidak berbicara lagi saat mendengar tita pengusaha itu. Keheningan kembali melanda tempat itu, tapi Alana tak kunjung memejamkan matanya. Dan saat melemparkan pandangan, dia mendapati Dave yang tidur, dengan terlihat begitu gelisah,
"Kalau tidurmu tidak nyaman, pulanglah. Aku tau, orang sepertimu tidak mungkin bisa tidur ditempat seperti ini!"
Menghembuskan napas, yang terasa begitu sesak didadanya, saat mendengar apa yang dikatakan Alana, padanya.
"Mulai sekarang, aku akan mencoba untuk terbiasa tidur disini, agar aku bisa bertemu dengan kedua, anakku."
"Sudah berapa kali aku bilang?! mereka bukan anakmu?!"
"Berhentilah berbicara, dan jika kau masih menyangkal Louis, dan Louisa bukan anakku, ayoo kita lakukan tes DNA. Bagaimana?"
Alana langsung membungkam mulutnya, saat Dave mengajaknya untuk tes DNA.
"Kenapa kau tidak bicara lagi, apakah kau takut?!" Dengan menyeringai, diwajahnya.
"Aku mengantuk, dan ingin tidur." Jawabnya ketus, dan segera memejamkam matanya.
Dave terus menatap Alana, yang tidur terus membolak-balikan badannya.
"Kenapa sekarang, kau yang jadi tidak bisa tidur?! apakah kau takut, aku melakukan itu lagi padamu?!" Dengan senyuman kecil, menatap Alana.
"A..awas saja, jika kau melakukan itu padaku Dave?! aku akan berteriak."
Menyunggingkan senyuman kecil diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Alana.
"Mana mungkin aku mengajakmu bercinta, sementara disini ada anak-anak kita. Kau tidak maukan, mereka mendengar desahan-desahanmu?" Ucapnya, tersenyum.
"A..apa yang kau bicarakan?! aku ingin tidur. Dan awas saja, jika kau macam-macam." Ucapnya Alana dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, dan menuju alam mimpinya.
****
Terangnya cahaya mentari telah menampakan wajahnya, setelah kegelapan menghilang secara sempurna.
Waktu yang telah menunjukkan jam delapan pagi, tak menyurutkan lelaki tampan itu untuk terjaga dari tidurnya, ada sedikit cahaya yang mengenai wajahnya.
"Mama..? apakah Papa belum, bangun?" Tanya Louis, saat tengah bersama ibunya didapur.
"Papa?!" Dengan tatapan penasaran, menatap anak lelakinya karena terkejut, saat Louisa meenyebut Dave dengan sebutan Papa.
"Iya, Mama? kata Paman tampan, dia adalah Papa kami. Dia mengatakan pada aku, dan Louis kalau dia adalah Papa Kami yang sebenarnya."
Alana hanya menghembuskan napas, yang terasa berat. Melihat senyum kebahagian pada kedua anaknya, membuat dia tidak tega, untuk meminta keduaanaknya, agar tetap memanggil Dave, dengan sebutan Paman saja.
"Memang kenapa, kau menanyakan Papa?!"
"Aku ingin Papa, yang memandikan aku, Maa?!"
"Tapi kan bisa, kalau Mama yang memandikan kau Louis?!" Ucap Alana, yang membujuk putranya.
"Tapi aku inginnya Papa, Maa? aku inginnya Papa?!" Rengeknya, pada Alana.
"Kalau begitu, bangunkan Papa kalian,"
"Baiklah, ayoo Kakak?!" Dengan berlari kecil, bersama Louisa menghampiri Dave, yang masih tidur.
Saat tiba dikamar, mereka mendapati Dave masih tertidur dengan begitu pulas.
"Papa.., Papa..,? Panggil Louis, dengan menggoyang-goyangkan tangan ayahnya.
"Papa...?!" Timpal, Louisa Pula.
Mendengar suara yang begitu mengganggu, membuat Dave dengan terpaksa membuka matanya, walaupun rasa kantuk masih sangat mendera.
Senyuman kecil seketika mengembang diwajahnya, saat menadapati kedua buahatinya, yang tengah tersenyum padanya.
"(Rasanya seperti mimpi menyebut kedua anak ini, adalah dara dagingku. Dan sungguh suatu hal yang sangat luar biasa, saat mendengar mereka memanggiku, Papa.)" Bathinnya, dengan terus menatap kedua anak itu.
"Papa, ayo bangun? kami ingin kau yang memandikan kami?!" Rengek Louisa, pada ayahnya.
Bangun dari tidurnya, ditengah rasa kantuk yang masih sangat mendera.
"Baiklah, ayo kita kekamar mandi, Papa akan memandikan kaliana berdua," Ajak Dave, dengan berlalu bersama kedua anakknya.
Dave terlihat begitu bahagia, saat memandikan kedua anaknya yang tidak bisa diam. Melihat wajah baagia kedua anaknya, membuat Alana sekali lagi hanya meneteskan airmatanya.
"Mama, ayoo kita mandi..?!" Teriak Louis, saat Alana terus menatap mereka dari kejauhan.
Mengusap dengan cepat cairan bening yang menetes, dan memaksakan diri untuk tersenyum menatap kedua anaknya.
"Mandilah, Mama akan menyiapkan sarapan pagi untuk kalian bertiga," Jawab Alana, dengan berlalu begitu saja.
****
Laura membela jalan, ditengah keramaian kota Cambrigge, senyuman terus mengembang diwajah CEO cantik itu, karena akan bertemu dengan laki-laki pujaannya.
"Dave pasti akan sangat terkejut, dengan kedatanganku sebab aku tidak mengabarinya sama sekali." Gumamnya, dengan terus melajukan kendaraan roda empatnya. Terus melajukan mobilnya, hingga berhenti disebuah bangunan bertingkat yang sementara dibangun.
Meraih sebuah cermin, dan membenahi sedikit penampilannya yang terlihat sedikit kusut, sebelum memutuskan untuk memasuki turun dari mobil.
Laura melangkan kaki dengan percaya dirinya, seraya mengedarkan pandangannya, mencari sosok Dave.
Saat tidak mendapati keberadaan Dave, dia memutuskan untuk bertanya pada seorang buru.
"Selamat pagi, Nona?!"
"Selamat pagi, apakah Tuan Dave sudah datang?"
"Tuan Dave hari ini tidak datang Nona, hanya sekretarisnya, Daven."
Menyurutkan kedua alisnya, sebab yang dia tahu Dave tidak pernah absen untuk mengawasi proyek ini, secara langsung.
"Baiklah, terima kasih. Aku akan menanyakan pada sekretarsnya." Ucapnya saat melihat keberadaan Daven, yang tengah berbicara dengan seorang mandor.
"Daven...?!" Panggilnya, dengan berjalan menghampiri pria tampan itu.
"Nona, Laura..?!" Gumamnya dengan tatapan, terus menatap Laura yang tengah menghampirinya.
"Dimana Dave? kenapa dia tidak datang? bukankah pembangunan proyek ini, sangat penting untuk kerja sama kedua perusahaan ini?!'
"Tuan Dave, tidak masuk hari ini, Nona?!"
"Baiklah, kalau begitu aku akan menemuinya langsung divila." Ucapnya, dengan berlalu begitu saja.
"Nona...?!" Panggil Daven, yang menghentikan langkah kaki wanita itu.
"Ada apa?!"
"Tuan Dave, tidak berada di vila Nona?!"
"Apaa?! " Dengan raut wajah, yang sedikit terkejut.
Kalau dia tidak berada divila, terus dimana dia?"
"Tuan Dave, sedang menginap ditoko Kue Alana."
"Toko Kue, Alana?!" Dengan menyerngitkan dahinya.
Apakah toko kue itu, milik keluarganya?" Tanya Laura, yang terlihat begitu penasaran.
"Lebih baik, Nona pergi sendiri saja. Dan ini alamatnya." Dengan memberiakan sebuah kartu, yang berisikan alamat toko kue tersebut.
Meraih dari tangan Daven, dan menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Baiklah, aku akan pergi ketempat ini." Ucapnya, dengan berlalu begitu saja.