Karena permintaan sang ayah yang merasa punya banyak hutang budi pada seorang dokter yang merawat penyakitnya. Gadis malang yang bernama Thalia harus menikah dengan sang dokter yang berstatus duda. Bukan hanya status sang dokter yang menjadi masalahnya, tapi dokter duda juga terkenal sangat dingin karena masa lalunya yang menyedihkan.
Mampukah Thalia menaklukkan hati sang dokter? Bisakah ia bertahan dengan laki-laki yang dingin seperti Rama? Apakah Lia mampu mengubah pandangan Rama tentang masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Rama memberi kode pada bik Asih. Menyuruh bibi itu masuk kedalam. Bibi mengerti dengan apa yang Rama kode kan. Ia pun bergegas masuk dan memberikan payungnya pada Rama.
Rama memayungi Lia yang tertunduk menahan dingin. Matanya melihat kaki orang yang menghampirinya saat ini. Ketika ia menolah, matanya dan mata Rama saling tatap untuk beberapa saat.
"Ayo masuk!" ucap Rama lembut.
"Nanti saja."
"Nantinya kapan?"
"Saat aku sudah merasakan kedinginan."
"Bukankah saat ini kamu sudah merasakan kedinginan?"
"Masuk saja duluan. Aku masih ingin di sini," Tolak Lia tetap tidak ingin masuk.
"Jangan keras kepala. Jika kamu sakit, aku akan repot."
"Aku tidak akan merepotkan mas Rama. Mas Rama tenang saja."
"Lia."
"Tinggalkan aku sendiri. Aku masih ingin di sini."
"Ya sudah kalau itu yang kamu inginkan," ucap Rama sambil benar-benar meninggalkan Lia di sana.
Wajah bik Asih kembali cemas saat melihat Rama benar-benar meninggalkan Lia di sana. Ia berharap kalau Rama bisa membujuk Lia untuk masuk. Tapi kenyataannya, Rama malah meninggalkan Lia.
Baru beberapa langkah Rama meninggalkan Lia di bangku taman. Tubuh Lia yang sudah lama tersiram air hujan malam pun tidak kuat untuk menahan dingin. Tubuh mungil itu tiba-tiba saja hilang kendali dan tumbang tanpa bisa pemiliknya tahan.
"Mas Rama! Non Lia pingsan!
Bik Asih berteriak sambil berlari menghampiri Lia dan Rama. Sontak saja, Rama memalingkan wajahnya dengan cepat saat mendengarkan teriakan dari bik Asih. Saat itu, Lia sudah terbarik di bangku taman.
Rama dengan cepat membuang payungnya untuk melihat Lia segera. Ia mencoba untuk membangunkan Lia dengan memanggil-manggil nama Lia berulang kali. Namun Lia tidak bisa menjawabnya lagi. Ia sudah tidak sadarkan diri saat ini.
Rama dengan sigap mengangkat tubuh Lia untuk membawanya masuk kedalam. Sedangkan bik Asih mengikuti mereka dari belakang.
"Tolong gantikan bajunya bik!" kata Rama saat ia telah membaringkan Lia di kasurnya.
"Baik mas. Mas Rama mau kemana?"
"Saya akan ganti baju terlebih dahulu," ucap Rama sambil berjalan keluar.
Beberapa saat kemudian, Rama datang dengan kotak obat di tangannya. Ia bergegas memeriksa suhu tubuh Lia.
"Ya Tuhan, badannya panas sekali."
Rama terlihat sangat cemas dengan kondisi Lia saat ini. Bik Asih melihat kecemasan itu tergambar jelas di wajah Rama. Mungkinkah Rama cemas hanya karena insting dokternya saja? Atau dia memang sedang mencemaskan Lia yang sedang terbaring tidak sadarkan diri saat ini? Bik Asih tidak bisa memastikan hal itu. Karena menurutnya, kesembuhan Lia lah yang harus ia pikirkan sekarang.
"Bik, ambilkan air hangat dan sehelai handuk."
Tanpa banyak tanya, bik Asih melakukan apa yang Rama katakan. Ia mengambil dua barang itu dengan cepat. Lalu menyerahkan pada Rama.
"Jika ini tidak berhasil, maka aku hanya punya satu cara untuk menurunkan panasnya," ucap Rama Sambil menerima baskom yang berisi air hangat dan handuk.
"Maksud mas Rama?"
"Panas Lia terlalu tinggi bik. Dia juga tidak sadarkan diri saat ini. Obat yang aku punya tidak memadai. Malam-malam begini, dengan hujan lebat seperti ini, aku tidak mungkin ke rumah sakit untuk menggambil obat, apalagi membawa Lia ke rumah sakit. Ini bisa membuat kondisinya semakin parah."
"Jadi kita harus apa?"
"Seperti yang aku katakan tadi, hanya satu yang bisa aku lakukan jika ini tidak berhasil bik."
"Apa itu mas Rama?"
"Aku akan membagi suhu tubuhnya dengan ku."
Bik Asih terdiam. Sedikit banyaknya, ia tahu apa yang Rama katakan. Membagi suhu tubuh, itu artinya Rama dan Lia akan berpelukan tanpa busana, agar suhu tubuh mereka bisa berpindah.
Dalam kekhawatiran itu, bik Asih malah memikirkan hal yang lain. Ia malah berharap kalau air hangat tidak mampu untuk menurunkan panas badan Lia. Karena ia sangat ingin Rama dan Lia tidur berdua di satu ranjang.
Harapan bik Asih ternyata tidak terwujud. Rama itu dokter yang sudah lama berada di dalam dunia kedokteran. Ia sudah berkecimpung di dunia kedokteran sejak ia lulus kuliah. Bagaimanapun, ia sudah makan banyak asam garam selama lebih delapan tahun. Sudah pasti ia bisa menurunkan suhu badan Lia tanpa harus berbagi suhu dengannya.