Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 RTJ
Fajar menyapa ibu kota dengan kabut tipis yang menyelimuti atap-atap istana. Di Paviliun Teratai, Lin Xi tidak menghabiskan malamnya dengan tidur. Ia duduk bersila di lantai kayu, bukan untuk menghimpun Qi yang sudah sirna, melainkan untuk melatih ketajaman panca inderanya seperti yang disarankan Kakek Bai.
Ia belajar membedakan suara kepakan sayap burung pipit dengan burung gagak, dan mengendus aroma rempah dari dapur jauh sebelum pelayan mengantarkan makanannya.
"Nona, Satu sudah datang," bisik Pengasuh Han sambil membukakan pintu selasar.
Satu melangkah masuk, bayangannya jatuh panjang di lantai. Ia berlutut dengan satu kaki, kepalanya tertunduk dalam. Ada keheningan yang berat sebelum ia berbicara.
"Lapor, Nona Kedua. Saya telah memeriksa catatan logistik kediaman Pangeran Kedelapan. Tidak ada kejanggalan pada pasokan bahan makanan. Namun..." Satu menjeda, suaranya merendah. "Tabib Zhang, asisten kepala tabib istana yang menangani ramuan energi Pangeran, menghilang sejak tadi malam."
Lin Xi membuka matanya. Sorotnya dingin dan jernih. "Menghilang? Bukan dibunuh?"
"Kami menemukan kediamannya berantakan, Nona. Ada bekas debu Manjusaka di atas mejanya—racun yang memperlambat reaksi saraf namun sulit dideteksi jika dicampur dengan teh ginseng."
Lin Xi mengetukkan jarinya ke meja kayu. "Pangeran Chen meminum teh ginseng setiap pagi sebelum menghadap Kaisar. Jika Tabib Zhang adalah bagian dari lingkaran pengkhianat, maka racun itu sudah ada di dalam tubuh Long Chen sekarang. Bukan untuk membunuhnya seketika, tapi untuk membuatnya lumpuh saat serangan sesungguhnya terjadi di perjamuan nanti."
"Nona, apakah kita harus memberitahu Yang Mulia sekarang?" tanya Satu cemas.
"Jangan," Lin Xi menggeleng. "Long Chen adalah orang yang emosional jika menyangkut pengkhianatan orang dekatnya. Jika dia tahu sekarang, reaksinya akan terbaca oleh si pengkhianat. Biarkan dia tetap merasa aman. Kita akan mencabut durinya tepat di depan matanya malam ini."
Malam harinya, Istana Giok Merah diterangi oleh ribuan lampion emas. Musik kecapi mengalun merdu, namun bagi Lin Xi, melodi itu terdengar seperti genderang perang yang diredam.
Ia tiba dengan kereta kuda kekaisaran. Lin Xi mengenakan pakaian kulit ketat berwarna hitam yang dilapisi jubah sutra merah marun. Rambutnya tidak disanggul rumit, melainkan diikat tinggi dengan pita perak, memberikan kesan seorang prajurit yang sedang menyamar sebagai bangsawan.
Langkah kakinya masih sedikit lambat, namun ia menolak dibantu. Ia berjalan dengan punggung tegak, memegang tongkat kayu cendana yang di dalamnya tersembunyi belati tipis.
Saat ia memasuki aula perjamuan, percakapan mendadak terhenti. Ratusan pasang mata menatapnya—pahlawan yang jatuh, Jenderal yang kini tak memiliki kekuatan. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas rumput kering.
"Lihat, itu Lin Xi. Benarkah kultivasinya benar-benar musnah?" "Sayang sekali, wajah secantik itu sekarang hanya menjadi beban bagi Pangeran Kedelapan."
Lin Xi mengabaikan mereka semua. Matanya tertuju pada singgasana rendah di sisi kiri Kaisar, di mana Long Chen duduk. Pria itu tampak gagah dengan jubah naga biru muda, namun Lin Xi menyadari sesuatu yang salah. Sudut mata Long Chen sedikit bergetar, dan gerakannya saat mengangkat cawan perak terlihat sedikit kaku.
"Nona Lin Xi, silakan duduk di samping Pangeran Kedelapan," suara Kasim Agung bergema.
Lin Xi berjalan menuju tempat duduknya. Saat ia melintas di depan Long Chen, pria itu memberikan senyum hangat yang biasanya menenangkan, namun kali ini terlihat sedikit lelah.
"Kau terlihat sangat berbeda malam ini, Xi'er," bisik Long Chen saat Lin Xi sudah duduk di sisinya. "Pakaian berburu di perjamuan resmi? Kau ingin memburu siapa?"
"Hama, Yang Mulia," sahut Lin Xi pendek. Ia meraih cawan teh di depan Long Chen sebelum pria itu sempat meminumnya. Ia mencium aromanya sekilas. Ginseng dan madu.
"Ada apa? Kau haus?" tanya Long Chen heran.
"Teh ini terlalu dingin untuk Anda, Yang Mulia. Biarkan saya meminta pelayan menggantinya," Lin Xi memanggil seorang pelayan muda yang berdiri tak jauh dari sana.
Saat pelayan itu mendekat, Lin Xi memperhatikan jemari si pelayan. Kapalan di antara ibu jari dan telunjuk. Itu bukan tangan seorang pelayan, tapi tangan seorang pemanah atau pengguna pisau lempar.
"Ganti teh ini dengan air hangat saja," perintah Lin Xi.
Pelayan itu membungkuk, namun matanya sempat melirik ke arah sudut aula, di mana beberapa pejabat tinggi dari faksi Utara duduk berkumpul.
"Kek," bisik Lin Xi dalam batin. "Berapa banyak orang di ruangan ini yang memiliki niat membunuh?"
“Tiga di belakang tirai, dua di barisan pelayan, dan satu... ah, ini menarik. Satu orang tepat di samping Kaisar,” suara Kakek Bai terdengar waspada.
Lin Xi melirik ke arah samping Kaisar. Di sana berdiri Jenderal Besar Zhao, pria tua yang selama ini dikenal sebagai pilar pertahanan ibu kota. Jika Zhao berkhianat, maka seluruh penjaga istana berada di bawah kendalinya.
"Long Chen," bisik Lin Xi, suaranya nyaris tak terdengar di tengah bising musik. "Jangan minum apa pun lagi. Dan jangan lepaskan tanganmu dari gagang pedang di bawah meja."
Long Chen menoleh, alisnya bertaut. "Xi'er, apa yang kau bicarakan? Ini perjamuan kemenangan."
"Ini adalah perjamuan pemakaman jika Anda tidak mendengarkan saya," Lin Xi menatapnya tajam. "Tabib Zhang menghilang. Anda sudah diracuni dengan dosis kecil selama tiga hari terakhir. Apakah Anda merasakan kaki Anda sedikit mati rasa sekarang?"
Wajah Long Chen berubah drastis. Ia mencoba menggerakkan kakinya di bawah meja. Benar. Sensasinya seperti tertindus batu besar. "Bagaimana kau...?"
"Diam. Jangan tunjukkan kelemahanmu," Lin Xi meraih tangan Long Chen di bawah meja, meremasnya kuat untuk memberikan dukungan moral. "Musuh sedang menunggu saat Anda tidak bisa berdiri untuk menyerang."
Tiba-tiba, musik berhenti. Jenderal Zhao melangkah ke tengah aula, membungkuk kepada Kaisar.
"Yang Mulia Kaisar," ujar Zhao dengan suara menggelegar. "Sebelum perayaan ini berlanjut, saya memiliki sebuah permohonan. Mengingat Jenderal Lin Xi telah kehilangan kemampuannya untuk memimpin pasukan Wilayah Barat, bukankah sebaiknya Segel Militer itu diserahkan kepada seseorang yang lebih mampu? Demi keamanan kekaisaran."
Suasana aula mendadak tegang. Kaisar yang sudah agak mabuk menyipitkan matanya. "Zhao, ini bukan waktunya membahas masalah militer."
"Tapi ini darurat, Yang Mulia!" Zhao memberi isyarat, dan tiba-tiba, belasan pengawal istana menghunus pedang mereka, mengelilingi meja Long Chen dan Lin Xi.
"Zhao! Apa maksudnya ini?!" raung Kaisar, mencoba berdiri namun ia juga terjatuh kembali ke kursinya. Ia pun telah diracuni.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Tapi Kekaisaran butuh pemimpin yang kuat, bukan Pangeran yang terobsesi pada wanita cacat, dan bukan Kaisar yang sudah mulai pikun," Zhao menyeringai keji.
Long Chen mencoba bangkit, namun racun Manjusaka di tubuhnya bereaksi dengan emosinya. Ia terhuyung, nyaris jatuh jika Lin Xi tidak segera menopang bahunya.
"Lihatlah Pangeran kebanggaan kalian," ejek Zhao. "Bahkan berdiri pun dia butuh bantuan seorang wanita."
Lin Xi melangkah maju, berdiri di depan Long Chen. Meskipun ia tak memiliki Qi, aura kepemimpinannya sebagai Jenderal tidak berkurang sedikit pun. Ia menancapkan tongkat kayu cendananya ke lantai dengan dentuman keras.
"Jenderal Zhao," suara Lin Xi tenang namun mematikan. "Kau bicara tentang kekuatan? Kau butuh belasan orang dan racun pengecut untuk menghadapi pria yang sedang duduk dan wanita yang kau sebut cacat. Di mataku, kaulah yang paling lemah di ruangan ini."
"Beraninya kau!" Zhao menghunus pedangnya. "Bunuh mereka semua! Ambil Segel Militernya!"
Para pengawal menerjang. Long Chen menggertakkan gigi, mencoba menghalau racun dengan tekad murni, namun gerakannya lambat.
“Xi'er! Gunakan indramu! Ingat latihan tadi pagi!” teriak Kakek Bai.
Lin Xi tidak menghunus belatinya. Ia menarik napas dalam, merasakan getaran lantai saat para pengawal berlari. Saat pedang pertama mengayun ke arahnya, Lin Xi tidak menghindar dengan kekuatan, melainkan dengan ketepatan. Ia memutar tubuhnya sedikit, membiarkan pedang itu lewat hanya satu inci dari jubahnya, lalu menggunakan tongkatnya untuk memukul pergelangan tangan si penyerang.
Krak!
Tulang pergelangan tangan itu patah. Bukan karena tenaga dalam, tapi karena Lin Xi memukul tepat di titik saraf yang paling rapuh saat otot si penyerang sedang menegang maksimal.
"Satu! Sekarang!" teriak Lin Xi.
Dari langit-langit aula, selusin bayangan hitam melompat turun. Garda Bayangan yang dipimpin oleh Satu segera terlibat dalam pertempuran sengit dengan pengawal pengkhianat.
Lin Xi kembali ke sisi Long Chen. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya. "Minum ini. Ini penawar sementara yang diberikan Kakek Bai. Ini akan membakar meridianmu sejenak, tapi kau akan bisa bergerak."
Long Chen meminumnya tanpa ragu. Seketika, wajahnya memerah dan pembuluh darah di lehernya menonjol. Ia meraung, menghunus pedang naga emasnya, dan dalam satu tebasan, ia membelah meja di depannya serta memukul mundur tiga penyerang sekaligus.
"Xi'er, tetap di belakangku!" perintah Long Chen, energinya meledak kembali meski dengan rasa sakit yang luar biasa.
"Tidak, Chen," Lin Xi mencabut belati tipis dari tongkatnya. "Kita selesaikan ini bersama."
Di tengah kekacauan, Jenderal Zhao melihat posisinya terancam. Ia memberi kode kepada pelayan yang tadi membawa teh. Pelayan itu tiba-tiba mengeluarkan pisau lempar, mengarahkannya bukan ke Long Chen, melainkan ke Kaisar yang sedang tak berdaya.
"Ayahanda!" teriak Long Chen, namun ia sedang terkepung oleh lima orang pengawal.
Lin Xi melihat lintasan pisau itu. Di dunia biasa, pisau itu bergerak sangat cepat. Namun di mata Lin Xi yang telah melatih inderanya, pisau itu seolah bergerak dalam lumpur. Ia melempar belati tipisnya dengan perhitungan sudut yang sempurna.
Ting!
Belati Lin Xi menghantam pisau lempar itu di udara, membelokkan arahnya hingga menancap di tiang kayu, hanya seujung rambut dari kepala Kaisar.
Lin Xi terengah-engah. Lemparan itu menguras seluruh tenaga fisiknya yang tersisa. Ia jatuh terduduk, dadanya sesak.
"Tangkap Zhao hidup-hidup!" perintah Long Chen yang kini sudah berhasil menerobos kerumunan pengawal.
Pertempuran itu berakhir dalam waktu singkat. Jenderal Zhao berhasil diringkus oleh Satu, sementara pejabat faksi Utara lainnya menyerah ketakutan.
Aula yang tadinya megah kini berantakan. Bau darah bercampur dengan aroma dupa yang terbakar. Kaisar, yang mulai sadar dari pengaruh biusnya, menatap Lin Xi dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa syukur dan ketakutan akan kecerdasan gadis itu.
Long Chen segera menghampiri Lin Xi, menggendongnya tanpa mempedulikan protokol istana. "Kau gila, Xi'er. Kau hampir mati hanya untuk menyelamatkan pria yang ingin membuangmu ke perbatasan."
Lin Xi tersenyum pucat, kepalanya bersandar di dada Long Chen. "Aku menyelamatkan Kaisar untukmu, Chen. Agar kau tidak menjadi yatim piatu di tengah perang saudara."
"Cukup bicara," Long Chen membawanya keluar dari aula yang penuh sesak itu. "Kita pulang ke paviliun. Persetan dengan perjamuan ini."
Saat mereka melewati ambang pintu, Lin Xi melirik ke arah Jenderal Zhao yang sedang diseret. Zhao menatapnya dengan penuh kebencian, namun ada sesuatu yang lain di matanya. Ia membisikkan sesuatu yang hanya bisa ditangkap oleh telinga tajam Lin Xi.
"Ini... baru... permulaan... Bayangan Merah... sudah... bangkit..."
Lin Xi memejamkan matanya. Bayangan Merah. Nama itu adalah organisasi pembunuh paling rahasia di daratan Utara, yang menurut legenda, dipimpin oleh seseorang yang memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan.
"Kek," bisik Lin Xi dalam hatinya yang lelah. "Sepertinya rubah ini butuh lebih banyak jebakan."
“Tenanglah, Nak. Untuk malam ini, kau sudah memenangkan papan caturnya. Tidurlah,” sahut Kakek Bai lembut.
Di bawah sinar rembulan, Long Chen membawa Lin Xi kembali ke keretanya. Di dalam kegelapan malam, ia berjanji pada dirinya sendiri: ia akan membangun kembali kekuatan Lin Xi, bukan agar gadis itu bisa berperang lagi, tapi agar tidak ada lagi yang berani membuat gadisnya merasa lemah.
Namun, di sudut gelap istana, seorang kasim kecil memperhatikan keberangkatan mereka, lalu melepaskan seekor burung gagak hitam ke arah Utara.