Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Setelah mendapatkan ijin untuk tetap bekerja, Freya menjalankan tugasnya seperti biasa, berdiri di posisi yang dahulu ia tempati sebagai Boy, bodyguard pribadi Steven.
Selama Steven berada di ruangannya, Freya mengisi waktu dengan berkeliling, memastikan keadaan aman sekaligus membantu para staf yang kerepotan.
Namun, saat ia baru saja menyerahkan dokumen yang ia fotocopy pada staff, langkahnya mendadak terhenti ketika pandangannya menangkap dua sosok yang tengah membuat keributan di area resepsionis.
Suara keduanya meninggi, membuat semua mata menatap ke arah mereka.
"Kenapa kami tidak boleh masuk, hah?" suara wanita itu melengking, penuh tuntutan. "Apa kau tidak tahu siapa kami?"
"Kami orang tua CEO kalian," timpal pria di sisinya, suaranya tidak kalah tinggi. "Kami tidak perlu membuat janji untuk menemuinya."
"Kenapa mereka ada di sini?" gumam Freya. Dengan naluri waspada, iapun mendekat dengan langkah tegap, untuk memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Begitu sampai, ia berhenti tepat di hadapan mereka, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Wah, ada angin apa sampai kalian datang kemari, hm?" tanya Freya santai, namun dingin.
Denis dan Rena refleks menoleh. Mata Rena menyipit tajam.
"Akhirnya kau datang." Ia menunjuk resepsionis dengan jari gemetar oleh amarah. "Wanita ini tidak mengizinkan kami masuk. Lebih baik pecat saja dia."
"Iya, benar," sahut Denis singkat, penuh tekanan.
Resepsionis itu langsung membungkuk dalam-dalam. "Maafkan saya, Tuan—" suaranya bergetar. "Saya mengaku salah. Mohon jangan pecat saya."
"Cih!" Rena berdecak tajam. "Kau sudah menghalangi kami bertemu Steven. Itu kesalahan besar."
Freya menghela napas, lalu menggeleng pelan. "Maaf, Tuan, Nyonya. Resepsionis ini tidak bersalah. Jadi, kenapa dia harus dipecat?"
"Tidak bersalah?" Rena dan Denis melotot tajam. "Jelas-jelas dia—"
"Dia hanya menjalankan tugasnya," potong Freya tegas. "Tuan Steven berpesan, tidak ingin diganggu. Beliau juga tidak menerima tamu tanpa janji. Jadi, tidak ada kesalahan di sini," ucapnya dengan nada merendah, namun justru semakin menusuk.
"Kau—" ucapan Denis tertahan. Tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras. "Kalau begitu, sampaikan pada Steven. Kami ingin bertemu."
Freya menaikkan kedua alisnya. "Apa ucapanku tadi kurang jelas?"
Denis menggeram pelan, amarahnya nyaris meledak jika Rena tidak cepat menahannya.
"Tenang," bisik Rena. Ia lalu melangkah mendekat, berdiri di sisi Freya, suaranya berubah lebih rendah, nyaris berbisik.
"Kenapa kau tidak memberi kabar, hm?" Rena menyunggingkan senyum tipis. "Apa kau tidak tertarik dengan tawaranku waktu itu?"
Freya berpikir sejenak, lalu tersenyum samar. "Sejujurnya, aku tertarik, Nyonya. Tapi tiba-tiba, Tuan Steven menaikkan gajiku. Dan, jumlahnya lebih besar dari yang Anda tawarkan."
"Apa?" Rena memekik, lalu buru-buru mengecilkan suaranya. "Berapapun yang dia berikan, aku bisa memberimu lebih."
"Benarkah?" Freya berbinar, seolah tertarik
"Tentu saja," jawab Rena cepat. "Dengan satu syarat." Matanya menyipit penuh maksud. "Kau harus menjadi mata-mata kami."
Freya terdiam sejenak, lalu mengangguk pura-pura setuju. "Baiklah."
Rena lalu menariknya sedikit menjauh, memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar. Tatapannya menyipit, suaranya direndahkan.
"Jadi, apa kabar itu benar? Steven bertengkar dengan kekasihnya?" tanya Rena.
Freya seketika mengernyit tajam. "Bagaimana mereka bisa tahu?" batinnya.
Pertanyaan itu berputar cepat di kepalanya. Ia yakin, kejadian semalam hanya diketahui Miko dan orang-orang di rumah Steven. Tidak mungkin kabar itu bocor tanpa alasan.
"Seseorang pasti bermain di belakang," batinnya dingin, menduga ada mata-mata di rumah Steven. Namun, wajah Freya tetap tenang. Ia mengangguk pelan, seolah membenarkan.
"Iya," ucapnya dengan suara rendah, nyaris berbisik. "Semalam mereka bertengkar hebat."
Mata Rena seketika berbinar. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, penuh rasa puas.
"Bagus," gumamnya. "Kalau begitu, bantu kami bertemu Steven. Ada hal penting yang harus kami bicarakan dengannya."
Freya berpura-pura berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Baik. Kalian tunggu di sini. Aku akan menyampaikannya pada Tuan Steven."
Ia berbalik melangkah pergi, meninggalkan Rena dan Denis yang kini dipenuhi harapan, tanpa tahu bahwa satu langkah kecil itu justru sedang menjerat mereka lebih dalam.
Sesaat kemudian, setelah sampai di depan pintu ruang CEO, Freya mengetuk pintu sebelum masuk. Begitu berada di dalam, ia membungkuk sopan, layaknya seorang bodyguard yang melapor.
"Tuan, di luar ada Nyonya Rena dan Tuan Denis. Mereka ingin bertemu. Mereka bilang—"
"Aku tidak ingin bertemu siapa pun," potong Steven dingin, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Tapi, Tuan... " Freya maju beberapa langkah, ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Dari ucapan mereka, sepertinya ada mata-mata di mansion Anda.”/"
Jari-jari Steven seketika berhenti di atas keyboard. Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap Freya dengan sorot tajam yang membuat ruangan terasa menyempit.
"Apa kau bilang?"
"B-begini, Tuan. Anda pasti ingat, Nyonya Rena pernah memberiku penawaran besar agar aku mau memberikan informasi tentang Anda."
Steven menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya tidak lepas dari Freya.
"Lalu?"
"Tadi, dia kembali menaikkan harga," lanjut Freya. "Dan... aku berpura-pura setuju."
Ia menarik napas kecil, sebelum melanjutkan. "Setelah itu, Nyonya Rena menanyakan sesuatu padaku."
"Apa?" tanya Steven dengan merendah, namun justru terdengar mengancam.
Freya menggigit bibir bawahnya, ragu. "Dia bertanya... apa benar semalam Anda bertengkar dengan—"
"Katakan!" bentak Steven.
"I-itu... Nyonya Rena bertanya, apakah benar semalam Anda bertengkar dengan... kekasih Anda," lirih Freya nyaris berbisik
Ekspresi Steven menegang seketika. Bukan semata karena Rena mengetahui hal itu, melainkan karena satu kata 'Kekasih'. Entah kenapa, kata itu menghantam dadanya lebih keras dari yang ia duga, membuat napasnya terasa sesak.
"Kekasih?" desisnya dingin.
"M-maaf, Tuan," lirih Freya.
Sesaat kemudian, ekspresi Steven berubah lebih dingin dari sebelumnya. Ia bangkit dari kursinya tanpa berkata apa pun, lalu berjalan melewati Freya.
"Kita temui mereka," ucapnya singkat.