Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PENGHINAAN DI RUMAH MEWAH
#
Keesokan harinya, Kamis pagi, Dyon datang ke sekolah dengan perasaan campur aduk. Deg-degan, cemas, takut.
Ismi nggak ada.
Bangkunya kosong.
Dyon nanya ke teman sekelasnya—cewek berkacamata yang duduk di depan Ismi. "Eh, Ismi kemana?"
"Nggak tau. Dari tadi pagi belum dateng."
Dyon coba SMS Ismi. Nggak dibalas.
Telpon. Nggak diangkat.
Jantungnya makin nggak karuan.
*Dia kenapa? Dia... dia baik-baik aja kan?*
Istirahat pertama, hape Dyon bergetar. SMS masuk.
Nomor nggak dikenal.
Isinya: **"Dyon Syahputra. Datang ke rumah keluarga Anisah hari ini jam 4 sore. Alamat: Jalan Bukit Hijau No. 17, Perumahan Elite Permata Indah. Kalau tidak datang, Ismi yang akan menanggung akibatnya. - Hendra Anisah"**
Dyon membaca SMS itu berkali-kali. Tangannya gemetar.
Pak Hendra. Ayah Ismi.
Manggil dia ke rumah.
*Ini... ini jebakan kan? Pasti... pasti dia mau nyakitin aku.*
Tapi... kalau Dyon nggak datang, Ismi yang kena.
Nggak ada pilihan.
Dia harus datang.
---
Jam empat sore. Dyon berdiri di depan gerbang besar rumah keluarga Anisah.
Astaga.
Rumahnya... gede banget.
Tiga lantai. Cat putih mulus. Taman luas dengan rumput hijau yang dipotong rapi. Ada kolam ikan hias di depan. Mobil mewah parkir di garasi—mercy hitam mengkilap, sama satu mobil lagi yang Dyon nggak tau merknya.
Gerbang besi tinggi—otomatis, ada interkom.
Dyon tekan tombol interkom dengan tangan gemetar.
"Ya?" Suara perempuan dari speaker—dingin.
"Saya... saya Dyon. Disuruh... disuruh datang sama Pak Hendra."
Hening sebentar.
Klik.
Gerbang terbuka—pelan, otomatis.
Dyon masuk—jalan pelan di jalan setapak yang diaspal mulus. Sepatu jepit bolong-nya bunyi cit-cit pelan. Seragam lusuhnya keliatan makin lusuh di tengah kemewahan ini.
Dia ngerasa... kecil.
Sangat kecil.
Sampai di pintu depan. Pintu kayu jati ukir—megah, ada handle emas.
Pintu dibuka dari dalam.
Seorang pembantu—cewek muda pakai seragam maid—ngeliatin Dyon dari atas ke bawah. Tatapannya... meremehkan.
"Masuk," katanya singkat.
Dyon masuk. Ruang tamu... astaga. Luas banget. Lantai marmer putih mengkilap. Sofa kulit cokelat mewah. Lampu kristal gantung di langit-langit—menyala meskipun masih sore, bikin ruangan keliatan kayak istana.
Di tengah ruangan, berdiri Pak Hendra.
Tinggi. Besar. Badannya kekar—meskipun udah umur lima puluhan. Rambut disisir rapi, pakai kemeja putih mahal sama celana bahan hitam. Jam tangan emas di pergelangan—rolex, mungkin.
Di sampingnya, duduk Ibu Sarah—cantik, tapi wajahnya dingin. Pakai dress elegan, rambut disanggul rapi.
Dan... Ismi.
Duduk di sofa paling pojok. Kepala nunduk. Tangan ngepal di pangkuan. Mata merah—bekas nangis.
"Dyon..." bisik Ismi pelan—hampir nggak kedengaran.
"Ismi—"
"DIAM!" Pak Hendra bentak—keras. Suaranya kayak petir. "Kau tidak boleh bicara dengannya!"
Dyon langsung kaku. Berdiri di tengah ruangan—canggung, nggak tau harus ngapain.
Pak Hendra jalan mendekat—pelan, tapi auranya berat. Berdiri tepat di depan Dyon. Tingginya bikin Dyon harus nengadah dikit.
"Jadi..." Pak Hendra menatap Dyon dari atas ke bawah—kayak ngeliatin sampah. "Kau yang namanya Dyon Syahputra?"
"I...iya, Pak," jawab Dyon pelan.
"Angkat kepalamu. Lihat mataku waktu bicara."
Dyon angkat kepala—meskipun kakinya gemetar. Tatap mata Pak Hendra yang tajam, dingin.
"Kau... kau pikir kau siapa?" tanya Pak Hendra—suaranya rendah, tapi penuh ancaman. "Sampah jalanan! Anak yatim piatu yang tidur di gubuk! Kerja serabutan! Nggak punya masa depan! Kau... KAU PIKIR KAU PANTAS SAMA PUTRIKU?!"
Dyon nggak jawab. Tenggorokannya kering.
"JAWAB AKU!" Pak Hendra teriak.
"Saya... saya mencintai Ismi, Pak," kata Dyon—suaranya gemetar tapi berusaha tegas. "Saya... saya tau saya nggak punya apa-apa. Tapi... tapi perasaan saya tulus. Saya—"
Tamparan keras.
Tangan besar Pak Hendra menghantam pipi kanan Dyon—keras banget, bikin kepala Dyon miring, penglihatan kabur sebentar.
"TULUS?!" Pak Hendra teriak. "KAU PIKIR TULUS ITU CUKUP?! KAU PIKIR CINTA BISA MAKAN?!"
Dyon pegang pipi yang panas. Perih. Bibirnya pecah lagi—darah keluar.
"Ayah! Kumohon!" Ismi berdiri—nangis. "Jangan sakiti dia!"
"DUDUK!" Ibu Sarah bentak. "Ini bukan urusanmu lagi!"
Ismi duduk lagi—nangis keras, tangan nutup muka.
Pak Hendra ngedeketin Dyon lagi—lebih deket. Napasnya berat, marah.
"Dengar baik-baik, bocah," katanya—suara rendah, berbahaya. "Putriku itu... anak pengusaha. Keluarga kami punya uang miliaran. Punya koneksi kemana-mana. Ismi... sudah dijodohkan dengan Edward—anak pengusaha tambang partner aku. Keluarga baik-baik. Kaya raya."
Dyon kaget. Edward... dijodohin sama Ismi?
"Jadi kau ngerti sekarang?" Pak Hendra senyum sinis. "Ismi... PASTI akan jadi istri Edward. Cepat atau lambat. Dan kau? Kau siapa? Cuma... cuma pengganggu. Sampah yang nyoba naik kelas."
"Saya... saya bukan sampah," bisik Dyon—suaranya serak. "Saya... saya manusia. Saya punya harga diri—"
Tamparan lagi. Lebih keras.
Dyon jatuh—dengkul nabrak lantai marmer. Kepala pusing. Darah ngalir dari hidung—netes ke lantai putih yang bersih.
"Harga diri?" Pak Hendra ketawa—kasar. "Kau nggak punya harga diri! Kau cuma... cuma parasit yang nyoba nempel di anak orang kaya! Kau pikir aku nggak tau? Kau... kau cuma mau uangnya Ismi kan? Mau hidup enak kan?!"
"BUKAN!" Dyon teriak—meskipun suaranya pecah. "Saya mencintai Ismi! Bukan uangnya! Saya... saya mencintai dia apa adanya!"
"BOHONG!" Pak Hendra nendang—keras, kena rusuk Dyon yang masih belum sembuh total. Dyon jatuh ke samping—teriak kesakitan.
"AYAH! KUMOHON BERHENTI!" Ismi berlari—tapi Ibu Sarah nahan. Pegang lengannya kuat-kuat.
"Biar dia belajar," kata Ibu Sarah dingin. "Belajar mengenal tempat."
Pak Hendra jongkok—pegang rambut Dyon, tarik ke atas. Bikin kepala Dyon ngadep ke atas—sakit, rasanya kayak kulit kepala mau copot.
"Dengar baik-baik," bisik Pak Hendra—napasnya bau kopi sama rokok. "Keluar dari rumahku. Keluar dari hidup Ismi. Dan jangan... JANGAN PERNAH DEKATI DIA LAGI. Kalau aku tau kau masih nyoba-nyoba... aku akan hancurkan hidup kamu yang udah hancur itu. Aku bisa bikin kamu dikeluarin dari sekolah. Aku bisa bikin kamu nggak diterima kerja di mana pun. Aku... aku bisa bikin kamu MATI. Mengerti?"
Dyon menatap mata Pak Hendra—tajam, kejam. Mata yang nggak ada belas kasihan.
"...Mengerti," bisik Dyon—hancur.
Pak Hendra lepas rambutnya—kasar. Dyon jatuh lagi ke lantai.
"Pergi. Sekarang."
Dyon bangkit—pelan. Kakinya goyang. Kepala pusing. Darah masih ngalir dari hidung sama bibir.
Dia jalan ke pintu—pelan, terseret.
"Dyon..." suara Ismi—lembut, hancur.
Dyon nengok—sebentar. Liat Ismi yang nangis, dipegang ibunya.
Mata mereka ketemu.
*Maafkan aku,* mata Ismi kayak bilang gitu.
*Aku mencintaimu,* mata Dyon balas.
Terus dia keluar. Pintu ditutup di belakangnya—keras.
Dyon berdiri di teras rumah mewah itu—sendirian. Pipi kanan merah, bengkak. Hidung berdarah. Bibir pecah. Rusuk nyeri lagi.
Tapi yang paling sakit...
Bukan itu semua.
Yang paling sakit...
Harga dirinya.
Remuk.
Hancur.
Jadi debu.
Dia jalan keluar gerbang—pelan. Langit udah mulai gelap. Lampu jalan mulai nyala satu-satu.
*Tamparan fisik itu sakit.*
Dia pegang pipi yang bengkak—masih panas.
*Tapi tamparan harga diri... jauh lebih menghancurkan.*
---
**BERSAMBUNG**
**HOOK:** *Dan di malam itu, sesuatu di dalam diriku... patah. Bukan tubuhku. Tapi... jiwaku.*