Alina Grace tumbuh sebagai putri keluarga Kalingga. Hidup dalam kemewahan, pendidikan terbaik, dan masa depan yang tampak sempurna.
Namun semua itu runtuh seketika begitu kebenaran terungkap.
Ia bukanlah anak kandung keluarga Kalingga
Tanpa belas kasihan, Alina dikembalikan ke desa asalnya, sebuah tempat yang seharusnya menjadi rumah, tetapi justru menyisakan kehampaan karena kedua orang tua kandungnya telah lama meninggal dunia.
Dari istana menuju ladang, dari kemewahan menuju kesunyian, Alina dipaksa memulai hidup dari nol.
Di tengah keterpurukan, sebuah Sistem Perdagangan Dunia Pararel terbangun dalam dirinya.
Sistem misterius yang menghubungkan berbagai dunia, membuka peluang dagang yang tak pernah dibayangkan manusia biasa.
Dengan kecerdasan, kerja keras, dan tekad yang ditempa penderitaan, Alina perlahan bangkit, mengubah hasil bumi desa menjadi komoditas bernilai luar biasa.
Dari gadis yang dibuang, ia menjelma menjadi pemain kunci dalam perdagangan lintas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Di Rumah Keluarga Raka
Melewati jalanan setapak, Alina berjalan menuju rumah keluarga Raka.
Sebenarnya ada jalan utama yang terang benderang, tapi karena harus jalan memutar, Alina memilih melewati jalanan setapak guna memangkas jalan.
“Nona, ada misi!” ucap Luna tiba-tiba.
“Begitu tiba-tiba. Misi apa?” tanya Alina.
“Misi kali ini berkaitan dengan ladang, tanah kosong, juga sebuah perusahaan peninggalan orangtua Nona.”
“Apa sudah waktunya aku mengurus semuanya?” Dengan kemampuannya saat ini, Alina merasa belum sanggup mengurus semuanya.
“Memang sudah waktunya Nona mengurus semuanya, tapi Nona bisa mewakilkan semua pekerjaan pada asisten pribadi, dan kebetulan asisten pribadi dengan berbagai keterampilan bisa dibeli di Toko Sistem!”
“Itu kabar yang sangat baik, tetapi aku akan menyelesaikannya nanti begitu kembali ke rumah!” ucap Alina.
Luna mengangguk, dan ia kembali duduk di bahu Alina, duduk tenang menikmati perjalanan.
Beberapa saat berjalan, Alina bisa melihat rumah keluarga Raka dari kejauhan, bahkan ia kini melihat Raka datang menghampirinya.
“Padahal aku ingin menjemputmu,” ucap Raka.
Alina tersenyum. “Ini masih dekat dari rumah. Jalan kaki sebentar juga sudah sampai. Jadi Kakak tidak perlu menjemput!” ucapnya.
“Nanti biar aku yang mengantarmu pulang!” ucap Raka.
Alina menganggukkan kepalanya tanda persetujuan, dan setelahnya mereka jalan beriringan menuju rumah paling megah di Desa.
Memasuki rumah, kedatangan Alina disambut langsung oleh Arya Wiratama dan Nadira Kirana Wiratama, orangtua kandung Raka.
Nadira yang melihat sosok Alina, cepat ia menarik gadis itu ke pelukannya sembari berbisik, “kamu sangat mirip dengan Sinta, ibumu!”
Alina mengangguk kecil. Ia sendiri juga merasa banyak kemiripan dengan ibunya, meski ada bagian tubuhnya yang mirip ayahnya.
Pelukan itu berlangsung selama beberapa saat, sebelum akhirnya berakhir, tapi tampak jelas kalau Nadira begitu enggan berjauhan dari Alina.
“Sayang, kamu bisa memanggil Tante, Tante Nadira, lalu dia Om Arya!” ucapnya memperkenalkan diri, sekaligus memperkenalkan suaminya pada Alina.
“Tante dan Om bisa memanggilku Alina,” ucap Alina disertai senyuman kecil yang tampak manis.
Dari perkenalan itu cepat terjalin keakraban seolah mereka sudah lama kenal.
Tetapi saat berlangsungnya acara makan malam, semua orang makan dengan tenang, dan karena sudah terbiasa dengan situasi seperti sekarang ini, Alina tak kesulitan menempatkan diri di tengah-tengah keluarga Raka.
Selesai makan malam, Arya mengajak semua orang berkumpul di ruang tengah, dan ia mulai bercerita tentang hubungannya dengan Arman, ayah Alina.
“Aku dan ayahmu itu berteman sejak kecil, dan kami memang lahir lalu tumbuh besar di Desa ini. Tetapi kami punya usaha di kota, dan usaha itu berkembang pesat berkat kerja keras dan kerjasama kami berdua!” ucap Arya.
Ia melanjutkan cerita tentang perkembangan perusahaan, termasuk perkembangan perusahaan Arman yang saat ini dikelola oleh asistennya.
“Aku yakin kamu sudah mendapatkan buku tabungan milik Arman, dan di situlah seluruh uang perusahaan selama ini mengalir, dimana semua itu adalah milikmu, hanya milikmu!” tekan Arya.
Alina pun menceritakan jika ia memang sudah menemukan beberapa buku tabungan tapi belum semuanya pernah ia cek berapa isi saldo di dalamnya.
Nanti jika ada waktu berlebihan, ia akan memeriksanya saat pergi ke kecamatan.
Usai Arya bercerita. Kini giliran Nadira yang bercerita, dimana ia bercerita tentang hubungan baiknya dengan Sinta, dan dulu mereka adalah Dokter umum terbaik, sayangnya usia temannya itu tak lama.
Hubungan pertemanan mereka juga dimulai sejak kecil, tetapi mereka bukan penduduk asli Desa, melainkan asli penduduk kota yang pada akhirnya menyukai kehidupan di Desa.
Cerita Nadira mengalir begitu lancar, tapi di satu titik Nadira sempat terdiam, naru setelah melihat anggukan kepala Arya, ia lanjut bercerita, “Martha sebenarnya teman kami berdua, dan itu si Hendra, dia dulu pernah menjabat sebagai salah satu asisten Om-mu itu!” tunjuknya ke arah Arya.
“Sejujurnya kami curiga kalau kematian orangtuamu berhubungan dengan mereka berdua, apalagi saat melakukan perjalanan ke Desa ini sebelum terjadinya bencana, dua orang itu bersikeras ikut, padahal hubungan kami dengan mereka berdua saat itu sedang buruk~”
“Ditambah tiba-tiba ayahmu ditemukan hanyut di sungai, padahal sebelumnya dia berada di tempat yang jauh dari sungai, begitu juga dengan Sinta, ibumu yang ditemukan tenggelam bersama beberapa penduduk Desa, dan dari mereka semua tak ada satupun yang selamat!” ucap Nadira menceritakan apa yang selama ini mengganjal di hatinya.
“Pada waktu itu penyelidikan atas kematian mereka tak dilakukan karena situasi kacau di tengah bencana, dan akhirnya mereka dinyatakan mati sebagai korban bencana! Tetapi beberapa tahun lalu kami berdua mengerahkan orang untuk memulai penyelidikan, tapi karena waktu kejadian yang sudah lama berlalu, banyak petunjuk menghilang, tapi setiap ada petunjuk, semua petunjuk selalu mengarah ke mereka, keluarga Kalingga!” ungkap Arya.
“Nona, naikkan Level-ku sampai ke level 6, dan semuanya akan terungkap!” ucap Luna.
“Begitu Poin Sistem cukup, aku akan meningkatkan level-mu!” balas Alina yang bibirnya tidak bergerak semenjak mendengar ucapan Nadira dan Arya.
“Sepertinya banyak rahasia yang selama ini tidak aku ketahui, dan aku mulai curiga kalau sejak awal mereka memang sengaja menukar Elena denganku, supaya Elena bisa mendapatkan semua warisan yang seharusnya menjadi milikku!” ucap Alina setelah cukup lama diam.
“Salah satu penyelidikan kami memang mengarah ke situ. Tetapi pada akhirnya rencana itu gagal karena warisan itu tak jatuh ke tangan anak mereka, melainkan tetap menjadi milikmu!” ungkap Raka, dimana ia terlibat dalam penyelidikan kematian orangtua Alina, dan karena itu juga ia lebih sering hidup di Desa, dibandingkan hidup di Kota.
“Hah, setelah gagal mendapatkan hal besar, kini mereka mengincar hal kecil, yaitu ladang dan juga rumah kayu milikku,” ucap Alina setelah menghela napas panjang.
“Bukan sekedar mengincar ladang dan rumah kayu milikmu, tapi mereka mengincar apa yang ada di bawah rumah kayu itu!” ucap Raka.
“Memangnya apa yang ada di bawah rumah kayu milikku?” tanya Alina penasaran.
Raka menggelengkan kepala. “Tidak ada apa-apa, hanya saja mereka meyakini kalau orangtuamu memendam harta berharga mereka di bawah rumah kayu, oleh karena itu mereka terobsesi mengambil alih rumah juga ladang milikmu,” jawab Raka.
“Sungguh konyol!” ungkap Alina.
“Mereka memang konyol, tapi itu semua terjadi karena mereka tergila-gila dengan harta milik orangtuamu, dan tak menutup kemungkinan mereka akan melakukan sesuatu yang buruk kepadamu!” ucap Arya, mengingatkan Alina kalau keluarga Kalingga menyimpan bahaya besar untuknya.
“Om tenang saja! Mereka tak akan bisa melakukan apapun padaku! Sekali saja mereka mencoba melakukan sesuatu yang membahayakan nyawaku, saat itu juga aku akan membalasnya dengan melakukan sesuatu yang bahkan jauh lebih buruk dari sekedar memberikan kematian ke mereka!” ucap Alina sembari menunjukkan senyuman penuh percaya diri.