"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: DARAH DINGIN DI BALIK KACA
Suara retakan kaca antipeluru itu terdengar seperti suara tulang yang patah di telingaku. Di luar sana, di bawah lampu parkiran yang berkedip, Kak Surya—pria yang dulu menggendongku saat kecil—kini berdiri sebagai sosok yang mengerikan. Cairan perak yang merembes dari luka tembak di dadanya membuktikan satu hal: dia bukan lagi manusia yang kukenal.
"Kak... Surya... hentikan..." isyakku, suaraku tertahan oleh masker oksigen yang mulai terasa sesak.
Tanganku gemetar hebat saat menyentuh kaca yang retak itu. Di balik retakan tersebut, mata Surya yang hitam legam menatapku tanpa secercah emosi pun. Dia tidak melihatku sebagai adiknya; dia menatapku sebagai sebuah wadah. Sebuah kunci.
"Pak Anwar! Jalan sekarang atau kita semua mati di sini!" teriak Aris sambil terus mengokang senjatanya.
Pak Anwar menginjak pedal gas dalam-dalam. Ban mobil berdecit keras, berasap, dan menghantam tubuh Surya yang menghalangi jalan. Aku memejamkan mata saat mendengar dentuman keras logam menghantam daging—atau apa pun itu yang kini menjadi tubuh kakakku. Tubuhnya terlempar, namun dalam hitungan detik melalui spion, aku melihatnya bangkit kembali dengan gerakan patah-patah yang tidak alami.
Mobil melaju kencang menembus jalanan Manado yang diguyur hujan badai. Di kursi belakang, aku meringkuk, mendekap perutku yang kembali terasa kaku. Rasa sakit ini bukan lagi sekadar kontraksi, tapi sebuah peringatan dari dalam rahimku.
"Aris... dia tidak berdarah merah," bisikku setelah melepas masker oksigen. "Apa yang mereka lakukan pada Kakakku?"
Aris menoleh, wajahnya pucat pasi. "Eksperimen di bunker itu bukan sekadar soal emas, Widya. Mereka mencari cara untuk mengintegrasikan logam cair dengan jaringan manusia. Surya adalah prototipe yang gagal... atau mungkin, dia adalah yang paling berhasil."
Pak Anwar menyetir dengan kecepatan gila, melewati jalur tikus menuju pegunungan Minahasa. "Kita harus sampai ke desa sebelum matahari terbit, Nona. Hanya di dalam bunker asli, sistem kendali pusat bisa mematikan fungsi biotik di tubuh Tuan Surya. Jika tidak, dia akan terus melacak denyut jantung bayi Nona sampai ke ujung dunia."
Aku menatap tanganku yang masih membawa chip peninggalan Ayah. "Kenapa bayi ini? Kenapa mereka menginginkan darahnya?"
"Karena bayi itu dikandung saat Nona berada dalam pengaruh zat-zat kimia di rumah Stevanus," Pak Anwar melirik dari spion dengan tatapan penuh duka. "Stevanus tidak tahu, tapi dia hanyalah penyampai materi genetik yang sudah dimodifikasi oleh Lidya Kencana. Bayi di rahim Nona adalah 'Kunci Hidup' yang sebenarnya. Darahnya mengandung penawar sekaligus katalis untuk menyempurnakan keabadian mereka."
Rasa mual yang hebat kembali menghantamku. Jadi, bahkan kehamilanku pun bukan sebuah kecelakaan romantis atau mukjizat biasa. Itu adalah rencana laboratorium. Stevanus, suamiku yang kejam itu, hanyalah alat pembuahan dalam skema yang jauh lebih besar.
Tiba-tiba, mobil terguncang hebat. Sesuatu yang berat mendarat di atap mobil. Suara cakar logam yang merobek atap baja terdengar memekakkan telinga.
"Dia di atas!" teriak Aris.
Moncong pistol Aris diarahkan ke langit-langit mobil. Dia melepaskan tembakan bertubi-tubi hingga lubang-lubang kecil terbentuk. Cairan perak kental mulai menetes jatuh ke wajahku. Dingin. Berbau seperti merkuri.
Wanita misterius yang wajahnya mirip denganku itu muncul di kaca samping yang sudah retak. Dia berlari sejajar dengan mobil yang melaju 120 km/jam. Dia tersenyum, lalu dengan satu hantaman, dia merobek pintu mobil hingga terlepas dari engselnya.
Angin kencang dan hujan masuk ke dalam kabin, mengempaskan segala yang ada. Aris berusaha menahan tubuhku agar tidak terlempar keluar.
"Berikan bayinya, Yati..." suara wanita itu terdengar jernih di tengah deru angin, seolah dia berbicara langsung di dalam kepalaku. "Berikan padaku, dan aku akan mengembalikan kemanusiaan kakakmu.
Wanita itu melompat masuk ke dalam kabin yang terbuka. Tangannya yang dingin mencekik leher Aris, sementara tangan lainnya meraih perutku. Di saat yang sama, ponsel Pak Anwar di dasbor berdering.
Layar menampilkan panggilan video dari nomor yang tidak dikenal. Saat video terhubung, aku melihat Stevanus. Dia tidak mati. Dia duduk di sebuah kursi laboratorium, namun setengah wajahnya kini terbuat dari logam perak yang sama dengan Surya.
"Yati, jangan dengarkan wanita itu!" teriak Stevanus di video dengan suara yang terdistorsi. "Dia bukan ibumu, dia bukan klon! Dia adalah kau dari masa depan yang mereka bawa kembali lewat mesin di bunker! Jika kau menyerahkan bayinya, kau akan melenyapkan keberadaanmu sendiri di garis waktu ini!"
Mobil kehilangan kendali saat Pak Anwar tertembak oleh penembak jitu dari helikopter yang tiba-tiba muncul di atas kami. Mobil kami terbang melewati pembatas jalan, menuju jurang sedalam seratus meter.
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...