Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 HP yang Lupa Dikunci
Sehari setelah kejadian di gudang arsip, Arif sengaja tinggalkan ponselnya di meja ruang administrasi waktu ke toilet.
Bukan di sengaja, Tapi karena buru-buru. Ada panggilan dari Pak Hendra soal truk CPO yang mogok di jembatan timbang.
Ponsel Arif yang layarnya retak itu tergeletak di atas tumpukan laporan, dengan kondisi tidak terkunci. Pola kuncinya masih terbuka.
Karin yang sejak pagi mondar-mandir di depan ruang administrasi dengan alasan cek kesehatan karyawan, lihat ponsel itu.
Ini kesempatan.
Sudah dua hari Karin merasa Arif agak aneh. Pulang malam terus, waktu makan di kantin selalu nolak duduk sebelah Karin, dan semalam Karin lihat sendiri dari luar jendela - Arif dan Nadia salaman lama di ruangan sepi.
Firasat perempuan itu tajam.
Karin masuk pelan-pelan ke ruang administrasi, padahal Bu Lastri lagi ke toilet, Nadia lagi di ruang timbangan bantu Pak Mbak sari.
Ruang admin Sepi.
Karin mengambil ponsel Arif. Tangannya agak gemetar.
Ia buka WhatsApp.
Di daftar chat paling atas, bukan nama Karin. Bukan Mama Arif. Tapi ada nama kontak: Nadia Admin PKS.
Karin klik.
Isinya bukan chat mesra. Isinya chat kerjaan biasa.
Nadia: Pak Arif, laporan timbangan hari ini sudah saya input ya Pak.
Arif: Oke, Nadia. Terima kasih.
Chat terakhir semalam, jam 20.14.
Karin scroll ke atas, tidak ada chat yang aneh. Semua soal laporan, soal timbangan, soal solar.
Tapi bagi Karin yang lagi cemburu, chat biasa itu sudah terlihat mencurigakan. Kenapa Arif harus simpan nomor admin dengan nama lengkap? Kenapa Arif harus balas cepat jam delapan malam soal pintu macet?
Karin lanjut buka galeri foto.
Di galeri, Karin tidak temukan foto Nadia. Arif sudah hapus semua foto-foto yang sempat ada.
Tapi Karin temukan sesuatu yang lain di folder Recently Deleted.
Ada foto yang baru dihapus kemarin sore. Foto itu masih ada di file sampah galeri, belum terhapus permanen.
Foto itu adalah foto Nadia dan Arif jalan berduaan di hujan, pakai satu jas hujan plastik, dengan jaket Arif di bahu Nadia. Foto yang diambil satpam dua hari lalu di depan ruang genset.
Foto itu dihapus Arif kemarin, tapi masih ada di file sampah.
Karin langsung screenshot foto itu pakai ponselnya sendiri, kirim ke nomor pribadinya.
Tangan Karin gemetar hebat. Napasnya ngos-ngosan.
"Jadi benar... jadi benar firasat aku..." bisik Karin pelan, matanya mulai berair, tapi bukan air mata sedih, air mata marah.
Pada saat itu, suara langkah kaki terdengar dari luar.
Arif balik dari toilet.
Karin panik dengan cepat dia menarok lagi ponsel Arif di meja, posisinya persis seperti semula, dan pura-pura lagi cek tensi Mbak Sari yang mejanya di sebelah.
Arif masuk, lihat Karin ada di ruangannya.
"Karin? Kamu ngapain di sini?" tanya Arif kaget.
Karin pasang senyum dokter yang paling manis, padahal hatinya mau meledak.
"Oh, Sayang, aku cari kamu. Tadi Pak Hendra bilang kamu di sini. Aku mau ajak kamu makan siang bareng di kantin. Aku sudah pesankan ayam goreng kesukaan kamu," kata Karin manja.
Arif lihat ponselnya di meja, masih terbuka. Ia langsung ambil dan kunci. Ia curiga, tapi tidak berani nuduh.
"Oh, oke. Ayo," jawab Arif.
Mereka berdua jalan ke kantin. Di sepanjang jalan, Karin gandeng tangan Arif erat, lebih erat dari biasanya, seperti takut Arif akan lepas.
Di kantin, Karin duduk mepet sekali dengan Arif, suap-suapan ayam goreng di depan semua karyawan. Semua karyawan lihat, termasuk Nadia yang baru masuk kantin bawa piring.
Nadia lihat adegan suap-suapan itu, langsung menunduk, pindah duduk di meja paling pojok, dekat tempat cuci piring.
Arif lihat Nadia pindah meja, hatinya sakit, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena tangan Karin masih memegang tangannya di bawah meja.
Sore jam empat, di mess tamu ber-AC.
Karin kunci pintu, buka HP-nya, lihat lagi foto screenshot yang ia ambil dari tong sampah galeri Arif tadi.
Foto Nadia dan Arif pakai satu jas hujan.
Karin zoom foto itu. Di foto itu, wajah Arif terlihat khawatir lihat Nadia kedinginan. Wajah Nadia terlihat nyaman bersandar sedikit ke Arif.
Foto yang bagi orang lain terlihat biasa, bagi Karin yang cemburu, terlihat seperti foto pasangan.
Karin langsung buka kontak: Mama Nadia.
Kemarin, waktu cek kesehatan, Karin diam-diam minta nomor Mama Nadia ke Bu Lastri dengan alasan "untuk data kesehatan keluarga karyawan".
Karin ketik pesan panjang ke Mama Nadia.
Karin: Assalamualaikum, Tante. Saya Karin, tunangan Arif, dokter di PKS Dharmasraya. Maaf Tante, saya harus kasih tahu, Nadia di sini dekat sekali sama tunangan saya, Arif. Sampai jalan berduaan pas hari hujan pakai satu jas hujan. Saya takut nama baik keluarga Tante rusak. Saya cuma peduli sama Nadia sebagai adik. Ini fotonya Tante.
Kirim. Foto jas hujan itu terkirim ke Mama Nadia di Padang panjang.
Setelah kirim ke Mama Nadia, Karin kirim lagi foto itu ke satu nomor lain: Grup Keluarga Rizki yang nomornya ia dapat dari satpam.
Pesan yang sama.
Dalam lima menit, Karin sudah sebar foto itu ke dua keluarga yang paling penting: keluarga Nadia dan keluarga Rizki.
Karin senyum puas, lalu hapus semua chat yang ia kirim, biar tidak ada jejak di HP-nya.
"Rasakan, Nadia. Kamu mau rebut Arif dari aku? Aku hancurkan dulu pertunangan kamu sama guru itu. Biar kamu rasakan sakitnya tunangan direbut," bisik Karin sambil lihat kaca, betulkan rambutnya.
Di ruang administrasi, Nadia bersin tiga kali.
Di Padang Panjang HP Mama Nadia bergetar. Ada WA masuk..berupa foto yang dikirim oleh nomor tidak di kenal.
Mama Nadia buka foto itu, lihat anaknya jalan berduaan dengan laki-laki lain pas hari hujan, pakai satu jas hujan.
Muka Mama Nadia langsung pucat.
Dan di Dharmasraya, hujan turun lagi jam lima sore, hujannya begitu deras.
Arif di ruangannya lihat hujan turun, dia ingat janji untuk melupakan ciuman di gudang arsip.
Tapi ia tidak tahu, gara-gara ponselnya yang lupa dikunci siang tadi, janji itu sudah bocor kemana-mana. Dan besok pagi, foto itu akan jadi awal dari kebocoran besar yang akan bikin Rizki batalkan lamaran dan Mama Nadia jatuh sakit karena malu.
Semua bermula dari ponsel yang lupa dikunci.
Bersambung
---