NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Taruhan Pagi Hari

Matahari baru saja menampakkan sinarnya yang tipis di ufuk timur, tapi Eca sudah berdiri di depan gerbang SMA Taruna Bangsa dengan napas yang memburu. Matanya yang tersembunyi di balik kacamata bulat tebal itu terlihat agak sembap dan memiliki lingkaran hitam samar. Wajar saja, dia baru bisa memejamkan mata sekitar pukul tiga pagi demi menyelesaikan misi kerja rodi dari sang penguasa sekolah. Dengan langkah yang agak gontai namun dipaksakan cepat, Eca berjalan memeluk tas ranselnya, di mana di dalamnya terdapat buku tulis hitam milik Angkasa yang sudah terisi penuh dengan ringkasan tiga bab Geografi.

Suasana sekolah masih sepi. Baru ada beberapa murid yang datang, itu pun kebanyakan anak-anak kutu buku yang sengaja datang pagi-pagi untuk menyalin tugas matematika. Eca melirik jam di ponselnya. Pukul 06.45 WIB. Masih ada sisa waktu lima belas menit sebelum batas akhir yang ditentukan oleh Angkasa.

Gue nggak telat. Kartu pelajar gue harus aman hari ini, batin Eca dengan penuh tekad.

Eca menuruni anak tangga dengan cepat menuju lorong lantai satu, tempat ruang OSIS berada. Koridor di area itu masih remang-remang karena lampu lorong belum sepenuhnya dimatikan oleh penjaga sekolah. Suara langkah sepatu Eca bergema pelan di dinding-dinding koridor. Begitu sampai di depan pintu kayu jati yang familiar itu, Eca menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang mendadak berdegup kencang, lalu mendorong pintu itu perlahan.

Klik.

Pintu terbuka. Kondisi di dalam ruang OSIS ternyata sama persis dengan suasana malam di dalam chat WhatsApp kemarin: dingin dan mencekam. Namun, yang membuat Eca terkejut adalah Angkasa ternyata sudah berada di sana. Cowok itu sedang duduk di kursi kebesarannya di balik meja kerja ketua OSIS. Seragamnya hari ini terlihat sangat rapi, kancingnya terpasang sempurna lengkap dengan dasi yang terikat kencang. Dia sedang memegang sebuah cangkir keramik putih, menyesap cairan hitam di dalamnya yang mengeluarkan aroma kopi yang sangat kuat.

Mendengar suara pintu terbuka, Angkasa tidak langsung mendongak. Dia meletakkan cangkirnya dengan gerakan lambat di atas meja, lalu melirik jam dinding sebelum akhirnya mengarahkan sepasang mata elangnya tepat ke arah Eca.

"Nggak telat. Bagus. Ternyata lo punya mental babu yang cukup penurut," ucap Angkasa dingin dengan nada meremehkan yang langsung membuat darah Eca berdesir panas.

Eca menahan diri untuk tidak melempar tasnya ke wajah cowok itu. Dia berjalan mendekati meja kerja Angkasa, membuka resleting tasnya, dan mengeluarkan buku tulis tebal bersampul hitam dengan gerakan sedikit dihentakkan di atas meja kaca.

"Ini. Tiga bab penuh, ditulis tangan secara manual, tanpa coretan tip-ex sedikit pun sesuai pesanan Kakak," ucap Eca dengan penekanan ketus pada kata 'Kakak'. Dia sengaja menggunakan panggilan formal itu untuk menyindir status senioritas Angkasa yang semena-mena.

Angkasa menatap buku itu sejenak, lalu mengambilnya. Dia membuka halaman demi halaman dengan sangat teliti. Eca memperhatikan gerakan tangan Angkasa dengan cemas. Dia tahu betul bahwa cowok ini adalah seorang perfeksionis yang gila kontrol, jadi jika ada satu kata saja yang salah, Angkasa pasti akan menjadikannya alasan untuk menghukum Eca kembali.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam bagi Eca, Angkasa akhirnya menutup buku itu dengan suara plak yang pelan. "Tulisan lo lumayan rapi untuk ukuran cewek cupu yang kurang tidur. Gue hargai usaha lembur lo semalam."

Eca langsung menengadahkan tangannya di depan wajah Angkasa. "Kalau gitu, sesuai perjanjian... balikin kartu pelajar lama aku sekarang."

Angkasa menatap tangan mungil Eca, lalu sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang membuat firasat Eca mendadak memburuk. Angkasa bersandar ke kursi kulitnya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan gaya yang sangat angkuh.

"Balikin? Siapa bilang gue bakal balikin kartu itu hari ini?" sahut Angkasa santai.

Mata Eca langsung membelalak lebar di balik kacamatanya. Amarah yang sejak semalam ditahannya kini meledak seketika. Dia maju satu langkah, menumpukan kedua tangannya di atas meja kerja Angkasa hingga wajah mereka kini berjarak dekat. "Maksud lo apa, hah?! Kemarin lo bilang kalau gue selesai ngerjain ringkasan ini tepat waktu, rahasia gue bakal aman!"

"Rahasia lo emang aman. Gue nggak bakal sebarin foto asli lo ke mading hari ini," potong Angkasa dengan suara yang rendah dan tenang, namun sangat mendominasi. Dia memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Eca yang sedang menyala karena amarah. "Tapi perjanjian kita kan berlaku buat tiga bulan ke depan, Alesya. Kartu ini bakal tetap ada di dompet gue sebagai jaminan biar lo nggak berani macam-macam atau mencoba kabur dari sekolah ini."

"Lo... bener-bener licik dan egois, ya!" desis Eca dengan gigi yang merapat. Air matanya hampir saja keluar karena saking kesal dan lelahnya dikerjai seperti ini.

Angkasa tidak terpengaruh oleh makian Eca. Dia justru mengambil kembali cangkir kopinya dengan santai. "Di dunia ini, aturan dibuat oleh orang yang punya kuasa. Dan kebetulan, di sekolah ini, gue yang megang kuasa itu. Jadi, lo cuma punya dua pilihan: patuh sama gue selama tiga bulan, atau besok pagi seluruh murid di SMA Taruna Bangsa bakal tahu siapa identitas asli di balik cewek cupu berkuncir dua ini."

Eca mengepalkan kedua tangannya di atas meja sampai buku-buku jarinya memutih. Dia benar-benar merasa kalah telak. Di bawah kendali Angkasa, hidup damainya di sekolah baru ini resmi musnah tanpa sisa.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan keras di pintu ruang OSIS mendadak memutus ketegangan ekstrem di antara mereka berdua. Pintu bergeser terbuka, dan seorang cowok jangkung dengan almamater OSIS yang berbeda warna melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Di dadanya tertera papan nama logam bertuliskan: Reno Aliansyah. Dia adalah Wakil Ketua OSIS sekaligus rival terberat Angkasa dalam segala hal di sekolah.

"Angkasa, berkas rapat yayasan buat siang ini udah lo—" Kalimat Reno langsung terhenti saat matanya menangkap posisi Eca yang sedang mencondongkan tubuh di atas meja Angkasa dengan wajah yang memerah padam.

Reno mengernyitkan dahi, menatap Eca dari ujung rambut ke ujung kaki, lalu beralih menatap Angkasa dengan pandangan penuh selidik yang tajam. "Oh... sori kalau gue ganggu urusan pribadi lo pagi-pagi begini, Ketua. Tapi setahu gue, ruang OSIS bukan tempat buat intimidasi murid baru, apalagi yang penampilannya kayak dia."

Eca buru-buru menegakkan tubuhnya kembali dan mundur dua langkah dengan canggung. Dia melirik Reno, melihat secercah harapan bahwa ada orang lain di OSIS yang tidak tunduk pada kekuasaan Angkasa.

Angkasa mengubah ekspresi wajahnya kembali menjadi sedingin es dalam sekejap. Dia menatap Reno dengan pandangan yang tidak kalah tajam. "Bukan urusan lo, Reno. Dia cuma asisten pribadi gue yang lagi nganterin tugas." Angkasa lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Eca dengan tatapan mengusir yang dingin. "Lo boleh keluar sekarang, Alesya. Dan jangan lupa, pas istirahat nanti... lo tahu apa tugas lo selanjutnya."

Eca tidak menjawab. Dia langsung menyambar tas ranselnya dari atas lantai, membalikkan tubuhnya, dan berjalan cepat keluar dari ruang OSIS melewati Reno yang masih menatapnya dengan pandangan penuh teka-teki yang sulit diartikan. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Eca bersandar di dinding koridor sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Kehadiran Reno di dalam ruangan tadi seolah-olah membuka babak baru yang lebih rumit. Apakah Reno bisa menjadi sekutu Eca untuk merebut kembali kartu pelajarnya dari tangan Angkasa, ataukah kehadiran cowok itu justru akan membuat rahasia penyamarannya semakin terancam bahaya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!