Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8. Dua Garis Merah
Satu alis Stella terangkat ketika melihat Dea pergi tanpa menanggapi ucapannya.
“Dia benar-benar mencurigakan,” gumamnya.
Stella mengeluarkan ponsel dari saku jas koasnya. Tatapannya mengikuti sosok Dea yang semakin menjauh sebelum akhirnya menghilang di balik pintu keluar.
“Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Dea?” bisiknya dengan mata menyipit.
.
.
Sementara itu, Dea mengendarai motornya dengan satu tangan sesekali menekan perut. Rasa mual yang sejak pagi mengganggunya belum juga reda. Bahkan, aroma asap kendaraan di jalan membuatnya harus beberapa kali menelan ludah untuk menahan keinginan muntah.
Lampu merah memaksanya berhenti.
Dea memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas. Pikirannya kembali tertuju pada kalender menstruasi yang ia periksa pagi tadi.
"Sudah telat," gumamnya.
Dea menggeleng mencoba menolaknya. Jadwal koas yang padat, kurang tidur, dan tekanan yang dialaminya beberapa bulan terakhir terasa seperti alasan yang cukup masuk akal.
Namun, semakin ia menyangkalnya, semakin sulit pula ia mengusir kemungkinan yang mulai muncul di kepalanya.
Begitu lampu berubah hijau, Dea membelokkan kendaraannya ke arah sebuah apotek yang cukup jauh dari lokasi rumah sakit tempat ia praktik.
Setelah memarkir motornya, Dea menarik napas panjang, dan akhirnya melangkah masuk.
“Selamat sore. Ada yang bisa dibantu?” tanya seorang pegawai apotek.
Dea menelan ludah. “Alat tes kehamilan,” jawabnya pelan.
Pegawai itu mengambil sebuah kotak dari rak, lalu menyerahkannya. Dea segera membayar tanpa banyak bicara.
Sepanjang perjalanan pulang, ia tak henti menyangkal kemungkinan itu.
"Belum tentu, bisa jadi karena kecapean, masuk angin, gerd kumat ... Apa pun itu yang penting bukan ...."
Tiba-tiba bayangan pria berada di atasnya membuat wajahnya memutih dengan seketika. Rasa mual yang hebat kembali melanda. Dea menepi dan menggelengkan kepala.
"Jangan! Tak boleh!" bisiknya getir memegangi perutnya.
.
.
Saat telah sampai di kamar kos-nya, Dea memegang benda yang tadi baru saja dibeli. Ia memejamkan mata.
“Tenang, Dea. Tenang,” bisiknya masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Dea menunggu hasil dengan menggigit kepalan tangannya sendiri.
Dua garis merah muncul pada jendela kecil alat tes itu.
Raut wajah Dea sedikit menegang. Matanya terpaku pada dua garis tersebut seolah-olah ia sedang membaca hasil pemeriksaan yang mungkin saja mengami kesalahan.
Perlahan, ia mengambil alat tes itu dan memeriksa kemasannya sekali lagi. Ia membaca petunjuknya dari awal, memastikan arti tanda yang muncul.
Hasilnya tidak berubah.
Dua garis merah. Tangannya mulai bergetar. Dea mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh dinding. Ia berusaha membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
“Ti-tidak mungkin....”
Kata-kata berikutnya tersangkut di tenggorokan.
Ia menurunkan tangannya, lalu perlahan duduk di bangku plastik yang ada di kamar mandi. Kedua lututnya ditekuk ke dada, sementara telapak tangannya menutupi mulut.
Di dalam rahim telah tumbuh benih. Benih dari laki-laki yang menghancurkan dirinya. Laki-laki yang memaksa untuk menikah, setelah ia sentuh dengan sangat kejam, mengucapkan talak dengan begitu saja.
Elden.
Nama itu saja sudah cukup membuat perutnya kembali bergejolak.
Dea buru-buru bangkit dan membuang alat tes ke tong sampah. Ia mencuci tangan berkali-kali, meski tidak ada apa pun yang perlu dibersihkan.
Setelah itu, ia kembali duduk di bangku plastik tadi.
Trauma berat yang dialami oleh penyiksaan pria itu, membuatnya lupa harus berbuat apa. Padahal, hingga hari ini ia masih berjuang menyembuhkan dirinya sendiri.
Perlahan, tangan Dea memegangi perutnya. Air matanya kembali jatuh. "Ke-kenapa, Tuhan? Kapan semua siksaan ini berhenti?"
Bagaimana jika anak itu kelak memiliki mata, suara, atau senyum yang mengingatkannya kepada Elden?
Dan bagaimana jika suatu hari anak itu bertanya tentang ayahnya?
Dea menekan kedua telapak tangan ke perutnya yang masih rata.
Tidak ada perubahan yang bisa dilihat dari luar. Tidak ada tanda-tanda yang bisa ia rasakan. Hanya dua garis merah itu saja yang mengubah arti dirinya yang harus menjadi seorang ibu tanpa suami.
“Aku harus bagaimana?” bisiknya. Air mata jatuh bertubi-tubi.
Dea tidak tahu berapa lama ia duduk di bangku plastik kamar mandi itu. Ketika ia bangkit, kedua kakinya terasa lemas.
Ia berjalan menuju ranjang, lalu duduk di tepinya. Tatapannya jatuh pada tas yang tergeletak di dekat meja.
Di dalamnya ada jadwal koas, buku catatan, dan beberapa dokumen yang selama ini menjadi bagian dari perjuangannya untuk menyelesaikan pendidikan.
Dea meraih salah satu buku, membukanya, lalu menatap halaman yang penuh tulisan.
Huruf-huruf itu tampak kabur oleh air mata.
Selama ini, ia berjuang mati-matian agar bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Ia tidak ingin lagi meminta apa pun dari keluarga angkatnya. Ia tidak ingin hidupnya ditentukan oleh orang-orang yang pernah membuatnya merasa tidak berharga.
Namun, kini ia menghadapi kenyataan baru yang sama sekali tidak pernah masuk dalam rencana.
Ia belum menyelesaikan pendidikan. Ia belum memiliki penghasilan tetap.
Dan luka yang ditinggalkan pria itu, belum benar-benar sembuh.
'Kenapa harus ada lagi?'
Ponselnya bergetar di atas meja. Dea tersentak. Nama Adityo muncul di layar.
Adityo:
[ Kamu sudah pulang? Tadi kamu terlihat pucat. Jangan lupa makan. ]
Dea membaca pesan itu berulang kali. Jarinya bergerak hendak membalas, tetapi berhenti sebelum menyentuh papan ketik.
'Haruskah aku memberi tahunya?'
Laki-laki itu telah membantunya melewati hari-hari terburuk. Yang selalu menemani Dea mencari pertolongan, memberinya ruang ketika ia membutuhkan waktu sendiri, dan tidak pernah memaksanya menceritakan hal-hal yang belum sanggup ia ungkapkan.
Namun, untuk mengatakannya dengan lantang akan membuat kenyataan ini terasa semakin nyata.
Dea mematikan layar ponselnya.
'Belum sekarang.'
Ia sendiri, masih membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan yang harusnya manis bagi pasangan, tapi terasa pahit olehnya.
Akan tetapi, jauh di dalam hati, ia tahu dirinya tidak bisa terus menghindar. Ia perlu memastikan kondisi kehamilannya melalui pemeriksaan medis, dan menentukan langkah selanjutnya.
Dea menarik napas panjang, lalu mengusap sisa air mata di pipinya.
.
.
Di tempat lain, seorang pria dengan tatapan dingin memantau pekerja di kebun. Entah kenapa, perutnya terasa bergejolak.
"Huek ..."
*bersambung*
Aku ketiduran euy, saat lagi nulis up buat tengah malam ... wkwkwk ...
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella