Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
Damian keluar dari kamar mandi yang luas itu sambil menggosok-gosokkan handuk kecil pada rambutnya yang masih basah.
Seperti rutinitas malamnya yang biasa, sebelum naik ke atas ranjang, ia akan duduk di sofa kamarnya untuk membaca beberapa laporan bulanan perusahaan yang belum sempat ia sentuh sepanjang hari ini.
Namun, sebelum duduk, tatapan mata elangnya menyapu seluruh penjuru kamar.
“Kenapa dia belum kembali?” gumamnya.
Damian melirik jam dinding. Sudah hampir empat puluh menit sejak insiden memalukan di dapur tadi, di mana ia tertangkap basah mencicipi nasi goreng buatan wanita itu.
“Lama sekali. Memangnya dia mencuci piring dengan lidah?” gerutu Damian pelan.
Biasanya, meskipun mereka sering berdebat, Zoey pasti sudah kembali ke kamar, setidaknya untuk sekadar mengucapkan selamat malam dengan nada menyebalkannya sebelum meringkuk di balik selimut.
Merasa tidak bisa berkonsentrasi pada deretan angka di laporannya, Damian meletakkan map itu secara kasar ke atas meja.
Ia mengikat tali jubah mandinya dan berjalan keluar kamar.
“Lukas,” panggil Damian.
Pria paruh baya itu segera berhenti dan menundukkan kepala dengan hormat.
“Ya, Tuan Besar.”
“Di mana Nyonya? Kenapa dia belum kembali ke kamar?”
Lukas tersenyum tipis. “Nyonya Zoey saat ini sedang berada di kamar tuan Victor dan nona Victoria.”
“Mereka sedang apa malam-malam begini? Bertengkar?” tanyanya penasaran.
“Tidak, Tuan,” jawab Lukas. “Nyonya sedang mengantarkan nasi goreng buatannya untuk tuan muda dan nona muda.”
Kerutan di dahi Damian semakin dalam. “Nasi goreng?”
“Iya, Tuan. Nyonya bersikeras ingin memasaknya sendiri.”
“Jangan bilang dua anak keras kepala itu membuangnya ke tempat sampah?” selidik Damian.
Ia sangat tahu tabiat kedua anak kembarnya yang gengsinya setinggi langit, persis seperti dirinya.
Lukas kembali tersenyum. “Sama sekali tidak, Tuan. Sepertinya tuan Victor dan nona Victoria malah sangat menyukainya. Saya mendengar denting sendok yang sangat bersemangat dari balik pintu.”
Damian hanya mengangguk singkat, sok tidak peduli.
Tetapi, pikirannya mulai dipenuhi berbagai skenario.
“Aku tak yakin mereka akan memakannya dengan sukarela tanpa paksaan,” gumam Damian sinis.
Seketika, bayangannya kembali pada kejadian di dapur beberapa saat sebelumnya.
Momen di mana ia diam-diam mencicipi sebutir demi sebutir nasi goreng buatan Zoey dari wajan.
Rasanya jauh dari kata asin. Justru sangat gurih, lezat dan bumbunya pas. Sialan, kapan wanita manja itu belajar memasak?
Tanpa sadar dan seolah dikendalikan oleh perutnya, Damian melangkahkan kaki menuju dapur.
Setibanya di sana, ruangan itu sudah bersih. Benar-benar tidak ada sisa makanan sedikit pun. Nasi goreng yang tadi ia cicipi pun sudah tandas.
Damian menghela napas pelan. “Berarti dia benar-benar hanya memasak dua porsi. Untuk Victor dan Victoria.”
Damian kembali mengamati dapur dengan tatapan kesal.
“Aku ini suaminya dan aku lapar. Istri dadakanku malah sibuk mengurus perut dua anak keras kepala itu dan membiarkan suaminya kelaparan.”
“Tuan?”
Suara Lukas tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Kepala pelayan itu rupanya mengikuti Damian.
“Apakah Tuan mencari sesuatu?”
Damian terkesiap. Ia segera memasang wajah datar dan angkuhnya kembali.
“Masih ada makanan?”
Lukas tampak berpikir sejenak, melirik ke arah kulkas besar sebelum menggeleng menyesal.
“Maaf, Tuan. Makanan sisa makan malam sudah dibuang sesuai prosedur. Dan nasi goreng buatan nyonya tadi juga sudah habis.”
“Habis?” Damian pura-pura bertanya dengan nada tak acuh.
“Iya, Tuan.”
“Lain kali, suruh koki yang memasak. Jangan biarkan istriku mengotori dapur dengan eksperimen konyolnya.”
“Baik, Tuan,” sahut Lukas, meski ia tahu persis Tuan besarnya sedang berbohong. “Apa anda lapar, Tuan? Saya bisa membuatkan roti lapis atau memasakkan sesuatu yang ringan.”
“Tidak. Aku tidak lapar,” tolak Damian.
Bohongnya sungguh luar biasa. Padahal, tepat dua detik setelah kata tidak terucap, perutnya berbunyi.
Lukas spontan menundukkan kepalanya dalam-dalam, menggigit bibir bagian dalamnya kuat-kuat agar tidak menyemburkan tawa.
Sementara Damian? Pria itu mematung, pura-pura tidak mendengar suara pengkhianatan dari organ tubuhnya sendiri.
“Aku hanya ingin memastikan dapur sudah rapi dan tidak ada bahaya kebakaran,” alibi Damian.
Tanpa menunggu balasan Lukas, Damian segera berbalik dan meninggalkan dapur, berusaha mempertahankan wibawanya yang nyaris runtuh karena bunyi perutnya sendiri.
“Gengsi anda terlalu tinggi untuk mengakui bahwa anda lapar. Semoga saja nyonya Zoey bisa meluluhkan dinginnya hati anda itu,” gumam Lukas.
*****
Zoey masuk kamar sambil membawa segelas air mineral hangat di tangannya. Wajah wanita itu tampak sangat cerah dan puas.
Damian, yang sedang duduk di sofa sambil berpura-pura sangat fokus membaca laporan, hanya melirik sekilas dari balik bulu matanya.
“Kau dari mana saja? Lama sekali,” tegur Damian dingin.
“Mengantar nasi goreng,” jawab Zoey santai, sama sekali tak terpengaruh oleh nada ketus suaminya.
Zoey meletakkan gelasnya di atas nakas, lalu duduk di depan meja rias. Ia mulai menyisir dan merapikan rambut panjangnya di depan cermin.
Damian beberapa kali mencoba kembali fokus pada deretan huruf di dokumennya. Namun, pikirannya terus saja tertuju pada Zoey.
“Kenapa kau repot-repot membuatkan makan malam? Memanjakan Victor dan Victoria hanya akan membuat mereka semakin kurang ajar.”
Zoey melirik Damian dari pantulan cermin. “Karena mereka lapar,” jawabnya ketus, tak mau kalah.
“Apa mereka menghabiskannya?” pancing Damian, masih mencoba mencari celah.
Zoey terkekeh pelan. “Ya, habis tak tersisa. Mereka tidak mau mengakuinya secara langsung karena gengsi mereka sama tingginya dengan menara Eiffel. Tapi piring kosong tidak bisa berbohong kalau nasi goreng buatan ibu sambungnya ini sangat enak.”
“Kalau memang sangat enak, kenapa kau tidak membuatkanku juga? Kau sengaja mengabaikan suamimu?”
Mendengar itu, Zoey meletakkan sisirnya. Ia berputar menghadap Damian, mengerjapkan matanya beberapa kali dengan raut wajah polos yang dibuat-buat.
“Mengabaikan? Tadi di dapur bukankah ada pria angkuh yang membuang sendok dan bilang kalau masakanku terlalu asin sampai membuat dia tersedak? Kenapa sekarang kau menanyakan bagianmu?” serang Zoey telak, tepat sasaran.
Wajah Damian langsung menegang kaku. Rahangnya mengeras. Ia baru sadar telah menggali lubang dan menjebak dirinya sendiri.
“Itu... itu karena—”
“Ah, sudahlah,” potong Zoey cepat sambil mengibas-ngibaskan tangannya, tak membiarkan Damian mencari alasan. “Kalau memang kau sangat penasaran, besok pagi aku buatkan.”
“Tidak usah. Aku tidak memintanya.”
Zoey mengangkat bahu santai, sama sekali tak peduli. “Ya sudah kalau tidak mau. Bebanku sedikit berkurang.”
Tanpa membahasnya lebih lanjut, Zoey bangkit dari kursi rias, naik ke atas ranjang berukuran dan menarik selimut tebal hingga sebatas dada.
“Selamat malam, Suamiku yang katanya tidak lapar,” ucap Zoey dengan nada mengejek, lalu membelakangi Damian.
Di atas sofa, Damian memicingkan mata menatap punggung Zoey. Wanita itu sepertinya sudah mulai terlelap dengan tenang.
“Sialan! Harusnya dia memaksaku! Harusnya dia merayuku dan langsung turun membuatkannya tanpa banyak bertanya,” rutuk Damian dalam hati.
Entah kenapa, perutnya yang keroncongan malam ini membuat ia merasa sangat kesal karena Zoey lebih memprioritaskan mengurus Victor dan Victoria daripada dirinya.
Sabar ya Zoey menghadapi suami dan anak laki2 nya😄
Anak & ibu sambung kompak sekali pagi ini.
Ayo Zoey buat Victoria menyerah juga dgn kamu😁
apa rasa berantem Ama duplikat nya sendiri?🫣🤣🤣
cemburu sama ank sendiri 🫣