NovelToon NovelToon
DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / CEO
Popularitas:850
Nilai: 5
Nama Author: BayouDarda Novelis

“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Reno Mengantar Pulang

Jam dinding menunjukkan pukul dua lewat tujuh belas menit ketika aku mendengar pintu pagar dibuka.

Aku baru saja menyelesaikan satu halaman dokumen dari Pak Surya. Laptop masih menyala di atas meja, sementara secangkir kopi di sebelahnya sudah dingin. Sejak sore, pikiranku terbagi antara urusan perusahaan dan percakapan yang tak pernah benar-benar selesai dengan Laras.

Kursi yang kududuki terasa lebih keras daripada biasanya. Barangkali karena aku sudah terlalu lama tidak beranjak, atau karena pikiranku terus kembali pada berkas di layar yang belum selesai kubaca. Angka-angka di halaman itu seharusnya mudah kuikuti, tetapi beberapa baris harus kubaca ulang. Di luar, suara kendaraan terakhir di jalan perlahan menghilang. Rumah yang biasanya terasa akrab justru menyimpan kecanggungan yang sulit kuabaikan.

Ketika Laras masuk, aku sempat memperhatikan caranya menutup pintu dengan hati-hati. Ia tidak terlihat panik atau terburu-buru, hanya lelah dan ingin segera melewati malam. Ada jarak di antara kami yang tidak tampak, tetapi terasa dalam hal-hal kecil: tas yang diletakkan jauh dari kursiku, jawaban singkatnya, dan caranya memeriksa ponsel sebelum benar-benar melihatku. Aku tidak tahu apakah ia sengaja menjaga jarak atau sekadar tidak punya tenaga untuk berbasa-basi. Yang jelas, aku tidak ingin menyambut kepulangannya dengan tuduhan hanya karena seorang pria mengantarnya. Aku mengusap wajah, lalu kembali menatap layar sendiri.

Suara langkah terdengar dari teras.

Aku mengangkat kepala.

Pintu depan terbuka. Laras masuk sambil memeriksa ponselnya. Ia baru menyadari keberadaanku setelah meletakkan tas di dekat pintu.

“Belum tidur?”

“Belum. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

Ia mengembuskan napas, lalu merapikan rambutnya.

“Acara kantor selesai terlambat. Banyak yang harus disiapkan untuk besok.”

Aku mengangguk. “Reno yang mengantar?”

“Iya. Kami baru selesai membahas pekerjaan. Kebetulan dia searah.”

Aku tidak melanjutkan pertanyaan. Laras justru menatapku dengan wajah waspada.

“Kamu mau mempermasalahkan itu?”

“Aku hanya ingin tahu.”

“Dia membantuku pulang karena sudah malam. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan.”

Aku menatapnya beberapa saat. Setelah itu, aku kembali melihat laptop.

“Baik.”

Jawabanku membuat Laras terdiam. Mungkin ia sudah menyiapkan pembelaan untuk pertanyaan yang lebih panjang, tetapi aku tidak ingin malam ini berubah menjadi pertengkaran lagi.

Ia mengambil tasnya dan duduk di ujung sofa.

“Kalau memang ada yang mau kamu tanyakan, katakan saja.”

Aku menutup laptop.

“Aku ingin kita bicara.”

“Sekarang?”

“Sebentar saja.”

“Aku capek, Arkan. Besok harus berangkat pagi.”

“Kalau begitu, duduk dulu. Tidak perlu lama.”

Laras menyandarkan punggungnya, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak ingin berada di sana lebih lama daripada yang diperlukan.

Aku mengambil tempat di kursi seberang.

Sepuluh hari.

Itulah waktu yang kuminta ketika Laras menyerahkan surat cerai. Aku tidak meminta waktu untuk memaksanya berubah pikiran. Aku hanya ingin memastikan bahwa keputusan sebesar itu tidak diambil tanpa kami benar-benar mendengarkan satu sama lain.

Sepuluh hari itu bukan ancaman agar Laras mengubah pikirannya. Aku meminta waktu karena surat cerai yang ia sodorkan terasa seperti akhir dari percakapan panjang yang belum pernah kami selesaikan. Aku ingin memberinya kesempatan bertanya, dan aku perlu menata kata-kata agar penjelasanku tidak berubah menjadi pembelaan diri.

Aku bisa saja menekan Laras agar tetap tinggal atau mengingatkannya pada janji pernikahan. Namun, jika ia bertahan karena merasa bersalah atau terpaksa, aku tidak akan mendapatkan kembali hubungan yang kuinginkan. Aku tidak mau memakai sepuluh hari itu untuk membuatnya takut kehilangan sesuatu. Aku ingin ia memilih setelah mendengar kebenaran, bukan karena berhasil kutahan. Sayangnya, setiap percakapan berakhir sebelum aku sempat menjelaskan apa pun.

Sayangnya, setiap kali aku mencoba membuka percakapan, Laras selalu menganggapnya sebagai upaya mencari alasan.

“Beberapa hari ini aku mencoba mencari waktu yang tepat,” kataku.

“Untuk apa?”

“Untuk menjelaskan sesuatu tentang pekerjaanku.”

Wajahnya langsung berubah.

“Arkan, kita sudah membahas ini.”

“Kita belum benar-benar membahasnya.”

“Kamu selalu bilang begitu. Setiap kali aku bertanya pekerjaanmu sebenarnya apa, jawabanmu berputar-putar.”

Aku menahan kalimat yang hampir keluar.

Ada bagian dari pekerjaanku yang tidak bisa kuceritakan sembarangan. Bukan karena aku ingin terlihat misterius, melainkan karena ada tanggung jawab, dokumen, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Namun, aku juga tidak bisa terus menjadikan kerahasiaan sebagai alasan untuk membiarkan Laras hidup dengan anggapan yang keliru.

“Aku bukan tidak bekerja,” kataku. “Ada hal-hal yang selama ini kutangani dari belakang. Aku mengawasi beberapa keputusan dan—”

“Sudahlah.”

Laras memotong sebelum aku menyelesaikan kalimat.

Aku menatapnya.

“Kalau kamu ingin mengatakan pekerjaanmu lebih penting daripada yang kupikirkan, aku sudah mendengarnya. Tapi aku nggak bisa terus hidup dari sesuatu yang tidak pernah bisa kamu jelaskan.”

“Aku sedang mencoba menjelaskan.”

“Dengan kalimat yang sama.”

Aku menarik napas.

“Kalau aku menunjukkan dokumennya, kamu mau mendengarkan?”

Laras menggeleng.

“Dokumen apa lagi? Surat dari seseorang? Berkas yang tidak bisa kupahami? Aku tidak membutuhkan cerita yang membuatmu terlihat sibuk.”

Aku menyandarkan punggung ke kursi. Ada banyak hal yang bisa kujelaskan jika ia bersedia mendengar sampai selesai. Namun, penjelasan hanya berguna ketika orang di hadapan kita masih membuka ruang untuk menerimanya.

“Jadi, menurutmu aku hanya mencari alasan?”

“Menurutku kamu seharusnya jujur sejak awal.”

Untuk bagian itu, aku tidak bisa sepenuhnya membantahnya.

Aku memang seharusnya menjelaskan lebih banyak sejak dulu. Aku terlalu percaya bahwa hasil akhirnya akan berbicara sendiri. Kupikir, selama kebutuhan rumah terpenuhi dan Laras bisa menjalani kariernya, ia tidak perlu mengetahui setiap urusan yang kutangani.

Aku ingin Laras dihargai karena kemampuannya sendiri, bukan karena nama suaminya.

Aku keliru mengira diam akan melindungi hubungan kami. Nyatanya, diam justru memberinya alasan untuk menganggapku tidak memiliki apa-apa.

“Aku akan menjelaskan semuanya pada waktu yang tepat,” kataku.

Laras berdiri.

“Selalu begitu.”

“Laras.”

“Aku nggak ingin membahas ini lagi malam ini.”

Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju kamar. Sebelum menghilang di balik pintu, ia menoleh.

“Dan jangan membuat masalah soal Reno. Dia membantuku malam ini. Tidak lebih.”

Aku tidak menjawab.

Pintu kamar tertutup.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara keran menyala. Aku tetap duduk di ruang tengah, memandangi pintu yang baru saja ditutupnya.

Ponselku bergetar. Ada tiga pesan baru dari Pak Surya.

Pesan pertama menanyakan apakah aku sudah membaca berkas rapat. Pesan kedua mengingatkan bahwa agenda direksi tidak bisa digeser lagi. Pesan ketiga membuatku segera membuka percakapan.

Pak, keputusan ini membutuhkan kehadiran Anda secara langsung. Ada pihak yang mulai mempertanyakan kewenangan yang selama ini Bapak jalankan melalui mandat.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Hendra rupanya tidak lagi bersedia menunggu. Jika rapat berlangsung tanpa persiapan yang tepat, sejumlah keputusan strategis bisa dimanfaatkan untuk memperkuat posisinya. Aku tidak bisa membiarkan urusan perusahaan terseret lebih jauh hanya karena terlalu lama menunda keterlibatanku secara terbuka.

Aku membuka kembali pesan Pak Surya dan membaca urutan agenda yang ia kirimkan. Perubahan itu bukan sekadar soal jadwal. Pembahasan kewenangan pemegang kendali yang dimajukan berarti ada direktur yang ingin memastikan persoalan itu dibicarakan sebelum arah rapat ditentukan. Hendra mungkin tidak menyebut namaku langsung, tetapi aku mengenal cara persoalan ini disusun: mulai dari pertanyaan tentang mandat, lalu tuntutan agar keputusan lama ditinjau ulang.

Pesan baru masuk dari Pak Surya: agenda direksi tidak bisa digeser lagi. Ia menambahkan bahwa perubahan susunan agenda membuat direktur meminta pembahasan kewenangan pemegang kendali lebih awal. Aku memahami maksudnya. Mereka ingin jawaban jelas, dan ketidakhadiranku hanya akan memberi ruang bagi orang lain menentukan narasi. Aku memeriksa daftar dokumen, memastikan tidak ada lampiran tertinggal, lalu menandai bagian yang perlu dibahas sesuai prosedur. Aku akan hadir agar keputusan diambil dengan dasar benar dan tidak dimanfaatkan demi kepentingan pribadi.

Aku membalas.

Siapkan seluruh dokumen. Saya akan hadir.

Balasan Pak Surya masuk hampir seketika.

Baik, Pak Arkana.

Aku mematikan layar.

Nama itu sudah lama tidak terdengar di rumah ini. Bagi Laras, aku hanyalah Arkan, suami yang dianggap tidak mempunyai pekerjaan jelas dan tidak mampu memberinya kebanggaan seperti yang ia inginkan.

Aku tidak pernah menuntutnya memanggilku dengan gelar apa pun. Aku hanya berharap ia tidak perlu merasa malu ketika menyebut namaku.

Dari kamar, terdengar langkah kaki Laras. Ia keluar dengan pakaian tidur dan rambut yang masih basah. Ponselnya berada di tangan kanan.

Ia berhenti saat melihatku masih di ruang tengah.

“Kamu belum tidur?”

“Aku mau menyelesaikan pekerjaan sebentar.”

Ia mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Ponselnya berbunyi, dan matanya langsung turun ke layar. Senyum tipis muncul di wajahnya.

Aku tidak bisa membaca apa yang tertulis di sana dari tempatku berdiri. Aku juga tidak mencoba mendekat.

Laras mengetik balasan singkat, kemudian memasukkan ponsel ke saku bajunya.

“Besok aku berangkat pagi,” katanya. “Jangan menungguku sarapan.”

“Baik.”

Ia kembali masuk ke kamar.

Aku memeriksa dokumen dari Pak Surya sekali lagi. Nama perusahaan, jadwal rapat, dan daftar keputusan yang harus disahkan tercetak rapi di sana. Di antara lembar-lembar itu, ada catatan mengenai perubahan susunan agenda. Salah satu direktur meminta pembahasan mengenai kewenangan pemegang kendali dilakukan lebih awal.

Aku membaca catatan tersebut dengan saksama.

Di luar urusan rumah tangga, ada orang-orang yang mulai bergerak. Mereka tidak akan menunggu sampai aku selesai membereskan masalah pribadi. Jika aku terus berdiam diri, akibatnya bukan hanya akan kutanggung sendiri.

Pagi nanti, aku akan menemui Pak Surya dan memastikan semua berjalan sesuai prosedur. Aku tidak akan menggunakan persoalan pernikahanku sebagai alasan untuk mengambil keputusan sepihak. Aku juga tidak akan membiarkan masalah rumah tangga mengaburkan tanggung jawabku.

Untuk Laras, aku masih menyediakan waktu yang kuminta.

Namun, waktu tidak selalu membuat seseorang melihat sesuatu dengan lebih jernih. Terkadang, waktu hanya memperlihatkan apa yang selama ini berusaha disembunyikan.

Aku mematikan lampu ruang tengah dan berjalan menuju kamar.

Laras sudah berbaring membelakangiku. Ponselnya berada di atas nakas, layarnya menghadap ke bawah. Napasnya terdengar teratur, meskipun aku tidak tahu apakah ia benar-benar sudah tidur.

Aku mengambil selimut dari lemari, lalu berbaring di sisi tempat tidur yang biasa kutempati.

Tidak ada percakapan.

Aku menatap langit-langit, membiarkan suara pendingin ruangan memenuhi kamar.

Beberapa menit kemudian, ponsel Laras bergetar.

Sekali.

Lalu dua kali berturut-turut.

Ia bergerak cepat, mengambil perangkat itu sebelum getarannya terdengar lagi. Cahaya layar menerangi sebagian wajahnya. Aku melihat ia membaca pesan tersebut, kemudian duduk dengan punggung menghadapku.

Aku tidak berniat melihat. Namun, ketika ia menggeser posisi, layar sempat menghadap ke arahku.

Sebuah nama muncul di bagian atas.

Reno.

Aku mengalihkan pandangan, tetapi satu baris pesan sudah telanjur terbaca.

Jangan khawatir. Malam ini bukan pertama kalinya kita bertemu diam-diam.

Laras segera mematikan layar.

Gerakannya terlalu cepat untuk disebut kebetulan.

Ia menoleh kepadaku, memastikan apakah aku masih terjaga. Aku memejamkan mata sebelum tatapan kami bertemu.

Kasur bergerak ketika ia kembali berbaring. Ponselnya diletakkan di bawah bantal.

Aku tetap diam.

Di sampingku, Laras tidak bergerak lagi. Jemarinya sempat menyentuh lenganku, seolah ingin memastikan aku benar-benar tidur. Sentuhan itu hanya berlangsung sesaat sebelum ia menarik tangannya.

Aku tidak membuka mata.

Untuk malam ini, aku memilih tidak bertanya. Aku tidak akan merampas ponselnya, memeriksa akun pribadinya, atau memaksanya memberikan jawaban saat ia belum bersedia bicara. Apa yang kulihat tadi sudah cukup untuk membuatku berhenti menganggap semuanya sebagai kebetulan.

Besok, aku akan menghadapi rapat yang tak bisa ditunda. Setelah itu, aku akan memutuskan langkah berikutnya berdasarkan apa yang benar-benar kutahu, bukan sekadar dugaan.

Aku telentang, menatap langit-langit samar dalam cahaya dari jendela. Pendingin ruangan berdengung pelan. Di sebelahku, Laras bergerak hati-hati; kain selimut bergesekan ketika ia meraih ponselnya.

Perangkat itu bergetar dua kali. Laras mengangkatnya cepat. Aku menahan napas, memejamkan mata dan berpura-pura tidur ketika cahaya layar menyapu wajahnya. Aku tidak meminta ia memperlihatkan pesan itu. Beberapa saat kemudian, layar padam dan ponselnya diselipkan di bawah bantal, seolah benda itu bisa menyembunyikan apa yang baru saja kubaca.

Aku tetap diam. Ada dorongan untuk berbalik dan meminta penjelasan, tetapi pertanyaan sekarang mungkin hanya menghasilkan penyangkalan dan pertengkaran. Aku perlu memastikan apa yang kulihat, bukan membangun keputusan besar dari satu baris pesan. Meski begitu, kalimat itu menempel di pikiranku. Jika pertemuan malam ini bukan yang pertama, berarti ada bagian kehidupan Laras yang tak kuketahui. Aku menelan pertanyaan dan menunggu pagi.

Namun, satu hal sudah berubah.

Aku tidak lagi bisa menganggap Reno sekadar rekan kerja yang kebetulan mengantar istriku pulang.

1
BayouDarda Novelis
Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
Renjana
hadir kk
BayouDarda Novelis: Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!