Fernando Garcia Sanchez punya segalanya: kerajaan bisnis teknologi yang disegani, dan sebuah organisasi kriminal yang tumbuh jauh dari mata dunia. Yang tak ia punya hanyalah seseorang yang mencintainya tanpa peduli nama keluarganya.
Maka suatu malam, sang Don menyamar sebagai bartender di klub malamnya sendiri. Di tengah hujan deras, ia bahkan tak sanggup membuka sebuah payung, dan seorang gadis asing menyeberangi jalan hanya untuk menolongnya.
Carolina Gomes Santos, gadis Brasil yang merantau ke Madrid, tak menanyakan harta, pekerjaan, atau nama belakangnya. Ia hanya mengeringkan wajah pria itu dengan handuk kecil, lalu tersenyum.
Sejak malam itu, Fernando tak lagi bisa menyangkal bahwa ia telah jatuh. Namun pria yang ia kenal sebagai "Jorge" menyimpan kebohongan yang cepat atau lambat akan meledak. Dan Carolina sendiri, tanpa ia sadari, membawa rahasia yang jauh lebih besar dari kebohongan mana pun: sebuah masa lalu yang sengaja dihapus, dan mimpi-mimpi tentang ibunya yang terus memperingatkan bahwa hidupnya akan berubah drastis.
Ketika kebenaran terungkap satu per satu, cinta mereka diuji oleh pengkhianatan, musuh lama yang tak pernah berhenti mengintai, dan keputusan sulit antara kedamaian dan kekacauan.
Bisakah seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya mempertahankan satu-satunya hal yang tak ingin ia kehilangan?
Dan apa jadinya jika wanita yang ia pilih ternyata bukan sekadar gadis kafe biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percakapan
POV Miguel
Aku masih menggenggam tangan Valentina ketika pandanganku bertemu dengan mata Javier.
Beberapa detik tak ada dari kami yang bicara. Aku mengenal pria itu sejak kecil, mengenal sikapnya, diamnya, dan caranya mengamati seseorang saat ingin memahami maksud sebenarnya. Javier Sanchez tak pernah perlu meninggikan suara untuk menunjukkan bahwa ia serius, dan saat itu aku tahu tak ada gunanya mencoba menghindari percakapan ini.
Valentina meremas jariku.
Kutoleh sekilas dan kusadari, di balik rasa malunya, ia tak berniat menyembunyikan apa yang terjadi.
Javier melepas lipatan tangannya.
"Miguel, ikut aku ke ruang kerjaku."
Aku menarik napas dalam.
"Baik, Tuan."
Ia menoleh pada putrinya.
"Valentina, tunggu di sini. Aku hanya perlu bicara dengannya."
Ia tampak cemas, tetapi mengangguk.
Sebelum pergi, kuremas tangannya sekali lagi dan membungkuk mengecup keningnya.
"Aku akan kembali."
Ia tersenyum samar.
"Aku tunggu."
Aku mengikuti Javier menyusuri lorong tanpa bertanya apa pun. Aku tidak tahu persis apa yang ingin ia bicarakan, tetapi aku cukup mengenal keluarga itu untuk tahu bahwa bila Javier meminta pembicaraan empat mata, yang terbaik adalah mengikutinya dan menjawab dengan jujur.
Kami masuk ke ruang kerjanya, dan begitu aku melewati ambang pintu, Javier menunjuk pintu itu.
"Tutup."
Aku menurut.
Ketika berbalik, ia sudah berada di belakang meja. Ia berjalan ke salah satu kursi berlengan dan memberi isyarat agar aku duduk, tetapi aku memilih tetap berdiri beberapa detik.
"Duduk, Miguel."
Kali ini aku patuh.
Javier menempati kursi di hadapanku dan mengamatiku dalam diam. Aku mencoba menebak apa yang ada di benaknya, tetapi mustahil.
Lalu ia bicara.
"Aku ingin kamu mengatakan apa yang kamu rasakan pada putriku."
Aku tak perlu berpikir.
"Aku mencintai Valentina."
Ia terus menatapku.
"Aku tahu kamu mencintainya sekarang. Aku ingin tahu sudah berapa lama."
Aku mengusap wajah sebelum menjawab.
"Bertahun-tahun."
Javier mengangkat alisnya sedikit.
"Bertahun-tahun?"
Aku mengangguk.
"Aku berusaha menyembunyikannya. Lama sekali aku berpikir lebih baik menjaga jarak, karena dia putri Anda, adik Fernando dan Santiago. Aku tidak mau melewati batas apa pun, dan aku juga tidak percaya dia bisa merasakan hal yang sama padaku."
Ia diam.
Aku melanjutkan karena tak ingin menyembunyikan apa pun.
"Kupikir bagi dia, aku hanyalah Miguel. Teman kakak-kakaknya, pria yang tumbuh bersama keluarga ini. Aku tak pernah membayangkan dia bisa memandangku seperti aku selalu memandangnya."
Javier menarik napas dalam dan menumpukan lengannya di paha.
"Aku selalu tahu Valentina mencintaimu."
Kalimat itu mengejutkanku.
"Anda tahu?"
"Jauh sebelum kamu menyadarinya. Dia tidak pernah benar-benar bisa menyembunyikannya. Putriku selalu mencarimu setiap kali tiba di suatu tempat, selalu menemukan alasan untuk berada di dekatmu, dan selalu berubah sikap kalau ada yang menyebut namamu."
Senyum tanpa sadar terbit di wajahku.
Bertahun-tahun aku salah menafsirkan tanda-tanda, sementara Javier rupanya melihat semuanya.
"Aku hanya tidak tahu apakah kamu merasakan sesuatu padanya," lanjutnya. "Lama sekali kupikir kamu tidak merasakan apa-apa."
"Aku merasakannya."
Jawabanku keluar begitu cepat, hingga aku nyaris tak sempat menarik napas sebelum bicara.
"Aku mencintai putri Anda dengan seluruh jiwaku."
Javier menatapku beberapa detik.
"Kalau begitu jawab satu hal, Miguel. Apa yang sanggup kamu lakukan untuk melindungi Valentina?"
Aku tidak ragu.
"Apa pun."
Ia menunggu.
"Aku mau jawaban yang lebih jelas."
Aku membungkukkan badan ke depan, mata tetap pada matanya.
"Kalau ada yang mencoba melukainya, aku akan melakukan segala yang kubisa untuk mencegahnya. Kalau harus menghadapi seseorang seorang diri, aku akan menghadapinya. Kalau harus mempertaruhkan nyawaku, akan kupertaruhkan. Kalau perlu membakar dunia demi menjaganya tetap aman, akan kubakar."
Javier diam.
Aku tahu kata-kata itu bukan berlebihan. Setelah malam ini, setelah menemukannya terikat di tempat itu dan merasakan keputusasaan membayangkan aku mungkin terlambat, satu hal pasti: aku tak akan sanggup lagi hanya berdiri melihat siapa pun mengancam Valentina.
Javier bersandar di kursinya.
"Itu jawaban yang kuharapkan."
Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku.
Ia tersenyum tipis.
"Valentina adalah putri kecilku. Selalu begitu. Sejak ia kecil, aku tahu suatu hari ia akan bertemu seseorang, dan aku juga tahu pria itu harus memahami besarnya tanggung jawab mencintainya."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Bertahun-tahun aku ingin dia menemukan pria sepertimu. Seseorang yang mencintainya dengan tulus, tahu cara melindunginya, menghormati pilihannya, dan tidak lari ketika keadaan sulit."
Aku diam.
"Dan aku tahu kamu tak akan ragu mati demi dia kalau perlu."
Aku menunduk sejenak.
"Tidak akan ragu."
Javier berdiri.
Aku juga berdiri, tak tahu persis apa yang akan ia lakukan.
Lalu ia menghampiriku.
"Miguel, kamu sudah bertahun-tahun mengenal keluargaku. Kamu mengenal anak-anakku, istriku, sejarah kami, dan dunia tempat kami hidup. Aku tahu siapa dirimu. Aku tahu pria seperti apa yang dibesarkan tangan kananku dulu, aku tahu kesetiaanmu, dan aku tahu bahwa ketika kamu berjanji, kamu menepatinya."
Ia mengulurkan tangan.
"Kamu mendapat restuku."
Beberapa detik aku menatap tangannya sebelum menjabatnya.
"Terima kasih, Tuan."
Javier menggeleng.
"Jangan berterima kasih. Cukup buat putriku bahagia."
"Pasti."
Ia menarikku ke dalam pelukan.
Itu tak terduga.
Aku tak terbiasa menerima gestur seperti itu dari Javier, dan beberapa detik aku tak bereaksi sebelum membalas pelukannya.
Saat kami melepaskan diri, ia menepuk bahuku.
"Dan perlakukan putriku dengan baik, karena kalau tidak, aku akan lupa bahwa aku sudah memberimu restu."
Aku tertawa.
"Aku tak akan pernah melakukan apa pun yang menyakitinya."
"Aku tahu."