"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Ampun, Mayor!
Angin berhembus lembut melewati rimbunnya dedaunan pohon mangga tua di halaman depan panti asuhan, menjatuhkan beberapa helai daun kering ke atas aspal bersih. Di trotoar luar gerbang yang teduh, sebuah gerobak kayu kecil beroda dua berdiri kokoh dengan spanduk kain sederhana buatan tangan bertuliskan: ‘Es Cokelat Rindu Panti’. Di atas permukaannya, jejeran stoples kaca bersih, tabung blender manual, dan sebongkah balok es batu kristal tertata rapi berdampingan dengan aroma manis serbuk cokelat murni yang menguar pekat ke udara.
Hari itu adalah hari pertama Vina dan Ita resmi membuka usaha kecil-kecilan mereka—sebuah wujud nyata dari rencana yang sempat dicibir mentah-mentah oleh Mayor Yudhana sebagai 'warung murahan' beberapa waktu lalu, bahkan saat pria itu mencoba melemparkan amplop uang belanja yang ditolak mentah-mentah oleh Vina. Bagi Vina, berdiri di tempat ini sama sekali bukan tentang membuktikan gengsi pada suaminya, melainkan merangkul kembali kepingan masa lalunya yang sempat hilang. Panti asuhan sederhana di hadapannya bukan sekadar bangunan tua tempat ia dibesarkan dari kecil, melainkan rahim pelukan pertama yang mengajarkannya cara bertahan hidup seorang diri di dunia yang keras.
Tepat pukul dua siang, suara bising sirine tanda jam kepulangan sekolah berbunyi nyaring dari arah sekolah dasar dan menengah negeri yang terletak tidak jauh dari ujung jalan kompleks. Tak lama kemudian, gerombolan anak-anak berseragam putih-merah dan putih-biru tumpah ruah keluar gerbang, bersorak riuh sambil berlari kecil di bawah terik matahari sore yang mulai condong ke barat.
"Es cokelatnya dua ribu lima ratus, Kak! Yang dingin pakai es batu banyak!" teriak seorang anak laki-laki bertubuh gempal berseragam pramuka dengan tas ransel yang hampir melorot dari bahunya.
Vina sontak tersenyum lebar. Matanya berbinar cerah, memancarkan binar kebebasan yang sudah lama mati di dalam rumah dinasnya yang sunyi. Dengan cekatan, tangan lentiknya mengambil gelas plastik, memasukkan sesendok penuh serbuk cokelat pekat, menuangkan susu kental manis, lalu mengocoknya cepat bersama air hangat sebelum akhirnya menyiramkan es batu kristal yang bergemerincing renyah di dalam gelas.
"Nih, punya Adik ganteng yang paling depan!" seru Vina riang, menyerahkan gelas plastik berembun dingin itu kepada sang pembeli cilik.
"Wah, makasih Kak Vina!" sahut anak itu kegirangan, langsung menyedot minumannya dengan mata membelalak puas. "Enak banget! Nyoklat banget rasanya!"
Pujian spontan itu memicu efek domino yang luar biasa. Dalam hitungan menit, gerobak sederhana Vina dan Ita langsung dikerumuni oleh puluhan anak sekolah yang berdesak-desakan berebut antrean. Ita, yang bertugas meracik dan memberikan uang koin kembalian, tampak kewalahan sekaligus semringah, sementara Vina sibuk melayani pembeli tanpa henti dengan senyum tulus yang tak pernah luntur dari bibirnya.
Suara tawa renyah anak-anak panti yang ikut membantu membagikan sedotan beradu dengan gelak tawa Vina di bawah rindangnya pohon mangga. Di tengah kesibukan yang menguras tenaga itu, dada Vina justru terasa begitu lapang. Setiap tetes es cokelat yang terjual dan setiap koin receh yang masuk ke dalam kaleng biskuit di bawah meja gerobak seolah meniupkan udara segar ke dalam paru-parunya.
Bagi Vina, peluh yang menetes di keningnya sore ini jauh lebih berharga dan bermakna ketimbang harus duduk termenung meratapi hari-hari hampa di dalam rumah dinas mewah suaminya. Di sini, di bawah naungan kenangan masa kecilnya, ia merasa hidup kembali sebagai manusia seutuhnya—bukan sekadar bayang-bayang atau objek pelengkap penderita dari seorang perwira tinggi bernama Yudhana.
Di sela-sela jeda singkat saat kerumunan anak sekolah mulai mereda menjelang pukul empat sore, Vina menyeka peluh di dahinya menggunakan punggung tangan. Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma manis serbuk cokelat yang menempel di ujung jarinya. Matanya melirik sekilas ke arah kaleng biskuit khong guan berkarat yang menjadi brankas darurat mereka hari ini. Suara gemerincing koin di dalamnya terdengar padat, menandakan hasil penjualan yang melampaui ekspektasi hari pertama.
Sembari membantu Ita merapikan sisa-sisa es batu yang mulai mencair di dalam wadah, pikiran Vina mulai bekerja menyusun sebuah strategi rahasia.
"Uang hari ini lumayan banyak," batin Vina menghitung cepat di dalam kepalanya. "Kalau ritme jualan seperti ini terus berlanjut selama dua atau tiga minggu ke depan, tabunganku pasti cukup buat bayar uang muka sewa kontrakan petak kecil di dekat sini."
Ya. Itu adalah tujuan utamanya. Usaha es cokelat ini bukan sekadar hobi pengisi waktu luang atau cara mencari kesibukan di luar rumah dinas. Ini adalah batu loncatan pertama, sekoci penyelamat hidup yang ia rancang diam-diam agar ia bisa segera minggat secara permanen dari kehidupan Mayor Yudhana begitu proses perceraian mereka resmi diketok palu. Vina tidak ingin lagi bergantung pada belas kasihan sang perwira, tidak ingin lagi mendengar ceramah soal etika istri tentara, dan tidak mau lagi terkurung dalam sangkar emas yang menyesakkan dada.
"Eh, Vin? Ngelamun mulu dari tadi. Kecapekan ya?" tegur Ita sambil menyenggol pelan lengan Vina dengan sikutnya, membuyarkan lamunan panjang sang sahabat.
Vina mengerjap, lalu tersenyum tipis menggelengkan kepala. "Enggak kok, Ta. Aku cuma lagi mikir ... rasanya tenang banget ya jualan di sini. Beda banget sama suasana di kompleks markas yang isinya cuma aturan kaku dan muka tembok orang-orang berdasi."
Ita terkekeh kecil, ikut menyandarkan tubuhnya ke gerobak kayu. "Ya iyalah beda. Di sini kita cari uang sendiri, keringat sendiri, bebas mau ketawa selebar apa pun tanpa ada yang ngomel. Oh ya, omong-omong soal rumah dinas ... kamu nggak takut kalau sewaktu-waktu Mayor Yudhana tahu kamu jualan es cokelat di sini, padahal waktu itu dia sempat mau ngasih modal tapi kamu tolak mentah-mentah?"
Mendengar nama Yudhana disebut, binar jenaka di mata Vina sedikit meredup, digantikan oleh sorot mata dingin yang penuh perlawanan. Vina mendengus pelan, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap lurus ke arah jalanan aspal di depan panti.
"Biarin aja dia tahu," cetus Vina mantap, tanpa menyisakan secercah pun rasa gentar di suaranya. "Emangnya kenapa kalau dia tahu? Mau dia ngamuk, mau dia panggil provos buat nangkap gerobak aku, emangnya aku peduli? Status kami kan sebentar lagi mau cerai, Ta. Hak aku dong mau ngapain aja pakai tenaga dan tanganku sendiri tanpa harus nerima uang sogokan dari dia."
Ita menghela napas panjang, mengagumi sekaligus ngeri melihat keberanian luar biasa yang ditunjukkan oleh sahabatnya itu. Sejak amnesia merenggut ingatannya yang dulu penakut, Vina yang ada di hadapannya kini telah menjelma menjadi sosok pejuang tangguh yang tidak bisa diinjak-injak lagi oleh siapa pun—bahkan oleh seorang Komandan Batalyon berpangkat melati satu.
"Iya juga sih," gumam Ita tersenyum pasrah. "Ya udah, kalau gitu kita harus lebih semangat lagi tabungannya! Besok kita harus belanja serbuk cokelat dua kali lipat lebih banyak dari hari ini!"
"Setuju!" sahut Vina riang, kembali membakar semangatnya.
Vina memandangi sekali lagi plang panti asuhan di seberang jalan, merasakan debar kehangatan yang menjalar di dadanya. Di tempat inilah ia merajut kembali sisa-sisa harga dirinya yang sempat hancur. Vina berjanji pada dirinya sendiri, di balik gerobak sederhana beraroma cokelat manis ini, lembaran kebebasan sejati miliknya akan segera dimulai—jauh dari jangkauan sang "Om Tentara".
bersambung...
Alhamdulillah 🤲