Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Di kamar, Naya duduk di depan komputer dengan bahu sedikit membungkuk. Layar monitor menampilkan beberapa tab sekaligus, kalender digital CEO, daftar pertemuan, catatan perjalanan dinas, dan dokumen prosedur internal yang harus ia pelajari dalam waktu singkat. Sudah hampir empat jam ia berada duduk, dan kepalanya mulai terasa berat.
Ia mengusap pelipisnya pelan, lalu menutup mata sejenak. “Aduh… pusing sekali kepalaku,” keluhnya pelan, hampir hanya terdengar oleh dirinya sendiri. “Ternyata tugas sekretaris itu ribet. Harus menghafal semua jadwal CEO, tahu prioritas mana yang bisa digeser, mana yang mutlak tidak boleh diubah, sampai mengingat selera kopi dan nama-nama penting yang sering dihubungi.”
Meja kasurnya masih terlihat rapi, tapi di atasnya sudah bertumpuk catatan kecil yang ia buat sendiri. Ia menulis ulang jadwal dengan tangan, mencoba menanamkan informasi itu ke dalam ingatan. Setiap kali merasa hampir berhasil, muncul saja detail baru yang harus diingat, zona waktu untuk meeting internasional, preferensi tempat duduk di ruang rapat, hingga prosedur darurat jika CEO harus membatalkan janji di menit terakhir.
Naya merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap, matanya sejenak menatap dinding sekitar kamar. Ia tidak punya pengalaman sama sekali sebagai sekretaris. Latar belakangnya lebih dekat ke manajemen dan sumber daya manusia. Tiba-tiba diminta mengatur seluruh ritme kerja seorang CEO membuatnya merasa seperti dilempar ke tengah laut tanpa pelampung. Dia harus meraba-raba terlebih dahulu.
Tapi ia tidak menyerah. Di sampingnya ponsel bergetar menampilkan notifikasi saldo rekening yang semakin menipis. Biaya sewa pengacara, sewa apartemen, transportasi, makan, dan keperluan sehari-hari di Melbourne tidak murah. Beasiswa studinya membantu, tapi tidak menutup semua kebutuhan. Jika ia terus menganggur, tabungan yang ia bawa dari Jakarta akan habis lebih cepat dari yang ia hitung.
“Aku harus mampu,” gumamnya pelan, menegakkan badan lagi. “Tidak ada pilihan lain.”
Naya membuka kembali kalender digital itu. Ia mulai membuat sistem sendiri kode warna untuk jenis meeting, pengingat ganda, dan catatan khusus di samping setiap nama. Ia menonton ulang rekaman briefing yang diberikan asisten CEO sebelumnya, mencatat setiap detail kecil, lalu mencoba mempraktekkannya dalam simulasi di kepalanya.
Tanpa dia sadari waktu berlalu begitu cepat. Naya mulai mengantuk, kepalanya berdenyut, mata terasa kering, tapi ada keteguhan yang pelan-pelan menguat di dadanya.
Ia bukan lagi istri yang menunggu di rumah.
Ia bukan lagi perempuan yang hanya bisa menangis di balik pintu.
Di tengah tumpukan jadwal dan catatan, Naya memilih untuk terus belajar. Karena hidup barunya di Australia tidak akan menunggu sampai ia siap. Ia harus mengejarnya, meski dengan kepala pusing dan tangan yang masih gemetar menahan rasa tidak percaya diri.
******
Keesokan paginya, cahaya matahari Australia masuk lembut melalui jendela apartemen Naya. Udara masih sejuk, dan bunyi burung di luar terdengar lebih jelas daripada hari-hari sebelumnya. Naya sudah duduk di tepi ranjang sejak pukul enam, memandang ponsel di tangannya dengan wajah yang serius.
Semalaman ia memikirkan tawaran itu, menjadi sekretaris CEO. Bukan posisi yang ia idamkan, bukan jalur karier yang ia bayangkan ketika memutuskan pindah ke Melbourne. Tapi jika harus mencari pekerjaan sesuai ijasahnya, bisa-bisa dia kelaparan. Karena akan membutuhkan waktu yang lama.
Ia menarik napas panjang, lalu menekan nomor yang tersimpan di kontak HRD. Panggilan itu diangkat cukup cepat.
“Selamat pagi, Ms. Adriani,” sapa suara wanita di seberang, profesional dan ramah.
Naya menegakkan duduknya. “Selamat pagi. Saya Naya Adriani. Saya menelpon untuk menyampaikan bahwa saya menerima tawaran posisi sekretaris CEO. Saya sanggup.”
Ada jeda singkat di seberang, lalu suara itu terdengar lega. “Terima kasih atas konfirmasinya, Ms. Naya. Kabar baik. Kalau begitu, Anda bisa langsung berangkat ke kantor hari ini. Kami akan siapkan akses dan briefing awal. Datang saja ke lobi sebelum pukul sembilan, nanti akan diantar ke lantai kerja.”
Naya mengangguk pelan, meski lawan bicaranya tidak bisa melihat. “Baik. Saya akan sampai tepat waktu. Terima kasih.”
Setelah panggilan berakhir, ia duduk diam beberapa detik. Keputusan sudah diucapkan. Tidak ada jalan kembali. Ia menatap sekeliling apartemen kecilnya, koper yang belum sepenuhnya dibongkar, tumpukan buku kuliah di sudut meja, dan cermin yang semalam menyaksikan keraguannya. Senyum tipis muncul di wajahnya. Bukan senyum bahagia yang meledak-ledak, melainkan senyum seseorang yang sudah memilih untuk melangkah meski langkah itu terasa berat.
Naya bangkit dan bersiap. Ia memilih kemeja abu-abu yang rapi, dan celana bahan hitam. Rambut diikat rendah, make-up tipis hanya untuk menutupi bekas lelah di wajah.
Di depan cermin, ia menatap bayangannya lama. “Kamu bisa Naya. Buktikan pada lelaki brengsek itu kalau kamu sanggup tanpa dia,” bisiknya pada diri sendiri.
Pukul tujuh lebih ia sudah keluar dari apartemen. Bus datang tepat waktu, dan sepanjang perjalanan Naya menatap orang-orang yang berlalu lalang.
Gedung Horizon Group sudah terlihat dari kejauhan ketika ia turun di halte. Lobi yang kemarin terasa asing kini ia masuki dengan langkah lebih mantap. Resepsionis mengenali namanya, tersenyum, lalu segera menghubungi seseorang. Tidak lama, seorang staf HRD datang menjemputnya.
“Selamat datang secara resmi, Ms. Naya. Mari, saya antar ke lantai kerja. Hari ini Anda akan dikenalkan dengan tim dan diberikan akses sistem.”
Naya mengikuti staf itu masuk ke dalam lift.
Angka lantai terus naik, dan bersama dengannya, detak jantungnya ikut sedikit lebih cepat.
Ting....
Ketika pintu lift terbuka di lantai eksekutif, karpet tebal dan aroma kayu mahal menyambutnya. Ia digiring menuju meja yang sudah disiapkan di area dekat ruang CEO, mejanya sendiri, masih kosong, masih menunggu untuk diisi.
Staf HRD menyerahkan kartu akses, password sementara, dan setumpuk dokumen briefing. “Asisten CEO sebelumnya akan datang sekitar jam sepuluh untuk mulai training. Sementara itu, Anda bisa mulai membaca prosedur dasar.”
Naya duduk di kursi barunya. Ia meletakkan tas di samping, menyalakan komputer, dan menarik napas dalam-dalam. Naya berharap bos dia baik, tidak otoriter seperti di novel-novel.
Ia membuka dokumen pertama, mengambil pulpen, dan mulai mencatatnya.
Hari ini, secara resmi, Naya bukan lagi hanya mahasiswa internasional yang sedang mencoba bertahan. Ia adalah sekretaris CEO.
Drrt.......
Drrt.....
Di saat Naya sedang serius mempelajari pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Aslan muncul di layar ponselnya.
"Untuk apa dia menghubungiku" gumam Naya ragu untuk mengangkatnya.
sakit kan????