NovelToon NovelToon
Salah Pilih Pengawal Tiga Nona Muda Tak Tahu Siapa Jarot Sebenarnya

Salah Pilih Pengawal Tiga Nona Muda Tak Tahu Siapa Jarot Sebenarnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Mafia / Penyelamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Ting.

Seorang pelayan wanita meletakkan tiga gelas es teh manis dan sepiring camilan kentang goreng ke atas meja.

Pelayan itu tersenyum ramah lalu berjalan pergi meninggalkan meja mereka tanpa curiga sama sekali.

Jarot mengambil sedotan dan mengaduk es teh miliknya dengan sangat santai.

"Dengar baik-baik arahanku, Nona-nona," ucap Jarot dengan suara pelan namun terdengar tegas di telinga mereka.

Ketiga gadis itu otomatis mencondongkan tubuh mereka ke depan mendekati meja untuk mendengarkan.

"Kalian bertiga duduk manis di sini dan jangan membuat gerakan panik apa pun yang bisa memancing perhatian mereka," perintah Jarot.

"Aku akan pergi ke toilet sebentar untuk memancing salah satu dari mereka untuk mengikutiku," lanjutnya menjelaskan rencana sederhananya.

Lyly mengerutkan dahi dengan raut wajah cemas yang tidak bisa disembunyikan lagi.

"Kamu mau melawan mereka sendirian? Mereka membawa senjata api sungguhan di balik jasnya!" bisik Lyly mengingatkan.

"Senjata api cuma berbahaya kalau pelatuknya sempat ditarik, Mbak Lyly," jawab Jarot dengan senyum meremehkan.

"Kalau dia menembakmu dan kamu mati, lalu siapa yang akan melindungi kami di sini?" protes Melly dengan suara gemetar.

"Tenang saja, aku belum berencana mati sebelum gaji bulan pertamaku cair," canda Jarot masih sempat-sempatnya tertawa pelan.

Jarot berdiri dari kursinya dan merapikan sedikit kaus oblong putihnya yang berkerut.

"Ingat, apa pun yang terjadi, jangan ada yang berani meninggalkan meja ini sampai aku kembali," peringat Jarot sekali lagi dengan tatapan sangat tajam.

Terutama pandangan Jarot mengarah tepat ke mata Tata yang sedari tadi terlihat gelisah menahan amarah.

Jarot berbalik badan dan berjalan dengan langkah malas menuju arah lorong toilet yang terletak di sudut belakang mall.

Srek.

Begitu Jarot berjalan menjauh, salah satu pria berjas abu-abu di restoran seberang langsung berdiri dari kursinya.

Pria itu menempelkan dua jarinya ke telinga dan menggumamkan sesuatu kepada temannya yang masih duduk.

Ia kemudian berjalan keluar restoran dan mulai mengikuti arah langkah Jarot dari jarak belasan meter.

Di meja cafe, Lyly menghembuskan nafas yang sedari tadi ia tahan di tenggorokannya.

"Orang itu benar-benar gila, dia sengaja memancing pembunuh bersenjata tanpa membawa senjata apa pun," gumam Lyly mengusap wajahnya.

Tata mendecih keras sambil meremas ujung meja cafe dengan tangan kosongnya.

"Aku merasa sangat terhina sebagai pemimpin perguruan bela diri karena harus disuruh bersembunyi seperti pengecut," kata Tata dengan nada penuh gengsi.

"Ini bukan soal gengsi, Tata! Mereka itu pembunuh bayaran, bukan murid dojo tempatmu latihan," tegur Lyly mencoba menyadarkan adiknya.

"Sama saja, Kak! Manusia bersenjata tetap saja manusia yang punya titik lemah fisik," bantah Tata masih bersikeras dengan logikanya sendiri.

Melly menelan ludahnya dengan susah payah sambil menatap sisa satu pria berjas abu-abu di restoran seberang.

"Tinggal satu orang lagi yang berjaga mengawasi kita dari sana," lapor Melly dengan suara berbisik.

Mata Tata langsung menyipit tajam menatap pria berjas yang sedang berpura-pura minum kopi tersebut.

"Hanya satu orang, aku pasti bisa melumpuhkannya dalam hitungan detik sebelum dia sempat mengeluarkan senjatanya," batin Tata mulai merencanakan hal nekat.

Brak.

Tata tiba-tiba berdiri dari kursinya dengan raut wajah penuh tekad yang sangat keras kepala.

"Tata! Kamu mau ke mana?!" desis Lyly sambil menarik ujung jaket adiknya.

"Aku akan membereskan tikus yang satu itu, Kak. Kita tidak bisa terus-terusan bergantung pada pengawal gembel itu," jawab Tata dengan percaya diri tingkat tinggi.

"Duduk kembali! Jarot menyuruh kita menunggu di sini!" perintah Lyly yang mulai panik melihat kelakuan adiknya.

"Aku tidak menerima perintah dari bawahan rendahan," balas Tata sambil menepis tangan Lyly.

Tanpa mempedulikan panggilan kakak dan adiknya, Tata berjalan cepat keluar dari kafe menuju restoran seberang.

Sementara itu, di lorong toilet yang sepi dan remang-remang, Jarot sedang berdiri menghadap ke wastafel.

Ia mencuci tangannya sambil menatap cermin besar di depannya dengan wajah tanpa ekspresi.

Tap. Tap.

Suara langkah sepatu pantofel kulit terdengar memasuki area lorong toilet yang sunyi itu.

Pria berjas abu-abu itu masuk dan langsung mengunci pintu utama toilet dari dalam.

Klek.

"Pilihan tempat yang bagus untuk mati, anak muda," sapa pria itu sambil menyeringai dingin ke arah punggung Jarot.

Pria itu perlahan merogoh bagian dalam jasnya dan menarik keluar sebuah pistol berperedam suara.

Moncong pistol hitam pekat itu langsung diarahkan tepat ke punggung belakang Jarot.

Jarot sama sekali tidak menoleh dan terus menggosok tangannya di bawah aliran air kran.

"Kalian orang suruhan Bos Naga yang dari barat kota itu kan?" tanya Jarot dengan nada sangat datar.

Pria berjas itu sedikit terkejut karena Jarot mengetahui nama majikannya, tapi ia langsung kembali fokus.

"Tahu nama bos kami tidak akan menyelamatkan nyawamu," ancam pria itu sambil menempelkan jarinya di pelatuk.

Jarot mematikan kran air dan mengambil tisu kertas untuk mengelap tangannya dengan lambat.

"Kamu tahu tidak apa kesalahan terbesar seorang amatir saat memegang senjata api jarak dekat?" tanya Jarot dari pantulan cermin.

"Jangan banyak bicara! Berbalik dan berlutut sekarang juga!" bentak pria itu mulai kehilangan kesabaran.

Syuuut.

Dalam hitungan sepersekian detik, tubuh Jarot menghilang dari pantulan cermin di depan pria itu.

Pria berjas abu-abu itu melebarkan matanya karena kehilangan targetnya secara tiba-tiba seperti sulap.

Bruk.

Jarot sudah berada tepat di belakang pria itu dan menendang lipatan lutut belakangnya dengan sangat keras.

Pria itu langsung jatuh berlutut menghantam lantai keramik toilet sambil mengerang kesakitan.

Krak.

Sebelum pria itu sempat mengarahkan pistolnya kembali, Jarot menginjak pergelangan tangannya sampai tulang rawan di sana berbunyi patah.

"Aaaarrgh!" jerit pria itu tertahan karena rasa sakit yang luar biasa.

Pistol berperedam itu terlepas dari genggamannya dan meluncur jauh ke sudut lantai toilet.

"Kesalahan terbesarmu adalah berdiri terlalu dekat dengan target yang punya jangkauan tangan lebih cepat dari refleks matamu," bisik Jarot tepat di telinga pria itu.

Bugh.

Jarot menghantamkan lututnya ke rahang pria itu dari bawah dengan kekuatan penuh.

Pria berjas abu-abu itu langsung pingsan seketika dengan mulut mengeluarkan sedikit darah segar.

Seluruh pertarungan mematikan itu selesai bahkan sebelum berjalan lima detik.

Jarot merapikan kembali kaosnya dan melangkah melewati tubuh yang tergeletak pingsan itu dengan santai.

"Satu tikus selesai, tinggal satu tikus lagi di restoran," gumam Jarot sambil berjalan keluar dari toilet.

Di saat yang bersamaan, Tata baru saja melangkah masuk ke dalam restoran tempat pengintai kedua berada.

Gadis atletis itu berjalan lurus ke arah meja targetnya dengan wajah garang dan kepalan tangan yang mengeras.

Pria berjas abu-abu yang sedang duduk itu langsung menyadari kedatangan Tata yang memancarkan hawa permusuhan.

1
Eko🍤
cerdik 👍😀
Eko🍤
hehehehe...aroma pembantaian nih
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii kasih paham mereka🤣🤣👍
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii
Eko🍤
hehehehe... bantaaaaaaaiiiiii
Eko🍤
hahahahaha🤣🤣
Eko🍤
🤣🤣🤣👍
Eko🍤
hehehehe...baru datang udh pemanasan 👍🤣🤣
Eko🍤
bermain petak umpet semua nya😀🤣👍
Eko🍤
alur ceritanya bagus
Eko🍤: insya Allah suka Thor ..lanjut terus semangat 👍👍
total 2 replies
Hendra Saja
semangat thor
kiyoe: Terimakasih kak Hendra Saja atas dukungan 🥰
total 1 replies
Inez Putri
critanya lama² membosankan thour. maaf seblmnya🙏🙏 dr awal kanyak nya menarik. tp smpe sni mlh kurang menarik.
kiyoe: sekali lagi othor ucapkan terimakasih banyak kak dan semoga kaka selalu 🥰
total 3 replies
lili Permatasari
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
kiyoe: wah terimakasih kaka atas Bintang Lima nya semoga sehat selalu yaa kak 🙏
total 1 replies
Hendra Saja
gazzzzzz 🔥🔥🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!