NovelToon NovelToon
Enam Tahun Jadi Nyonya Bramantyo

Enam Tahun Jadi Nyonya Bramantyo

Status: tamat
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Satu wanita banyak pria / Tamat
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Autora Gabriela

Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.

Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.

Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.

Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.

Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

POV: Kirana

Rendra pulang dini hari, mabuk, menabrak kusen pintu. Kudengar dari ranjang, bunyi ia tersandung di koridor, Bayu berusaha memapahnya. Bertahun-tahun lalu aku akan langsung bangun, membuatkan teh yang ia minum untuk mengatasi mabuknya, melepas sepatunya, meninggalkan air dan obat di samping ranjangnya.

Dini hari itu, aku tidak bangun. Aku tetap berbaring, mendengarkan, dan mengirim satu pesan saja untuk Bayu: Tolong jaga dia. Biarkan dia tidur di kamar tamu. Lalu aku berbalik ke samping dan mencoba kembali tidur.

Itu tindakan kecil, tidak bangun. Tapi di sanalah, dalam gelap, mendengar suamiku yang mabuk tanpa merasa ingin merawatnya, aku tahu sebagian diriku telah membeku untuk selamanya dan tak akan mencair lagi.

Kemudian aku tahu dari Rini mengapa ia minum. Laras, malam itu, muncul di sebuah jamuan bisnis bergandengan dengan Luki, sepupu Gilang, untuk memancing cemburu. Rendra minum karenanya. Bertahan sampai dini hari, mabuk, karenanya. Lalu pulang untuk tidur di rumah, di samping istri dan putrinya, membawa pengar dari sakit hati yang untuk perempuan lain.

Dulu, ini akan menghancurkanku. Dini hari itu, ini hanya memberiku kejernihan yang lelah. Lelaki yang mabuk karena cemburu pada iparnya dan pulang agar istrinya merawatnya bukan suami, melainkan satu lagi pasien yang tak lagi kuingin tangani.

Paginya, Rendra tidak sanggup bangun. Pengar, demam ringan, wajah kusut. Itu hari pertama Nindy di sekolah barunya, dan ia sudah berjanji mengantar.

"Aku nggak sanggup, Kirana," gumamnya dari kamar tamu. "Kamu saja yang antar. Nanti kuganti."

Aku yang mengantar. Seperti biasa.

Di mobil, Nindy merapikan tas barunya di pangkuan, jam pemantau di pergelangan, bersemangat sekaligus gugup.

"Ma, ingat waktu Papa sakit dan semua orang merawatnya?" tanyanya tiba-tiba, dengan ingatan anak-anak yang lepas begitu saja. "Oma, Tante Laras, semuanya. Sekarang Papa sakit lagi dan kita malah pergi."

Kupandang ia lewat kaca spion. Kupilih kebenaran yang muat di anak berusia empat tahun.

"Papa sudah dewasa dan bisa menjaga diri, Sayang. Hari ini yang penting kamu, hari pertamamu. Kamu lebih penting buat Mama daripada yang bisa dibayangkan beberapa orang."

Ia tersenyum puas dan kembali mengutak-atik tasnya.

Sekolah barunya besar, rindang, penuh orang tua dan anak di halaman. Nindy, malu-malu pada awalnya, segera menemukan anak perempuan seusianya di dekat bak pasir. Gadis kecil berkepang, cerdas, yang memperkenalkan diri sendiri.

"Aku Anisa. Tapi semua orang manggil aku Anin. Kamu mau jadi temanku? Aku sudah kenal seluruh sekolah."

Dalam lima menit keduanya tak terpisahkan, menggali lubang di pasir dengan keseriusan para insinyur. Aku mengamati, lega, karena teman di hari pertama lebih berharga daripada pidato penyambutan mana pun, dan karena Nindy, dengan jantung yang ia punya, butuh keringanan lebih daripada anak mana pun.

Kulihat jam di pergelangannya berbunyi pelan karena kegirangan berlari, lalu kembali ke hijau tenang ketika ia duduk bermain. Aku bernapas lega. Semuanya masih dalam batas normal.

"Dia mirip ibunya, gampang berteman."

Suara itu datang dari sampingku, dalam, tenang. Aku menoleh.

Butuh sedetik untuk mengenalinya, karena sudah sepuluh tahun. Lebih tinggi dari yang kuingat, rambutnya dengan helai kelabu di pelipis, jas yang dipotong rapi milik orang yang bekerja di tempat-tempat di mana pakaian itu penting. Bima Aryasatya.

"Bima." Namanya keluar sebelum aku sempat mencernanya. "Lama sekali."

"Sepuluh tahun." Ia tersenyum, dan senyumnya tidak berubah. "Kamu dulu merawat nenekku. Migrain kronis yang tak bisa diselesaikan dokter mana pun. Kamu hampir masih anak-anak, mewakili gurumu, dan dalam tiga minggu kamu menyelesaikan apa yang tak bisa diselesaikan seluruh dunia kedokteran dalam tiga tahun. Nenekku membicarakanmu sampai hari terakhirnya."

"Aku ingat nenekmu. Perempuan tegas, dengan tatapan baik." Aku tersenyum sungguhan, hal yang langka. "Dan Anin itu..."

"Keponakanku. Putri kakakku, Bening, yang tinggal di Swiss. Anin datang tinggal bersamaku sebentar sementara ibunya membereskan hidupnya di sana." Ia memandang kedua gadis kecil yang bermain. "Aku baru kembali ke Indonesia belum lama. Beberapa tahun terakhir aku di luar negeri, di dinas diplomatik."

Kami bercakap di halaman itu, dengan kemudahan yang mengejutkanku. Sudah lama sekali sebuah percakapan dengan seorang lelaki tidak menuntut aku mengenakan baju zirah.

Ia bertanya tentang kariernya, dan ia sudah tahu jawabannya sebelum kuberikan. Ia tahu soal Aurora, penghargaan, lini riset, bahkan adu teknis yang kumenangkan di depan panel. Bukan dengan cara orang yang baru meriset semalam untuk membuka obrolan. Dengan cara orang yang sudah lama mengikuti dengan perhatian sungguhan.

"Dan Anda, masih tinggal di Menteng?" tanyanya, dan dari caranya mengucapkan "Anda", hati-hati, aku sadar ia sudah tahu aku menikah, dan sedang menarik batas hormat bahkan sebelum aku memintanya.

"Untuk sementara," jawabku, dan "untuk sementara" itu lolos sebelum sempat kutimbang. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk, seperti orang menyimpan informasi yang rapuh tanpa menyentuhnya.

"Kamu tampak sangat tahu tentang seorang ilmuwan yang sepuluh tahun tak kamu temui," kataku, setengah bercanda, setengah menguji.

Ia tidak mengelak.

"Aku mengikuti perjalananmu dari jauh, Kirana. Selalu." Ia mengatakannya dengan kesederhanaan yang menghapus beban rayuan dari kalimat itu, yang membuatnya lebih jujur. "Dan, kalau boleh kukatakan, kamu lebih mengagumkan lagi daripada waktu itu. Ini bukan pujian halaman sekolah. Ini kesimpulan orang yang melihatmu menyelesaikan yang tak terselesaikan pada usia tujuh belas tahun dan tak pernah melupakannya."

Aku tak tahu harus menjawab apa. Sudah lama tak ada yang bicara padaku seperti ini, tanpa menginginkan apa pun sebagai imbalan, tanpa merendahkanku, tanpa membandingkanku dengan perempuan lain. Sudah lama aku tidak menjadi, bagi seseorang, hal pertama yang terlihat di sebuah ruangan, alih-alih pilihan kedua.

Bel sekolah berbunyi. Anak-anak dipanggil masuk. Nindy berlari menciumku dan menghilang bergandengan dengan Anin, tanpa takut, dan itu saja sudah membuat hariku berharga.

Bima mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya dan mengulurkannya.

"Aku ingin sekali melanjutkan percakapan ini tanpa bel sekolah yang menyela." Nadanya tegas, tapi tak tergesa, nada orang yang tahu cara menunggu. "Boleh aku minta kontakmu? Tanpa komitmen apa pun. Hanya dua orang yang bertemu lagi setelah sepuluh tahun."

Kuterima kartu itu. "Bima Aryasatya", dan jabatan diplomatik di bawah namanya, di atas kertas tebal yang mahal, sederhana. Kupegang di antara jemariku, merasakan berat kecil dari sebuah keputusan yang jauh lebih besar daripada sebuah nomor telepon.

Aku masih menikah. Di atas kertas. Dan di sana, di halaman sebuah sekolah, pada hari pertama masuk, seorang lelaki yang kurawat neneknya sepuluh tahun lalu memandangku seperti tak pernah ada yang memandangku dalam enam tahun, dan meminta, dengan segala kelembutan di dunia, izin untuk mendekat.

Aku memegang kartu itu tanpa menjawab, dan sunyinya mulai menjadi terlalu panjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!