NovelToon NovelToon
Dari Benci Jadi Rindu

Dari Benci Jadi Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:827
Nilai: 5
Nama Author: Aulia Cemmzz

Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siska Mencari Celah

Keesokan paginya Laras berjalan masuk ke gerbang sekolah dengan perasaan yang masih sedikit gelisah.

Dia berharap bisa bertemu Arka seperti biasa, tapi sekaligus takut kalau sikapnya terlihat terlalu mencolok. Namun baru saja dia melangkah ke koridor utama, Siska muncul tiba-tiba di depannya bersama dua orang temannya.

"Senang banget ya lu kemarin? Dijemput pakai payung, jalan berdua di bawah hujan. Pemandangan romantis banget sampai yang lain iri melihatnya," ucap Siska dengan nada menyindir tajam.

Laras menghela napas, mencoba tetap tenang. "Lu salah paham. Hujannya tiba-tiba deras, Arka cuma berbaik hati nemenin gue sampai dekat rumah. Itu semua kebetulan saja."

"Kebetulan? Kalau memang cuma kebetulan, kenapa lu wajahnya merah banget pas dilihat orang? Dan kenapa Arka sampai sekarang nggak pernah menolak lu? Lu pasti pakai cara-cara licik supaya dia kasihan sama lu kan?" tuduh Siska semakin keras.

"Lu boleh mikir apa pun yang lu mau, tapi gue nggak pernah memanfaatkan rasa kasihan siapa pun. Arka berteman sama gue karena dia mau, bukan karena gue paksa. Sekarang tolong kasih jalan ya, gue mau masuk kelas," jawab Laras tegas, lalu mencoba melangkah melewati mereka.

Tapi salah satu teman Siska sengaja menyenggol bahu Laras hingga buku yang dipegangnya jatuh ke lantai. Mereka tertawa kecil melihat Laras berlutut mengambilnya sendiri.

"Pelan-pelan saja, jangan terburu-buru. Ingat posisi lu, jangan terlalu berharap pada bintang yang bukan milik lu," bisik Siska saat lewat di samping Laras.

Laras menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia tahu kalau dia menangis di sini, Siska akan merasa menang. Dia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menyeka sudut matanya yang terasa hangat, dan berjalan masuk ke dalam kelas dengan langkah yang tegap.

Saat istirahat tiba, Laras sengaja tidak pergi ke kantin. Dia duduk sendirian di perpustakaan, menatap jendela sambil memeluk buku yang belum dibukanya. Pikirannya berkecamuk. Mungkin benar kata Siska.

Mungkin dia memang berharap pada sesuatu yang tidak seharusnya. Arka itu populer, banyak gadis yang menyukainya. Dan dia? Hanyalah gadis biasa yang kebetulan satu kelompok tugas dengannya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Laras buru-buru menyeka matanya dan berpura-pura membaca buku.

"Lu di sini ternyata. Gue cari dari tadi ke mana-mana," suara itu terdengar lembut dan akrab. Itu Arka.

Laras tidak menoleh. "Kenapa lu cari gue? Nanti orang salah paham lagi."

Arka duduk di kursi di hadapannya. "Biarkan orang salah paham. Yang penting gue tahu apa yang benar. Lu kenapa? Matanya merah, ada yang menyakiti lu?"

Laras mengangkat bahu. "Nggak ada apa-apa. Cuma sedikit lelah saja, itu saja."

Arka terdiam sejenak, lalu mengeluarkan dua bungkus roti dan satu botol susu dari tasnya, lalu meletakkannya di meja di depan Laras.

"Makan dulu. Gue tahu lu belum makan dari tadi pagi. Kalau Siska atau siapa pun yang bikin lu sedih, jangan simpan sendirian. Lu berhak cerita ke gue, gue siap dengar kapan pun lu butuh. Gue nggak akan ke mana-mana, Laras."

Kata-kata itu begitu menenangkan hingga Laras hampir menangis lagi, kali ini karena rasa terharu yang mendalam. Dia menatap mata Arka yang tulus, dan di saat itu dia sadar bahwa apa pun yang dikatakan orang lain, dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak hubungan pertemanan berharga ini.

"Makasih ya, Ka. Lu memang selalu tahu kapan gue butuh dukungan," ucap Laras pelan sambil tersenyum tulus.

Arka tersenyum balik, senyum yang hanya dia tunjukkan untuk Laras. "Makanlah, nanti masuk kelas telat lho."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!