NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:146.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Gemuruh angin malam merayap dari lembah pinus, membawa kabut dingin yang perlahan menutupi genteng-genteng kayu ndalem barat Pesantren Al-Anwar. Jam dinding tua di sudut ruangan berdetak konstan, mengiringi sunyi yang teramat lengang di lantai dua.

Reyhan duduk membeku di balik meja kerjanya. Jarinya menggenggam ponsel pintar yang menyala remang. Di kamar sebelah, Rani sudah melipat diri di balik selimut tebal, terlelap setelah lelah menuntut perhatian yang tak pernah terbalas sepenuhnya. Namun Reyhan di sini, terjebak dalam pusaran ingatan yang kian hari kian mencekik dadanya.

Tatapannya terpaku pada satu nama di daftar kontak. Nama yang dulu selalu ada untuknya, kini terasa membentang berjarak ribuan mil. Dengan buku jari yang memutih dan dada yang gemuruh oleh gengsi yang runtuh, ia mengetikkan sesuatu.

Assalamu’alaikum, Naya...

Reyhan menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang tampak tirus dan lelah. Jemarinya kembali menari di atas layar, meluapkan racun penyesalan yang membakar batinnya.

Kamu di mana sekarang, Naya? Saya dengar kamu berada di luar negeri, tapi kenapa nomor ponselmu masih memakai kartu Indonesia? Tolong jawab saya. Saya tahu saya salah... Saya sungguh-sungguh menyesal. Tolong beri saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kita bisa mulai dari awal lagi, Naya. Saya sadar, cuma kamu yang sebenarnya saya butuhkan.

Pesan itu terkirim. Centang dua abu-abu berubah menjadi biru dalam hitungan detik. Jantung Reyhan berdegup kencang, menanti balasan dari sosok wanita yang dulu selalu ia dapati dalam balutan senyum lembut dan kepatuhan yang tulus.

Sementara itu, di sebuah ruang kamar apartemen yang tenang di Kota Dubai, keheningan yang terasa begitu menyejukkan. Ia baru saja menikmati waktu sorenya di balkon apartemen.

Saat melihat layar ponselnya berkedip menampilkan rentetan kalimat dari nomor lama yang sangat ia hafal, tak ada gejolak emosi berlebihan di dada Naya. Tidak ada amarah yang meluap, apalagi tangis duka. Latar belakang pendidikan psikologinya membuat Naya memandang fenomena itu dengan sangat jernih: itu hanyalah manifestasi ego seorang pria yang terguncang saat kehilangan kontrol atas sesuatu yang dulu ia anggap pasti.

Naya menarik napas teratur. Dengan jemari yang sangat tenang dan raut wajah yang sama sekali tak terusik, ia mengetikkan balasan.

Wa’alaikumsalam.

Gus Reyhan, tidak ada yang perlu diperbaiki lagi di antara kita. Keputusan saya melepaskan ikatan ini bukan karena emosi sesaat, melainkan pertimbangan yang sudah selesai dan mutlak. Perceraian kita adalah takdir yang saya syukuri karena membebaskan saya dari kezaliman.

Fokuslah pada hidup Anda saat ini. Ada Rani yang sekarang menjadi tanggung jawab penuh Anda, ada keluarga dan para santri yang membutuhkan teladan Anda. Jangan pernah lagi mengirim pesan atau mencari tahu keberadaan saya. Jangan melukai hati Rani dengan terus menengok ke belakang. Cukup saya yang pernah menjadi korban dari ketidaktegasan Anda. Mengabaikan wanita yang sudah Anda nikahi demi mengejar bayangan masa lalu hanya akan membuat dosa Anda makin menumpuk di hadapan Allah.

Semoga Allah membimbing jalan Anda.

Naya menghentikan ketikannya dan menekan tombol kirim. Tidak ada jeda untuk menanti respons atau membiarkan ruang perdebatan terbuka.

Ia memandangi layar ponselnya sejenak, lalu mendengus pelan dengan senyum tipis yang geli pada dirinya sendiri.

"Bodohnya aku... Kenapa sampai lupa mencabut kartu ini dari kemarin?" gumamnya lirih dalam keheningan kamar.

Tanpa keraguan sedikit pun, ibu jarinya menyentuh layar, memilih opsi Blokir Kontak. Tak berhenti di situ, Naya mengambil alat pembuka slot kartu SIM dari meja riasnya. Dengan gerakan cekatan, ia mengeluarkan kartu seluler Indonesia yang telah menemaninya bertahun-tahun, mematahkannya menjadi dua bagian sehingga chip tembaganya rusak, lalu melemparkannya tanpa beban ke dalam tempat sampah.

Sebagai gantinya, ia memasukkan kartu SIM lokal Dubai yang baru ia aktivasi siang tadi. Ponselnya dinyalakan kembali, menutupi seluruh celah komunikasi dari masa lalu. Naya berdiri, kembali melangkah menuju jendela kaca besar yang menampilkan panorama kemilau gedung-gedung jangkung Dubai di bawah langit senja. Ia merapatkan tubuhnya, menikmati kedamaian hakiki yang baru pertama kali ia rasakan sepenuhnya.

**

Di ndalem barat, Reyhan terpaku menatap layar ponselnya yang mendadak tak merespons. Pesan terakhir Naya terbaca bagai lembaran vonis mati bagi sisa-sisa harapannya. Kalimat-kalimat itu begitu dingin, dewasa, bermartabat, namun sangat menohok. Naya tidak hanya menolak ajakan balikan darinya, tetapi juga menelanjangi kerapuhan egonya secara telak.

"Naya..." bisik Reyhan parau. Suaranya tenggelam dalam gemuruh angin gunung di luar jendela.

Belum sempat rasa sesak di dadanya terurai, pintu ruang kerja mendadak terdorong dari luar. Rani berdiri di sana dengan rambut terurai dan mata sembab. Wajah polosnya kini tertutup raut kecurigaan dan kekecewaan yang tak lagi bisa disembunyikan.

"Mas belum tidur?" suara Rani terdengar serak, ada getaran emosi yang tertahan. "Mas melamun lagi? Masih memikirkan Ning Naya?"

Reyhan mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mematikan layar ponselnya dan meletakkannya tengkurap di meja. "Rani, ini sudah malam. Kembalilah ke kamar."

"Bagaimana Rani bisa tidur kalau suami Rani sendiri pikirannya tidak pernah ada di rumah ini?!" pekik Rani pelan, mengikis jarak menuju meja kerja. Tangannya gemetar menunjuk ponsel Reyhan. "Rani lihat tadi Mas mengetik pesan! Mas memohon-mohon pada Ning Naya, kan?! Mas janji mau membuka lembaran baru setelah kita menikah resmi di KUA, tapi kenapa Mas malah begini?!"

"Cukup, Rani!" bentak Reyhan, berdiri seketika hingga kursi kayunya terdorong ke belakang. "Saya lelah! Jangan menambah beban pikiran saya malam-malam begini!"

"Rani yang lelah, Mas!" air mata Rani menetes mendesak. "Rani yang selalu Mas nomor duakan! Dulu Rani diam karena Rani cuma istri siri. Tapi sekarang Rani sudah sah! Kenapa Mas masih menatap Rani seolah Rani ini racun di hidup Mas?!"

Pertengkaran yang tertahan itu mulai memanas, memecah keheningan lantai dua ndalem. Reyhan mengepalkan tangannya di atas meja, menatap Rani dengan tatapan penuh rasa muak yang tak lagi bisa ditutupi. Rasa bersalah yang dulu mendorongnya meresmikan Rani kini menjelma menjadi beban yang sangat menghimpit.

**

Usai memblokir kontak Reyhan, ada desir kekesalan yang sempat singgah di benaknya—karena keteledorannya sendiri yang menunda mengganti nomor telepon sejak tiba di negeri ini.

Ia menghela napas panjang, merapikan pashmina warna koral yang melingkar anggun di lehernya, lalu mengambil tas selempang kecil di atas meja. Naya merasa butuh menghirup udara luar. Baginya, berdiam diri di dalam ruangan hanya akan memberi ruang bagi sisa-sisa energi negatif dari masa lalu untuk melayang-layang.

Naya memilih berjalan kaki menuju Mohammed Bin Rashid Library, sebuah perpustakaan megah berarsitektur mirip mahakarya kitab terbuka yang berdiri gagah tak jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Bagi Naya, sejak masih menimba ilmu di pesantren hingga menyelesaikan studi psikologinya, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan ribuan rak buku. Tempat itu adalah tempat perlindungan, ruang hening tempat pikirannya bisa berpetualang tanpa harus dihakimi oleh ekspektasi siapa pun.

Langkahnya terasa ringan. Sepatu flats krem yang ia kenakan menepuk halus trotoar bersih Kota Dubai. Tak ada lagi rasa cemas atau beban seolah sedang menggeledah kesalahan diri sendiri—suasana batin yang dulu kerap menghantuinya sepanjang tiga ratus enam puluh lima hari hidup bersama Reyhan di ndalem barat.

Saat melangkah melintasi pintu kaca otomatis perpustakaan, aroma khas kertas-kertas berkualitas, kayu pinus olahan, dan hembusan angin dari pendingin udara langsung menyambutnya. Naya tersenyum tipis. Rasa damai yang hakiki itu kembali mengaliri dadanya.

Ia menyusuri selasar bertingkat dengan rak-rak kayu menjulang tinggi yang memuat literatur dari berbagai penjuru dunia. Jari-jarinya yang lentik menyapu pelan punggung-punggung buku bersampul tebal di rak bagian Behavioral Neuroscience dan Clinical Psychology. Naya mencari beberapa referensi pendukung sebelum kuliah perdana program magisternya dimulai minggu depan.

Ketika sedang berdiri di lorong kategori neuropsikologi, Naya meraih sebuah buku tebal berbahasa Inggris mengenai pemulihan neuroplastisitas pasca-trauma. Baru saja ia hendak membalik halaman pertama, sebuah suara berat terdengar dari balik deretan rak di sampingnya.

"Pilihan literatur yang sangat spesifik untuk bacaan santai di sore hari."

Naya agak tersentak kecil, lalu menoleh.

***

1
bibuk Hannan & Afnan
bukan pendekatan lg prof tp pengalaman pribadi Naya sendiri 🤭🤭
bibuk Hannan & Afnan
oy Rani kamu sebatang kara juga udah dewasa bukan bocah woy elah serasa dunia mau kiamat aja gak punya sandaran, bisa cari kerja sambil nerusin kuliah biar bermartabat drpd jd yg kedua siri pula, sudah tau Gus Reyhan kala itu statusnya sudah menikah mau mau aja dasar pelakor,
bibuk Hannan & Afnan
ekspektasi mu ketinggian Rani,
Naya cerdas berpendidikan dr latar belakang keluarga yg beradab pula, lah kamu sudah orang biasa dgn merebut suami orang berharap dihormati, mimpi, sanksi sosial cap pelakor itu selamanya meski sudah bertaubat tp cap pelakor itu tdk akan hilang,
bibuk Hannan & Afnan
Al Fatih, duh nama belakangnya sama dgn mantan euy 🤭
bibuk Hannan & Afnan
bersedekah tangan?
maksudnya bersedekap tangan kali ya thor, masa bersedekah 🤭🤭
cecla9
biar cepet mereka bersatu
cecla9
jangan klamaan ah
Shinta Syawal
mana bab selanjutnya
enungdedy
heleh...gak jelas nih si reyhan
klo gk cinta knp gk dilepas aja sekalian rani
malah dijemput sruh kembali..kesenengan kan tuh sih rani jadinya..
enungdedy
trus hub rani sm reyhan gmn tuh?msih sah suami istti belum?krn rani pergi tnpa ada kata talak dri reyhan
enungdedy
knp gk dilepasin aja sih rani klo emg gak cinta gus
Anonim
Baper aku
enungdedy
kpn gak ditalak aja si rani klo emg reyhan mau mempertahannkan naya
enungdedy
dri kmrin maju mundur mau baca novel.ini..gk taunya bagus bgt🤭
Mundri Astuti
klo ibarat kata...si Rayhan jiwa" playboy, nah klo zeyad laki" sejati
Agnezz
btw knapa judul2 bab dihilangkan? padahal memudahkan untuk ingin membaca bagian tertentu.
bibuk Hannan & Afnan
pantesan mau mau aja dijadikan kedua secara siri, agresif

emang bener ya pelakor itu tdk harus cantik semok yg penting menggatal
Agnezz
Zeyad bener2 memperlakukan Naya dengan gentle ya, tidak memaksakan Naya untuk menerima dirinya, selalu memberikan ruang untuk Naya bisa menata hatinya. Zeyad menanti Naya dengan sabar. Beda sekali dengan Rayhan. Karena Rayhan merasa perjodohan masa kecilnya adalah bentuk pasungan atas kebebasannya ( bab 11) maka dia menyambut wanita pilihan orang tuanya dengan dingin. Padahal wanita pilihan orang tua adalah yg terbaik yg sepadan dengan Rayhan.
bibuk Hannan & Afnan
gak sopan si Rani gak mau sowan dulu, minimal baik sikapmu lah setelah apa yg kalian perbuat perbaiki akhlak kalian muhasabah diri
bibuk Hannan & Afnan
serendah-rendahnya seorang pelac*r lebih rendah lg wanita yg merusak rumah tangga orang lain, itulah wanita macam jin Dasim, sebelum menerima ikrar ijab qobul dr Gus Reyhan seharusnya kamu menolak Rani kan kamu sudah tau klo Gus Reyhan baru sebulan melangsungkan akad serta pesta pernikahan dgn Naya tp kamu tetap menerima mau mau saja dijadikan yg kedua siri pula, TDK punya harga diri sekali jd wanita, mencintai karena Allah konon pret lah 😄😄

jd inget artis penyanyi religi yg itu jd istri siri selama dua tahun baru terungkap, giliran terungkap jawaban klise khilaf pret lah khilaf apa doyan masa khilaf smpe dua tahun😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!