Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
_____🌺
Di ruang keluarga.
Mbok Minah sudah duduk menunggu dengan botol minyak urut berbau cengkeh yang sangat menyengat. Nisa hanya bisa pasrah saat tubuhnya disuruh berbaring di atas karpet bulu kesayangan mertuanya.
"Nah, Mbok, tolong dicek ya perut menantu saya ini. Kayaknya semalam dia baru aja berhasil dibuahi gara-gara minum jus delima Himalaya. Tolong dipijat biar posisinya mapan dan mantap menempel di dalam," titah bu Ratna.
Mbok Minah mengoleskan minyak urut ke perut Nisa. Baru saja tangannya menekan pelan bagian bawah pusar Nisa, wanita muda itu langsung menjerit keras.
"Aduh! Sakit, Mbok! Jangan ditekan situ, mules banget rasanya mau ke belakang lagi!" jerit Nisa sambil memegangi tangan Mbok Minah erat-erat.
"Loh, kok keras banget begini perutnya, Neng Nisa? Ini mah bukan tanda-tanda hamil muda, Bu Ratna. Ini mah kayaknya ususnya melilit kena infeksi bakteri pencernaan. Neng Nisa habis makan makanan basi atau asam banget ya semalam?" tanya Mbok Minah dengan wajah bingung, tangannya merasakan perut Nisa yang menegang kaku.
Bu Ratna langsung melotot. "Sembarangan aja kamu, Mbok! Ini tuh efek obat herbal mahal dari pegunungan Himalaya! Harga sebotolnya tiga setengah juta! Mana mungkin ada bakterinya? Itu pasti posisi rahimnya yang lagi ngebentuk ruang buat bayi!"
"Bukan, Bu. Ini beneran beda. Kalau rahim yang bagus itu dipegang kenyal dan hangat. Ini mah perutnya tegang kayak kram usus. Mending dibawa ke klinik aja, Bu. Takutnya dehidrasi kalau mencret terus-terusan begini dari subuh," saran Mbok Minah, jujur berdasarkan pengalamannya selama puluhan tahun memijat orang.
Nisa langsung mengangguk setuju dengan cepat. "Tuh kan, Ma! Nisa bilang juga apa. Jus dari Koh Aseng itu pasti ada yang nggak beres. Nisa mau ke klinik aja sekarang, nggak kuat ini perut Nisa rasanya melilit parah banget."
Mendengar saran dari ahlinya langsung, nyali bu Ratna mulai sedikit ciut, namun gengsinya tetap nomor satu.
"Masa sih, Mbok? Jangan nakut-nakutin saya dong. Ya udah, kita periksa ke klinik sekarang. Tapi awas ya, kalau dokternya bilang Nisa beneran hamil, Mbok Minah nggak saya kasih bayaran penuh hari ini gara-gara salah diagnosis!"
_____🌺
Di tempat lain yang jauh dari rumah, Dimas sedang mengalami siksaan dunia yang tak kalah menyedihkan. Di ruang rapat kantor yang ber-AC sangat dingin, ia duduk dengan posisi menjepit kedua pahanya rapat-rapat. Keringat dingin terus mengucur menuruni pelipisnya.
Pak Cokro sedang berdiri di depan layar proyektor, menjelaskan grafik penjualan dengan suara baritonnya yang menggelegar.
"Jadi, strategi pemasaran kita bulan ini harus lebih agresif. Kita harus jemput bola ke klien, jangan cuma duduk manis menunggu di belakang meja. Paham semua?" tanya Pak Cokro sambil menatap tajam ke arah stafnya satu per satu.
"Paham, Pak!" jawab seluruh karyawan serempak, kecuali Dimas yang hanya menunduk sambil menggigit bibir bawahnya menahan gejolak di dalam perutnya.
"Dimas! Kamu paham tidak apa yang saya jelaskan barusan? Kenapa dari tadi posisimu duduk membungkuk terus? Kamu tidak menghargai saya yang sedang bicara di depan?" tegur Pak Cokro tajam, merasa diabaikan.
Dimas mengangkat wajahnya yang sudah sepucat kapas. "Paham, Pak Cokro. Sangat paham. Tapi, Pak, mohon maaf sebelumnya, bolehkah saya izin ke toilet sebentar saja, Pak? Perut saya benar-benar sangat darurat ini, Pak. Sudah di ujung tanduk krisisnya."
Bagas yang duduk di sebelahnya langsung menahan tawa sampai bahunya bergetar hebat. "Wah, bahaya ini, Pak Cokro. Kayaknya bom waktu di perut Dimas udah mau meledak hitungan detik. Kalau nggak dikasih izin, bisa-bisa karpet ruang rapat ini jadi korban tragedi."
"Kamu ini, Dimas! Kemarin rapat tidak fokus mikirin jus delima Himalaya, sekarang rapat minta izin ke toilet! Kamu niat kerja atau tidak sebenarnya di perusahaan ini?" omel Pak Cokro dengan urat leher menonjol.
"Sumpah, Pak, ini gara-gara jus delima Himalaya itu saya jadi begini! Tolonglah, Pak, lima menit saja saya selesaikan hajat saya. Kalau Bapak tahan terus, saya bisa resign hari ini juga gara-gara malu seumur hidup!" Dimas memohon dengan wajah memelas yang sangat menyedihkan.
Melihat kondisi karyawannya yang benar-benar tampak seperti orang sekarat di medan perang, Pak Cokro akhirnya mengibaskan tangannya dengan kasar.
"Ya sudah, sana cepat! Jangan lama-lama! Lima menit kamu belum kembali, saya potong gaji kamu buat bayar denda keterlambatan rapat!"
Dimas langsung melesat berdiri dan berlari kencang keluar dari ruang rapat bagaikan atlet lari maraton memperebutkan medali emas olimpiade. Ia tak peduli lagi dengan tatapan heran rekan-rekan kerjanya yang lain. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah kloset putih yang indah dan menenangkan.
_____🌺
Sore harinya, saat Dimas pulang kerja dengan tubuh yang nyaris kehilangan seluruh nyawanya, ia menemukan istrinya sedang duduk santai di sofa sambil menonton TV sambil makan bubur hangat.
Wajah Nisa sudah jauh lebih segar dari pagi tadi. Sementara itu, Ibu Ratna terlihat duduk merengut di kursi pojok dengan wajah ditekuk sedalam-dalamnya.
"Gimana hasilnya ke klinik tadi siang, Nis? Dokter bilang apa soal perut kita ini?" tanya Dimas sambil melempar tas kerjanya sembarangan ke atas meja tamu dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Nisa tersenyum tipis ke arah suaminya, lalu melirik ke arah mertuanya yang masih cemberut masam.
"Kata dokter kita berdua kena infeksi bakteri E. coli yang cukup parah, Mas. Terus tadi dokternya penasaran kita berdua habis makan apa sampai bisa keracunan berbarengan begini. Ya udah, aku ceritain aja kita habis minum jus delima Himalaya dari Koh Aseng seharga tiga setengah juta."
"Terus? Dokternya kaget denger harganya yang fantastis itu?" tanya Dimas penasaran.
"Bukan kaget lagi, Mas. Dokternya malah ketawa ngakak sampai nangis," jawab Nisa santai sambil menyendok buburnya.
"Ternyata, jus delima botol kayu dari Koh Aseng itu cuma jus delima pasar biasa yang ditambahin pewarna makanan sama obat pencahar dosis tinggi biar yang minum pada mencret. Koh Aseng sengaja ngasih obat pencahar biar orang-orang mikir itu proses detoksifikasi buang racun padahal mah dibohongin."
Dimas terbelalak kaget. "Hah?! Obat pencahar?! Pantesan ususku rasanya dipelintir habis-habisan seharian ini! Wah, kurang ajar bener itu si Aseng! Tiga setengah juta buat obat pencahar doang?! Besok aku labrak tokonya sekalian lapor polisi pasal penipuan herbal palsu!"
Bu Ratna yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara dengan suara yang jauh lebih pelan dari biasanya.
"Nggak usah dilabrak, Dim. Tadi siang habis dari klinik, Mama udah mampir duluan ke toko Koh Aseng bawa preman pasar dari terminal depan. Tokonya udah Mama obrak-abrik sampai etalasenya pecah berantakan. Uang tiga setengah juta kamu juga udah Mama tarik paksa balik dari mesin kasirnya buat bayar biaya dokter kalian tadi."
Nisa dan Dimas saling berpandangan dengan mulut terbuka lebar. Mertua mereka ini memang benar-benar wanita tanpa tanding. Gagal mendapat cucu, tapi berhasil menjadi pahlawan pemberantas penipuan berkedok obat herbal di kompleks mereka hari ini juga.
"Terus sekarang uang sisanya di mana, Ma? Kan biaya dokter cuma habis ratusan ribu doang," tagih Dimas cepat.
"Uangnya Mama pakai buat beli perhiasan kalung emas model baru di sebelah tokonya Koh Aseng! Hitung-hitung ganti rugi biaya syok terapi mental Mama hari ini gara-gara gagal dapat cucu! Makanya, lain kali jangan gampang ketipu beli barang aneh-aneh dari luar!" omel bu Ratna.
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh