NovelToon NovelToon
DUDAKU ANAK DUA

DUDAKU ANAK DUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Duda
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serasa disidang

Pukul sebelas malam, rumah Rania mendadak ramai dengan kedatangan kakak-kakaknya.

Aryo dan istrinya, Maya, tiba paling pertama dari Jogja. Disusul Tristan, kakak ketiga Rania, yang datang dari Surabaya. Terakhir, Nadia, mamanya Galang, tiba dari Seoul, Korea Selatan.

"Duduk, Ra." titah Aryo serius, menunjuk karpet di ruang keluarga sementara ketiga kakaknya duduk berjajar di sofa. Tristan mengambil tempat di sofa single.

"Apaan, sih. Kayak mau diadili aja." gumam Rania, tapi tetap menurut.

"Aku duduk di mana, Pakde?" tanya Galang.

"Sini sama Mama, sayang." jawab Nadia lembut, membuat Rania melotot kecil.

"Ini namanya diskriminasi sosial. Aku disuruh deprok kayak babu, Galang bisa duduk di sofa?" protes Rania sambil mengerucutkan bibir.

"Kamu diem dulu, Ra." tukas Nadia tajam.

Rania cemberut.

"Langsung aja, Mas." Tristan memberi isyarat, membuat Aryo mengangguk.

"Apa sih, rame-rame gini?" gumam Rania bingung. Rasanya seperti akan diinterogasi.

"Rania, jawab Mas dengan jujur. Mas dengar kamu lagi dekat sama seorang duda."

Bener itu, Dek? tanya Aryo, serius.

"BENER!" potong Galang tiba-tiba, membuat Rania melotot kesal pada keponakannya.

Semua mata kini tertuju pada Galang.

"Gak, ya!" sanggah Rania cepat. Wajahnya jelas-jelas menunjukkan kepanikan.

"Ra, kita nggak akan marah kalau kamu memang lagi pacaran atau deket sama duda. Nggak apa-apa. Perasaan nggak bisa dipaksakan, Dek. Dengan siapa kita jatuh cinta itu hal lumrah. Tapi kita mau tahu kamu deket sama siapa. Biar jelas." sahut Nadia dengan nada lembut.

"Kalau perlu nikah langsung aja!" sambung Tristan cepat. "Pacaran sama laki-laki yang umurnya di atas kamu terlalu berisiko kalau nggak langsung nikah. Mas nggak mau ada hal-hal yang nggak diinginkan terjadi sebelum kamu nikah."

"Siapa orangnya, Dek? Biar Mas bisa atur pertemuan keluarga secepatnya." kata Aryo serius.

Rania melongo. "Nggak ada, Mas, Mbak. Lagian kalian denger omong kosong itu dari mana, sih?"

Aryo, Maya, dan Tristan sontak menoleh ke arah Nadia, membuat Rania ikut melirik penasaran.

"Tadi siang, di telepon, Mbak denger kamu lagi deket sama duda, Ra." jawab Nadia santai.

"Hah? Jadi cuma gara-gara itu kalian semua langsung datang?" Rania sampai speechless dengan reaksi keluarganya yang kelewat protektif.

"Ini penting buat masa depan kamu, Ra." sahut Maya sambil tersenyum tipis, seolah merasa lucu melihat kepanikan Rania.

"Ya ampun, kalian ngapain sih? Mana ada aku deket sama duda. Kalau pun ada, juga nggak perlu kalian sampai balik semua ke Jakarta." gerutu Rania setengah kesal setengah tak percaya.

"Jadi nggak ada, apa nggak mau ngaku?" Aryo menatapnya dengan mata menyipit, mencoba memastikan.

"Nggak ada! Sumpah!" jawab Rania dengan penuh keyakinan.

Galang yang dari tadi menonton drama keluarganya hanya bisa menahan tawa melihat kercuhan ini.

"Yang jujur, Ra." desak Nadia masih belum sepenuhnya percaya.

"Ya nggak ada, Mbak! Sumpah, elah." Rania mengangkat kedua tangannya dengan wajah frustrasi.

Ketiga kakaknya saling pandang, sementara Nadia menghela napas panjang. "Kalau nggak ada, ya udah. Tapi kalau memang ada, kasih tahu kita. Biar nggak salah paham begini."

"Iya, iya. Tapi serius, Mbak. Nggak ada apa-apa. Aku masih enjoy sendiri, kok." balas Rania dengan nada meyakinkan.

Tristan bersandar santai di sofa single-nya. "Baguslah kalau gitu. Tapi kalau kamu tiba-tiba ngenalin duda tajir, kasih tahu dulu biar kita siapin acara lamaran yang proper."

Rania hanya mendengus sebal. "Kalian semua lebay banget, sumpah."

Sementara Galang hanya cekikikan di sudut ruangan, menikmati kehebohan keluarganya yang terlalu protektif.

...****************...

"Mau ke mana kamu, Tristan?" tanya Aryo saat melihat Tristan hendak keluar, padahal sudah tengah malam.

"Ketemu teman lama, Mas. Mumpung lagi di Jakarta." jawab Tristan santai.

Aryo mengangguk sedikit, lalu menatap adiknya dengan serius. "Oh ya. Kamu belum ada rencana balik ke Jakarta? Mas mulai khawatir sama Rania. Setidak-tidaknya kalau kamu sudah stay di Jakarta lagi, ada yang ngawasin dia."

Tristan menghela napas pendek, paham dengan kekhawatiran kakak sulungnya. Sejak orang tua mereka meninggal, Aryo memang mengambil peran sebagai pengganti kedua orang tua mereka.

"Sebulan lagi, Mas. Aku bisa balik ke Jakarta. Urusan di Surabaya mulai stabil." jawab Tristan. Selama ini, dia memang tinggal di Surabaya untuk mengurus bisnisnya yang baru berkembang.

Aryo mengangguk mengerti. "Mas juga mau bujuk Nadia buat balik. Sudah saatnya dia kembali ke sini."

"Jangan dipaksa, Mas. Kita tahu gimana lukanya Nadia di sini." ucap Tristan sambil menepuk bahu Aryo, mencoba menguatkan.

Aryo menghela napas panjang. "Iya, Mas tahu. Tapi keluarga kita sudah terlalu jauh satu sama lain. Mas pengennya kalian bertiga kumpul."

"Aku ngerti, Mas. Kita pelan-pelan aja, ya." Tristan tersenyum kecil lalu pamit pergi.

Di kamarnya, lagi-lagi Rania diinterogasi oleh Nadia.

"Bener nggak lagi deket sama duda?" tanya Nadia.

"Nanti kalau aku lagi deket sama duda, Mbak yang pertama aku kabarin." jawab Rania asal sambil memainkan ponselnya.

"Dari sekian banyak pria matang, kamu kepincutnya sama duda. Nggak pernah Mbak bayangin sebelumnya." Nadia menggeleng dengan tawa kecil.

"Belum tentu kepincut." balas Rania santai.

"Tapi ada kemungkinan?" Nadia menatap serius, mencari celah kebenaran.

Rania hanya mengangkat bahu dengan acuh. "Mungkin aja, tapi kan nggak sekarang. Udah, Mbak sana ke kamar Galang. Ngapain malah kepoin aku. Mumpung Mbak di sini, ngobrol sana sama anak Mbak."

Nadia menghela napas, lalu mengangguk. "Iya, iya..." katanya sambil melangkah keluar dari kamar Rania.

Begitu membuka pintu, Nadia melihat

Galang mengendap-endap di lorong dengan helm full face di tangan. Tingkah anak itu membuat Nadia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Bocah itu. Makin nakal ternyata."

"Galang!" panggil Nadia dengan nada tegas.

Galang membeku di tempat, matanya melebar. "Sial... Mama kenapa belum tidur, sih?" gumamnya pelan.

"Mama manggil kamu." Nadia melangkah mendekat dengan tatapan penuh kecurigaan.

Galang menoleh dan langsung memasang senyum andalannya. "Eh... ada Mama cantikku ternyata."

"Nggak usah gombal. Mau ke mana kamu malam-malam begini?" tanya Nadia sambil menyilangkan tangan di dada.

"Galang mau beli jajan." kilah Galang dengan nada sok santai.

"Bohong. Jajan kamu di rak dapur masih banyak. Mau balapan, ya?" tebak Nadia dengan tatapan menghakimi.

Galang langsung cemberut. "Izinin ya, Ma. Ya?" pintanya sambil bergelanyut manja di lengan Nadia, berharap bisa meluluhkan hati sang mama.

"Kenapa harus Mama izinin?" Nadia mengangkat alis, menunggu penjelasan yang masuk akal.

"Ehm... karena balapan bikin Galang lebih fokus saat menghadapi musuh." jawab Galang cepat, asal ngomong tapi berharap terdengar masuk akal.

Nadia mendengus geli. "Jadi, kamu mau bilang balapan itu latihan fokus?"

Galang mengangguk cepat. "Iya! Biar nanti Galang jadi orang yang punya konsentrasi tinggi. Gitu."

"Alasannya nggak masuk akal. Nggak boleh. Udah tengah malam, Galang harus tidur." tegas Nadia sambil menarik helm dari tangan Galang.

Galang mendesah kesal. "Yah, Mama ini nggak seru."

"Yang nggak seru itu kamu. Anak remaja bukannya tidur malah mau balapan tengah malam." omel Nadia sambil menepuk pelan kepala Galang. "Udah, masuk kamar sekarang."

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍👍👍
Sri Supriatin
Semangat upnya thor semoga sukses kontraknya🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Buru buru pindah rumah terus tancap gas, untuk gaet ibu sambung Zidan dan Kenzie
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Kenzie baru sehari semalam.sudah suka sama Rania
Sri Supriatin
Semangat Arkan 💪💪💪😍😍😍
sunaryati jarum
Pas tuh Zidan,kamu sudah kenal
sunaryati jarum
Anak kecil diajak ngomong yang tidak benar
sunaryati jarum
Perkataan Zidan kok kasar dan tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
sunaryati jarum
Baru mampir
Noona Rara: Makasih sudah mampir kak
total 1 replies
Sri Supriatin
Top upnya thor tjs 🙏🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
Arkan g mau kok ngamuk🤭🤭🤭
Yunita Asep
yess kerren banget.. thorr.. lanjuutt...!!
Yunita Asep
🤭🤭
Yunita Asep
kaya sekar Rania, cepas ceploss
Yunita Asep
lanjutkAn
Yunita Asep
yess dah.. setuju...
Sri Supriatin
Seruuu dong ada Luna pasti kalah lah anak2 pro Rania🤭🤣🤣🤣🤣
Yunita Asep
ngawur Rania 😄😄😄
Sri Supriatin
Hadeuh Arkan aya2 wae 😄😄😄
Yunita Asep
lanjuutt,..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!