NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

POV: Amelia

Ruangan itu berbau sampanye dan bunga-bunga mahal. Butuh beberapa detik sebelum aku sadar bahwa semua tatapan itu bukan tatapan menyambut.

Arga berdiri di tengah ruangan, berjas gelap, segelas anggur di tangannya. Di sampingnya, dalam gaun merah dengan perut yang sudah tampak menonjol di balik kainnya, berdiri seorang perempuan yang kukenal dari foto-foto kolom gosip, aktris yang baru merintis karier. Priska Nugraha. Dan tangan suamiku bertengger di punggungnya seolah itu tempat yang paling wajar di dunia.

Bu Ratna, ibu mertuaku, yang pertama melihatku. Dia berjalan ke arahku dengan senyum orang yang sudah lama menunggu saat ini.

"Amelia, senang sekali kamu datang. Duduklah di pojok sana, Sayang. Malam ini milik keluarga yang sebenarnya."

"Malam apa ini, Bu Ratna?"

"Kamu akan suka. Atau tidak." Dia menyentuh lenganku dan merendahkan suara, manis dan beracun. "Setiap perempuan harus tahu kapan waktunya turun panggung dengan terhormat. Itu bakat yang langka. Kita lihat apa kamu punya."

"Saya tidak mengerti maksud Ibu."

"Nanti kamu mengerti." Dia menjauh, dan aku sadar dia sudah menunggu ini, menyusun dan menikmati setiap detailnya.

Sebelum aku sempat mencerna, lampu-lampu ruangan meredup. Layar lebar menyala di belakang Arga. Lalu atap kaca terbuka ke langit Jakarta, dan kembang api pun meledak.

Berhamburan bagai air terjun di atas Sudirman, emas, merah, satu demi satu, persis seperti yang dia janjikan tiga tahun lalu. Sesaat seluruh jantungku membumbung, karena kukira, sungguh kukira, semua itu untukku. Tanganku meraba saku, ke arah alat tes itu, mulutku sudah terbuka untuk mengucapkan kalimat yang kulatih sepanjang jalan.

Lalu Arga mengangkat gelasnya ke arah Priska, dan suaranya memenuhi ruangan lewat mikrofon.

"Malam ini aku ingin bersulang untuk perempuan yang akan memberiku anak pertamaku."

Ruangan bertepuk tangan. Priska mengusap lengkung perutnya sendiri dan tersenyum ke arah kamera. Seorang asisten lewat di dekatku membawa map terbuka, dan di layar besar aku melihat hasil USG dengan sebuah nama tercetak di sudutnya. Namanya.

Kakiku lemas dan ruangan serasa berputar. Satu tanganku bertumpu pada meja, sebisa mungkin tak terlihat, lalu kutelan apa pun yang naik ke tenggorokan. Aku bertekad tak akan memberi mereka tontonan itu.

Aku berjalan ke tengah ruangan dengan kaki yang bukan milikku. Orang-orang memberi jalan, ada yang penasaran, ada yang iba, dan rasa iba itu lebih menyakitkan dari semuanya. Arga melihatku datang dan raut wajahnya tidak berubah, dan itulah yang meretakkan sesuatu dalam diriku, lebih dari kembang api dan perut perempuan itu. Dia tidak terkejut, tidak pula canggung. Dia sengaja memanggilku ke sini, dengan gaun gelap, untuk menonton.

"Kamu membawaku ke sini untuk ini," kataku pelan, hanya untuknya.

"Ya." Dia meletakkan gelas di nampan pelayan. "Lebih baik kamu tahu dariku daripada dari media."

"Kita sudah tiga tahun mencoba punya anak, Arga."

"Kamu yang mencoba." Suaranya datar, tanpa amarah, dan itu lebih sakit. "Aku hanya membiarkanmu mencoba."

Kalimat itu menembusku seperti air es. Di sampingnya, Priska memainkan rambut dengan bosan, yakin dirinya sudah menang.

"Jangan bikin keributan, Sayang," katanya pada Arga, cukup keras supaya aku dengar. "Dia tahu apa risikonya waktu menikah denganmu."

"Aku menikah karena cinta," kataku.

"Kamu menikah dengan miliarder." Bu Ratna menyela, merapat lagi ke sisiku, parfumnya membuat perutku bergolak. "Tiga tahun kamu menikmati rumah besar, mobil, dokter pribadi, demi mengejar kehamilan yang tak pernah datang. Alam itu bijak, Nak. Tuhan tidak memberi anak pada orang yang tidak pantas jadi ibu."

Tanganku mengepal sendiri di dalam saku, di atas alat tes dengan dua garis itu. Aku datang membawa jawaban atas semua ini terlipat di jaketku, dan sekarang itu menjadi sesuatu yang harus kujaga dengan nyawa.

Sekali lagi kutatap Arga. Di wajahnya kucari pria yang dulu menempelkan dahi ke dahiku di dini hari dan menjanjikan kembang api. Tidak kutemukan. Yang kutemukan seorang asing berjas bagus.

"Aku mau cerai," kataku pelan.

Dia tersenyum singkat, hampir seperti kasihan.

"Kamu tidak menginginkan apa-apa, Lia. Kamu tidak punya apa-apa. Pulanglah. Kita bicara kalau kamu sudah lebih tenang."

Pulanglah. Seolah rumah itu milikku, seolah ada satu hal saja di dunia itu yang milikku.

Aku tidak melempar alat tes itu ke meja. Itu hal tersulit yang pernah kulakukan, dan yang paling benar. Kalau kuungkap di sana, di depan Bu Ratna, di depan kamera, anak ini detik itu juga berhenti jadi anakku. Dia akan jadi pewaris, jadi alat tukar, jadi alasan untuk mengurungku selamanya. Bayi Wiratama bernilai emas bagi orang-orang itu. Dan aku tidak akan menyerahkan anakku pada mereka.

Maka kukepalkan tangan di dalam saku, kuangkat daguku, dan aku berjalan pergi. Hak sepatuku mengetuk lantai seperti musik latar, kembang api di luar masih meledak untuk perempuan lain, dan para wartawan memotret seorang istri yang pergi sendirian, belum paham apa yang sedang mereka abadikan.

"Amelia," Bu Ratna memanggil di belakangku, semanis madu beracun. "Hati-hati di tangga, Sayang. Dalam kondisi emosimu sekarang, jatuh itu mudah sekali."

Aku tidak menoleh.

Di mobil, sopir yang salah itu mengantarku kembali ke Pondok Indah tanpa sepatah kata. Kusandarkan dahi di kaca dan kubiarkan kota lewat dalam kabur. Sepanjang jalan kutahan tangisku, karena aku tak mau memberi mereka bahkan air mataku. Baru ketika lampu-lampu rumah itu muncul di ujung jalan, tinggi dan putih, gerbang otomatisnya membuka pelan untuk menelanku lagi, aku menangis.

Aku masuk. Bi Ningsih menungguku di dapur sambil memegang secangkir teh, wajahnya cemas.

"Ibu sudah tahu," katanya. Bukan pertanyaan.

"Sudah."

"Lia." Itu pertama kalinya dia memanggilku begitu, tanpa embel-embel "Bu". "Pergilah dari rumah ini."

"Pergi ke mana, Bi Ning? Semua rekening atas nama dia. Semua kartu milik dia. Mobilnya pun milik dia. Aku bahkan tidak punya ongkos naik bus yang tidak lewat namanya."

Dia mendekat dan menggenggam tanganku, tangannya gemetar.

"Pergi saja. Bawa tas seadanya. Rumah ini punya mata di setiap sudut. Ibu pikir kamera-kamera itu untuk maling?"

Aku bersandar pelan di dinding lorong, dan saat itulah aku melihatnya, akhirnya, benar-benar melihatnya, apa yang selalu ada di sana. Di dekat langit-langit, sebuah lampu merah kecil berkedip. Di depan sana, satu lagi, dan di tangga, satu lagi. Rumah ini mengawasiku bertahun-tahun, dan aku tak pernah menyadarinya karena tak pernah punya alasan untuk kabur.

Kuletakkan tangan di perutku.

Dia boleh menyimpan janjinya, kembang apinya, Priska, dan Bu Ratna. Dia boleh menyimpan semua yang dulu kukira cinta.

Tapi anak ini hanya akan jadi milikku. Dan aku akan keluar dari sini, apa pun harganya.

Lampu merah itu berkedip lagi, seolah mendengar isi pikiranku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!