Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas?
Ayara duduk dengan begitu kaku, sementara Arlan sampingnya tak henti-hentinya sekeliling restoran yang tampak begitu megah. Namun, saai ia melihat sang Kakak, Arlan tiba-tiba saja menjadi gugup.
"Pesan apa saja yang kalian inginkan, jangan sungkan," ucap Althaf tenang sambil membuka daftar menu.
"Arlan, ikut Mbak aja," bisik Arlan.
Ayara pun memesan menu sederhana untuk dirinya dan Arlan, sementara Althaf memesankan beberapa hidangan rekomendasi terbaik restoran tersebut untuk melengkapi meja makan mereka.
Sambil menunggu makanan disajikan, suasana di meja itu sempat hening sejenak sebelum Althaf membuka percakapan untuk meredakan ketegangan Ayara.
"Arlan, ceritakan bagaimana kejadiannya. Bagaimana bisa Bu Merlin menuduhmu mencuri?" tanya Althaf serius, beralih menatap pemuda di depannya.
Arlan meneguk air putih di gelasnya, lalu menceritakan semuanya dengan jujur. "Jadi begini, Bang... Kemarin lusa, ada pelanggan datang mau ganti kampas rem dan oli. Pembayarannya tunai dan uangnya langsung aku taruh di laci kayak biasanya. Tapi pas sorenya, pas tutup bengkel, Bu Merlin ngecek laci dan bilang uangnya kurang dua ratus ribu, dan ada satu set kampas rem baru yang hilang dari etalase. Padahal aku nggak tahu apa-apa!" jelas Arlan.
Althaf mendengarkan dengan seksama, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja. "Apa ada orang lain selain kamu yang memegang kunci laci atau punya akses ke etalase saat itu?"
"Ada, Bang! Namanya Doni. Tapi pas kejadian, dia sempat keluar lama karena disuruh beli makan," jawab Arlan antusias.
"Apa ada cctv di area laci?" tanya Althaf.
"Ada, Bang. Tapi, aku nggak tahu apa mereka bakal ngasih rekaman cctv-nya atay nggak," jawab Arlan.
"Kamu tenang saja, biar Abang yang urus. Nanti kalau Abang butuh bantuanmu, Abang bakal kabarin Kakakmu," ucap Althaf.
"Iya, Bang," balas Arlan.
"Terima kasih banyak, Mas Althaf. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa kalau tidak ada bantuan dari Mas," ucap Ayara tulus, menatap mata Althaf dengan sorot penuh rasa terima kasih.
Althaf menatap balik Ayara lekat-lekat, senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Sudah kubilang, Ayara. Jangan sungkan."
Tak lama kemudian, pesanan makanan pun tiba. Meja makan yang tadinya lengang kini dipenuhi berbagai hidangan lezat. Arlan langsung menyantap makanannya dengan lahap, sementara Ayara makan dengan tenang, meski sesekali ia masih merasa canggung berada di hadapan Althaf.
Setelah menghabiskan makanannya, mereka pun bersiap untuk pulang. Tak lupa, Althaf juga membungkuskan untuk Ibu Yati.
Saat Ayara baru saja berdiri, tiba-tiba seorang wanita paruh baya berbalut gaun batik mewah dengan tas tangan bermerek di lengannya melangkah anggun mendekati meja mereka. Aura berkelas terpancar nyata dari setiap gerak-geriknya, membuat siapa pun yang melihat langsung tahu bahwa ia bukan dari kalangan sembarangan.
Langkah kaki wanita itu terhenti tepat di samping meja Althaf, "Althaf? Kamu kenapa di sini?" tanya wanita tersebut.
"Mama?"
Mendengar Althaf memanggil wanita itu 'Mama' Ayara pun semakin gugup, ia ingin sekali berlari keluar. Walaupun ia dan Althaf tidak memiliki hubungan, namun entah kenapa Ayara merasa gugup.
"Ini kan masih jam kerja, kenapa kamu disini?" tanya Mama Hasna.
"Althaf udah selesain semua urusan kantor, jadi Althaf bisa istirahat," jawab Althaf.
Mama Hasna tidak merespon, ia menatap Ayara dan Arlan yang berdiri tak jauh dari Althaf. "Mereka siapa?" tanya Mama Hasna, pada Althaf.
"Selamat sore, Tante. Saya Ayara dan ini adik saya Arlan, kami sedang meminta bantuan Mas Althaf untuk masalah adik saya," jawab Ayara, merasa tidak enak. Lalu, menyalami tangan Mama Hasna, diikuti Arlan dibelakangnya.
'Mas? Althaf dipanggil, Mas? Sejak kapan dia suka dipanggil seperti itu?' batin Mama Hasna bertanya-tanya.
"Mama sama teman-teman Mama, kan? Jadi, Althaf pamit dulu ya. Ayo, Ra." pamit Althaf, dan mengajak Ayara pergi.
Ayara dan Arlan pun membungkuk sopan, lalu pergi. Mama Hasan sempat menahan tangan putranya untuk meminta penjelasan.
"Siapa dia?" tanya Mama Hasna.
"Calon menantu, Mama. Althaf pergi dulu ya, Ma. Palingan nanti pulangnya telat, mau ketemu calon mertua dulu," ucap Althaf, lalu berlari mengikuti Kakak beradik yang sudah keluar restoran.
"Calon menantu? Akhirnya, aku bakal punya menantu perempuan," gumam Mama Hasna senang.
Althaf yang baru saja keluar restoran segera menghampiri Ayara, "Mas, aku sama Arlan pulangnya pakai taksi aja ya."
Althaf menatap wanita di hadapannya dengan alis terangkat sebelah. "Nggak usah, aku yang antar. Ayo masuk," ajaknya.
Dengan helaian napas pasrah, Ayara akhirnya menunduk dan masuk ke dalam mobil, disusul oleh Arlan yang langsung duduk dengan sumringah di kursi belakang.
Selama perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih cair. Althaf sesekali melemparkan pertanyaan pada Arlan mengenai banyak hal, yang dijawab oleh Arlan dengan begitu antusias.
Tak lama kemudian, mobil Althaf masuk ke dalam kawasan gang sempit tempat tinggal Ayara. Kali ini, kehadiran mobil mewah tersebut tidak lagi terlalu mengejutkan para tetangga, meski beberapa pasang mata tetap melirik penasaran ke arah kendaraan yang berhenti tepat di depan halaman rumah kecil Ayara.
Althaf ikut turun dan membukakan pintu bagasi untuk menyerahkan bungkusan makanan yang ia pesan, "Terima kasih banyak ya, Mas Althaf, untuk semuanya hari ini... makanan, bantuan untuk Arlan dan tumpangannya," ucap Ayara tulus saat berdiri di samping pagar seng rumahnya.
Althaf menatap Ayara lekat-lekat, kilat matanya menyiratkan kehangatan yang kontras dengan pembawaannya yang biasanya kaku dan dingin.
"Sama-sama, Ayara. Ingat, jangan terlalu dipikirkan masalah tadi. Biar saya dan tim yang urus masalahnya Arlan," ucap Althaf.
Ibu Yati yang mendengar suara mobil dari dalam rumah lantas keluar menyambut. Begitu melihat Althaf kembali datang mengantar anak-anaknya, senyum ramah langsung merekah di bibir wanita paruh baya itu.
"Eh, Nak Althaf... Mari masuk dulu, minum teh hangat," sambut Ibu Yati hangat.
"Iya, Bu." jawab Althaf, lalu mengikuti langkah Ibu Yati.
'Ibu, padahal aku nggak suruh masuk biar nggak mampir,' batin Ayara.
Suasana di dalam rumah kecil Ayara mendadak terasa jauh lebih hangat dari biasanya, aroma harum teh manis hangat yang diseduh Ibu Yati menguar memenuhi ruang tamu yang sederhana.
Althaf duduk bersila di atas tikar pandan, tampak begitu menikmati kehangatan keluarga tersebut tanpa sedikit pun menunjukkan rasa canggung atau jijik meski dinding rumah itu hanyalah bata yang belum diplester.
"Silakan diminum, Nak Althaf. Maaf ya, cuma ada wedang teh biasa sama kue jajan pasar seadanya," ucap Ibu Yati ramah sambil meletakkan nampan berisi cangkir di hadapan Althaf.
Althaf tersenyum takzim, lalu menyatukan kedua tangannya di atas meja kecil. "Terima kasih banyak, Bu. Ini justru terlihat sangat nikmat," jawabnya tulus, membuat Ibu Yati tersenyum lebar penuh kelegaan.
Ayara yang baru saja keluar dari dapur membawakan bungkusan makanan dari restoran mewah tadi, merasa salah tingkah melihat betapa cepatnya Althaf bisa beradaptasi dengan kesederhanaan keluarganya.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita