NovelToon NovelToon
Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:47.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”

Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.

Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.

Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.

​Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 21

Arjuna berdiri perlahan dari sofa ruang keluarga dengan wajah yang kembali dingin tanpa ekspresi.

"Kalau nanti mereka sudah pulang, cepat suruh mereka menemuiku," ucap Arjuna tegas.

Ratna mengangguk cepat sambil memaksakan senyuman kaku di bibirnya. "Tentu, Juna. Pasti nanti kami sampaikan."

"Kau sendiri mau ke mana, Jun?" tanya Wina mencoba terdengar santai, meski hatinya mencelos cemas.

"Aku mau ke ruang kerjaku sebentar. Masih ada beberapa berkas penting dari perbatasan yang harus kuselesaikan hari ini," jawab Arjuna datar.

Tanpa menunggu balasan apa pun, Arjuna melangkah meninggalkan ruang keluarga. Langkah kakinya terdengar tenang dan terukur, namun setiap hentakan sepatu pantofelnya di lantai sukses membuat Ratna dan Wina menahan napas rapat-rapat.

Begitu sosok tinggi tegap itu benar-benar menghilang di balik tikungan lorong...

"Hufft... ya ampun, hampir saja jantungku mau copot," desis Wina lega sambil mengusap dadanya yang bergemuruh. Ratna ikut menyandarkan punggungnya ke sofa lemas.

"Untung saja dia tidak sampai curiga berlebihan."

"Iya, Ma. Tadi aku hampir saja keceplosan bilang kalau Nakula sudah pergi sejak semalam."

Ratna melotot tajam. "Makanya kalau mau berbohong itu pakai otak, jangan asal mangap!"

Damar yang sedari tadi hanya duduk mendengarkan percakapan orang dewasa itu mendengus kecil.

"Tenang saja, Ma. Nakula kan anak penakut. Mana mungkin dia berani mengadu macem-macem ke paman."

Mereka bertiga kembali tertawa pelan, merasa situasi sudah aman terkendali. Namun tak seorang pun dari mereka menyadari satu hal, di balik daun pintu ruang kerja utama yang kini sudah tertutup rapat, Arjuna berdiri mematung sendirian dengan raut wajah yang berubah drastis 180 derajat.

Tidak ada lagi topeng ketenangan palsu yang ia pasang di depan tadi.

Tatapan mata setajam elang miliknya berubah sedingin es yang membeku di kutub. Rahangnya mengeras membentuk garis tegas, sementara kedua tangan di sisi tubuhnya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Untung dia tidak curiga?" gumam Arjuna lirih dengan seringai sinis yang mengerikan. "Mereka benar-benar menganggapku sebagai orang bodoh yang bisa dibohongi semudah itu."

Arjuna mengembuskan napas panjang lewat hidungnya untuk meredam gemuruh di dada, lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pribadinya. Nama pertama yang langsung ia hubungi adalah orang paling ia percaya di markas.

"Mayor Dimas."

Tidak butuh waktu lama bagi sambungan itu untuk terhubung. "Siap, Jenderal!"

"Mulai detik ini juga, kerahkan beberapa anak buah terpercaya untuk mengawasi seluruh aktivitas di dalam rumah ini secara ketat," perintah Arjuna tanpa basa-basi.

"Baik, Jenderal. Siap dilaksanakan."

"Pastikan pengawasan ini dilakukan tanpa sepengetahuan siapa pun di dalam rumah."

Mayor Dimas di seberang sana langsung mencatat instruksi penting itu. "Siapa saja target prioritas pengawasannya, Jenderal?"

Arjuna menjawab dengan suara berat penuh penekanan. "Pertama Ratna. Kedua Wina. Dan yang ketiga, keponakanku, Damar."

Suara Mayor Dimas terdengar sedikit terkejut di ujung telepon. "Baik, Jenderal, perintah dilaksanakan."

"Satu hal lagi, Mayor."

"Siap, Jenderal. Apa lagi?"

"Periksa seluruh file rekaman kamera CCTV dari rumah ini selama beberapa bulan terakhir ke belakang tanpa terkecuali."

"Semua rekaman arsip bulanan, Jenderal?"

"Ya, benar."

Arjuna perlahan berjalan menghampiri jendela besar ruang kerjanya. Tatapannya lurus menembus kaca jendela ke arah halaman rumah yang luas.

"Aku ingin tahu apa saja kebusukan yang sebenarnya terjadi di rumah ini selama bertahun-tahun aku sibuk bertugas."

"Siap, Jenderal! Saya juga akan memerintahkan tim IT khusus untuk memastikan tidak ada satu pun file rekaman yang disembunyikan."

"Kalau sampai ada file rekaman yang hilang..."

"Saya akan mengerahkan tim forensik digital untuk memulihkannya kembali, Jenderal."

"Bagus. Laksanakan tugasmu dengan bersih."

Sambungan telepon itu langsung berakhir.

Arjuna memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Semakin banyak fakta ganjil yang ia temukan hari ini, semakin besar pula rasa bersalah yang mencabik-cabik ulu hatinya.

Enam tahun lamanya ia hidup dalam kebodohan, mempercayakan pengasuhan putra kandungnya kepada orang-orang bermuka dua yang salah. Jika semua dugaan visum dan igauan Nakula itu terbukti benar, ia bahkan tidak tahu bagaimana cara memohon ampun dan meminta maaf kepada putranya sendiri.

Pandangan mata Arjuna perlahan beralih, menatap sebuah nama lain yang tertera di layar ponselnya.

Arunika.

Jemarinya sempat menggantung ragu di atas layar selama beberapa detik.

"Aku ingin tahu update perkembangan kesehatan Nakula," gumam Arjuna seolah sedang sibuk meyakinkan nuraninya sendiri.

Tanpa berpikir panjang lebar lagi, ia menekan tombol panggil hijau. Beberapa kali nada dering berbunyi, akhirnya sambungan terhubung.

"Mas Arjuna?" sapa suara lembut dan ceria yang langsung menyapa indra pendengarannya dari seberang sana.

Arjuna sedikit berdeham untuk menjernihkan tenggorokannya.

"Bagaimana keadaan Nakula sekarang?" tanya Arjuna to the point.

Arunika menoleh pelan ke arah ranjang tempat Nakula tidur tenang. "Nakula masih tidur nyenyak, Mas. Kata dokter demamnya sudah mulai turun drastis, tapi kondisi fisiknya memang masih sangat lemah karena kelelahan."

Arunika mendengar suaminya mengembuskan napas panjang penuh kelegaan. "Syukurlah kalau begitu."

"Mas Arjuna sedang berada di rumah utama?" tanya Arunika memastikan.

"Iya, aku sedang di ruang kerja."

"Kalau begitu hati-hati ya, Mas."

Ucapan perhatian sederhana itu sukses membuat Arjuna tertegun di tempatnya berdiri.

"Hati-hati? Maksudmu apa?"

"Iya, aku takut Mas terpancing emosi dan melakukan tindakan gegabah di hadapan mereka."

Arjuna memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik. "Aku sudah berjanji pada istriku, aku akan menahan diri sampai bukti visumnya lengkap."

"Itu baru suamiku yang hebat," puji Arunika.

Kalimat itu kembali berhasil membuat Arjuna tercekat hebat. Entah mengapa, setiap kali wanita bertubuh besar itu memanggilnya dengan sebutan suamiku, selalu ada getaran aneh yang menjalar di dalam dadanya. Rasanya hangat. Sialnya, di saat yang sama juga terasa sangat mengganggu logikanya.

"Kalau begitu, aku tutup dulu ya teleponnya, Mas. Mau manggil suster," pamit Arunika lembut.

"Ya, baiklah."

Tanpa ia sadari sama sekali, sudut bibir kirinya perlahan terangkat membentuk senyuman tipis. Hingga sedetik kemudian, kesadaran menghantamnya. Arjuna langsung mengerutkan keningnya dalam-dalam, menepuk jidatnya sendiri.

"Apa yang sebenarnya sedang kulakukan?" gerutunya kesal. "Aku menelepon kan tadinya berniat ingin tahu keadaan Nakula."

Tapi, bayangan yang justru berkelebat terang di dalam kepalanya bukanlah wajah pucat putranya, melainkan wajah wanita bertubuh berisi yang selalu berbicara ceplas-ceplos tanpa rasa takut sedikit pun kepadanya.

Arjuna mengusap wajah tampannya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangan.

"Jangan bilang kalau sebenarnya kau juga punya niat terselubung dan ingin mendengarkan suara istrimu itu, Arjuna," gumamnya pada diri sendiri.

1
Elina thea
kerja bagus arunika~~~ teruslah lawan mereka,kalo perlu segera usir mereka biar gak ganggu nakula lagi.
Muft Smoker
yx bnr dr awal cerita gx prnh tuh bpa ny si bocah gaib dsebut ,, gx mungkin kn si Wina nikah ma makhluk halus 😱😱😱
Maria Lina
lgi ya thor plisssss
Maria Lina
mantap arunika hajar aj wkwk
Mundri Astuti
gantian arunika beraksi 😂😂
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next kk... klo gak... aq tumbuk
🇦 🇵 🇷 🇾👎
good sayg... itu dy yg sll aq tny".... uda di wakil kn
Endang Sulistiyowati
Ternyata mereka cuma keluarga tiri. benar2 parasit sikapnya.
Bantai aja Nika, mumpung Arjuna lagi tugas, jadi ga perlu akting2an kalian
🇦 🇵 🇷 🇾👎
hoooh keten
🇦 🇵 🇷 🇾👎
kasian🤣🤣🤣
rheisha
hajar tipis-tipis nika,biar berasa disiksa nya hahaha....
ryuka
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥 hajaaaarrr arunika
ryuka
baguuuusss 👍👍👍👍👍
Maya
coba pertegas lagi kak, ratna ini ibu sama kakak kandungnya arjuna kah atau hanya saudara tiri atau mertua saja? bingung saya.
novi handayati: sabar sabar .. walaupun aq jg penasaran banget 😄
total 2 replies
Senja Susanti
god job
Maya
wait, ratna itu ibu kandung atau bukan sih,atau mertua kah? jdi bingung
𝓢𝓮𝓷𝓲 𝓢𝓮𝓿𝓲𝔂𝓸𝓻𝓾𝓶: itu ada di atas kak jawabanya, dia mak tiri, tp arjuna belum bisa anu karena anu
total 1 replies
Muft Smoker
duuuh gx expect ma ekspresi ny trio gx tau diri ,,
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget
nining cahyaningrum
/Drool//Drool/
Ita rahmawati
denger GK tuh kalian
Ita rahmawati
iya iya percaya,,hanya karena kasian aja kan 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!