Karena terlalu lelah dengan urusan skripsi, Ayara pingsan dan saat terbangun Ayara mendapati dirinya berada dikehidupan dimasa depan.
Dimasa depan Ayara menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan, tetapi yang membuat Aya ingin pingsan kembali adalah Ayara menikah dengan musuhnya saat di bangku kuliah, pria tampan bernama Guzelar adalah suaminya dimasa depan.
Guzelar pria tampan yang suka menghinanya dan mengatainya wanita tidak benar karena saat di bangku kuliah Ayara suka gonta-ganti pacar hampir setiap hari, bagaimana bisa dimasa depan Guzelar menjadi pria yang lembut dan manja serta bucin padanya?.
Bagaimana Ayara bisa mengatasi semuanya dimasa depan? Menghadapi Guzelar versi bucin dan menerima fakta jika mereka sudah memiliki anak? Ikuti terus perjalanan Ayara dimasa depan! Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyawa Anakku Melayang!
Keesokan harinya, setelah dua hari penuh menghabiskan waktu menginap di kediaman mewah sang mertua, Ayara akhirnya memutuskan bahwa sudah saatnya bagi mereka untuk kembali pulang ke mansion sendiri. Keputusan mendadak itu kontan membuat Sorana dan Hera memasang wajah cemberut sedalam-dalamnya. Dua wanita berbeda generasi itu langsung kompak menuduh Guzelar sebagai dalang di balik kepulangan ini, menduga bahwa putranya lah yang memprovokasi Ayara agar segera memboyong cucu kesayangan mereka pergi.
Frederic yang melihat drama pagi itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas panjang. Di dalam hatinya, pria paruh baya itu merasa sedikit kasihan pada Ayara yang kerap kali harus jadi bahan perebutan di antara istri, anak, dan menantunya sendiri.
"Sudahlah! Mengapa kalian berdua bersikap begitu kekanakan sekali, sih?! Ayara itu baru saja sakit dan butuh istirahat tenang, dia sudah kelelahan!" ucap Frederic dengan nada tegas berwibawa, membuat Sorana dan Hera langsung menutup rapat mulut mereka, tidak berani membantah kepala keluarga.
Sorana beralih menatap menantunya dengan sorot mata penuh sayang. "Nanti sering-sering main ke sini lagi ya, Nak. Mami di Indonesia ini paling hanya sekitar dua minggu lagi sebelum kembali bepergian, atau kalau tidak, biar Mami saja yang sering-sering datang berkunjung ke rumahmu," ucap Sorana lembut.
Belum sempat Ayara membuka mulut untuk menjawab, Guzelar langsung menyela dengan ketus. "Kalian semua dilarang keras datang ke rumahku tanpa izin!" tegas Guzelar tanpa filter.
Mendengar larangan itu, Hera kontan merasa tidak terima. Alis gadis modis itu bertaut tajam. "Memangnya kamu ini siapa, hah?! Seenaknya saja main larang-larang orang tua berkunjung!" ucap Hera kesal sambil melipat tangan di dada, menantang sang kembaran.
Tanpa diduga, Guzelar sama sekali tidak gentar. Pria itu merangkul pinggang Ayara dengan erat, lalu dengan penuh percaya diri mengecup singkat bibir istrinya tepat di hadapan seluruh anggota keluarga yang berdiri di ruang tamu.
"Aku suaminya Ayara!" ucap Guzelar dingin dan telak, menegaskan status kepemilikannya.
"Dasar tidak punya sopan santun dan urat malu!" gerutu Hera kesal setengah mati. Karena telanjur malu melihat kebucinan kembarannya sendiri, Hera akhirnya melengos pergi meninggalkan ruangan dengan langkah dihentakkan kencang ke lantai.
Sorana mendengus pelan geleng-geleng kepala, melirik sekilas ke arah cucunya yang sedang digendong.
"Sebenarnya berapa sih usia anak itu? Kelakuannya bahkan jauh lebih kekanakan daripada Gabriel," gumam Sorana pelan, dibalas cengiran tanpa dosa oleh Guzelar.
Setelah merampungkan urusan berpamitan, keluarga kecil itu akhirnya resmi meninggalkan mansion Frederic.
Setibanya di mansion pribadi mereka, Guzelar dengan sigap segera mengantarkan Gabriel menuju kamar tidur sang putra. Pria itu memastikan bocah menggemaskan itu tidur dengan posisi senyaman mungkin di atas kasurnya. Setelah Gabriel terlelap pulas, Guzelar beranjak keluar kamar berniat menemui istrinya. Namun, langkahnya terhenti tatkala seorang pria paruh baya berusia sekitar 50 tahun, namanya James, kepala pelayan sekaligus pengurus setia mansion datang menghampirinya dengan ekspresi serius.
"Tuan, ada hal penting yang ingin saya laporkan," ucap James dengan nada suara dipelankan.
"Kami mencurigai seseorang yang diduga kuat adalah ayah dari Nyonya Ayara. Pria itu terlihat memantau dan memata-matai mansion kita dari kejauhan."
Mendengar laporan itu, sorot mata Guzelar mendadak berubah tajam bagai silet. "Kau yakin seratus persen itu dia? Bukankah seharusnya bajingan itu masih mendekam di dalam penjara?" tanya Guzelar dingin.
"Saya sudah memeriksanya dan mencari tahu lewat jaringan asisten Vandra, Tuan. Seminggu yang lalu, Duanda baru saja dibebaskan lebih awal dari penjara karena dinilai berkelakuan baik selama masa tahanan," lapor James hati-hati.
Seketika itu juga, amarah yang selama ini berhasil diredam oleh Guzelar langsung meledak hebat. Urat-urat di pelipis dan lehernya menonjol keluar menahan murka.
"Kurang ajar sekali! Berani-beraninya mereka melepaskan iblis tua itu setelah apa yang dilakukannya membuat istriku nyaris kehilangan nyawa dan merenggut nyawa putraku di masa lalu!" desis Guzelar penuh emosi tertahan, dadanya naik turun menahan amarah yang membakar ubun-ubun.
"Asisten Vandra sudah menugaskan orang untuk terus memantau gerak-gerik Duanda, Tuan. Tapi kita harus tetap waspada dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk," lanjut James.
"Saya juga mendengar kabar dari kediaman Tuan Frederic bahwa Nyonya Ayara sempat kambuh kemarin. Kondisi ini tentu akan sangat menyulitkan kita jika orang itu nekat bertindak."
Guzelar menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai kembali emosinya demi keselamatan sang istri.
"Perketat sistem keamanan di setiap sudut mansion! Jika Gabriel sedang bermain di taman belakang atau di arena pacuan kuda, pastikan ada radius penjagaan aman tanpa membuat Gabriel merasa tertekan, karena kamu tahu sendiri anak itu paling benci jika merasa diawasi secara berlebihan!" perintah Guzelar mutlak.
"Baik, Tuan. Saya akan segera mengeluarkan instruksi pengamanan ketat pada para pengawal yang lain," patuh James sebelum membungkuk hormat dan berlalu pergi.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Guzelar langsung bergegas melangkah cepat menuju kamar utama tempat Ayara berada. Namun, begitu tangan kekarnya memutar knop dan mendorong daun pintu kamar terbuka lebar, sebuah pemandangan tak terduga langsung menyambut netranya.
Di hadapannya, Ayara berdiri dengan pakaian yang sangat minim. Wanita itu hanya mengenakan pakaian dalam berwarna cream lembut karena baru saja hendak berganti baju.
"DASAR PRIA MESUM! KELUAR SANA!" pekik Ayara histeris seketika, wajahnya memerah padam menahan malu. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyambar bantal sofa terdekat dan melemparkannya tepat ke arah Guzelar.
Guzelar menangkap bantal tersebut dengan mudah. Alih-alih merasa bersalah, bibirnya justru menyunggingkan senyuman miring penuh godaan. Pria itu menatap tubuh molek istrinya dari atas sampai bawah dengan tatapan lapar yang terang-terangan terpesona.
"Wah... apa jangan-jangan kamu sengaja mengenakan pakaian seperti ini untuk menyambutku, hm? Atau jangan-jangan, kamu tengah mempersiapkan diri secara diam-diam untuk program anak kedua kita, Sayang?" tebak Guzelar dengan nada menggoda, melangkah mendekat perlahan ke arah istrinya.
"Anak kedua kepalamu! Tidak ada program anak kedua, titik! Lepasin aku, ih, jangan mendekat!" protes Ayara kesal setengah mati saat Guzelar berhasil menerjang maju dan langsung memeluk pinggangnya erat-erat, mengurungnya dalam dekapannya.
Guzelar terkekeh rendah, dagunya bersandar di bahu Ayara. "Ngomong-ngomong, kita ini kan sudah cukup lama tidak melakukannya. Hampir sebulan lebih rasanya. Tiba-tiba saja malam ini aku menginginkannya darimu, Sayang..." bisik Guzelar serak, mengecup basah kulit leher sensitif istrinya.
Seketika itu juga, sekujur tubuh Ayara merinding hebat. Sensasi panas menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala. Namun, yang membuat Ayara heran bukan kepalang, jauh di dalam lubuk hatinya, tubuhnya justru merespons sentuhan itu dengan sangat biasa dan tenang, seolah-olah raga ini sudah terbiasa dan hafal di luar kepala dengan setiap sentuhan panas yang diberikan oleh suaminya.
"Sebenarnya ada apa dengan tubuhku ini? Gampangan dan murahan sekali rasanya, baru digoda sedikit saja langsung meleleh," batin Ayara merutuki dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk.
Melihat ekspresi wajah istrinya yang pucat pasi bercampur salah tingkah, Guzelar mendadak tidak tahan lagi. Pria itu tertawa terbahak-bahak lepas.
"Hahaha... Hei, wajahmu itu lucu sekali, Sayang. Aku hanya sedang menggoda saja," ucap Guzelar di sela tawa tawanya, melonggarkan pelukannya.
"Lagi pula, aku tahu betul fisikmu belum sepenuhnya pulih total pasca-kejadian kemarin."
Guzelar mengecup gemas pipi Ayara sekilas. "Oh iya, hampir saja lupa. Aku cuma mau menyampaikan satu hal penting mulai hari ini, setiap kali kamu berniat keluar meninggalkan kawasan mansion, wajib hukumnya mengabari aku terlebih dahulu. Dan sebagai gantinya, mulai besok kamu resmi memiliki supir pribadi yang akan siaga mengantar kemana pun kamu pergi," tandas Guzelar tegas.
Ayara sempat membuka mulutnya hendak melayangkan protes keras atas aturan mengekang yang dibuat suaminya itu. Namun, tatapan mata Guzelar yang begitu mutlak dan penuh perhatian membuat nyali Ayara ciut seketika. Pada akhirnya, alih-alih mendebat, Ayara justru mengangguk patuh.
"Baiklah..." jawab Ayara singkat dengan bibir mengerucut sebal.
Melihat kepatuhan istrinya, Guzelar tersenyum gemas. Pria itu dengan telaten dan penuh kelembutan membantu Ayara merapikan pakaiannya, memakaikan sebuah dress rumahan yang nyaman ke tubuh istrinya.
Sementara itu, pipi Ayara kembali merona merah padam menahan rasa malu yang luar biasa. Perlakuan Guzelar yang begitu terbiasa dan telaten merawat serta membantunya berpakaian membuat Ayara merasa seperti anak kecil yang dimanja habis-habisan oleh ayahnya sendiri.
Bersambung...
Anak Guzelar mati? Kira-kira apa yang terjadi dimasa lalu guys? Keluarkan pendapat kalian satu persatu!
tapi dari orang yg paling dia cintai .
yg dikira jadi pelindung dia
😔🥹🥹🥹
sayang akal sehat selalu mengalah. Karena jajan nya aku banyak. kalau kabur susah ntar jajan nya🤣🤣🤣🫣
nanti suaminya marah besar itu istri kesayangan nya main ditarik ajaa🫣🫣🤣
seenggaknya dia inget akyu
eh ..kok cyiin nya kebawa lagi thor🤣🤣
biar trauma nya terputus
anak pertama mereka??🥹🥹🥹
meminta pertolongan adalah langkah pertama kita mau sembuh
jadi ga usah takut dan malu...
ayo kita sembuh bersama