Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 19
Laju mobil Mercedes Benz hitam itu akhirnya melambat sebelum berbelok masuk ke pelataran penthouse apartment eksklusif di kawasan Jakarta Selatan. Sebuah hunian pencakar langit dengan pengamanan ketat yang jauh dari hiruk-pikuk dan drama keluarga.
Mobil berhenti mulus di slot parkir khusus. Khadafy mematikan mesin, lalu menoleh pada Zheana yang tampak memperhatikan sekitar dengan binar mata polos sekaligus cemas.
"Mari," ucap Khadafy lembut seraya keluar lebih dulu dari pintu kemudi.
Dengan cepat, ia mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Zheana, lalu mengambil koper kecil berisi pakaian istrinya dari bagasi. Zheana melangkah ragu mengikuti Khadafy menuju private elevator. Ketika pintu lift terbuka langsung menyatu dengan area foyer apartemen, Zheana seketika menahan napasnya.
Suasana unit tersebut begitu luas, bernuansa modern minimalis dengan paduan warna abu-abu, kayu hangat, dan lampu-lampu warm white yang memberikan kesan elegan namun amat maskulin. Dinding kaca raksasa di ruang tengah memperlihatkan panorama gemerlap pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.
"Masuklah, Zhea," tutur Khadafy seraya meletakkan koper di dekat nakas. Pria itu melepas sepatu formalnya dan menggantinya dengan sandal rumah.
"Anggap saja rumah sendiri. Dan memang harus kamu anggap rumah kamu, karena ini rumah kita sekarang. Jangan sungkan..."
Zheana melangkah perlahan, matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu yang luas. Tidak ada foto Niken, tidak ada sentuhan barang-barang mewah mencolok seperti yang pernah diimpikan kakak tirinya. Hunian ini murni mencerminkan kepribadian Khadafy, rapi, berkelas, dan tenang.
"Mas Khadafy..." panggil Zheana canggung, meremas jemari tangannya sendiri di depan kemeja kebesarannya.
"Ini... bukan apartemen yang waktu itu pernah ditunjukkan Kak Niken di brosur, ya?"
Khadafy menghentikan tangannya yang sedang menuangkan dua gelas air mineral di meja dapur. Ia menoleh, mengulas senyum tipis.
"Bukan," jawab Khadafy lugas. Ia melangkah mendekati Zheana, menyodorkan satu gelas air hangat pada istrinya.
"Unit yang itu sudah saya batalkan pembeliannya tadi siang. Ini tempat tinggal pribadi saya selama tiga tahun terakhir. Belum pernah ada orang luar yang tau tempat tinggal saya di sini, termasuk Niken. Hanya Umi, Abi dan Ayessa saja yang sesekali kesini kalau saya kelamaan tidak pulang ke rumah..." jelas Khadafy.
Degh.
Zheana menerima gelas itu dengan tangan bergetar pelan. Ada rasa lega yang menyusup di relung hatinya mendengar kenyataan bahwa ia tidak tinggal di tempat yang dibayang-bayangi oleh jejak kakak tirinya. Sejujurnya dia takut, takut kalau ibu tiri dan juga kakaknya kalau pulang suatu hari nanti menyalahkan dia dan mengira merebut semuanya.
"Diminum dulu airnya, supaya tubuhmu agak hangat," bisik Khadafy memperhatikan pipi Zheana yang masih sedikit pucat.
"Terima kasih, Mas..." Zheana meneguk air hangat itu perlahan, membiarkan rasa hangat menjalar ke tenggorokannya.
Namun, begitu rasa leganya surut, sebuah kesadaran baru mendadak menghantam pikiran Zheana. Matanya menyapu penjuru apartemen yang berkonsep open space tersebut. Ada ruang tamu, dapur bersih, ruang kerja terbuka, dan... hanya ada satu pintu kayu jati besar yang tertutup rapat di sudut lorong.
Zheana menelan ludah, dadanya kembali berdegup kencang karena panik.
"Mas Khadafy..." bisik Zheana ragu-ragu, menunjuk pintu itu dengan ujung jarinya yang gemetaran.
"Kamar... kamarnya cuma ada satu, ya?"
Khadafy yang baru saja meletakkan gelas kosongnya mengangguk santai.
"Iya. Karena ini unit pribadi saya, jadi memang hanya didesain dengan one master bedroom."
Raut wajah Zheana seketika berubah. Pipinya merona merah padam, antara malu dan panik luar biasa. Otaknya langsung berputar kencang memikirkan nasib malam pertamanya. Mereka baru saja saling mengenal, terikat pernikahan darurat, dan kini harus dihadapkan pada kenyataan berada di satu ruangan yang hanya memiliki satu tempat tidur. Tapi tinggal di rumah juga malah akan membuat keadaan semakin memburuk. Apalagi ibunya belum menerima pernikahan mereka sepernuhnya. Dan masih menyalahkan dia atas gagalnya pernikahan Niken dan Khadafy.
Bahkan Mas kawin dan juga cincin pernikahan mereka semuanya sudah di ganti dan berbeda dengan yang akan di berikan kepada Niken. Bahkan nilainya jauh lebih mahal di banding dengan yang sebelumnya akan di berikan kepada Niken.
"Kalau begitu... Zhea tidur di sofa ruang tamu saja, Mas!" celetuk Zheana cepat, suaranya naik satu oktav karena panik.
"Sofanya luas banget kok, empuk juga! Zhea biasa tidur di mana saja, jadi Mas Khadafy pakai kamarnya saja,"
Khadafy menaikkan sebelah alisnya, mengamati kepanikan polos istrinya dengan binar jenaka yang tersembunyi di balik mata tajamnya. Pria itu melangkah mendekati Zheana, membuat langkah Zheana refleks mundur satu pukulan hingga punggungnya nyaris menyentuh tepi meja.
Khadafy berhenti tepat satu langkah di depan Zheana. Postur tubuhnya yang tinggi membayangi tubuh mungil istrinya.
"Tidur di sofa?" ulang Khadafy dengan suara baritonnya yang rendah dan dalam.
"Zhea, aku membawa kamu ke sini untuk melindungimu dan memuliakanmu sebagai istriku, bukan untuk membuatmu memposisikan diri seperti penumpang yang tersisih."
"Tapi kan... Mas Khadafy pasti nggak nyaman kalau harus..." Zheana tergagap, tak berani menatap mata Khadafy dan justru menunduk dalam-dalam menatap kancing kemeja suaminya.
Khadafy menghembuskan napas pelan, terkekeh halus melihat ketakutan Zheana yang begitu ketara. Tangan kokohnya terangkat, jari telunjuknya menyentuh dagu Zheana pelan, membimbing wajah cantik yang merona itu untuk menatapnya.
"Tempat tidur di dalam ukurannya king size," tutur Khadafy lembut namun penuh penekanan yang tak bisa dibantah.
"Kamar itu milik kita berdua sekarang. Di tengahnya bisa kamu beri batasan guling kalau kamu masih merasa canggung atau belum siap."
Zheana tertegun, menatap kejujuran dan rasa hormat yang terpancar dari manik mata Khadafy. Tak ada sedikit pun raut menuntut atau niat jahat dari pria itu, hanya kepatuhan pada rasa tanggung jawab dan kesopanan.
"Apa tidak apa-apa, Mas?" tanya Zheana polos dengan cicitan halus.
"Tidak apa-apa," balas Khadafy mantap, mengusap puncak kepala Zheana yang tertutup dengan gerakan sangat wajar dan menenangkan.
"Sekarang, bawa kopermu ke dalam. Bersihkan dirimu lagi jika perlu, lalu istirahat. Hari ini sangat panjang dan melelahkan buat kita berdua."
Khadafy meraih gagang koper Zheana, membukakan pintu kamar utama yang luas dan mewah, lalu menyalakan lampu kamar yang bernuansa hangat. Ia membiarkan Zheana masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan suci mereka, memberikan ruang dan waktu bagi wanita itu untuk menata hatinya yang baru saja berlabuh di dermaga yang benar.