NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Pintu kamar tertutup. Suara langkah Soraya yang menjauh ke arah dapur perlahan menghilang, menyisakan keheningan yang pekat di dalam kamar.

Hanya ada suara jam dinding yang berdetak pelan dan napas Anya yang sedikit berat.

Arhan masih berjongkok di samping ranjang, tangannya tidak lepas dari tangan Anya. Ia sudah menyiapkan diri untuk pertanyaan berat, untuk interogasi tentang tatapan matanya yang merah atau tentang hasil dokter yang sebenarnya.

Dadanya terasa sesak.

Tapi yang keluar dari mulut Anya justru sesuatu yang lain.

"Han..." suara Anya pelan, hampir seperti bisikan.

"Iya, An?"

Anya menatap langit-langit kamar sebentar, lalu menatap suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Maaf ya..."

Arhan mengerutkan dahi. "Maaf kenapa, sayang?"

"Maaf karena kamu harus mengurus semuanya sendirian," kata Anya, air matanya mulai mengalir pelan di pelipisnya, jatuh ke bantal. "Dari rumah sakit, beres-beres, bayar-bayar, bawa aku pulang... semuanya kamu yang ngerjain. Aku cuma bisa tiduran, ngerepotin kamu terus. Padahal kamu pasti capek banget."

Mendengar itu, perasaan Arhan yang tadinya kalut, tegang, dan penuh rasa bersalah, tiba-tiba sedikit lega. Lega yang aneh dan menyakitkan. Anya tidak mempertanyakan kebohongannya. Anya tidak curiga. Anya justru merasa bersalah padanya.

Rasa lega itu segera digantikan oleh rasa sakit yang lebih dalam.

"An, kamu ngomong apa sih?" Arhan mengusap air mata di pelipis Anya dengan ibu jarinya, lembut. "Jangan pernah bilang kamu ngerepotin. Nggak sama sekali."

"Tapi kenyataannya gitu, Han. Aku lihat kamu mondar-mandir sendirian. Aku jadi istri nggak berguna."

"Jangan ngomong gitu," potong Arhan cepat, suaranya sedikit bergetar. Ia menggeser duduknya naik ke tepi kasur, lebih dekat dengan Anya. Ia genggam kedua tangan Anya.

"Dengerin aku ya, Anya Luvia. Aku rela melakukan semua itu. Semua. Nyuci, beresin kamar, ngurus rumah sakit, gendong kamu kalau perlu, semuanya aku rela. Tau kenapa?"

Anya menggeleng pelan sambil terisak kecil.

"Karena aku cinta sama kamu," bisik Arhan, menatap tepat ke mata istrinya. "Sesederhana itu. Aku cinta kamu. Jadi nggak ada yang namanya repot kalau buat kamu."

Kata-kata itu sederhana, tapi bagi Anya yang sedang rapuh, kata-kata itu adalah segalanya.

Air mata haru Anya yang tadinya hanya mengalir pelan, kini tumpah lebih deras. Ia menangis tanpa suara, bahunya naik turun.

"Han..." isaknya.

Arhan panik melihat istrinya menangis. Ia membungkuk, menghapus air mata itu dengan telapak tangannya, lalu mengusap rambut Anya yang menipis.

"Eh, eh, sayang... jangan nangis dong. Nanti capek lagi. Nanti sesak lagi napasnya."

"Tapi aku terharu..." Anya mencoba tersenyum di tengah tangisnya. "Makasih ya, Han. Makasih udah tetap di sini. Makasih nggak pernah ninggalin aku, padahal aku lagi sakit begini."

Arhan menarik Anya pelan ke dalam pelukannya. Hati-hati, takut menyakiti tubuh istrinya yang ringkih. Anya membenamkan wajahnya di dada Arhan, menangis pelan di sana. Arhan mengusap punggungnya berulang-ulang.

"Aku di sini terus. Selamanya di sini. Jangan pernah mikir aku bakal pergi," bisik Arhan. Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti janji sekaligus kebohongan. Selamanya yang ia maksud hanya tinggal tiga puluh hari.

Mereka berpelukan cukup lama, sampai tangis Anya mereda menjadi isakan kecil.

Saat suasana mulai tenang, tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan.

Keduanya sedikit terkejut.

"Masuk," kata Arhan pelan.

Pintu terbuka. Seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah memutih di beberapa bagian berdiri di sana. Wajahnya ramah, dengan senyum tipis yang menenangkan. Ia memakai kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku. Itu adalah Hendra, ayah Anya.

"Anya? Arhan?" suaranya berat tapi lembut.

"Papa!" Anya langsung berusaha duduk.

Hendra segera masuk dan menghampiri ranjang. Wajahnya yang tadinya berusaha terlihat tenang, langsung berubah sendu melihat kondisi putrinya dari dekat.

"Boleh Papa masuk? Mau lihat kondisi anak Papa," kata Hendra, menatap Anya lalu menatap Arhan meminta izin.

"Tentu boleh, Pa. Masuk aja," jawab Arhan cepat. Ia berdiri dari tepi kasur, memberi ruang untuk Hendra.

Hendra duduk di kursi yang tadi diduduki Arhan. Ia meraih tangan Anya, menggenggamnya erat.

"Gimana, sayang? Enakan? Mama bilang kamu udah boleh pulang. Seneng Papa dengarnya," kata Hendra, suaranya ia buat seceria mungkin, meski matanya tidak bisa berbohong.

"Enakan, Pa. Cuma masih lemes aja," jawab Anya.

Arhan melihat interaksi ayah dan anak itu. Ia merasa ini adalah momen mereka. Momen keluarga yang tidak seharusnya ia ganggu dengan kehadirannya yang penuh kebohongan.

"Pa, Anya, aku tinggal dulu ya di luar. Silahkan kalian ngobrol dulu," kata Arhan pelan.

Anya menoleh. "Kamu mau kemana, Han?"

"Di ruang tamu aja, sayang. Aku nunggu di sana. Kalau butuh apa-apa panggil aja ya."

Hendra mengangguk pada Arhan, memberi tatapan lembut. "Iya, Han. Makasih ya."

Arhan keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan, menyisakan ayah dan anak itu berdua di dalam.

Di ruang tamu, Soraya sudah menunggu dengan dua cangkir teh hangat di atas meja. Uapnya masih mengepul.

"Duduk, Han. Minum teh dulu. Kamu pasti capek," kata Soraya lembut.

Arhan duduk di sofa. Ia menerima cangkir teh itu dengan kedua tangan. Hangatnya menjalar sampai ke jemarinya yang dingin.

"Makasih, Bu."

Soraya duduk di sofa seberangnya. Wajahnya terlihat lelah, tapi sorot matanya tetap penuh perhatian pada menantunya itu.

"Han, Ibu boleh ngomong sesuatu?"

"Boleh, Bu. Ngomong aja."

Soraya menghela napas pelan, menatap cangkir teh di tangannya sendiri.

"Ibu lihat dari tadi kamu mondar-mandir nggak berhenti. Dari rumah sakit sampai di rumah. Kamu urus semuanya sendiri. Ibu sama Ayah datang cuma bisa bantu sedikit."

"Nggak apa-apa, Bu. Memang sudah seharusnya aku yang urus."

"Iya, Ibu tau kamu suami yang bertanggung jawab. Anya beruntung banget punya kamu, Han. Tapi..." Soraya berhenti sejenak, menatap Arhan dalam-dalam.

"Kamu juga harus jaga kesehatan kamu sendiri ya, Han. Jangan sampai kamu sakit. Makan yang teratur, tidur yang cukup. Kalau kamu tumbang, siapa yang jagain Anya?"

Arhan mengangguk, menatap tehnya. "Iya, Bu. Aku usahain."

Awalnya, perkataan Soraya hanya terdengar seperti nasihat biasa dari seorang ibu mertua yang khawatir pada menantunya. Hangat dan wajar.

Tapi kemudian, Soraya melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, lebih dalam, dan tatapannya tidak lepas dari wajah Arhan.

"Dan satu lagi, Han..."

Arhan mengangkat wajahnya.

"Jangan memikul beban sendirian."

Jantung Arhan seolah berhenti berdetak.

"Apa maksud Ibu?" tanya Arhan, suaranya hampir tidak keluar.

Soraya tersenyum tipis, senyum seorang ibu yang sudah hidup lebih lama dan melihat lebih banyak. Senyum yang seolah tahu.

"Ibu ini ibunya Anya. Ibu kenal Anya dari dia bayi. Ibu juga kenal kamu, Han, udah kayak anak Ibu sendiri. Ibu tau kalau ada sesuatu yang nggak beres, dari cara kamu natap Anya, dari cara kamu jawab pertanyaan Ibu sama Anya di rumah sakit tadi... Ibu bisa ngerasain."

Soraya meletakkan cangkirnya.

"Kalau memang ada apa-apa... jangan kamu simpen sendiri. Berat, Han. Terlalu berat kalau dipikul sendirian."

Perkataan itu...

Perkataan itu menghantam Arhan tepat di tempat yang paling rapuh.

Seolah Soraya tahu bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu. Seolah wanita itu bisa melihat kebohongan besar yang ia simpan rapat di dalam kertas putih, di dalam tasnya. Vonis tiga puluh hari yang ia kubur dalam-dalam.

Tangan Arhan yang memegang cangkir teh hangat itu tiba-tiba bergetar. Uap teh yang hangat tidak bisa mengusir dingin yang menjalar di punggungnya.

Dadanya sesak. Lebih sesak daripada saat ia menangis di kamar tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!