Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Turun Ke Ladang
Di pagi hari, Meng Lin ikut turun bekerja dengan pemuda lainnya. Dia harus menunggu sehari lagi, sebelum pengumuman kelulusan.
Mereka harus ke kantor tim produksi untuk mengambil alat tani.
"Alatnya tidak cukup..! Kamu pergi di ladang kapas saja.!" ucap pria yang bertugas mencatat poin.
"Baik. Di mana ladangnya?" tanya Meng Lin. Dia malah sangat puas tidak kebagian alat. Panen kapas bukan hal yang sulit.
"Astaga Meng Lin.. Kenapa aku tidak seberuntung dirimu.!" Keluh Yan Rao.
"Lain kali datang paling terakhir saja!" bisik Meng Lin pelan. Dia bukan menyesatkan, tapi memberi saran.
Mata Yan Rao berbinar, dia akan mencobanya besok. "Baik. Besok aku akan datang paling terakhir..!"
Meng Lin akhirnya terpisah dengan rombongan. Dia berjalan mengikuti kelompok yang sama dengannya. Dan ternyata, kebanyakan para lansia dan anak-anak.
Meng Lin menyipitkan mata, dia merasa telah diremehkan oleh si pencatat poin. Dengan kulitnya yang putih mulus, pasti mereka mengira kalau dirinya cuma akan menghambat kelompok kerja. Jadi dia ditugaskan bersama dengan para lansia yang kerjanya lambat.
"Hmm bagus sekali... Asal kalian tau saja, tenagaku lebih kuat dari tukang batu.!" Gerutu Meng Lin sedikit kesal. "Tapi terima kasih, sudah memberiku pekerjaan yang santai.!"
"Nak.. Kamu pemuda yang baru datang ya? Wajahmu terlihat asing..!" sapa seorang wanita tua.
"Ya. Aku baru datang, dan hari ini baru turun kerja. Tapi tidak kebagian alat tani, jadi aku disuruh ikut kelompok kalian.!" jelas Meng Lin.
"Oh. Kamu tenang saja, panen kapas tidak terlalu berat.. Kamu pasti bisa melakukannya.!"
"Ya Bibi mohon bimbingannya..!"
Setelah tiba di ladang, mereka semua bergegas memanen kapas. Meski pekerjaan itu mudah, tapi berdiri di bawa terik mata hari sangatlah menyiksa.
Meng Lin tidak memaksakan diri, jika dia tidak dapat poin penuh, itu bukan masalah. Kalau dia tidak rajin minum air spiritual, Mungkin dia sudah tumbang saking panasnya.
Setelah beberapa jam, Meng Lin pergi berteduh dan langsung meminum air. Dia menatap para lansia dan anak-anak itu masih bekerja dengan semangat.
"Semua itu untuk bertahan hidup!" kata Meng Lin sambil menarik napas panjang.
Meng Lin tidak lelah, dia hanya kepanasan. Meski sudah menggunakan topi jerami, tapi panasnya masih tembus sampai ke ubun-ubun.
"Astaga.. Aku menyerah, aku benar-benar tidak sanggup kalau harus bertani sampai 3 tahun.! Kalau tidak lulus jadi guru, aku bida cari kerjaan lain.!" katanya dengan pelan.
Setelah merasa agak dingin, Meng Lin kembali turun ke ladang. Dan baru istirahat lagi setelah waktu makan siang.
Ada beberapa yang pulang untuk makan di rumah. Ada juga yang tinggal karena membawa bekal. Sedangkan Meng Lin, memilih untuk tinggal dia tidak sanggup untuk berjalan pulang ke asrama, dan setelah istirahat harus kembali ke ladang lagi.
Meng Lin bergabung dengan Seorang Nenek dan dua cucunya di bawah pohon.
"Bolehkah aku ikut duduk?" tanya Meng Lin.
"Ehh.. Duduk saja, jangan sungkan..!" kata Nenek itu sambil tersenyum, keriput di wajahnya terlihat sangat jelas.
Meng Lin duduk dan mengeluarkan kotak bekal dari keranjangnya. Tanpa sengaja dia melirik makanan yang dibawa Nenek itu, sebuah roti yang dicampur sayuran liar, warnanya terlihat agak aneh.
"Nak siapa namamu?" tanyanya setelah menggigit rotinya.
"Nenek namaku Meng Lin. panggil Lin Lin saja!" balasnya.
"Panggil aku Nenek Wang. Cucuku Daya dan Laodi..!" nenek itu juga memperkenalkan diri dan kedua cucunya.
"Baik. !" balas Meng Lin sambil tersenyum.
Dia membuka kota bekalnya, ada nasi dan telur dadar saus tomat. Baunya langsung tertiup angin, untung yang lainnya berada lumayan jauh.
Meng Lin menggunakan tutup bekal sebagai wadah dan membagi dua nasi dan telurnya. "Kakak minta tolong, ini bantu habisin ya! kalau tidak, nanti cuma kebuang.!"
"Nak. Tidak perlu, kamu bisa memakannya sendiri!" Nenek Wang langsung menolak dengan cepat. Telur adalah makanan yang sangat berharga.
"Nenek Wang. Aku tidak makan banyak! Biarkan saja mereka memakannya.!" Meng Lin meletakkan di depan kedua anak kecil tersebut.
Kedua gadis kecil itu menela ludah, lalu menatap sang nenek. Tatapannya berkata, Nenek biarkan kami memakannya!
Nenek Wang menghela napas panjang lalu berkata. "Baiklah.. Kalian makan saja! Tapi ingat, jangan katakan kepada siapa-siapa, cukup kita saja yang tau!"
"Baik Nenek. Kami mengerti!"
"Sudah. Ayo makan, sebelum yang lainnya datang!" pinta Meng Lin.
Mereka akhirnya makan bersama, Nenek Wang tetap memakan roti sayurnya. Dia tersenyum pahit melihat bagaimana cucunya makan dengan lahap.
Setelah makanan habis, Nenek Wang dan kedua cucunya mengucapkan terima kasih. Tepat saat itu, orang-orang yang berada jauh dari mereka mulai datang mendekat untuk kembali bekerja.
Setelah seharian penuh bekerja, Meng Lin sudah tidak sanggup lagi. Tapi tenaganya kembali pulih setelah minum air spiritual. Tapi meski begitu, dia tidak suka panas-panasan.
Tiba di asrama, ternyata yang lainnya juga sudah pulang. Mereka sedang menyiapkan makan malam.
Melihat Meng Lin pulang dengan tubuh yang masih tampak segar membuat mereka bertanya-tanya, apa pekerjaan panen kapas benar-benar sangat santai? Tapi tidak ada berani yang bertanya.
...----------------...
Keesokan harinya, Meng Lin kembali ke kota untuk melihat hasil kelulusan. Liu Yuran sendiri tidak pergi, karena dia merasa tidak ada harapan. Daripada membuang waktu, mending kerja untuk dapat poin.
Meng Lin berangkat sekitar jam 8 pagi, tapi tidak ada gerobak yang pergi ke kota. Semua orang sibuk panen, kalau cuma satu menumpang, mending tidak usah ke kota.
"Sial.. Kalau tau begini, kemarin aku beli sepeda..!" gerutunya sambil berjalan menuju kota.
Beberapa menit berjalan, terdengar suara bel sepeda dari belakang. Meng Lin berbalik dan melihat seorang pemuda tampan yang mengendarainya. Dia belum pernah melihatnya.
Pria itu berhenti dan bertanya. "Apa kamu mau ke kota?" Terdengar sedikit gugup, saat melihat Meng Lin yang sangat cantik.
Mata Meng Lin berbinar. "Ya. Tapi tidak ada gerobak yang mau pergi ke kota." jelasnya. Apa kamu orang Desa Qinghe?" Dia benar-benar tak menyangka, ada pemuda yang masih terlihat manis dengan wajah datarnya.
Pria itu mengangguk. "Ya. Aku tinggal di ujung barat Desa. Kalau tidak kebaratan, kamu bisa naik!" Wajahnya terlihat masih datar.
Meng Lin berpikir sejenak, jika dia menolak berarti dia harus jalan kaki. Tapi kalau langsung setuju, mereka tidak saling kenal.
"Baik.. Terima Kasih..!" Dia tidak peduli, mau saling kenal atau tidak. Kenalannya nanti saja.
Pria itu melepas keranjang dari punggungnya dan meminta meling untuk memakainya, agar Meng Lin bisa duduk di belakang tanpa ada penghalang.
Sepenjang jalan tidak ada obrolan sama sekali. Benar-benar sangat canggung. Pria itu juga sangat heran dengan dirinya, dulu dia tidak pernah peduli dengan hal seperti itu. Tapi saat itu, entah kenapa dia sangat ingin berhenti.
Padahal dia tidak mengenal Meng Lin, dia juga tidak pernah melihatnya. Apa Meng Lin pemuda terpelajar yang baru datang? Tebaknya sepanjang jalan.
"Hmm dia sangat wangi...!"
.
.
.
.
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍