Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Tengah malam, Bima keluar dari ruang kerjanya. Sebelum pergi, Leo sudah melaporkan kalau Kinan bilang dia istirahat, dan tidak mau di ganggu.
Bima membuka pintu kamar Kinan. Lampunya sudah mati, dan dia melihat Kinan sudah berbaring di tempat tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya sebatas leher.
Di atas meja makanan masih utuh, bahkan minumannya saja juga masih utuh. Bima meletakkan kedua tangannya di pinggang. Sepertinya memang sangat sulit membujuk Kinan. Karena tidak mau mengganggu istirahat Kinan, Bima pun keluar perlahan dan menutup pintu. Dia masih memberikan perintah pada dua orang itu untuk pasang telinga baik-baik. Suara apapun yang berasal dari dalam, mereka harus memastikan kalau Kinan baik-baik saja.
**
Keesokan harinya, Bella menghubungi ayahnya yang berada di luar negeri. Ayah dan ibunya memang berada di luar negeri. Bella menjalankan bisnis keluarganya yang ada di tempat ini.
Bella menceritakan semua yang terjadi, dan ayahnya terdengar begitu kesal.
[Jadi wanita itu tidak pernah di penjara?]
"Tidak ayah, Bima sudah membohongi Kinan. Dia menggunakan surat kuasa atas nama keluarga korban. Dia bertindak sebagai suami Kinan dan memberikan surat pembebasan pada Agnes. Pria itu tidak punya hati"
[Bima ini keterlaluan sekali, apa mau ayah bantu katakan pada nyonya Ningsih Dirgantara? kemarin ayah dan ibumu bertemu dengannya di acara lelang, dia dan asistennya sedang berlibur!]
Bella diam sebentar, Ningsih Dirgantara adalah nenek Bima. Salah satu yang paling menyayangi Kinan di keluarga Dirgantara. Tapi usianya sudah tidak muda lagi, dan rentan sakit jantung kan kalau kaget di usia yang sepuh seperti itu. Bella pikir, sebaiknya tidak perlu.
"Tidak usah ayah, kalau nenek Ningsih kenapa-kenapa. Kinan pasti akan sedih. Aku mau minta bantuan ayah, Kinan dibawa paksa. Sementara dia sudah tidak mau lagi bersama dengan Bima. Bantu aku cari dimana Bima membawa Kinan ya"
[Tentu saja nak, kamu temui saja paman Brandon. Anak buah ayah di kota itu, dia yang mengaturnya. Apapun yang kamu butuhkan, katakan padanya]
"Baik ayah, terima kasih!"
[Tidak perlu berterima kasih, kamu anak kesayangan ayah. Kinan adalah sahabat kamu, ayah sudah anggap Kinan anak sendiri, Sasha juga memanggilnya ibu angkat kan? kita akan bantu dia, kalau dia mau pisah dari Bima. Kita pasti akan bantu dia sampai pria itu benar-benar menyingkir darinya]
"Iya ayah"
Bella menutup panggilan telepon itu. Dia meraih tasnya dan segera keluar dari kamar.
"Ibu..."
Sasha berlari memeluk kaki Bella.
"Sayang, ibu berangkat kerja dulu ya. Sasha harus jadi anak baik di rumah!"
Gadis kecil berkepang dua dengan pita ungu itu mengangguk dengan cepat.
"Pintar sekali anak ibu, ibu berangkat dulu ya"
Sebuah kecupan mendarat di pipi Sasha. Pipinya tembem, seperti bakpao. Dan senyumnya manis sekali, sayangnya baik itu mata, hidung, dan bibir Sasha. Semuanya seperti kloningan Zayn. Bella hanya dapat hikmahnya saja sepertinya.
Bella segera menuju ke kantor paman Brandon. Dia akan mulia mencari tahu keberadaan Kinan yang dibawa pergi oleh Bima.
**
Sedangkan di villa barat kota. Bima yang terbangun dari tidurnya di sofa ruang tengah villa. Bergegas menuju kamar Kinan. Semalam istrinya itu sudah tidak makan apapun. Dia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada istri dan anaknya.
Begitu pintu terbuka, Bima melihat makanan dan minuman masih utuh di atas meja. Bima memanggil pelayan dan menyuruh mereka mengganti semua dengan makanan dan minuman yang baru.
Kinan sebenarnya sudah bangun, hanya saja dia malas menanggapi Bima. Dia tetap berbaring dengan membelakangi pintu dan berpura-pura memejamkan matanya. Itu lebih baik daripada melihat Bima.
Bima berjalan ke arah Kinan, mengambil pakaian yang bahkan belum di bongkar di paper bag di atas sofa. Bima membawa pakaian itu dan meletakkan di dekat Kinan tidur.
"Kinan" panggil Bima.
Kinan tak berniat untuk membuka matanya. Dia masih memejamkan matanya, dan tidak perduli pada panggilan Bima.
Hingga pria itu berjongkok di depan Kinan. Mengusap lembut helaian rambut yang menutupi wajah Kinan. Rasanya Kinan ingin sekali menepis tangan Bima. Dia merasa risih dan tidak senang. Tapi, dia juga malas membuka mata. Nanti yang ada mereka berdua harus bicara kan? Kinan tidak mau bicara dnegan Bima.
"Kenapa begitu keras kepala? mau mogok makan? mau menyiksa diri sendiri? tapi apa kamu tidak memikirkan anak kita, dia juga kasihan kalau kamu sampai sakit"
Kata-kata itu terkesan seperti seorang yang perduli pada Kinan dan anaknya kan? Bima bicara seolah dia itu manusia yang punya hati. Padahal dia juga yang menyebabkan semua ini terjadi.
"Tidak mau makan makanan ini juga tidak apa-apa. Katakan kamu mau makan apa? aku akan minta koki menyiapkannya"
Bima terus bicara, seolah dia tahu Kinan hanya pura-pura tidur.
"Berhentilah bersikap seperti ini, bukankah kita baik-baik saja sebelumnya. Kinan, selama ini apa aku pernah marah padamu, pernahkah aku berkata kasar padamu, pernahkah aku memukulmu? atau pernahkah apapun yang kamu inginkan tidak aku berikan dan lakukan? berhenti menyiksa diri sendiri seperti ini, Kinan"
Dalam hatinya, Kinan sudah memaki pria di depannya itu. Dia mengatakan semua hal baik tentang dirinya sendiri. Tapi dia lupa menyebutkan, kalau dia telah membebaskan bahkan memberikan nafkah pada wanita yang telah menjadi penyebab kematian ibunya Kinan.
"Tuan, makanannya..."
Dua orang pelayan kembali masuk ke kamar itu, membawa dua nampan makanan dan minuman dengan menu berbeda dari sebelumnya.
"Letakkan saja di atas meja"
"Baik tuan"
Dan setelah meletakkan semuanya. Dua pelayan itu pergi.
"Kinan, katakan apa yang kamu mau? apapun itu akan aku berikan, asalkan kamu mau makan!"
Kinan yang mendengar ucapan Bima itu membuka matanya perlahan. Bima tersenyum melihat Kinan membuka matanya.
"Kinan..."
"Apapun akan kamu berikan asal aku mau makan?" tanya Kinan mengulang pernyataan Bima tadi.
Bima mengangguk dengan cepat.
"Iya, kamu mau apa? perhiasan? mobil? rumah baru? mau liburan ke luar negeri? apapun aku akan berikan padamu, aku akan serahkan urusan perusahaan pada Leo, dan kita bisa liburan..."
"Aku mau cerai!"
***
Bersambung...