NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.

Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.

Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.

Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Arlan melangkah mendekati Karin. Ia mengambil sisa kertas yang basah itu dari tangan istrinya, lalu melemparkannya ke tempat sampah dengan gerakan yang santai.

"Pak Hendra," ucap Arlan, menatap pengacara itu dengan tatapan yang bisa membunuh. "Dokumen ini sudah tidak valid karena basah dan tintanya luntur. Tolong sampaikan pada klien Anda, termasuk Madame Tania dan Vanessa bahwa jika mereka ingin menggugat, mereka harus mengirim dokumen yang tidak bisa dipakai untuk mengeringkan rambut. Dan sampaikan juga..."

Arlan mengalihkan tatapannya pada Karin, suaranya melembut secara drastis. "...bahwa Nyonya Dirgantara adalah satu-satunya pemegang saham yang sah, dan saya tidak akan pernah menceraikannya. Bahkan jika langit Jakarta runtuh menimpa kita."

Pak Hendra menelan ludah, membungkuk dalam-dalam. "S-siap, Pak Arlan. Saya akan sampaikan pesan Anda. Permisi."

Pengacara itu practically kabur dari rumah itu, meninggalkan Arlan dan Karin sendirian di ruang tamu yang luas.

Hujan di luar masih meraung, tapi di dalam rumah, suasananya terasa sangat hangat.

Arlan mengambil handuk bersih dari sofa, lalu dengan lembut membungkus kepala Karin. Tangan besar pria itu mulai mengeringkan rambut istrinya dengan gerakan yang hati-hati, jauh lebih lembut daripada cara Karin mengeringkannya dengan kertas cerai tadi.

"Kau tahu," bisik Arlan pelan, matanya menatap manik mata Karin yang berkaca-kaca. "Kau baru saja menghancurkan dokumen yang bisa membuatmu kehilangan triliunan rupiah. Dan kau melakukannya karena kau tidak mau rambutmu basah."

"Aku... aku cuma nggak mau masuk angin, Kak," jawab Karin, suaranya bergetar. Kali ini, bukan akting. Ia benar-benar merasa lega, sangat lega, hingga air matanya mau jatuh. "Kak Arlan... Kakak nggak tanda tangan, kan?"

Arlan berhenti mengeringkan rambutnya. Ia menangkup wajah Karin dengan kedua tangannya, memaksa wanita itu menatapnya.

"Dengar baik-baik, Karin," ucap Arlan, suaranya tegas dan penuh dengan emosi yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. "Aku tidak peduli pada lima persen sahammu. Aku tidak peduli pada koalisi pemegang saham. Dan aku pasti tidak peduli pada Vanessa atau Madame Tania. Yang aku pedulikan saat ini... adalah wanita bodoh yang baru saja menggunakan dokumen perceraiku sebagai handuk."

Jantung Karin berhenti berdetak.

Bab 20 telah dihancurkan. Death flag telah dicabut. Dan aku... aku resmi jatuh cinta pada CEO dingin ini.

"Kak Arlan..." bisik Karin, pipinya memanas. "Tapi Kakak bilang tadi... aku bodoh."

"Ya. Kau sangat bodoh," balas Arlan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang paling indah yang pernah Karin lihat di dunia ini atau dunia novel mana pun. "Tapi kau adalah istriku. Dan aku sangat, sangat beruntung memilikimu."

Di luar, petir kembali menyambar, tapi untuk pertama kalinya sejak Karin masuk ke dalam novel ini, ia tidak merasa takut pada badai.

***

Pagi setelah insiden kertas cerai, Karin terbangun dengan perasaan yang sangat asing: aman.

Ia membuka matanya dan menyadari bahwa ia tidak lagi tidur di sisi tempat tidur yang paling jauh dari Arlan. Entah kapan semalam, ia bergeser ke tengah, dan kini kepalanya bersandar di dada Arlan yang naik-turun dengan irama napas yang tenang. Lengan pria itu melingkar di pinggangnya, menahannya dengan posesif bahkan dalam tidur.

Karin menahan napas. Jangan bergerak. Jangan bernapas terlalu keras. Jangan sampai dia bangun dan sadar kalau dia meluk istri idiotnya semalaman.

Tapi hidung Karin gatal. Debu dari bantal sutra itu memicu reaksi berantai yang tidak bisa dihentikan.

"Hatchii!"

Arlan terbangun. Matanya terbuka, menatap Karin yang kini meringkuk di dadanya dengan wajah bersalah. Jeda sejenak. Lalu, alih-alih mendorong Karin menjauh seperti yang akan dilakukan Arlan di bab-bab awal, pria itu justru menarik istrinya lebih dekat dan mengecup puncak kepalanya.

"Pagi," gumam Arlan, suaranya serak khas bangun tidur yang membuat lutut Karin lemas.

"P-pagi, Kak," balas Karin, pipinya merah padam. "Aku bersin. Bukan sengaja nempel. Hidungku nakal."

"Hidungmu memang nakal," Arlan tersenyum tipis, melepaskan pelukannya dan duduk di tepi kasur. "Bangun. Hari ini kita punya acara yang lebih penting dari sarapan."

"Lebih penting dari sarapan?!" Karin terbelalak ngeri. "Kak Arlan, nggak ada yang lebih penting dari sarapan. Roti aja kalau nggak dimakan pagi-pagi bisa jamuran!"

Arlan menoleh, tatapannya serius. "Keluarga Suwono mengadakan lelang amal tahunan di hotel mereka malam ini. Seluruh elite Jakarta akan hadir. Termasuk koalisi pemegang saham yang kemarin mencoba memaksaku menceraikanmu. Mereka ingin membuktikan di depan publik bahwa kau tidak layak menjadi Nyonya Dirgantara."

Darah Karin membeku. Lelang amal keluarga Suwono. Dalam novel, ini adalah acara di mana tokoh asli Karin dipermalukan di depan semua orang karena tidak bisa membedakan barang antik asli dan palsu, lalu diusir dari ballroom oleh Helena sendiri.

"Mereka mau ngapain, Kak? Mau lelang aku?" tanya Karin, suaranya sedikit bergetar.

"Tidak. Tapi mereka akan mencoba membuatmu terlihat bodoh di depan semua orang agar publik mendukung petisi perceraian mereka," jawab Arlan, matanya menatap Karin dengan intensitas yang membuat wanita itu sulit bernapas. "Karin, malam ini... kau tidak perlu berpura-pura."

Karin terdiam. Tidak perlu berpura-pura? Maksudnya apa?

"Aku tahu kau lebih pintar dari yang kau tunjukkan," lanjut Arlan, suaranya pelan tapi tegas. "Aku sudah tahu sejak lama. Balok kayu, dokumen Handoko, sensor robot, teh palsu, penyortiran dokumen... kau tidak bodoh, Karin. Kau tidak pernah bodoh."

Jantung Karin berhenti berdetak. Dia tahu. Dia benar-benar tahu. Game over. Tamat. Aku harus kabur sekarang sebelum dia...

"Tapi," potong Arlan, seolah bisa membaca pikiran Karin, "aku tidak akan memaksamu untuk membuka topengmu sebelum kau siap. Yang aku minta malam ini hanya satu: jangan biarkan mereka menang. Gunakan caramu sendiri. Cara yang hanya bisa dilakukan olehmu."

Arlan berdiri, berjalan menuju kamar mandi, lalu berhenti di ambang pintu. "Dan Karin? Kalau ada yang mencoba menyentuhmu atau menyakitimu malam ini... aku akan menghancurkan seluruh keluarga Suwono. Bukan sebagai CEO, tapi sebagai suamimu."

Pintu kamar mandi tertutup. Karin duduk di atas kasur, menatap pintu itu dengan mata berkaca-kaca. Sistem, aku menyerah. Aku resmi, secara permanen, jatuh cinta pada Arlan Dirgantara. Tolong kirimkan panduan untuk menjadi istri CEO yang baik tanpa ketahuan sebagai transmigrator.

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Susi Nugroho
Lanjut
ALEXIS A.😇
up kak
Susi Nugroho
Lanjut
Kucingku Hitam
seruu😍
lanjut kn thor💪
Susi Nugroho
,Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!