Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kediaman Valerian
Elika terlihat masuk ke dalam rumahnya dengan raut wajah yang kesal. Elika mendudukkan pantatnya di sofa sambil menggerutu, membuat Reno yang sedari tadi mengetahui hal tersebut, lantas menatapnya dengan raut wajah yang mengernyit.
"Ada apa sayang? Bukankah tadi kamu berangkat dengan raut wajah yang bahagia? Mengapa kamu datang dengan raut wajah yang lesu?" ucap Reno sambil menatap putrinya dengan tatapan yang bertanya.
Mendapati pertanyaan tersebut Elika nampak mendengus dengan kesal. Hal tersebut membuat Reno semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada putrinya saat ini.
"Hari ini aku bertemu dengan Sagara Pa." ucap Elika dengan nada yang datar.
"Bagus dong, lalu apa yang menjadi masalahnya?" ucap Reno masih tidak mengerti.
"Masalahnya di sini yaitu adalah Sagara datang dengan membawa seseorang yang ia kenalkan sebagai calon tunangannya, di mana sebentar lagi mereka berdua akan menikah Pa, bukankah itu sangat menyebalkan?" ucap Elika dengan nada yang emosi, namun malah membuat Reno mengernyit karenanya.
"Lalu apa tanggapan kakek Razan?" ucap Reno dengan raut wajah yang bertanya.
"Terjadi perdebatan yang hebat diantara keduanya, Kakek Razan bahkan melempar cangkir teh yang ada di atas meja dan mengenai tepat di kening Sagara, hal tersebut membuat suasananya semakin tegang dan tidak enak. Padahal aku sudah menyiapkan segalanya untuk hari ini, namun tidak ada satupun yang berjalan sesuai dengan kehendak ku Pa...." rengek Elika yang tak menyukai akan hal tersebut.
Reno yang sudah paham akan garis besarnya, lantas memeluk putrinya dengan erat, kemudian mengusap kepalanya seakan mencoba untuk menenangkan Elika.
"Serahkan semuanya pada Papa, Papa janji Sagara akan tetap menjadi milik mu, jika memang itu yang kamu inginkan." ucap Reno mencoba untuk menghibur putrinya.
"Benarkah? Papa serius?" ucap Elika dengan tatapan yang tak percaya, menatap ke arah Pria paruh baya itu.
"Tentu saja, apa yang tidak Papa berikan untuk putri Papa satu-satunya ini." ucap Reno sambil mencubit pelan hidung Elika dengan gemas.
"Makasih banyak Papa.... Elika saaaayang Papa..... Muah...." ucap Elika dengan raut wajah yang girang sambil mencium pipi Reno dengan gemas.
.
.
.
.
Ruang kerja Reno
Reno yang baru saja masuk ke ruang kerjanya, lantas langsung mengambil ponsel dan mengetik nama Razan di sana.
"Halo..." ucap sebuah suara di seberang sana.
"Aku ingin Sagara dan juga Elika menikah secepatnya." ucap Reno tanpa basa-basi.
"Tentu, hanya saja aku butuh waktu untuk meyakinkan cucuku akan pernikahan ini. Kamu tahu bukan? Anak muda zaman sekarang cukup anti dengan perjodohan, maka dari itu aku minta sedikit waktu dan aku janji akan secepatnya mengatur pernikahan ini." ucap Razan mencoba untuk menjelaskan.
"Apa kau sungguh-sungguh Kakek tua? Ini bukan hanya sekedar alasan bukan?" ucap Reno seakan tak percaya.
"Tentu tentu, asalkan kau mau membantu ku menyelesaikan urusan perusahaan." ucap Razan kemudian.
"Itu hal yang mudah, aku bisa lakukan segala cara untuk membuat perusahaan mu bangkit kembali. Masalah nama peusahaan yang tercoreng akibat bahan ilegal yang terdapat dalam produk bocor, aku pasti akan membuatnya kembali bersih, asalkan Sagara mau menikahi Elika." ucap Reno menjanjikan segalanya, yang tentu saja hal tersebut membuat Razan semakin bersemangat.
"Baiklah sepakat, beri aku waktu paling lambat seminggu...aku pastikan bulan depan pernikahan itu akan berlangsung." ucap Razan dengan percaya diri.
"Baiklah kalau begitu." ucap Reno pada akhirnya kemudian menutup panggilan telpon tersebut.
Reno menghela napas lega begitu mendengar jawaban dari Razan barusan, setidaknya putrinya akan mendapat apa yang ia inginkan kali ini. Hanya saja tanpa Reno tahu, sebenarnya Razan tidak punya kuasa atas permintaan yang putrinya ajukan. Sagara tentu menolak dengan tegas perihal ini, namun sayangnya Reno tak pernah mengetahuinya.
***
Sementara itu di kamarnya Luna nampak serius menatap ke arah layar laptop miliknya, Luna memeriksa setiap isi yang tertera di dalam flash disk pemberian Sagara dan hasilnya ternyata benar-benar sangat memuaskan sesuai dengan kemauan Luna.
"Yes, bukti sudah terkumpul saatnya eksekusi!" ucap Luna dengan penuh semangat.
Luna kemudian terlihat menyandarkan tubuhnya di kursi kesayangannya lalu menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya tiba-tiba melayang memikirkan setiap halnya yang Luna rasa begitu berbeda dari kehidupan masa lalu.
Selalu ada variabel tambahan dalam setiap adegannya dan hal tersebut bermula dari Sagara. Anehnya setiap hal yang ia coba ubah melalui Sagara, selalu mendatangkan hasil yang memuaskan dan merubah masa depan seperti yang Luna inginkan.
"Jadi Sagara benar-benar kunci dari segalanya?" ucapnya pada diri sendiri kemudian menarik napasnya dalam-dalam.
"Jika memang benar seperti itu, maka keputusan ku untuk menikah dengannya sudah benar. Sagara adalah langkah awal sekaligus bom waktu yang selalu bisa membantu ku kapan pun itu.... Namun yang jadi pertanyaan di sini adalah, bagaimana Sagara bisa selalu lebih depan tentang masalah yang sedang coba aku atasi, rasanya....seakan-akan Sagara sudah tahu apa yang akan terjadi sebenarnya." ucap Luna kembali dengan raut wajah yang bingung.
Luna kemudian terlihat bangkit dari posisinya dan berpindah posisi merebahkan diri di kasur kesayangannya.
Luna merasa anehnya semakin ia terka dan semakin ia pikir tentang keterlibatan Sagara, sayangnya ia semakin dibuat bingung dan tak mengerti satupun.
"Ahhhh sudahlah, yang terpenting sekarang adalah balas dendam dulu biarkan sisanya menyusul saja!" ucap Luna pada diri sendiri.
****
Kamar Lucas
Lucas yang sadar keadaannya mulai terancam, terlihat melamun seorang diri sambil membawa satu gelas berisi wine favoritnya.
Pikiran Pria itu melayang jauh masuk ke dalam masa lalu, yang mungkin saja sebentar lagi akan terbongkar entah kapanpun itu.
Sebuah tangan halus mendadak melingkar di tangannya, membuat lamunan Lucas langsung buyar begitu saja.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang? Mengapa sedari tadi kamu nampak melamun seperti tengah membawa beban berat seorang diri?" tanya Angel dengan raut wajah yang penasaran.
Mendapat pertanyaan tersebut Lucas nampak terdiam, tidak ada satupun yang tahu tentang kematian Rania kecuali dirinya dan juga Razan. Semua orang hanya mengetahui jika Rania pergi meninggalkan suami dan juga anaknya hanya karena uang dan perselingkuhan, tanpa mereka tahu jika kenyataan sebenarnya lebih menyeramkan dibandingkan hal tersebut.
Lucas menatap raut wajah istrinya dengan tatapan penuh arti, membuat Angel semakin merasa ada yang aneh dengan suaminya saat ini.
"Tak perlu ragu sayang, katakan saja...aku pasti akan membantu mu." ucap Angel berusaha untuk meyakinkan Lucas, yang lantas terdengar helaan napas gusar dari mulut Lucas saat itu.
"Rania...." ucap Lucas pada akhirnya.
Bersambung