Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Bima dan Siska melangkah masuk ke dalam butik Patek Philippe yang memancarkan aura kemewahan klasik.
Lantai butik itu dilapisi karpet tebal berwarna merah marun yang meredam suara langkah kaki mereka.
Etalase kaca di sekeliling ruangan menampilkan deretan mahakarya penunjuk waktu yang dibuat dengan ketelitian tingkat tinggi.
Siska terus mengarahkan kameranya ke berbagai sudut ruangan sambil berbicara pelan dengan para penontonnya.
Ribuan penonton di siaran langsung itu sangat antusias karena jarang bisa melihat isi butik super mewah seperti ini.
Di sudut lain ruangan, seorang pria muda berpenampilan necis sedang duduk di sofa kulit bersama kekasihnya.
Pria itu bernama Rio, seorang anak pengusaha properti yang gemar memamerkan kekayaannya.
Kekasihnya, Vanya, sedang mencoba sebuah jam tangan bertahtakan berlian dengan ekspresi angkuh.
Seorang pelayan butik senior bernama David melayani pasangan itu dengan sikap yang sangat merendahkan diri.
David menyajikan sampanye dan terus memuji betapa cocoknya jam tangan mahal itu di pergelangan tangan Vanya.
Saat Vanya sedang asyik bercermin, matanya menangkap pantulan Siska yang sedang merekam dari kejauhan.
Wajah Vanya langsung berubah masam dan dia meletakkan jam tangan itu kembali ke atas nampan beludru.
"David, kenapa ada orang sembarangan yang merekam di dalam butik ini?" keluh Vanya dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Aku tidak mau wajahku masuk ke dalam video kampungan milik perempuan itu."
Rio ikut menoleh dan menatap Siska serta Bima dengan pandangan sangat merendahkan.
"Benar, butik sekelas ini seharusnya punya standar untuk menyaring pelanggan yang masuk," tambah Rio menyetujui kekasihnya.
David langsung menundukkan kepalanya berkali-kali untuk meminta maaf kepada pasangan kaya tersebut.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini Tuan Rio dan Nona Vanya."
"Saya akan segera mengurus mereka agar tidak mengganggu waktu berbelanja Anda yang berharga."
David membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Bima serta Siska dengan langkah cepat.
Ekspresi ramah yang tadi dia tunjukkan pada Rio mendadak berubah menjadi sangat dingin dan kaku.
David menatap Siska lalu beralih menatap kemeja flanel lusuh yang dipakai oleh Bima.
"Permisi, apakah kalian sudah membuat janji temu sebelumnya?" tegur David dengan suara ketus.
Bima menyandarkan tubuhnya ke salah satu etalase kaca dan menatap David dengan tenang.
"Kami datang ke sini untuk melihat jam tangan, apakah harus membuat janji hanya untuk melihat-lihat?" jawab Bima santai.
David mendengus pelan dan melipat tangannya di dada.
"Butik kami memang terbuka untuk umum, tapi kami punya kebijakan privasi yang ketat."
David menunjuk ke arah tongkat kamera yang dipegang Siska.
"Tolong matikan kamera itu dan tinggalkan butik ini sekarang juga."
"Kehadiran kalian sangat mengganggu pelanggan VIP kami yang sedang bertransaksi di sana."
Siska merasa tidak terima karena mereka belum melakukan kesalahan apa pun di dalam butik tersebut.
"Kami tidak merekam pelanggan kalian, kami hanya merekam jam tangan yang ada di etalase ini," protes Siska membela diri.
"Lagi pula, kami juga pelanggan yang ingin berbelanja di sini."
David tertawa sinis mendengar pembelaan dari mahasiswi tersebut.
Dia menatap Bima dari atas sampai bawah dengan tatapan yang sepenuhnya menilai isi dompet.
"Pelanggan? Anda yakin pria berpenampilan gembel ini mampu membeli sesuatu di sini?"
"Harga jam tangan paling murah di butik kami adalah delapan ratus juta rupiah."
David mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sikap yang sangat arogan.
"Butik kami menerapkan sistem kasta untuk pelayanan pelanggan."
"Pelanggan kelas bawah yang hanya datang untuk menumpang foto akan kami persilakan keluar."
"Sementara pelanggan VVIP seperti Tuan Rio di sana akan mendapatkan prioritas utama dan privasi mutlak."
Bima masih berdiri dengan sangat rileks, sama sekali tidak terpancing oleh hinaan murahan tersebut.
Dia melirik ke arah Rio dan Vanya yang sedang tersenyum puas melihat mereka berdua diusir.
"Sistem kasta pelanggan ya," gumam Bima mengulang kata-kata David.
"Jadi kalian mengklasifikasikan manusia berdasarkan ketebalan dompet yang mereka pamerkan?"
David mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan penuh kebanggaan semu.
"Itu adalah fakta dunia kelas atas, Mas."
"Orang yang punya uang adalah raja, dan orang yang tidak mampu harus tahu tempatnya."
"Sekarang tolong keluar sebelum saya meminta pihak keamanan menyeret kalian."
Bima menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya perlahan.
Dia merasa lucu melihat betapa menyedihkannya pola pikir pelayan butik di depannya ini.
"Pelanggan adalah raja, aku setuju dengan pepatah itu."
Bima memajukan langkahnya mendekati David, menatap tepat ke dalam mata pelayan sombong tersebut.
Aura dominasi yang pekat mendadak memancar dari tubuh Bima, membuat David tanpa sadar mundur satu langkah.
"Tapi yang membuatku heran adalah sikapmu ini, David."
"Kamu berbicara seolah-olah kamu adalah pemilik dari merek Patek Philippe ini."
Bima menunjuk tanda pengenal yang terpasang di dada David.
"Kamu ini hanyalah seorang karyawan yang digaji bulanan untuk berdiri menjaga barang milik orang lain."
"Kamu menilai pelanggan, mengusir temanku, dan memuja pria sombong di sana layaknya dewa."
Suara Bima terdengar sangat datar namun menusuk langsung ke relung hati yang paling dalam.
"Pertanyaanku padamu sangat sederhana."
Bima menatap David dengan pandangan yang menelanjangi seluruh harga diri pria itu.
"Dari mana rasa superioritas itu kamu dapatkan?"
"Apakah memakai seragam rapi di dalam ruangan ber-AC ini membuatmu merasa lebih kaya dari orang-orang di luar sana?"
David mematung seketika, wajahnya langsung memerah padam menahan rasa malu dan marah yang meledak bersamaan.
Kalimat Bima itu menghantam tepat di titik kelemahannya sebagai seorang pelayan toko barang mewah.
Dia sering kali merasa dirinya setara dengan para miliarder hanya karena dia melayani mereka setiap hari.
Padahal kenyataannya, gajinya setahun pun tidak akan cukup untuk membeli satu buah jam tangan di etalase tersebut.
Rio yang mendengar keributan itu akhirnya berdiri dan berjalan menghampiri mereka.
"Hei orang miskin, jangan banyak bicara menceramahi orang lain," bentak Rio membela David.
"Pelayan ini hanya menjalankan tugasnya untuk mengusir sampah yang merusak pemandangan."
Rio memamerkan kunci mobil sport miliknya dan tersenyum mengejek ke arah Bima.
"Kalau kamu memang tidak punya uang, lebih baik keluar saja."
"Tempat ini bukan untuk orang yang cuma bisa merangkai kata-kata puitis tapi dompetnya kosong."
Siska sudah bersiap untuk membalas ucapan Rio dengan fakta tentang Lamborghini Urus milik Bima.
Namun Bima menyentuh bahu Siska, memberi isyarat agar gadis itu membiarkan kameranya tetap merekam.
Para penonton di siaran langsung Siska kini sudah mencapai angka lima belas ribu orang.
Mereka semua menahan napas menunggu bagaimana sang taipan misterius ini membalas kesombongan Rio dan David.
Bima beralih menatap Rio dengan pandangan yang sangat tenang.
"Jadi menurutmu, orang yang punya uang berhak mendapatkan pelayanan terbaik di sini?" tanya Bima mematikan jebakannya.
Rio mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.
"Tentu saja, uang adalah segalanya di tempat ini."
Bima tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasanya muncul tepat sebelum dia menghancurkan mental lawannya tanpa sisa.
Dia mengalihkan pandangannya menyapu seluruh etalase di dalam butik mewah tersebut.
Kemampuan Mata Identifikasi Tingkat Dewa langsung aktif di dalam retina Bima.
Rentetan informasi mengenai tipe, harga, dan sejarah setiap jam tangan di ruangan itu muncul di pikirannya.
Tatapan Bima berhenti pada sebuah jam tangan yang dipajang sendirian di dalam etalase kaca paling tengah.
"Baiklah kalau itu aturan mainnya."
Bima berjalan santai menuju etalase utama tersebut dengan kedua tangan di dalam saku.
Dia menunjuk ke arah jam tangan berdesain sangat rumit yang memancarkan pesona kemewahan absolut.
"Keluarkan jam tangan Patek Philippe edisi ulang tahun ke seratus tujuh puluh lima itu sekarang juga," perintah Bima mutlak.