Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 SELAMAT DATANG INDONESIA
SELAMAT MEMBACA !!!
Hari ini keluarga Haikal, semua sudah siap berangkat ke Bandara mereka akan pulang ke Indonesia.
"Ayo, kita berangkat takut telat!" teriak Haikal dari lantai bawah.
Devan hanya diam saja, ia sudah diberitahu masalah ini oleh Fira. Kalau Naya tak tau kenapa mereka pulang ke Indonesia. Taunya dia ingin berkumpul dengan Opa, Uncle dan Ontynya.
"Cebental, Daddy. Aku balu memakai cepatu!" teriak Naya dari lantai satu.
Haikal yang mendengar teriakan dari putrinya hanya tersenyum, ia membalasi chat dari David yang sebentar lagi sampai di rumahnya.
"Ting" bunyi pintu lift terbuka.
Haikal menoleh ke arah dimana lift rumahnya berada. Dia melihat Naya tampak cantik sekali memakai baju yang berwarna merah muda, rambutnya yang panjang diikat dua oleh Mila. Tak kalah Devan juga terlihat tampan. Dia memakan celana jeans dengan atasan kaos putih dipadu dengan kemeja senada dengar warna celananya, membuatnya terlihat ganteng dan dewasa untuk ukuran anak seusianya.
Naya berlari kecil menghampiri Haikal yang masih duduk di sofa. "Daddy, ayo kita belangkat ke Indonecia, ke lumah Opa. Aku cudah kangen cama Opa, Uncle dan Onty Chaca, Onty El!" serunya riang sambil menarik tangan Haikal.
Mereka semua keluar dari rumah dan di sana sudah ada tiga mobil termasuk mobilnya David yang akan mengantarkan mereka ke Bandara.
"Bibi, tolong jaga rumah baik-baik ya! Kalau ada apa-apa cepat hubungi saya atau Nyonya. Di sini juga masih ada Pak Satpam, pak sopir juga kok!" seru Haikal kepada artnya.
Bibi itu mengangguk mantap dengan tersenyum, "Siap, Tuan, Nyonya, Nona, Nona Muda dan Tuan Muda Kecil. Hati-hati di jalan, jangan lupa kasih kabar, Tuan kalau sudah sampai di Indonesia," jawab Bibi itu.
Anak-anak mencium tangannya kedua Bibi yang membantu di rumahnya Haikal.
"Bibi, aku mau pelgi dulu ke lumahnya Opa ya. Jangan kangen cama Naya, Bi..Bye...bye...campai beltemu kembali!" seru Naya menggandeng tangan Devan sambil melambaikan tangan kepada dua Bibi itu.
Mereka masuk ke dalam mobil si kembar ikut Daddy dan Mommynya. Sementara Nyonya Sintya, Fira dan Mila ikut David. Mobil yang satunya khusus memuat barang-barang mereka.
Kendaraan pun melaju beriringan meninggalkan halaman rumah Haikal menuju ke Bandara. Naya sangat menikmati perjalanannya, ia memandang ke arah jendela dengan duduk di atas pangkuan Daddynya.
Tanpa terasa satu jam telah berlalu, mobil mereka sudah memasuki area Bandara.
"Daddy, itu pecawat telbangnya!" teriak Naya membuat semua orang yang di mobil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Adik?! Kaget tau!" tegur Devan marah dengan adiknya yang super heboh itu.
Naya menoleh ke arah Devan yang duduk di kursi sebelahnya. "Colly, Bang. Tak cengaja, Bang hahahaha!" jawab Naya tanpa dosa.
Mereka semua turun dari mobil, David memanggil petugas Bandara meminta tolong untuk membawakan barang bawaan mereka ke tempat chek ini. David langsung berjalan menuju ke arah tempat untuk chek in dan barangnya dimasukan dulu ke dalam sana.
Devan duduk di sebelah Mamanya sambil menunggu panggilan dari petugas untuk mempersilahkan mereka masuk ke dalam pesawat. Matanya yang jeli menatap wajah Mamanya yang tampak tegang dan gugup.
"Mama..tak apa-apa?" tanyanya lembut, suara penuh perhatian. Saat melihat wajah Mamanya sangat tegang sekali dan gugup.
Fira menoleh ke arah putranya, melihat wajah tenang sang putra begitu, ia semakin melihat wajah suaminya di dalam wajahnya Devan.
"Mama hanya gugup sedikit, karena Mama kan sudah lama belum pernah pulang ke Indonesia. Jadi ada rasa yang tegang sedikit tapi tak apa-apa, Sayang. Kamu jangan khawatir. Terima kasih sudah perhatian dengan Mama," jawab Fira dengan tersenyum.
Bertepatan dengan panggilan petugas untuk para penumpang tujuan Indonesia diminta untuk segera masuk ke dalam pesawat. David yang paling pertama sambil memperlihat tiket bookingnya untuk semua keluarganya.
"Silahkan, semuanya. Ikuti saya ya," ucapnya ramah, memberi isyarat untuk mengikutinya.
Mereka semua berjalan mengikuti petugas itu. Fira menggandeng tangannya Devan dan di sampingnya ada Nyonya Sintya. Di belakangnya ada Haikal menggandeng tangan Naya dan Amara. Di belakangnya lagi ada Mila dan David.
Di dalam pesawat, Devan dan Naya meminta untuk duduk di samping jendela, mereka ingin melihat awan. Pesawat mulai bergerak untuk Landing.
Tanpa terasa pesawat mendarat mulus di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Jantung Fira tambah berdebar, rasa kangen yang begitu tinggi dengan suaminya.
Mereka berjalan beriringan keluar dari pintu kedatangan. Devan dan Naya berjalan paling depan. Membuat siapa pun yang melihatnya sangat gemas dibuatnya.
Tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang yang menatap dan memperhatikan mereka terutama Devan yang mirip sekali depan Bryan. Dia mengambil foto mereka dan dikirimkan kepada seseorang.
Naya yang melihat keberadaan keluarganya, ia melepaskan tangannya dari Devan. "Opa, Uncle, Onty!" teriaknya dengan heboh sambil berlari.
Zafran yang tak tega jika Naya jatuh, ia juga ikutan berlari menangkap tubunnya Naya.
Hap tubuh kecil itu berpindah dipelukan Zafran. "Uncle sangat kangen dengan Naya!" seru Zafran sambil memeluk erat tubuh keponakannya itu.
"Assalamualaikum, Uncle, Opa, Onty!" sapa Devan dengan ramah sambil mencium tangan mereka.
"Walaikumsalam, Sayang," jawab mereka berempat.
"Oppsstt...Colly Opa, Uncle, Onty. Naya lupa tak calim dulu!" seru sangat menggemaskan sekali.
"Selamat datang kembali ke Indonesia, Sayang! Seru Tuan Andika memeluk tubuhnya Fira.
Kemudian Tuan Andika memeluk tubuhnya Amara. "Akhirnya kamu menetap di Indonesia, Sayang. Beginilah Indonesia sangat panas ya," ucapnya kepada Amara.
Amara tersenyum, "Iya, Pa. Tapi aku senang bisa berkumpul dengan kalian di sini," jawab Amara lembut dengan ramah.
Tasya dan Elena langsung memeluk sahabatnya, tak kuasa menahan tangis bahagia. "Kamu akhirnya pulang, Fira! Alhamdulillah... rasanya mimpi bisa berkumpul lagi seperti ini."
"Terima kasih untuk semuanya, Besty. Senang rasanya bisa berkumpul kalian lagi di sini," ucap Fira membalas pelukan kedua sahabatnya.
Mereka semua keluar dari area Bandara menuju ke mobil yang dibawa untuk menjemput mereka semua.
**☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆**
Di perusahaan Bryan, melihat ada notifikasi chat dari Papanya tapi diabaikan. Dalam hatinya pasti hanya tanya kabar saja.
Tapi tiba-tiba fokusnya terpisah dengan seseorang yang mendobrak pintunya tanpa sopan.
"Bry...kamu sudah lihat belum kiriman chat dari Papa?" tanya Bagas dengan napas ngos-ngosan, ia berlari masuk keruangan itu dari arah lantai bawah.
Sebenarnya tadi dia hendak mengambil laporan keuangan. Tapi saat matanya melihat foto anak kecil yang mirip dengan Bryan, ia langsung berlari balik kembali ke lantai atas ruanganya Ceonya.
"Apaan sih, Gas. Main dobrak-dobrak pintu dengan keras begitu. Kamu tak bisa mengetuk pintu?!" tanya Bryan dengan matanya menatap Bagas dengan tajam.