Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Kriet.
Suara pintu kaca Berkah Net kembali terbuka saat Tommy melangkah masuk ke dalam.
Aroma asap rokok dan mi instan yang khas langsung menyambut penciumannya.
"Bang, paket hemat yang kemarin masih sisa dua jam kan?" tanya Tommy kepada penjaga warnet yang sama.
"Masih, pakai saja bilik nomor tujuh yang kemarin," jawab penjaga itu tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya.
Tommy segera berjalan menuju bilik sudut tersebut dan menghidupkan komputernya.
Wunggg.
Mesin tua itu berdengung kasar sebelum akhirnya menampilkan layar utama Windows yang usang.
"Sistem, aktifkan Pengetahuan Kriptografi Dasar," batin Tommy memberi perintah.
Ting!
[Skill Pengetahuan Kriptografi Dasar telah diaktifkan.]
Kecepatan berpikir dan ingatan tentang kode-kode rumit kembali memenuhi kepala Tommy dalam sekejap.
Tak! Tak! Tak!
Jari-jarinya langsung menari di atas papan tik dengan kecepatan yang membuat mata biasa sulit mengikutinya.
Ia segera mengatur jaringan proksi berlapis untuk menyembunyikan alamat IP komputernya.
Setelah memastikan jalurnya aman, Tommy membuka kotak masuk email anonim yang ia buat kemarin.
Sebuah email balasan berbendera merah sudah bertengger di posisi paling atas kotak masuknya.
"Pengirimnya langsung dari Kepala Divisi Keamanan IT Nusantara Jaya Tech," gumam Tommy pelan.
Ia mengklik email tersebut dan mulai membaca isinya dengan teliti.
"Kepada Tuan Blank, kami telah memverifikasi laporan celah keamanan yang Anda kirimkan."
"Kami sangat terkesan dengan kemampuan Anda menembus dinding api lapis ketiga kami dalam waktu yang sangat singkat."
"Sesuai janji, hadiah dua puluh lima juta rupiah adalah hak Anda."
"Namun, kebijakan perusahaan mengharuskan kami menyerahkan hadiah tersebut secara langsung atau melalui transfer ke rekening bank resmi dengan identitas yang jelas."
"Kami juga bermaksud menawarkan posisi Konsultan Keamanan Senior di perusahaan kami jika Anda bersedia datang ke kantor pusat."
Tommy mendengus pelan setelah selesai membaca seluruh isi email tersebut.
"Mereka mencoba memancingku keluar dari persembunyian," batin Tommy sambil tersenyum sinis.
"Entah untuk merekrutku atau justru melaporkanku ke polisi atas tuduhan peretasan ilegal."
Tommy tahu persis bahwa perusahaan besar tidak pernah suka harga diri mereka diinjak-injak oleh orang antah-berantah.
Ia meletakkan tangannya di atas papan tik dan mulai mengetik balasan singkat.
"Saya tidak butuh pekerjaan, saya hanya menagih hadiah sayembara kalian."
"Saya menolak memberikan identitas asli atau nomor rekening bank lokal."
"Kirimkan nilai dua puluh lima juta rupiah tersebut dalam bentuk mata uang kripto Bitcoin ke alamat dompet digital ini."
"Kalian punya waktu lima belas menit dari sekarang."
"Jika uang itu tidak masuk, saya akan menjual detail celah keamanan peladen kalian ke forum gelap di luar negeri."
Klik.
Email balasan itu terkirim, dan Tommy mulai menatap jam di pojok kanan bawah layarnya.
Satu menit, dua menit, hingga lima menit berlalu tanpa ada balasan.
"Mereka pasti sedang panik dan berdebat di kantor sana," batin Tommy sambil bersandar santai di kursinya.
Ting!
Sebuah notifikasi email baru akhirnya masuk pada menit kedelapan.
"Tuan Blank, prosedur pencairan dana kripto membutuhkan persetujuan direksi dan itu memakan waktu."
"Bisakah Anda memberi kami kelonggaran waktu hingga besok pagi?"
Tommy tertawa kecil membaca alasan klise dari pihak perusahaan tersebut.
"Mereka sedang mengulur waktu agar tim pelacak mereka bisa menemukan alamat IP-ku," gumam Tommy.
Ia kembali mengetik balasan dengan cepat tanpa ampun.
"Waktu kalian tinggal tujuh menit."
"Jika kalian masih mencoba melacak proksiku alih-alih mengirim uangnya, anggap saja kesepakatan batal."
Tommy menekan tombol kirim dan kembali menunggu dengan tenang.
Hanya butuh waktu tiga menit sejak email ancaman terakhirnya itu terkirim.
Kring!
Sebuah notifikasi dari dompet kripto anonim milik Tommy berbunyi nyaring dari layar komputernya.
Tommy membuka aplikasi dompet digitalnya dan melihat saldo Bitcoin yang baru saja masuk.
"Nilainya pas setara dengan dua puluh lima juta rupiah," ucap Tommy dengan senyum puas.
Ting!
Layar biru sistem tiba-tiba muncul dan melayang di depannya.
[MISI BARU SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil memaksa perusahaan target untuk membayar tanpa membocorkan identitas sedikit pun.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +3 poin.]
[Poin Sistem bertambah +50 PS.]
[IQ Saat Ini: 101 Kategori: Rata-rata Atas]
[Poin Sistem Saat Ini: 55 PS]
Tommy mengabaikan layar sistem itu untuk sementara waktu dan kembali fokus ke layar komputer.
Ia segera memindahkan Bitcoin tersebut melewati tiga layanan pencampur koin berbeda untuk menghilangkan jejak asal-usulnya.
Setelah jejaknya benar-benar bersih, Tommy mencairkan uang tersebut ke sebuah rekening bank virtual sekali pakai yang sudah ia siapkan.
"Sekarang tinggal pergi ke mesin ATM dan menarik uang tunainya," batin Tommy lega.
Ia menghapus seluruh riwayat peramban, menjalankan skrip pembersih, dan mematikan komputernya.
Tommy keluar dari warnet itu dan berjalan menuju minimarket terdekat yang memiliki mesin ATM.
Ia memasukkan kartu dari rekening virtualnya dan menarik uang pecahan seratus ribu rupiah secara bertahap.
Mesin ATM itu terus berbunyi menghitung lembaran uang hingga menumpuk cukup tebal di tangan Tommy.
Ia hanya menarik sepuluh juta rupiah untuk melunasi utang ibunya, sementara sisanya ia biarkan aman di rekening virtualnya.
Tommy memasukkan tumpukan uang tunai itu ke dalam tas ranselnya dan bergegas pulang ke rumah dengan langkah ringan.
Setibanya di rumah kontrakan, ia melihat ibunya sedang duduk termenung di depan mesin jahit tua tanpa melakukan apa pun.
Wajah wanita paruh baya itu terlihat sangat lelah dan penuh dengan gurat keputusasaan.
"Ibu," panggil Tommy pelan sambil mendekat.
Ibunya menoleh dan mencoba memaksakan sebuah senyuman.
"Kamu sudah pulang, Tom? Maaf ibu belum masak apa-apa hari ini," ucap ibunya dengan suara parau.
"Ibu sedang pusing memikirkan uang untuk Bang Jali ya?" tanya Tommy sambil duduk di kursi kecil di sebelah ibunya.
Ibunya menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Ibu tidak tahu harus meminjam ke mana lagi, Nak," jawab ibunya dengan nada putus asa.
"Semua tetangga sudah tidak mau meminjami kita uang, dan ibu takut Bang Jali benar-benar akan menghancurkan rumah ini."
Tommy tersenyum lembut dan membuka resleting tas ranselnya.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇