NovelToon NovelToon
THE PRIDE BETWEEN US

THE PRIDE BETWEEN US

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:166
Nilai: 5
Nama Author: Aravienne

Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.

Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.

Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Pintu kaca minimarket itu berbunyi dua nada ketika Reyhan mendorongnya.

Ia belum pernah masuk ke tempat ini, meski sudah berkali-kali memarkir mobil di depannya. Rak-rak sempit penuh mi instan dan sabun, pendingin minuman berdengung di sudut, dan seorang penjaga kasir muda dengan rompi biru menatapnya dari balik meja dengan tatapan orang yang menebak apa yang akan dibeli seorang pria berkemeja rapi di jam enam sore.

"Selamat sore, Mas. Ada yang bisa dibantu?"

"Saya mau tanya sesuatu, kalau boleh." Reyhan berdeham. "Soal kamera di depan."

Penjaga itu melirik kamera kecil yang menempel di sudut plafon, lalu kembali pada Reyhan. "CCTV, Mas?"

"Iya. Kira-kira tujuh bulan lalu. Hari hujan, sore. Ada mobil abu-abu parkir di sini." Reyhan berhenti sebentar, menyadari betapa janggal pertanyaannya. "Dan mungkin seseorang berdiri di depan dengan ponsel."

Penjaga itu tampak bingung. "Waduh, Mas. Rekamannya cuma disimpan tiga puluh hari, habis itu otomatis ditimpa."

"Tidak ada cadangan?"

"Nggak ada, Mas. Maaf."

Reyhan mengangguk pelan. Ia sudah menduganya. Tapi ia tetap berdiri di sana, tidak langsung pergi, dengan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa menahannya. Mungkin karena ia tahu: begitu keluar dari pintu ini dengan tangan kosong, satu-satunya jalan yang tersisa adalah menunggu seseorang mengaku. Dan ia sudah terlalu lama menunggu.

Dari belakang kasir, seorang ibu paruh baya dengan celemek merah keluar membawa kardus berisi minuman. Ia berhenti ketika mendengar kata *hujan* dan *mobil abu-abu*, dan menyipitkan mata ke arah Reyhan.

"Mobil abu-abu yang sering parkir sore-sore itu, ya?" katanya. "Yang kadang nunggu di situ lama?"

Reyhan membeku. "Ibu ingat?"

"Ingat, Mas. Ibu pikir mobilnya mogok." Ibu itu meletakkan kardus di lantai dan mengelap tangan di celemek. "Eh, kalau nggak salah, yang hari hujan itu, ada ibu-ibu berdiri di depan situ. Lama banget, nggak masuk, nggak beli apa-apa. Ibu sampai nanya, 'Bu, nunggu siapa?' Tapi nggak dijawab."

Jantung Reyhan berdetak lebih cepat. "Ibu-ibu seperti apa?"

"Ya, ibu-ibu, Mas. Pakai kerudung. Bawa tas anyaman yang gede." Ibu itu mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Mukanya nggak jelas, soalnya hujan, dia pakai payung. Tapi dia pegang hape terus, kayak ngarahin ke mana gitu."

"Ke mana?"

"Ke arah gang, Mas. Gang Mawar."

Hening panjang jatuh di antara mereka. Di sudut, pendingin minuman berdengung pelan, dan dari luar terdengar klakson angkot yang menjauh.

Tas anyaman. Kerudung. Ponsel.

Sebuah gambar muncul di kepala Reyhan sebelum ia bisa menghentikannya. Seorang perempuan paruh baya dengan blus batik duduk di meja dekat jendela warungnya, tas anyaman di pangkuan, dan mata yang sesekali melirik ke arah dapur.

*Bu Ratna.*

Ia langsung membuang pikiran itu seperti membuang api dari tangan. Tidak mungkin. Bu Ratna yang dua tahun makan di warungnya, yang datang dengan sopan untuk memperingatkannya, yang bilang *nama baik itu mahal* dengan mata yang jujur.

"Terima kasih, Bu," katanya, terlalu cepat. "Itu sangat membantu."

Ia keluar dari minimarket dengan pintu kaca berbunyi dua nada lagi di belakangnya, dan baru ketika berdiri di trotoar, ia sadar napasnya pendek. Dadanya terasa seperti ditekan oleh dua tangan sekaligus: satu yang ingin tahu, satu yang takut tahu.

---

Malam itu, Reyhan membuka buku catatan kecil di meja ruang kerjanya.

Ia belum pernah punya buku seperti itu. Biasanya semua tersimpan di kepala, rapi dan dingin, seperti catatan dagang. Tapi malam ini, tangannya sendiri yang mengambil pulpen dan menulis tiga kata di halaman kosong.

*Tas anyaman. Kerudung.*

Ia menatap tulisan itu lama. Lalu menambahkan satu garis di bawahnya.

*Bu Ratna?*

Dan segera mencoretnya, keras-keras, sampai kertas robek sedikit.

*Bukan. Jangan menuduh tanpa bukti.*

Tapi ia tidak bisa menghapus gambarnya. Dan ia tahu betul, dengan kejelasan yang tidak nyaman, bahwa itulah yang dulu dilakukan semua orang di sekitar Anindya: menuduh tanpa bukti, memercayai bisik-bisik tanpa memeriksa, dan membiarkan sebuah nama dicoret begitu saja. Termasuk dirinya sendiri.

Ia menutup buku itu perlahan, dan duduk lama dalam gelap, mendengarkan jam dinding berdetak. Di kepalanya, suara ayahnya muncul, pelan dan kaku: *Rey, orang yang buru-buru nyalahin itu biasanya takut lihat siapa yang sebenarnya salah.*

Ia menutup mata. Dan untuk pertama kalinya sejak perpisahan itu dimulai, Reyhan tidak mencari seseorang untuk disalahkan. Ia hanya mencoba memahami cara kerja sebuah kebohongan, seperti belajar membaca peta sebuah kota yang selama ini ia tinggali tanpa pernah benar-benar melihat jalannya.

---

Perubahan itu terjadi pelan-pelan, dan awalnya tidak ada yang menyadari.

Reyhan mulai datang ke dapur lebih awal. Bukan untuk mengawasi, tapi untuk bekerja. Ia memotong bawang di samping Mbak Sari tanpa banyak bicara, dan Mbak Sari, yang awalnya menatapnya dengan curiga, perlahan berhenti mengusirnya. Ia belajar bagaimana irisan yang rata dibuat, bagaimana tangan harus dilengkungkan agar jari tidak terluka, bagaimana sebuah sambal bisa gagal hanya karena api terlalu besar sepuluh detik.

"Mas," kata Mbak Sari suatu pagi, sambil menatap irisan bawang Reyhan yang miring, "tangan Mas nggak cocok buat dapur."

"Saya tahu, Mbak."

"Tapi nggak apa-apa." Mbak Sari berdeham, mengambil pisau dari tangannya, dan menunjukkan sekali lagi. "Lihat. Begini."

Ia menunjukkannya dengan sabar, dan di sudut matanya ada sesuatu yang Reyhan tidak bisa baca. Mungkin rasa bersalah. Mungkin rasa lega. Mungkin keduanya. Reyhan hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Mbak Sari mengajarinya sesuatu, bukan karena disuruh, tapi karena ingin.

Di hari-hari lain, perubahan itu muncul dalam hal kecil. Ia menulis ulang peraturan karyawan, bukan sebagai larangan, tapi sebagai jaminan: izin sakit dibayar untuk semua, jam kerja yang jelas, ruang istirahat yang layak. Ia mengumumkannya di rapat pagi tanpa nada khotbah, hanya dengan kalimat pendek dan datar, dan ketika ia selesai, tidak ada yang berkomentar.

Hanya Jaka yang mengangguk pelan dari sudut ruangan, seperti membenarkan sesuatu yang sudah lama ia tunggu.

Dan Bayu, yang selama berbulan-bulan hanya memanggil "Mas" dengan sopan yang dingin, suatu siang menaruh segelas teh manis hangat di meja kasir tanpa berkata apa-apa.

Reyhan menatap gelas itu. Lalu menatap Bayu.

"Terima kasih."

"Jangan salah paham, Mas," kata Bayu datar. "Ini bukan maaf. Ini cuma teh."

"Saya tahu."

"Tapi kalau Mas terus kayak gini..." Bayu berhenti. Ia mengangkat bahu sedikit, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, sudut bibirnya bergerak. "Ya, mungkin teh-nya bakal rutin lagi."

Ia pergi, dan Reyhan menatap gelas hangat itu cukup lama sebelum meminumnya perlahan. Tehnya terlalu manis, seperti biasa. Dan untuk pertama kalinya, terasa seperti pintu yang dibuka sedikit, dari dalam.

---

Malam itu, selesai menutup warung, Reyhan duduk di mobil di halaman belakang dengan lampu dasbor menyala.

Di ponselnya ada sebuah video yang sudah ia tonton entah berapa kali. Perempuan berkerudung dengan celemek putih, tertawa di balik gerobak kecil. Lalu di bawahnya, notifikasi baru dari akun yang sama. *Kedai Uduk Anin Resmi Dibuka Bulan Depan!*

Ia menatap layar itu. Foto kedai kecil dengan papan hijau dan huruf putih. Jendela dengan gorden hijau pucat. Dan di salah satu sudut gambar, dekat bak cuci, seorang perempuan paruh baya berkerudung cokelat sedang tersenyum malu-malu sambil memegang sepasang sarung tangan kuning.

Sesuatu mengencang di dada Reyhan.

Sarung tangan kuning.

Ia tidak tahu persis apa yang ia rasakan. Bukan cemburu, bukan marah. Lebih seperti seseorang yang berdiri di luar jendela sebuah rumah hangat, melihat semua lampu menyala di dalamnya, dan menyadari bahwa ia sendiri yang dulu mematikan satu per satu.

Dan di antara semua gambar itu, ia melihat sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekat: sarung tangan itu diberikan dengan tangan terbuka, di bawah cahaya terang, dengan nama yang jelas. Tidak digantung di keran. Tidak dibungkus kantong tanpa nama. Perempuan itu belajar dari kesalahan seseorang yang tidak berani mengaku, dan memilih menjadi kebalikannya.

Ia mematikan layar. Menutup mata sebentar.

Lalu, untuk pertama kalinya, ia berbicara sendirian di dalam mobil yang gelap, dengan suara yang pelan tapi tidak lagi ragu.

"Aku akan cari tahu semuanya," katanya. "Dan setelah itu, baru aku pantas datang."

Tidak ada yang menjawab. Hanya bunyi mesin yang mendingin, dan di kejauhan, bunyi azan isya yang terbawa angin Bandung yang mulai dingin.

Di bagian paling bawah halaman buku catatan yang ia tinggalkan di ruang kerja, di bawah coretan yang menutup sebuah nama, ia tidak tahu bahwa ia baru saja menuliskan sesuatu dengan tangannya sendiri.

*Bukan siapa yang salah. Tapi apa yang sebenarnya terjadi.*

Bersambung ke Bab 25...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!