NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. SALAH SANGKA DI TELAGA DAN JEJAK BIRU KAKI KINAN

"Kebetulan nih, Jak. Istri saya di rumah memang lagi butuh kelapa tua buat bikin santan," ucap Pak Dahlan sambil menyerahkan senter besarnya kepada Jaka.

"Pegang senternya sebentar, saya mau mengambil kelapa itu dulu. Daripada beli di pasar harganya mahal, mending ambil yang gratisan begini."

Jaka menerima senter itu dari tangan Pak Dahlan. Tangan kirinya tetap setia mencengkeram erat pentungan kayu nangka miliknya, sementara tangan kanannya kini bertugas memegang senter milik Pak Dahlan.

"Arahkan sorot cahayanya yang benar, jangan goyang-goyang!" perintah Pak Dahlan tegas.

Jaka hanya mengangguk patuh. "Oke, Pak, siap."

Pak Dahlan mulai berjalan membungkuk, menyisir tumpukan dedaunan jati kering di sekitar akar-akar pohon beringin. Namun, tiba-tiba saja ponsel di dalam saku Jaka berdering nyaring.

Tanpa berpikir panjang tentang tugas rondanya, Jaka segera meletakkan pentungan kayunya ke atas tanah dan merogoh saku celana training-nya yang longgar.

Melihat nama kekasihnya terpampang jelas di layar ponsel, Jaka langsung hanyut dalam obrolan mesra anak muda, melupakan tugas utamanya sebagai "petugas pencahayaan" dadakan bagi Pak Dahlan.

Akibatnya, senter di tangan kanannya kini bergerak menyorot ngawur ke arah langit-langit pohon dan dedaunan di atas sana.

Pak Dahlan yang sedang merangkak di atas tanah mendengus kesal karena kegelapan. "Gimana sih si Jaka ini, malah asyik teleponan bukannya bantuin saya mencari kelapanya!" gerutu Pak Dahlan pelan.

Dengan hanya mengandalkan insting dan rabaan telapak tangannya di atas tanah yang lembap, ia terus melanjutkan pencarian kelapa gratisannya.

"Nah, ini dia kelapanya!" seru Pak Dahlan penuh kemenangan saat jemarinya berhasil meraba sebuah benda bulat di sela-sela akar pohon.

Namun, keningnya mendadak berkerut dalam saat ia merasakan tekstur permukaan benda tersebut. "Tapi kok basah begini ya kelapanya? Terus ada serabut panjang yang keluar-keluar seperti ini? Perasaan dari sore tidak turun hujan deh."

Meskipun di dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang ganjil karena tekstur permukaannya yang agak lembek, lengket, dan berlendir, Pak Dahlan tetap mengangkat benda bulat itu dengan percaya diri dan berjalan kembali menghampiri posisi Jaka.

Di saat yang sama, Jaka baru saja mematikan sambungan telepon kekasihnya dan bersiap memungut kembali pentungan kayunya di tanah.

"Sudah ketemu kelapanya, Pak?" tanya Jaka saat melihat siluet tubuh tegap Pak Dahlan mulai mendekat ke arahnya.

"Sudah!" jawab Pak Dahlan ketus. Raut wajahnya yang sangar masih menunjukkan kejengkelan akibat ditinggal teleponan.

"Mana kelapanya, Pak? Coba lihat," tanya Jaka penasaran.

Tiba-tiba saja, sorot senter di tangan kanannya mati sendiri karena ia tidak sengaja menekan tombol off akibat jempolnya yang ceroboh.

"Eh, mati lampunya."

"Nih, lihat saja sendiri kelapanya besar!"

Pak Dahlan menyodorkan benda bulat berambut itu tepat di depan dada Jaka.

Jaka segera mengarahkan moncong senter ke arah benda bulat tersebut, lalu menekan kembali tombol sakelarnya ke posisi menyala.

Klik!

Cahaya putih yang tajam seketika meledak, menerangi benda yang sedang digenggam erat oleh kedua tangan Pak Dahlan. Detik itu juga, pasokan napas di dalam dada mereka seolah-olah terhenti total.

Bukan sabut kelapa berwarna cokelat yang terlihat oleh mata mereka, melainkan wajah pucat pasi seorang wanita dengan sepasang mata merah darah yang melotot lebar, serta struktur mulut yang menganga penuh lumuran darah hitam berbau busuk.

Rambut panjang yang dikira serabut kelapa oleh Pak Dahlan tadi, kini tampak menjuntai kaku di antara sela-sela jemari tangannya sendiri.

"AAAAAAAAA!"

Kedua pria peronda itu berteriak serempak dengan lengkingan suara yang sangat kencang, sanggup membelah kesunyian malam Desa Ci Sepi.

Karena posisi wajah kepala buntung itu tepat menghadap ke arah dadanya, Pak Dahlan yang saking ngerinya langsung melempar "bola panas" berambut itu ke arah tubuh Jaka dengan sebuah gerakan refleks yang sangat brutal.

Suasana di tepi telaga hitam itu seketika pecah menjadi sebuah kekacauan yang murni. Jaka berjengkit mundur ke belakang dengan sepasang mata yang nyaris keluar dari kelopaknya saat benda dingin, berlendir, dan berbau amis busuk itu menabrak telak bagian dadanya.

Pak Dahlan yang saat itu sudah sepenuhnya dikuasai oleh rasa takut luar biasa, justru bertindak sangat egois; ia menyambar paksa senter dari tangan Jaka dengan sebuah gerakan kasar, lalu langsung memutar tubuhnya dan berlari tunggang langgang mengamankan diri sendiri tanpa memedulikan nasib rekan rondanya.

Pluk!

Benda bulat yang ternyata adalah kepala hantu wanita itu jatuh menumbuk tanah, lalu menggelinding beberapa kali di atas dedaunan kering, menyisakan jejak lumuran darah hitam yang tampak berkilauan tertimpa sisa pantulan cahaya senter.

Jaka yang ditinggal sendirian di tengah kegelapan pekat malam telaga tentu tidak memiliki pilihan lain. Ia ikut berlari terpontang-panting menyelamatkan nyawanya. Kedua kakinya berulang kali tersandung-sandung akar pohon jati yang melintang saat ia mencoba mengejar bayangan tubuh Pak Dahlan yang sudah berlari jauh di depannya.

Jarak menuju ke area pemukiman warga desa yang lumayan jauh, kini terasa seperti ribuan kilometer bagi kakinya. Sambil terus berlari dengan deru napas yang hampir putus, Jaka mulai kehilangan akal sehatnya akibat panik. Tangan kanannya secara refleks memukul-mukul pentungan kayunya ke udara kosong dan ke batang-batang pohon jati di sekitarnya dengan sekuat tenaga—menciptakan bunyi tak... tok... tak... yang beradu bising dengan jeritan histerisnya sendiri.

"TOLOOOONG! ADA HANTUUU! TOLOOOOONG!" teriak Jaka histeris. Suaranya terdengar sangat parau membelah kesunyian malam Desa Ci Sepi.

Keringat dingin tampak membasahi seluruh permukaan tubuh Jaka. Setiap kali ada hembusan angin malam yang menerpa bagian belakang lehernya, ia merasa kepala tanpa tubuh itu sedang terbang melayang mengejarnya di dalam kegelapan. Ia terus memacu larinya menyusuri jalan setapak, berharap ada warga desa yang masih terjaga atau setidaknya melihat berkas cahaya lampu dari rumah warga.

Warga desa yang tadinya sudah hampir semuanya terlelap tidur, tiba-tiba saja terbangun dan terperanjat kaget ketika mendengar suara teriakan histeris Jaka yang bersahut-sahutan dengan bunyi ketukan pentungan ronda yang dipukul secara membabi buta.

Pintu-pintu rumah warga mulai terbuka satu per satu. Mereka keluar ke halaman dengan wajah tegang, menggenggam apa saja di tangan mereka—mulai dari sapu lidi hingga parang panjang—karena mengira para petugas ronda malam sedang mengejar komplotan rampok atau maling ternak yang kabur. Suasana kampung yang tadinya sunyi mendadak berubah menjadi sangat gaduh oleh sahutan suara warga yang saling bertanya satu sama lain.

Sementara itu, Pak Dahlan terus memacu larinya dengan napas yang sudah putus-putus. Ia melesat cepat bak anak panah yang lepas dari busurnya, tanpa mau berhenti sedikit pun di rumah warga sekitar meskipun organ paru-parunya sudah terasa seperti terbakar.

Ia bahkan tidak memiliki keberanian untuk menolehkan wajahnya ke arah belakang, takut jika wajah mengerikan wanita bermata merah itu mendadak muncul tepat di atas pundaknya. Tujuannya malam ini hanya satu: sampai ke rumahnya dan mengunci diri rapat-rapat di dalam kamar.

Saat ia melintasi sebuah jembatan bambu tua yang berderit ringkih di batas jalan desa, langkah kakinya terhenti secara paksa. Ia sudah merasa lemas dan kehabisan tenaga karena faktor usia tubuhnya yang tidak lagi bisa diajak berkompromi untuk melakukan lari maraton.

Pak Dahlan membungkuk dalam, menumpu kedua telapak tangannya di atas lutut kakinya yang gemetar hebat, sambil menarik napas sedalam-dalamnya untuk meredakan detak jantungnya yang berdentum kencang di balik dada.

Di seberang jembatan bambu itu, dari kejauhan terlihat jelas lampu teras rumah pribadinya yang menyala dengan memancarkan warna kuning terang. Seketika itu juga, Pak Dahlan bisa bernapas lega, sebuah harapan hidup kembali muncul di dalam dadanya. Ia pun mencoba menegakkan kembali tubuhnya dan mulai berjalan dengan santai, berusaha mengatur wibawanya kembali sebagai mantan preman pasar.

Namun, tepat saat langkah kakinya berada di tengah-tengah bentangan jembatan bambu, langkahnya kembali terhenti secara mendadak.

Sepasang matanya yang sudah mulai rabun menangkap keberadaan sepasang kaki pucat manusia yang berdiri menghadang jalannya di ujung seberang jembatan. Kaki itu tampak berwarna kebiruan kedinginan dan sama sekali tanpa mengenakan alas kaki alias telanjang kaki.

Dengan tangan yang masih gemetar hebat, ia pun mengarahkan moncong senternya ke depan, menyapu perlahan dari bagian bawah kaki misterius tersebut hingga ke arah atas.

Pak Dahlan ingin memastikan siapa gerangan warga atau wanita yang berani menyeker dan keluar malam-malam begini di tengah teror mutilasi yang sedang melanda Desa Ci Sepi.

Cahaya senter itu merayap naik dengan lambat, melewati bagian betis kaki yang tampak kurus, selembar kain putih kotor yang penuh noda tanah, hingga akhirnya sampai ke bagian pundak baju.

Deg!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!