Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Skakmat di Atas Kertas
Ruang rapat lantai 30 mendadak hening bagai kuburan. Suara kertas jatuh milik Dion terdengar nyaring menghantam lantai marmer. Layar proyektor kini menampilkan deretan angka, nomor rekening offshore, dan bukti transfer digital bertanggal dua bulan lalu—saat Dion masih memegang proyek Grand Dirgantara Tower.
"Ini... ini fitnah!" seru Dion seraya berdiri menggebrak meja, suara dan nafasnya tersengal-sengal panik. "Arvin meretas dan memalsukan dokumen ini untuk menjatuhkanku!"
"Sistem keamanan perbankan Singapura tidak bisa diretas hanya untuk membuat dokumen palsu, Dion," potong Arvin dingin. Ia berdiri menjulang di depan meja, menatap para komisaris senior satu per satu. "Semua bukti ini telah diverifikasi oleh tim auditor independen dari firma hukum internasional pagi ini."
Ibu Helen membelalakkan mata, menatap Dion dengan kemarahan luar biasa. "Dion! Apa-apaan ini?!"
Para komisaris senior mulai berbisik-bisik keras. Ketua Dewan Komisaris—pria berambut uban yang paling disegani di perusahaan—menggetok palu kayu di atas meja.
"Cukup!" tegas Ketua Dewan Komisaris. Ia menatap Dion dengan raut kecewa dan murka. "Tuan Dion, bukti penyalahgunaan wewenang ini terlalu nyata. Berdasarkan aturan perseroan, status kepengurusan Anda di Dirgantara Group dibekukan detik ini juga sampai proses hukum selesai!"
Dion terduduk lemas di kursinya, wajahnya pucat pasi tanpa tersisa sedikit pun sisa kesombongannya.
"Dan untuk Tuan Arvin Dirgantara," lanjut Ketua Komisaris seraya menatap Arvin dan Dania. "Dokumen pernikahan Anda sah secara hukum negara dan sesuai dengan seluruh amanat surat wasiat Almarhum Tuan Wijaya. Kedudukan Anda sebagai CEO dan pemegang saham utama lima puluh satu persen resmi dikukuhkan."
Dania menghembuskan napas panjang yang ditahannya sejak tadi. Beban berat dan rasa tegang yang menghimpit dadanya perlahan terangkat. Meski pernikahan ini hanya rekayasa kontrak berdurasi satu tahun, setidaknya posisi mereka aman dari ancaman Dion.
Dua jam kemudian, ruang rapat telah kosong. Dion telah digiring keluar oleh tim keamanan internal perusahaan, sementara Ibu Helen pergi dengan wajah menahan malu.
Di dalam ruangan yang kini hening itu, Dania berdiri di dekat jendela besar, menatap pemandangan pencakar langit Jakarta. Arvin melangkah mendekat, menghentikan langkahnya tepat dua jengkal di samping Dania.
"Pertunjukan yang mengesankan, Tuan CEO," ujar Dania tanpa menoleh, suaranya terdengar datar namun ada nada lega yang tersipit. "Anda menyembunyikan kartu AS soal rekening Singapura itu dengan sangat rapi."
"Di dunia bisnis, kamu tidak boleh menunjukkan senjata utamamu sebelum musuh mengeluarkan seluruh pelornya," balas Arvin dingin. Ia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. "Terima kasih sudah tidak panik saat Dion menekanmu soal dana rumah sakit tadi."
Dania balik menatap Arvin. "Saya menahan diri bukan demi Anda, Arvin. Saya menahan diri karena saya tahu fakta ada di pihak kita."
Arvin menatap manik mata Dania yang jernih. Untuk beberapa detik, hening yang tercipta di antara mereka tidak lagi terasa mengintimidasi seperti biasanya, melainkan diisi oleh rasa hormat profesional yang makin mengakar kuat.
Tiba-tiba, ponsel Dania di atas meja bergetar hebat. Nama Dokter Gunawan muncul di layar.
Dania seketika menyambar ponselnya dengan jari gemetar, menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. "Dokter Gunawan? Bagaimana kondisi Rehan?!"
Arvin menghentikan gerakannya, mengamati perubahan raut wajah Dania secara cermat.
"Dania..." suara Dokter Gunawan dari seberang telepon terdengar bergetar, namun kali ini bukan karena cemas. "Masa kritis Rehan sudah lewat. Tubuhnya merespons obat-obatan penekan respons imun dengan sangat baik! Rehan baru saja sadar dan memanggil namamu!"
Setetes air mata keharuan lolos membasahi pipi Dania. Bahunya terguncang pelan seraya menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. "Terima kasih, Dokter... Terima kasih banyak! Saya akan ke rumah sakit sekarang!"
Dania mematikan sambungan telepon, lalu buru-buru menyambar tasnya dari atas meja. Rasa bahagia dan lega yang membuncah membuat fokusnya teralih sepenuhnya.
"Saya harus ke rumah sakit sekarang," kata Dania dengan suara serak menahan tangis gembira.
Arvin menatap wanita di depannya. Tidak ada lagi raut tegar yang keras, yang ada hanyalah seorang kakak yang sangat mencintai adiknya. Arvin berbalik menuju meja kerja dan mengambil kunci mobilnya.
"Aku yang menyetir," kata Arvin singkat seraya melangkah mendahului Dania menuju pintu keluar.
Dania tertegun di tempatnya. "Anda tidak perlu repot, Tuan Arvin. Rian atau taksi biasa bisa—"
Arvin menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang datar. "Jalanan menuju rumah sakit sedang macet jam makan siang ini. Sopir pribadi atau taksi tidak akan menyetir secepat aku. Jangan membuang waktu, Dania."